Tuesday, July 17, 2012

1 Melihat Nabi SAW Dalam Keadaan Sadar

Mungkinkah melihat Nabi SAW dalam keadaan terjaga (sadar) setelah beliau wafat?

Al-Bukhari, Muslim dan Abu Daud meriwayatkan dari Abu Hurairah bahwa Nabi SAW bersabda: "Barangsiapa melihatku dalam tidur, maka ia akan melihatku ketika terjaga, dan setan tidak bisa menyerupaiku."

Ulama berbeda pendapat mengenai maksud sabda beliau "maka ia akan melihatku ketika terjaga". Sebagian mengatakan bahwa maksudnya adalah "ia akan melihatku pada hari kiamat nanti". Tapi pendapat ini dikritik, karena kalau demikian maka tidak ada gunanya pengkhususan bagi orang yang melihatnya di alam tidur, karena seluruh umatnya akan melihatnya pada hari kiamat kelak, baik yang pernah melihat sebelumnya ataupun yang tidak.

Ada pula yang mengatakan bahwa maksudnya adalah orang yang beriman kepadanya dan belum pernah melihatnya karena saat itu ia sedang tidak hadir bersamanya, maka hadits ini menjadi kabar gembira baginya, yakni ia akan melihatnya di alam sadar sebelum mati.

Sebagian lagi mengartikannya secara zhohir (letterlek), yakni barangsiapa melihatnya di alam tidur, maka ia pasti akan melihatnya di alam sadar dengan kedua mata kepalanya. Ada juga yang menafsirkan dengan mata hatinya seperti dikatakan Qadhi Abu Bakr bin Al-Arabi.

Sedangkan Abu Bakr bin Abi Jamrah mengatakan dalam catatannya terhadap hadits-hadits yang ia pilih dari Shahih Bukhari: "Hadits ini menunjukkan bahwa barangsiapa melihat Nabi SAW dalam mimpi, maka ia akan melihatnya di alam sadar. Apakah ini dipahami secara umum yaitu sebelum dan sesudah wafatnya, ataukah secara khusus sebelum wafatnya saja? Apakah itu juga mencakup semua orang yang melihatnya sacara mutlak ataukah khusus bagi yang memiliki ahliah (kapabilitas) dan ittiba' (pelaksanaan) terhadap sunnah-sunnahnya saja?

Teks hadits itu memberikan pengertian umum, maka barangsiapa mengklaim kekhususan tanpa adanya indikasi pengkhususan, maka ia telah melanggar. Sebagian orang ada yang tidak mempercayai keumuman teks hadits itu. Ia mengatakan - sesuai dengan kadar akalnya, "Bagaimana mungkin orang yang sudah meninggal dapat dilihat orang yang masih hidup di alam nyata?"

Sebenarnya, ucapan ini mengandung dua konsekuensi berbahaya. Pertama, tidak percaya terhadap sabda Nabi SAW sedangkan beliau tidak pernah berkata-kata dari hawa nafsunya sendiri. Kedua, tidak mengetahui kemampuan Sang Pencipta dan mukjizat-Nya, seakan-akan ia belum mendengar ayat dalam surat Al-Baqarah yang berbunyi, "Pukullah ia dengan sebagiannya. Demikianlah Allah menghidupkan yang sudah mati." Begitu juga dengan kisah Ibrahim bersama burung yang terbagi menjadi empat dan juga kisah Aziz. Allah yang telah menghidupkan semua itu mampu menjadikan mimpi melihat Nabi SAW sebagai penyebab melihatnya di alam nyata. Menurut riwayat dari sebagian sahabat -sepertinya Ibnu Abbas, bahwa ia melihat Nabi SAW dalam mimpi, lalu ia teringat hadits ini dan selalu memikirkannya lalu ia pergi menemui sebagian istri Nabi SAW -sepertinya Maimunah, lalu menceritakan mimpinya padanya. Lalu Maimunah berdiri mengambil cermin Nabi dan memberikannya kepada Ibnu Abbas. Lalu Ibnu Abbas berkata, "Aku melihat bayangan Nabi SAW dalam cermin itu, bukan bayanganku."

Menurut riwayat dari sebagian salaf dan khalaf juga demikian, mereka melihat Nabi SAW dalam mimpi seraya membenarkan hadits ini, lalu mereka pun melihatnya di alam nyata. Mereka menanyakan berbagai persoalan yang mereka bingung menyikapinya, lalu Nabi pun memberitahu solusinya.

Orang yang mengingkari semua ini ada dua kemungkinan, ia termasuk orang yang percaya terhadap karomah wali atau termasuk orang yang tidak percaya terhadapnya. Kalau ia termasuk orang yang tidak percaya terhadap karomah wali, maka selesai masalah, tidak perlu dibahas, karena ia mengingkari sesuatu yang telah ditetapkan oleh sunnah dengan bukti-bukti yang jelas. Jika ia termasuk orang yang percaya terhadap karomah wali, maka ini adalah salah satunya, karena para wali sering ditampakkan melalui kejadian luar biasa pada dua alam, atas dan bawah. Maka, tidak selayaknya mengingkari hal semacam ini selama ia percaya terhadap karomah wali. Demikian perkataan Ibnu Abi Jamrah.

Al-Qadhi Abu Bakr bin Al-Arabi, salah seorang ulama Malikiyah terkemuka, beliau mengatakan, "Melihat nabi dan malaikat serta mendengar ucapan mereka adalah mungkin bagi orang beriman sebagai bentuk karomah (kemuliaan) baginya, adapun bagi orang kafir sebagai hukuman."

Ibnul Haaj mengatakan dalam Al-Madkhal sebagaimana dinukil oleh Izzuddin bin Abdissalaam dalam Al-Qawa'id Al-Kubra bahwa melihat Nabi SAW dalam keadaan sadar (di alam nyata) adalah suatu kejadian langka yang jarang dialami oleh manusia kecuali bagi orang yang memiliki sifat-sifat yang langka dimiliki oleh orang-orang di zaman ini, bahkan mungkin telah musnah kebanyakan, meskipun kami tidak mengingkari orang yang mengalami hal tersebut dari kalangan para tokoh besar yang dijaga oleh Allah, lahir dan batin mereka.

Al-Yafi'i mengatakan, "Sesuatu yang mungkin dialami oleh para nabi sebagai bentuk mukjizat mungkin pula dialami oleh para wali sebagai bentuk karomah, selama tidak ada unsur menantang."

Utsman bin Affan ketika rumah beliau di kepung oleh para pemberontak, beliau menyendiri di dalam kamar lalu melihat Rasulullah SAW di situ bersabda, "Kalau mau, kamu bisa ditolong atas mereka, atau kalau mau, kamu bisa juga kamu berbuka bersamaku." Lalu Utsman memilih berbuka bersama Rasulullah SAW. Di hari itulah Utsman terbunuh sebagai syahid sebelum matahari terbenam.

Al-Aluusi berkata dalam tafsirnya, Ruhul Ma'ani, ketika bercerita tentang turunnya Nabi Isa AS:

"Ada pendapat yang mengatakan bahwa Isa AS mengambil hukum-hukum dari Nabi SAW secara langsung dari mulut ke mulut setelah ia turun (ke bumi) sedangkan Nabi SAW berada dalam kuburnya yang mulia. Pendapat ini dikuatkan oleh hadits Abu Ya'la berbunyi: Demi Dzat yang menggenggam jiwaku, Isa Putra Maryam akan turun kemudian berdiri pada kuburanku lalu berkata: Wahai Muhammad, sungguh aku akan menjawabnya.

Boleh jadi hal itu terjadi dengan cara berkumpulnya dua ruh. Tidak ada bid'ah sama sekali dalam masalah ini. Sungguh melihat Nabi SAW setelah wafat telah dialami oleh lebih dari satu para makhluk sempurna dari umat ini, juga mereka mengambil langsung dari Nabi SAW."

Lalu beliau menyebutkan kisah-kisah nyata para ulama dan wali yang pernah mengalami kejadian melihat Nabi SAW dalam keadaan sadar.

 Imam Al-Qurthubi berkata dalam kitabnya, At-Tadzkiroh fi Ahwalil Mauta wa Umuril Akhiroh:

"Syaikh kami, Syaikh Ahmad bin Umar telah berkata: Kematian para nabi itu berarti tertutupnya mereka dari kita sehingga kita tak dapat mengetahui mereka, meskipun mereka sendiri sebenarnya masih ada dan hidup. Kondisi itu mirip seperti malaikat, mereka ada dan hidup tapi tidak satu pun orang seperti kita ini yang melihatnya kecuali bagi orang tertentu yaitu wali-Nya yang diberi kekhususan oleh Allah berupa karomah."

Al-Hafizh Ibnu Hajar Al-Asqalani berkata dalam Fathul Baari:

"Orang yang melihat Nabi SAW setelah beliau wafat dan sebelum dikebumikan, maka yang paling benar adalah ia tidak termasuk sahabat. Jika tidak demikian, maka (niscaya akan disebut sahabat) setiap orang yang melihat jasad beliau yang mulia itu di dalam kuburannya meskipun di zaman ini, atau para wali yang dibukakan baginya tabir penutup lalu melihat Nabi SAW sebagai karomah. Hujjah yang dipakai oleh yang menetapkan status sahabat ketika Nabi SAW belum dikebumikan adalah karena beliau masih tetap hidup, padahal kehidupan ini bukan kehidupan duniawi melainkan kehidupan ukhrowi, tidak terkait dengan hukum-hukum dunia."

Penegasan Ibnu Hajar di atas sekaligus menjawab pertanyaan, "Apakah orang yang pernah melihat Nabi SAW setelah beliau wafat disebut sahabat?"

Imam Ibnu Hajar Al-Haitami ketika ditanya, "Mungkinkah berkumpul dan bertemu dengan Nabi SAW dalam keadaan terjaga?" beliau menjawab: "Ya, mungkin itu. Sejumlah ulama telah menegaskan bahwa hal itu termasuk karomah para wali." (Al-Fatawa Al-Haditsiyah halaman 297)

Imamul Qurro' wal Muhadditsin Imam Ibnul Jazari mengatakan dalam mukaddimah kitabnya, Al-Hishnul Hashin, bahwa beliau pernah melihat dan berdialog dengan Rasulullah dalam keadaan terjaga.

Referensi:

Tanwirul Halak karangan Imam Suyuthi
- Ru'yatun Nabiyyi Yaqazhah

Saturday, July 7, 2012

0 Hadits tentang Zuhud


Teks Hadis

Sahal bin Sa'ad radhiyallahu ‘anhu berkata: Ada seorang laki-laki datang menghadap Nabi SAW lalu berkata: ‘Tunjukkan kepadaku suatu perbuatan yang bila aku melakukannya, aku disukai Allah dan manusia.’ Nabi SAW lalu bersabda:

"Zuhudlah dari dunia, Allah akan mencintaimu dan zuhudlah dari apa yang dimiliki orang, mereka akan mencintaimu." Riwayat Ibnu Majah dengan sanad hasan.[1]

Kajian Sanad
Hadis di atas dihasankan oleh Ibn Hajar dalam Bulughul Maram-nya. An-Nawawi juga menghasankannya dalam Arbain-nya. Sedangkan Al-Hakim berkata, “Sanadnya shahih.”

Namun semua pendapat mereka mendapatkan kritikan. Adz-Dzahabi berkata dalam Talkhish-nya, “Khalid adalah seorang pemalsu (hadis).” Maksudnya yaitu Khalid bin ‘Amr Al-Qurasyi. Ibn Rajab ketika mengomentari pendapat An-Nawawi berkata, “Pendapat itu masih perlu dikoreksi lagi.” Lalu beliau memaparkan keterangan dari para ahli hadis mengenai status perawi bernama Khalid.[2]

Pendapat Imam Ahmad dan Yahya bin Ma’in mengenai Khalid sama, “Hadi-hadisnya mungkar.” Abu Daud dan An-Nasai juga menilai Khalid sebagai al-Wadhaa’ (pemalsu hadis). Sedangkan komentar Ibn ‘Adi, “Sebagian besar atau seluruh hadisnya palsu.” Abu Hatim lebih tegas lagi, beliau mengatakan, “Ini adalah hadis batil (palsu).”[3]

Memang terdapat hadis-hadis lain yang senada dengan hadis di atas dari jalur yang berbeda-beda. Namun semuanya tak ada yang luput dari kritikan.[4] Kendatipun demikian, Al-Mundziri cenderung menilai baik hadis itu sebagaimana disebutkan oleh Syaikh Nuruddin ‘Itr dalam I’lamul Anam-nya. Terlebih, hadis tersebut berkenaan tentang keutamaan (fadhail) amal.

Kandungan Hadis
Hadis tersebut berisi pesan yang sangat berharga berkenaan dengan konsep kebahagiaan hidup di dunia dan akhirat. Rasulullah SAW memberikan kunci kebahagiaan itu berupa zuhud terhadap dunia. Zuhud berarti menghindar atau tidak memperbanyak. Orang yang zuhud terhadap dunia berarti menghindar darinya. Seseorang yang zuhud tampak dari sikapnya yang tidak ambisius terhadap dunia, karena baginya dunia adalah hina. Zuhud bukan berarti membenci dan meninggalkan dunia sama sekali, tapi zuhud adalah menjadikan dunia sebagai jalan pintas menuju kebahagiaan akhirat, karena zuhud adalah amalan hati, bisa jadi orang yang zuhud kaya raya, namun hatinya tidak terpengaruh sedikit pun dengan kekayaan materi tersebut. Hatinya jauh lebih kaya dengan nur ilahi. Hatinya hanya untuk Allah SWT saja.

Mengenai zuhud terhadap dunia, Al-Quran telah menyinggungnya dalam banyak ayat, di antaranya:

“Tetapi kamu (orang-orang kafir) memilih kehidupan duniawi. Sedang kehidupan akhirat adalah lebih baik dan lebih kekal.” (QS. Al-A'la: 16-17)

"Kesenangan di dunia ini hanya sebentar dan akhirat itu lebih baik untuk orang-orang yang bertakwa dan kamu tidak akan dianiaya sedikit pun.” (QS. An-Nisaa: 77)

Masih banyak lagi ayat atau hadis yang menerangkan betapa hinanya dunia dan betapa mulianya akhirat.

Sedangkan zuhud terhadap apa yang dimiliki manusia, Al-Quran juga telah menyinggungnya dalam beberapa ayat di antaranya:

“Dan janganlah kamu tujukan pandanganmu kepada apa yang telah Kami berikan kepada golongan-golongan dari mereka, sebagai bunga kehidupan dunia untuk Kami uji mereka dengannya. Dan karunia Tuhan kamu adalah lebih baik dan lebih kekal.” (QS. Thaahaa: 131)

Wallahu a’lam bish showab.

Rujukan: Kitab I’lamul Anam Syarah Bulughul Maram karya Syaikh Dr. Nuruddin ‘Itr.

[1] Ibn Majah dalam bab Az-Zuhd (Zuhud di Dunia): 2/1373-1374, Al-Hakim: 4/313, dalam cetakan tertulis, “Ibn Majah dan lainnya”.
[2] Jami’ Al-‘Ulum Wa Al-Hikam: 2/174-176, Mishbah Az-Zujajah: 2/319.
[3] Ilal Al-Hadits: 2/107.
[4] Jami’ Al-‘Ulum karya Ibn Rajab: 2/176-177, At-Targhib karya Al-Mundziri: 4/56-57.

4 Hadits tentang Bid'ah


Rasulullah SAW bersabda, “Hendaklah kalian menjauhi perkara-perkara baru, karena setiap bid’ah itu sesat.”

Hadis ini menjadi peringatan bagi manusia agar tidak mengikuti perkara-perkara baru yang tidak dikenal dalam Islam. Hal itu dipertegas dengan sabda beliau bahwa “setiap bid’ah itu sesat”. Yang dimaksud bid’ah adalah setiap perkara baru yang tidak memiliki sumber dari ajaran Islam. Adapun perkara baru yang memiliki sumber dari Islam maka tidak disebut bid’ah secara istilah, meskipun disebut bid’ah secara bahasa. Oleh karena itu, barangsiapa yang membuat-buat perkara baru yang tidak ada asalnya dari Islam lalu melekatkannya pada ajaran Islam maka itulah yang disebut kesesatan yang nyata, baik berkaitan dengan masalah keyakinan (akidah), perbuatan maupun ucapan, yang nyata maupun tersembunyi.

Adapun riwayat yang menyebutkan bahwa sebagian salaf menganggap baik perbuatan bid’ah, maka yang dimaksud bid’ah di sini adalah bid’ah dari segi bahasa, bukan secara istilah. Misalnya Umar bin Khattab yang menganggap bahwa shalat tarawih berjamaah di masjid dengan satu imam itu bid’ah terbaik, maka yang dimaksud adalah bid’ah secara bahasa, yaitu perkara baru saja, bukan secara istilah yaitu perkara baru yang dibuat-buat dan tidak memiliki asal dari ajaran Islam, karena shalat tarawih memiliki asal dari ajaran Islam. Rasulullah SAW pernah melakukan shalat tarawih beberapa malam di bulan Ramadan kemudian menghentikannya karena khawatir akan diwajibkan atas umatnya. Adapun yang dilakukan oleh Umar hanyalah mengumpulkan para jamaah di masjid dalam satu imam agar lebih teratur. Ketika Ubay bin Kaab menegur Umar sambil mengatakan, “Ini belum pernah ada.” Umar menjawab, “Ya, aku tahu itu, tapi ini baik.” Makudnya adalah perbuatan semacam itu belum pernah dilakukan di zaman Nabi SAW dengan bentuk seperti yang diusulkan Umar. Namun demikian, perbuatan itu memiliki asal atau sumber dari Rasulullah SAW yaitu perbuatan beliau sendiri bersama sebagian sahabat yang sempat berjamaah di belakang beliau. Kemudian beliau menghentikan shalat itu karena khawatir akan diwajibkan sehingga umatnya tidak mampu melaksanakannya. Adapun setelah beliau wafat, kekhawatiran itu sudah tidak terjadi lagi. Di samping itu, beliau juga memerintahkan umat Islam agar mengikuti apa yang disunnahkan oleh Khulafa Rasyidin sehingga perbuatan ini tidak lagi disebut bid’ah secara istilah.

Contoh kedua adalah dua azan sebelum shalat Jumat yang dipelopori oleh Utsman bin Affan di masa kepemimpinannya, kemudian berlanjut setelah itu dan menjadi sunnah yang diamalkan oleh umat Islam hingga saat ini. Ada riwayat dari Ibnu Umar bahwa ia pernah mengatakan, “Itu bid’ah.” Mungkin yang dimaksud adalah sebagaimana yang dikatakan oleh ayahnya sebelumnya tentang shalat tarawih.

Contoh lain adalah pengumpulan mushaf dalam satu buku. Semula Abu Bakar ragu menerima usulan Umar untuk mengumpulkan mushaf dalam satu buku. Namun melihat maslahat besar di balik usulan itu, terutama setelah terjadi perang Yamamah yang menelan banyak korban dari para penghafal Quran (huffazh), akhirnya Abu Bakar menerimanya. Begitu pun Zaid bin Tsabit, semula ia ragu menerima usulan Abu Bakar dan Umar sambil mengatakan kepada mereka berdua, “Bagaimana kalian akan melakukan sesuatu yang belum pernah dilakukan oleh Nabi SAW? Demi Allah, seandainya kalian menyuruhku memindahkan sebuah gunung, itu lebih aku sukai daripada melakukan apa yang tidak dilakukan oleh Rasulullah SAW.” Kemudian ia menyadari bahwa rencana itu mengandung maslahat besar bagi umat Islam, lalu ia pun menyetujui usulan itu, karena dahulu Rasulullah SAW telah memerintahkan para juru tulis wahyu untuk menulis Al Quran. Maka, apa bedanya menulis dalam lembaran yang terpisah-pisah dengan menulisnya dalam satu buku? Bahkan mengumpulkannya dalam satu buku lebih bermanfaat dan mempermudah penggunanya.

Keputusan Utsman bin Affan untuk menyatukan mushaf dan membakar lembaran-lembaran yang tidak sesuai dengan mushaf itu demi menjaga persatuan umat Islam juga menjadi contoh bahwa tidak semua perkara baru itu tercela dan bid’ah. Hal itu disetujui oleh Ali bin Abi Thalib dan mayoritas sahabat pada masa itu.

Begitu juga peperangan yang dipelopori oleh Abu Bakar dalam rangka memberantas para penolak zakat di zamannya. Semula Umar dan beberapa sahabat lainnya menolak usulan itu, sampai akhirnya Abu Bakar menjelaskan alasannya mengapa ingin melakukan hal itu, bahkan berjanji akan melakukannya seorang diri seandainya tak satu pun yang mendukungnya, akhirnya para sahabat pun menyetujuinya.

Begitu juga majelis kisah yang dahulu dianggap bid’ah oleh Ghadid bin Al Harits, oleh Al Hasan Al Bashri justru dianggap sebagai ni’mat al bid’ah (bid’ah paling baik), karena yang dianggap bid’ah oleh mereka sesungguhnya adalah acara perkumpulan di suatu tempat tertentu dalam waktu tertentu yang belum pernah dilakukan oleh Rasulullah SAW. Adapun menyampaikan kisah dalam majelis, hal itu sering dilakukan oleh Rasulullah SAW dalam khutbah-khutbah beliau, baik khutbah Jumat maupun hari raya. Hanya saja beliau tidak menjadikan waktu khusus untuk mengadakan majelis kisah. Beliau menceritakan kisah tertentu hanya kadang-kadang saja atau ketika terjadi peristiwa tertentu yang mengharuskan beliau mengingatkan umatnya tentang kisah itu. Kemudian para sahabat menjadikan waktu tertentu untuk mengadakan majelis kisah sebagaimana yang dilakukan oleh Ibnu Mas’ud setiap hari Kamis.

Dalam Shahih Bukhari, Ibnu Abbas pernah berkata, “Berceritalah setiap pekan satu kali, dua kali atau paling banyak tiga kali. Jangan sampai membuat mereka bosan.” Dalam Musnad Ahmad disebutkan bahwa Aisyah pernah berpesan kepada para penyampai kisah untuk melakukan hal serupa. Dalam sebuah riwayat, Aisyah berpesan kepada Said bin Umair, “Ceritakanlah manusia sehari dan tinggalkan mereka sehari.” Dalam riwayat lain, Umar bin Abdul Aziz berpesan kepada para penyampai kisah agar menyampaikan kisah setiap tiga hari sekali.

Jadi, tidak semua perbuatan baru bisa dikatakan bid’ah secara istilah menurut hadis di atas. Yang dinamakan bid’ah dalam hadis di atas adalah setiap perkara baru yang tidak memiliki asal dari ajaran Islam serta menyelisihi sunnah. Hadis tersebut termasuk dalam kategori nash umum yang dikhususkan (‘am mukhoshosh).

Imam Syafii pernah berkata, “Bid’ah itu ada dua macam: bid’ah terpuji dan bid’ah tercela. Yang sesuai sunnah adalah terpuji dan yang menyelisihi sunnah adalah tercela.” Lalu ia berhujjah dengan perkataan Umar, “Sebaik-baik bid’ah adalah ini.” Terdapat beberapa riwayat dari Imam Syafii yang serupa dengan riwayat di atas. Intinya, beliau membedakan antara perkara baru yang memiliki asal (sumber) dari ajaran Islam dengan perkara baru yang tidak memiliki asal sama sekali.

Ada beberapa perkara baru yang belum pernah terjadi sebelumnya sehingga membuat para ulama berselisih apakah ia termasuk kategori bid’ah hasanah sehingga bisa digolongkan sunnah atau tidak. Di antaranya adalah sebagai berikut:

Penulisan sunnah, dahulu dilarang keras oleh Umar dan beberapa sahabat, namun mayoritas sahabat lainnya memperbolehkannya dan berhujjah dengan hadis-hadis dari sunnah.

Begitu juga penulisan tafsir hadits dan tafsir Quran, sebagian ulama memakruhkannya, namun mayoritas ulama memperbolehkannya.

Begitu juga penulisan fikih beserta khilafnya.

Begitu juga pembicaraan mengenai hubungan antar manusia dan amalan-amalan hati yang belum pernah diriwayatkan dari para sahabat atau tabiin. Imam Ahmad tidak menyukai pembahasan mengenai hal itu terlalu banyak.

Namun di zaman ini, di mana semakin jauh jarak antara zaman kenabian dan keemasan, maka menjadi kewajiban menulis setiap apa yang datang dari para ulama Islam, agar dapat dibedakan mana yang memiliki asal dan mana yang tidak, sehingga dapat diketahui mana yang sunnah dan mana yang bid’ah.

Ibnu Mas’ud pernah berkata, “Pada hari ini kalian hidup di atas fitrah. Kelak akan terjadi perkara baru di hadapan kalian. Jika kalian melihat perkara-perkara baru itu, maka kembalilah kepada posisi awal ini.” Beliau mengatakan itu pada zaman Khulafa Rasyidin.

Imam Malik juga pernah berkata, “Hawa ini belum pernah terjadi di zaman Nabi SAW, Abu Bakar, Umar dan Utsman.” Hawa yang dimaksud adalah perpecahan dalam masalah agama seperti Khawarij, Rawafidh, Murji’ah dan perkara-perkara semisal terkait masalah takfir kaum muslimin, penghalalan darah dan harta mereka, pengekalan mereka di neraka, tuduhan fasik terhadap orang-orang shalih dari umat ini, atau sebaliknya menganggap bahwa kemaksiatan tidak membahayakan pelakunya dan sebagainya.

Dari semua keterangan di atas, dapat diambil kesimpulan bahwa sesungguhnya bid’ah yang dimaksud oleh Rasulullah SAW dalam hadis di atas adalah setiap perkara baru yang tidak memiliki asal dari ajaran Islam dan diklaim termasuk ajaran Islam. Bid’ah semacam inilah yang sesat. Adapun perkara-perkara baru yang ada asalnya dari Islam meskipun dalam bentuk yang tidak sama persis, maka tidak dapat dikatakan sebagai bid’ah secara syar’i, meskipun secara bahasa disebut bid’ah. Wallahu a’lam.

0 Penshahihan dan Pendhaifan Muta'akhirin


Sejak dahulu, para ulama ahli hadis telah melakukan kajian kritis terhadap hadis dalam rangka menyeleksi hadis-hadis yang dapat diterima (maqbul) dan yang ditolak (mardud). Mereka juga telah mengupas permaslahan ‘illah dalam setiap hadis sehingga setiap hadis dapat diketahui statusnya. Mereka menyuguhkan sebuah studi kritis dan ilmiah sehingga mampu menyingkap hakikat yang tersembunyi dalam sanad maupun matan hadis. Mereka seolah-olah hidup dan bergaul dengan perawi-perawi itu serta mentransfer matan-matan hadis di sela-sela majelis riwayat. Sejak dahulu pula pembahasan dan kesimpulan mereka selalu menjadi rujukan bagi para ulama setelahnya.

Namun ketika zaman telah berlalu sekian lama dan jarak antara perawi dengan peneliti hadis semakin jauh, sebagian ulama merasa khawatir terhadap nasib hadis-hadis beserta sanadnya itu dari penyelewengan orang-orang yang datang belakangan (mutaakhirin) yang menyimpang dari haluan para ahli hadis klasik (mutaqaddimin). Di antara ulama yang khawatir itu adalah Ibn Al-Shalah, ahli hadis yang hingga kini kitabnya menjadi rujukan utama dalam kajian Ilmu Hadis. Beliau menutup celah bagi mutaakhirin untuk menghukumi suatu hadis. Beliau berkata, “Jika kita mendapatkan dalam riwayat-riwayat hadis, sebuah hadis yang sanadnya shahih tapi tidak ditemukan dalam salah satu Kitab Shahihain, dan tidak pula dinilai shahih oleh para imam ahli hadis dalam karangan-karangan mereka yang mu’tamad dan populer, maka kami tidak berani berbuat sembrono (gegabah/ceroboh) memastikan hukum hadis itu. Di zaman ini, telah tertutup peluang untuk mengetahui hadis shahih hanya berdasarkan sanadnya saja, karena tak satu sanad pun di antara hadis-hadis itu kecuali anda akan menemukan di dalamnya seorang (perawi) yang hanya mengandalkan kitabnya saja, sangat berbeda dengan syarat perawi shahih yang diharuskan memiliki hifzh (hafalan kuat), dhabth (sistem dokumentasi akurat) dan itqon (ketelitian). Maka, penilaian shahih atau hasannya suatu hadis harus dikembalikan kepada penilaian para imam ahli hadis dalam karangan-karangan mereka yang mu’tamad dan populer yang sudah aman –karena popularitasnya- dari perubahan (taghyir) dan penyimpangan (tahrif).” (Mukaddimah Ulumul Hadis, Ibn Al-Shalah, Dar Al-Fikr, hal. 17)

Akan tetapi, tidak semua ulama menyetujui pendapat Ibn Al-Shalah ini. Di antara mereka ada yang tetap membolehkan setiap orang meneliti dan memutuskan status hadis selama memiliki kapabilitas dalam bidang itu. Di antara ulama yang berpendapat ini adalah An-Nawawi, Ibn Katsir, Al-Iraqi, Ibn Hajar dan lain-lain. Di antara mereka yang paling populer menentang pendapat Ibn Al-Shalah adalah Al-Iraqi dan muridnya, Ibn Hajar.

Perdebatan panjang antara dua kubu ini telah menarik perhatian Imam As-Suyuthi sehingga beliau menulis sebuah tesis berjudul, At-Tanqih li Masalat Al-Tashih (Penjelasan Mengenai Masalah Pen-shahih-an). Beliau mendamaikan kedua kubu tersebut dengan sebuah metode yang sangat jitu. Beliau mengatakan bahwa yang dimaksud Ibn Al-Shalah adalah hadis shahih lidzatihi sedangkan yang dimaksud oleh para penentangnya adalah hadis shahih lighairihi. Jadi, tidak ada kontradiksi antara pendapat-pendapat mereka.

Namun demikian, seseorang tetap harus berhati-hati dalam menilai suatu hadis, apalagi jika belum memiliki kapabilitas di bidang itu. Menilai suatu hadis tidaklah semudah menghitung angka dalam matematika dan tidak bisa dilakukan hanya dengan membolak-balik buku di perpustakaan saja, sebagaimana dipahami sebagian orang. Oleh karena itu, Imam As-Suyuthi mengatakan, “Langkah yang paling hati-hati dalam masalah seperti ini adalah melabeli hadis semacam itu dengan label shahih al-isnad (sanadnya shahih) tanpa memastikan pen-shahih-an secara mutlak karena masih adanya kemungkinan ‘illah yang tersembunyi di dalam hadis itu.” Beliau melanjutkan, “Dan berapa banyak hadis dha’if atau wahi (lemah) yang sanadnya shahih.” (Tadrib Al-Rawi 1/159)

Demikian pula sebaliknya, jika dalam pen-shahih-an seseorang mesti berhati-hati, dalam pen-dhaif-an suatu hadis pun tidak boleh dilakukan hanya karena sanadnya dhaif. Adakalanya sebuah hadis yang sanadnya dhaif memiliki sanad lain yang shahih atau memiliki penguat-penguat lainnya yang mengangkat derajatnya menjadi hasan atau maqbul (dapat diterima). (Tadrib Al-Rawi 1/160)

Sumber:
1. Manhaj Al-Naqd fi ‘Ulum Al-Hadits karya Syaikh Dr. Nuruddin Eter.
2. Tadrib Al-Rawi karya Imam Jalaluddin Al-Suyuthi.
3. Ulum Al-Hadits karya Imam Abu ‘Amr Ibn Al-Shalah.

0 Tahnik Bayi


Di antara sunnah Nabi SAW adalah mentahnik bayi yang baru dilahirkan. Tahnik adalah mengusap mulut bayi bagian atas dengan kurma yang telah dilembutkan. Tahnik dianjurkan berdasarkan hadits shahih yang diriwayatkan oleh Abu Burdah dari Abu Musa Al-Asy’ari bahwa beliau berkata: “Ketika putraku dilahirkan, aku membawanya kepada Rasulullah SAW, beliau memberinya nama Ibrahim, mentahniknya dengan kurma, mendoakan keberkahan baginya lalu mengembalikannya kepadaku.” (HR. Bukhari-Muslim)

Siapapun diperbolehkan mentahnik bayi, baik laki-laki maupun perempuan, berdasarkan hadits shahih yang diriwayatkan dari Nabi SAW bahwa beliau dahulu biasa disodori bayi-bayi yang baru dilahirkan lalu beliau mendoakan keberkahan untuk mereka dan mentahnik mereka. (HR. Muslim)

Imam Ahmad bin Hambal juga pernah disodori seorang bayi lalu beliau memerintahkan seorang wanita untuk mentahniknya. (lihat: Tuhfatul Maulud karangan Ibnul Qoyyim hal. 9)

Disunnahkan mentahnik dengan kurma yang telah dilembutkan berdasarkan hadits-hadits shahih. Namun jika tidak ada kurma, tidak apa-apa mentahnik dengan makanan-makanan yang manis seperti madu. Sebaiknya dihindari makanan yang pernah tersentuh api seperti dibakar, digoreng, dsb. (lihat: al-Mausu’ah al-Fiqhiyyah: 10/227)

Tahnik sebaiknya dilakukan pada hari ketika bayi dilahirkan berdasarkan bunyi hadits yang ada. Namun tidak apa-apa mentahnik setelah hari kelahirannya. (lihat: Fathul Bari: 9/588, 7/249)

Wallahu a’lamu bish showab.

0 Hadits-Hadits Ramadhan


Hadits-Hadits Ramadhan

Berikut ini hadits-hadits pilihan tentang Ramadhan semoga bermanfaat untuk menemani Anda mengarungi bulan yang penuh rahmat ini.

Keutamaan Bulan Ramadhan

Allah SWT berfirman: “Bulan Ramadhan yang di dalamnya diturunkan Al-Quran sebagai petunjuk bagi manusia.” (QS. Al Baqarah: 185)
Rasulullah SAW bersabda: “Apabila bulan Ramadhah telah datang, maka pintu-pintu langit (surga) dibuka, pintu-pintu (neraka) Jahannam ditutup dan setan-setan dibelenggu.”[1]


Memanfaatkan Bulan Ramadhan

Suatu hari, Nabi SAW menaiki mimbar lalu mengucapkan “amin” sebanyak tiga kali. Para sahabat bertanya tentang hal itu. Kemudian beliau menjawab, “Tadi Jibril Alaihissalam mendatangiku lalu memberitahuku bahwa barangsiapa mendapati bulan Ramadhan, akan tetapi dosa-dosanya tidak diampuni maka ia akan masuk neraka. Jibril berkata: Ucapkanlah amin. Lalu aku pun mengucapkan amin.”[2]


Keutamaan Puasa

“Puasa adalah tameng, maka hendaklah (orang yang berpuasa) tidak berbuat kotor dan tidak pula berbuat bodoh. Apabila ada orang yang mengajaknya berkelahi atau menghinanya, hendaklah ia mengatakan, ‘Aku sedang berpuasa. Aku sedang berpuasa.’ Demi (Allah) yang jiwaku berada di tanganNya, sungguh bau mulut orang yang sedang berpuasa lebih harum di sisi Allah Ta'ala daripada aroma minyak misik, karena dia meninggalkan makanan, minuman dan nafsu syahwatnya karena Aku. Puasa itu untuk Aku dan Aku sendiri yang akan membalasnya dan setiap satu kebaikan akan dibalas dengan sepuluh kali kebaikan yang serupa.”[3]


Puasa Ramadhan Menghapus Dosa

“Barangsiapa berpuasa dengan penuh keimanan dan rasa pengharapan, maka dosa-dosanya yang telah lampau akan diampuni.”[4]
“Shalat lima waktu, Jumat ke Jumat berikutnya dan Ramadhan ke Ramadhan berikutnya adalah penghapus dosa-dosa di antara keduanya.” [5]


Pahala Berjihad di Bulan Ramadhan

“Jika seorang hamba berpuasa satu hari sewaktu berperang di jalan Allah, niscaya Allah akan menjauhkannya –dengan puasa itu- dari api neraka sejauh 70 tahun perjalanan.”[6]

Surga Ar Rayyan bagi Orang yang Berpuasa

“Dalam surga ada satu pintu yang disebut dengan Ar Rayyan, yang pada hari kiamat tidak akan ada orang yang masuk ke surga melewati pintu itu kecuali orang-orang yang berpuasa. Tidak akan ada seorang pun yang masuk melewati pintu tersebut selain mereka. Lalu dikatakan, “Mana orang-orang yang berpuasa itu?” lalu mereka pun berdiri menghadap. Tidak akan ada seorang pun yang masuk melewati pintu tersebut selain mereka. Apabila mereka telah masuk semuanya, maka pintu itu ditutup dan tidak akan ada seorang pun yang masuk melewati pintu tersebut."[7]


Puasa dari Dusta dan Perbuatan Buruk

“Barangsiapa yang tidak meninggalkan kata-kata dusta dan perbuatan buruk, Allah tidak butuh ia meninggalkan makan dan minumnya.”[8]


Kegembiraan Orang yang Berpuasa

“Orang yang berpuasa akan merasakan dua kegembiraan yang ia dapatkan, yaitu pada saat berbuka puasa dan pada saat berjumpa dengan Rabbnya dia bergembira karena puasanya itu."[9]


Larangan Mendahului Puasa Ramadhan

“Janganlah seseorang di antara kalian mendahului bulan Ramadhan dengan berpuasa satu atau dua hari (sebelumnya) kecuali apabila seseorang sudah biasa melaksanakan puasa (sunnat) maka pada hari itu dia dipersilahkan untuk melakukannya.”[10]


Bersedekah di Bulan Ramadhan
Ibnu Abbas RA berkata: “Rasulullah SAW adalah orang yang paling dermawan, terutama pada bulan Ramadhan ketika malaikat Jibril AS menemuinya, dahulu Jibril AS selalu mendatanginya setiap malam di bulan Ramadhan mengajarkan Al Qur'an. Sungguh Rasulullah SAW lebih dermawan daripada angin yang berhembus.” [11]


Keutamaan Umroh di Bulan Ramadhan

“Apabila datang bulan Ramadhan berumrohlah, karena umroh di bulan Ramadhan itu setara dengan haji bersamaku.” [12]


Shalat Tarawih Menghapus Dosa

“Barangsiapa berdiri (shalat) di bulan Ramadhan dengan penuh keimanan dan pengharapan, dosa-dosanya yang telah lalu akan diampuni.” [13]


Niat Sejak Malam Hari

“Barangsiapa tidak berniat puasa sebelum fajar, maka tidak ada puasa baginya." [14]


Berkah dalam Sahur

“Bersahurlah, karena sesungguhnya di dalam sahur itu ada berkah.”[15]


Keutamaan Sahur dengan Tujuh Kurma Madinah

“Barangsiapa sarapan setiap hari dengan tujuh kurma Ajwah, ia tak akan dicelakai oleh racun ataupun sihir pada hari itu.”[16]


Keutamaan Mengakhirkan Sahur

“Senantiasa umatku berada dalam kebaikan selama mereka menyegerakan berbuka dan mengakhirkan sahur.”[17]

Zaid bin Tsabit RA berkata: “Kami pernah makan sahur bersama Nabi SAW kemudian beliau pergi untuk melakanakan shalat.” Anas bin Malik bertanya: “Berapa jarak antara adzan (Shubuh) dan sahur?” Zaid menjawab: “Sepanjang bacaan lima puluh ayat.”[18]


Keutamaan Menyegerakan Berbuka

“Senantiasa manusia berada dalam kebaikan selama mereka menyegerakan berbuka."[19]

Allah SWT berfirman (dalam hadits Qudsi): “Hamba-hamba-Ku yang paling Aku cintai adalah mereka yang paling menyegerakan berbuka."[20]


Keutamaan Berbuka Dengan Kurma atau Air

“Apabila seseorang di antara kamu berbuka, hendaknya ia berbuka dengan kurma. Jika tidak mendapatkannya, hendaknya ia berbuka dengan air, karena air itu menyucikan.”[21]


Bolehkah Istri Berpuasa Sewaktu Suaminya di Rumah?

“Tidak diperbolehkan bagi seorang perempuan berpuasa di saat suaminya di rumah, kecuali dengan seizinnya, kecuali pada bulan Ramadhan.”[22]


Bolehkah Mencium dan Memeluk Istri Ketika Sedang Berpuasa?

Aisyah RA berkata: "Nabi SAW pernah mencium dan memeluk (isteri-isteri beliau) ketika beliau sedang berpuasa. Beliau adalah orang yang paling mampu mengendalikan nafsunya dibandingkan kalian.”[23]

“Rasulullah SAW pernah mencium salah satu isteri beliau ketika beliau sedang berpuasa.” Katanya sambil tersenyum.[24]

Ummu Salamah RA bercerita: “Ketika aku bersama Rasulullah SAW dalam satu selimut tiba-tiba aku mengalami haid (menstruasi), lalu aku pergi secara diam-diam dan mengambil pakaian khusus haidku. Beliau bertanya: ‘Ada apa denganmu, apakah kamu mengalami haid?’ Aku jawab: ‘Ya.’ Lalu aku kembali masuk kedalam selimut bersama beliau.”

Zainab, putri Ummu Salamah, bercerita: “Ummu Salamah dan Rasulullah SAW juga pernah mandi bersama dari satu wadah air. Dan beliau juga menciumnya padahal beliau sedang berpuasa.”[25]


Belum Mandi Junub Hingga Waktu Subuh

Aisyah RA berkata: “Aku bersaksi tentang Rasulullah SAW bahwa beliau dahulu pernah junub di pagi hari setelah berhubungan, bukan karena mimpi, kemudian beliau meneruskan puasanya.” Ummu Salamah juga pernah berkata seperti itu.[26]


Hukum Makan atau Minum karena Lupa

“Jika seseorang lupa lalu dia makan dan minum (ketika sedang berpuasa) maka hendaklah dia meneruskan puasanya karena sesungguhnya Allah telah memberinya makan dan minum.”[27]

Menurut riwayat lain: “Barangsiapa yang berbuka pada saat puasa Ramadhan karena lupa, maka tak ada qadha (tidak wajib mengganti) dan tak ada kafarat (hukuman) baginya.”[28]


Hukum Muntah Ketika Sedang Berpuasa

“Barangsiapa yang terpaksa muntah (tidak sengaja) maka ia tak wajib mengqadha (mengganti puasanya), akan tetapi barangsiapa sengaja muntah maka ia wajib mengqadha.”[29]


Hukum Puasa Ketika Bepergia (Safar)

Hamzah bin 'Amru Al Aslamiy berkata kepada Nabi SAW: “Apakah saya boleh berpuasa saat bepergian?” Dia adalah orang yang banyak berpuasa. Lalu Beliau menjawab: “Jika kamu mau berpuasalah dan jika kamu mau berbukalah.”[30]

Dalam riwayat lain, “(Berbuka), itu hanyalah keringanan dari Allah, barangsiapa mengambilnya maka itu baik, tapi orang yang lebih suka berpuasa, maka itu tidak mengapa.”


Keutamaan Sepuluh Hari Terakhir Ramadhan

Nabi SAW apabila memasuki sepuluh hari terakhir (dari bulan Ramadhan), beliau mengencangkan sarungnya, menghidupkan malamnya dengan beribadah dan membangunkan keluarganya.”[31]

Abdullah bin Umar RA berkata: “Rasulullah SAW beriktikaf pada sepuluh hari yang akhir dari Ramadhan.”
Aisyah RA, isteri Nabi SAW, berkata bahwa Nabi SAW beriktikaf pada sepuluh hari terakhir dari Ramadhan hingga beliau wafat, kemudian isteri-isteri beliau beriktikaf setelah kepergian beliau.[32]


Kapan Lailatul Qadar?

Allah SWT berfirman: “Sesungguhnya Kami telah menurunkannya (Al Qur'an) pada malam kemuliaan (lailatul qadar). Dan tahukah kamu apakah malam kemuliaan itu? Malam kemuliaan itu lebih baik dari seribu bulan. Pada malam itu turun malaikat-malaikat dan malaikat Jibril dengan izin Tuhannya untuk mengatur segala urusan. Malam itu (penuh) kesejahteraan sampai terbit fajar.” (QS. Al-Qadr)


Tujuh Malam Terakhir

Ibnu Umar RA berkata bahwa ada salah seorang sahabat Nabi SAW yang menyaksilan Lailatul Qadar dalam mimpi terjadi pada tujuh malam terakhir. Lalu Rasulullah SAW bersabda: “Aku juga bermimpi seperti yang kalian mimpikan tentang Lailatul Qadar tepat terjadi pada tujuh malam terakhir, maka siapa yang mau mendekatkan diri kepada Allah dengan mencarinya, lakukanlah pada tujuh malam terakhir.”[33]


Malam-Malam Ganjil

Rasulullah SAW bersabda: “Carilah Lailatul Qadar pada malam yang ganjil dalam sepuluh malam yang akhir dari Ramadhan.”[34]

Abu Sa'id Al Khudriy RA berkata: “Kami pernah beriktikaf bersama Nabi SAW pada sepuluh malam pertengahan dari bulan Ramadhan. Kemudian beliau keluar pada sepuluh malam terakhir lalu memberikan khutbah kepada kami dan berkata: "Sungguh aku diperlihatkan (dalam mimpi) tentang Lailatul Qadar namun aku lupa atau dilupakan waktunya yang pasti. Namun carilah pada sepuluh malam-malam akhir dan pada malam yang ganjil. Sungguh aku melihat dalam mimpi, bahwa aku sujud di atas tanah dan air (yang becek). Oleh karena itu, barangsiapa yang sudah beriktikaf bersama Rasulullah SAW maka pulanglah."

Maka kami pun pulang. Dan tidaklah kami melihat awan yang tipis sekalipun di langit hingga kemudian tiba-tiba datang awan yang banyak, lalu hujan turun hingga air menetes (karena bocor) lewat atap masjid yang terbuat dari dedaunan kurma. Kemudian setelah shalat (Shubuh) aku melihat Rasulullah SAW sujud di atas air dan tanah yang becek hingga aku melihat sisa-sisanya pada dahi beliau.” [35]


Malam ke-25, 27 dan 29

Nabi SAW keluar untuk memberitahukan kami tentang Lailatul Qadar. Tiba-tiba ada dua orang dari kaum muslimin yang saling bertengkar. Akhirnya beliau berkata: "Aku datang untuk memberitahukan kalian tentang waktu terjadinya Lailatul Qadar namun fulan dan fulan bertengkar sehingga kepastian waktunya diangkat (menjadi tidak diketahui). Namun semoga kejadian ini menjadi kebaikan buat kalian, maka carilah pada malam yang kesembilan, ketujuh dan kelima (pada sepuluh malam akhir dari Ramadhan)."[36]


Malam ke-27

Muawiyah bin Abu Sufyan RA berkata bahwa Nabi SAW bersabda tentang Lailatul Qadar: "Malam dua puluh tujuh." [37]


Keutamaan Shalat di Malam Lailatul Qadar

“Barangsiapa berdiri (shalat) pada malam Lailatul Qadar, dosa-dosanya yang telah lampau akan diampuni.”[38]


Doa Malam Lailatul Qadar

Aisyah RA bertanya: “Wahai Rasulullah, seandainya aku tahu bahwa suatu malam adalah Lailatul Qadr, apa yang harus aku baca pada malam tersebut?” Beliau menjawab: "Bacalah: Allahumma innaka ‘afuwwun tuhibbul ‘afwa fa’fu ‘anni (artinya: Ya Allah, sesungguhnya Engkau Maha Pengampun, Engkau menyukai ampunan, maka ampunilah aku)."[39]


Larangan Puasa di Hari Raya

Umar bin Al Khaththab RA dia berkata: "Inilah dua hari yang Rasulullah SAW melarang puasa padanya, yaitu pada hari saat kalian berbuka dari puasa kalian (Iedul Fithri) dan hari lainnya adalah hari ketika kalian memakan hewan qurban kalian (Iedul Adha)."[40]

Abu Sa'id RA berkata: “Nabi SAW melarang berpuasa pada hari Raya Idul Fitri dan Idul Adha.”[41]
Abu Hurairah RA berkata: "Telah dilarang berpuasa pada hari Raya Idul Fitri dan Idul Adha.”[42]


Keutamaan Berpuasa Enam Hari di Bulan Syawal

“Barangsiapa berpuasa Ramadhan kemudian menyambungnya dengan puasa enam hari di bulan Syawal, maka ia seperti orang yang berpuasa selamanya.” [43]

Demikianlah hadits-hadits pilihan tentang bulan suci Ramadhan. Semoga Ramadhan kita kali ini semakin bermakna dengan tuntunan dari Rasulullah SAW.[44]
___
[1] HR. Bukhari dan Muslim.
[2] HR. Ibnu Hibban, Al Hakim, Thabrani, Al Baihaqi dalam “Syuabul Iman”, Ibnu Syahin dalam “Fadhail Syahr Ramadhan”.
[3] HR. Bukhari. Kalimat pertama “Puasa adalah tameng” juga diriwayatkan oleh Imam Muslim.
[4] HR. Bukhari dan Muslim.
[5] HR. Muslim.
[6] HR. Bukhari dan Muslim.
[7] HR. Bukhari dan Muslim.
[8] HR. Bukhari.
[9] HR. Bukhari dan Muslim.
[10] HR. Bukhari dan Muslim.
[11] HR. Bukhari dan Muslim.
[12] HR. Bukhari dan Muslim.
[13] HR. Bukhari dan Muslim.
[14] HR. Imam Lima. Tirmidzi dan Nasa'i lebih cenderung menilainya hadits mauquf. Ibnu Khuzaimah dan Ibnu Hibban menilainya shahih secara marfu'.
[15] HR. Bukhari dan Muslim.
[16] HR. Bukhari dan Muslim.
[17] HR. Ahmad.
[18] HR. Bukhari.
[19] HR. Bukhari dan Muslim.
[20] HR. Tirmidzi.
[21] HR. Imam Lima. Hadits shahih menurut Ibnu Khuzaimah, Ibnu Hibban dan Hakim.
[22] HR. Bukhari dan Muslim, kecuali lafal “kecuali pada bulan Ramadhan” disebutkan dalam riwayat Abu Daud.
[23] HR. Bukhari dan Muslim.
[24] HR. Bukhari dan Muslim.
[25] HR. Bukhari.
[26] HR. Bukhari dan Muslim.
[27] HR. Bukhari dan Muslim.
[28] HR. Hakim.
[29] HR. Imam Lima. Dinilai cacat oleh Ahmad dan dinilai kuat oleh Daraquthni.
[30] HR. Bukhari dan Muslim.
[31] HR. Bukhari.
[32] HR. Bukhari.
[33] HR. Bukhari.
[34] HR. Bukhari.
[35] HR. Bukhari.
[36] HR. Bukhari.
[37] HR. Abu Daud. Menurut pendapat yang kuat ia adalah mauquf.
[38] HR. Bukhari dan Muslim.
[39] HR. Imam Lima selain Abu Dawud. Hadits shahih menurut Tirmidzi dan Hakim.
[40] HR. Bukhari.
[41] HR. Bukhari.
[42] HR. Muslim.
[43] HR. Muslim.
[44] Dikumpulkan oleh Danang KW, website: www.danangkw.co.nr

Monday, June 18, 2012

0 يا حي يا قيوم لا إله إلا أنت



قال ابن القيم -رحمة الله عليه- في مدارج السالكين، تحت منزلة الحياة، في المرتبة السادسة من مراتب الحياة، (4/136) من تحقيق عبد العزيز الجليل:

وسمعت شيخ الإسلام ابن تيمية -رحمه الله- يقول: من واظب على (يا حي يا قيوم، لا إله إلا أنت) كل يوم بين سنة الفجر، وصلاة الفجر، أربعين مرة، أحيا الله بها قلبه. اهـ.

مدارج السالكين ج: 3 ص: 264
سمعت شيخ الإسلام ابن تيمية رحمه الله يقول من واظب على يا حي يا قيوم لا إله إلا أنت كل يوم بين سنة الفجر وصلاة الفجر أربعين مرة أحيى الله بها قلبه. اهـ.

مدارج السالكين ج: 1 ص: 448
ومن تجريبات السالكين التي جربوها فألفوها صحيحة أن من أدمن يا حي ياقيوم لا إله إلا أنت أورثه ذلك حياة القلب والعقل وكان شيخ الإسلام ابن تيمية قدس الله روحه شديد اللهج بها جدا وقال لي يوما لهذين الاسمين وهما الحي القيوم تأثير عظيم في حياة القلب وكان يشير إلى أنهما الاسم الأعظم وسمعته يقول من واظب على أربعين مرة كل يوم بين سنة الفجر وصلاة الفجر ياحي ياقيوم لاإله إلا أنت برحمتك أستغيث حصلت له حياة القلب ولم يمت قلبه.

http://www.ahlalhdeeth.com/vb/showthread.php?t=31012

http://www.ahlalhdeeth.com/vb/showthread.php?p=58627#post58627


Sunday, June 17, 2012

0 Hadits Shahih tentang Puasa Rajab


Said bin Jubair pernah ditanya tentang puasa Rajab. Beliau menjawab, “Saya pernah mendengar Ibnu Abbas RA berkata bahwa Rasulullah SAW dahulu berpuasa sehingga kami mengira beliau tidak berbuka dan berbuka sehingga kami mengira beliau tidak berpuasa.” (Shahih Muslim)

Imam Nawawi berkata:

“Secara zhohir yang dimaksud oleh Said bin Jubair di sini adalah argumen bahwa tidak ada larangan maupun anjuran secara khusus (mengenai puasa Rajab), melainkan sama hukumnya dengan bulan-bulan lainnya. Tak satu pun kabar yang benar mengenai puasa Rajab, baik larangan maupun anjuran secara khusus. Akan tetapi secara asal, puasa itu disunnahkan. Dalam Sunan Abi Daud disebutkan bahwa Rasulullah SAW menganjurkan untuk berpuasa pada bulan-bulan Haram, dan Rajab adalah salah satunya.” (Syarah Shahih Muslim)

Adapun Ibnu Umar RA, beliau juga pernah ditanya tentang puasa Rajab kemudian menjawab, “Bagaimana hukum orang yang berpuasa selamanya (dahr)?” (Shahih Muslim)

Imam Nawawi berkata:

“Ini adalah mazhabnya (Ibnu Umar) dan mazhab ayahnya Umar bin Khattab, Aisyah, Abu Thalhah dan lain-lain dari kalangan Salaful Ummah. Adapun mazhab Imam Syafii dan ulama-ulama lain adalah tidak dimakruhkan berpuasa dahr.” (Syarah Shahih Muslim)

Maksudnya, pengingkaran Ibnu Umar terhadap puasa Rajab dikiaskan terhadap puasa dahr yang menurutnya dilarang. Itu adalah mazhabnya dan mazhab sebagian sahabat. Sementara ulama lain berpendapat tidak makruh. Wallahu a’lam.

Dalam Syu’abul Iman disebutkan dari Abu Qilabah: “Di dalam surga terdapat sebuah istana yang disediakan untuk orang-orang yang suka berpuasa di bulan Rajab.” Imam Baihaqi berkata, “Ini adalah berita yang paling sahih tentang puasa Rajab.”

Imam Suyuthi berkata: “Abu Qilabah termasuk tabiin dan orang sepertinya tidak mungkin mengucapkan perkataan itu kecuali menyampaikan dari orang sebelumnya (sahabat) dari sebelumnya lagi yang menerima wahyu (nabi).” (Ad-Dibaj ‘Ala Shahih Muslim)

Ibnu Batthal berkata, “Jika ada yang bertanya: Lalu apa alasan Ibnu Umar memakruhkan puasa Asyura? Maka jawabnya adalah: (Hal itu) sebagaimana pemakruhan puasa Rajab, mengingat bahwa ia merupakan bulan yang diagungkan oleh orang Jahiliyah, maka dimakruhkan pula mengagungkan sesuatu yang dahulu diagungkan pada masa Jahiliyah, tanpa mengharamkan puasanya bagi orang yang ingin berpuasa… jika niat berpuasanya adalah untuk mendapatkan pahala Allah SWT, bukan menghidupkan budaya Jahiliyah, begitu pula puasa Rajab’.” (Syarh Al-Bukhari karangan Ibn Batthal)

Adapun pelarangan puasa Rajab dan pengingkaran Ibnu Umar dan ayahnya, ada kemungkinan puasa itu (Rajab) dahulu memang dilarang kemudian diperbolehkan, atau sebaliknya. (Syarah Sunan Ibn Majah)

Dari semua keterangan di atas, dapat ditarik kesimpulan bahwa di antara sahabat Nabi SAW ada sebagian yang memakruhkan puasa Rajab, termasuk Ibnu Umar dan ayahnya. Alasannya, karena bulan itu dulu diagungkan pada masa Jahiliyah sehingga berpuasa di dalamnya sama saja menghidupkan budaya Jahiliyah. Oleh karena itu, Umar dahulu memukul tangan orang yang berpuasa pada bulan itu lalu memaksanya untuk memakan makanan. (Mushannaf Ibn Abi Syaibah)

Namun menurut berita yang paling benar, puasa itu tidak dimakruhkan, bahkan termasuk sunnah. Memang benar bahwa bulan itu dulu diagungkan oleh orang Jahiliyah, namun bukan berarti berpuasa pada bulan itu berarti menghidupkan budaya Jahiliyah, karena Rasulullah SAW pernah menganjurkan umatnya berpuasa pada bulan-bulan Haram dan Rajab termasuk salah satunya.

Jadi, anjuran puasa Rajab ini didukung oleh dalil-dalil umum dan dalil-dalil khusus. Dalil umumnya adalah anjuran untuk berpuasa secara bebas, terutama pada bulan-bulan Haram. Sedangkan dalil khususnya adalah anjuran untuk berpuasa pada bulan Rajab, meskipun hadits-haditsnya dhaif bahkan maudhu’. Imam Syaukani berkata, “Jika dalil-dalil khusus tidak mampu menegakkan argumen, maka dalil-dalil umum yang akan berdiri menegakkannya. Sementara tidak ada dalil yang memakruhkan sehingga bisa mengkhususkan keumuman itu.” (Nailul Authar)

Wallahu a’lam.

0 Contoh-Contoh Keutamaan Amal Dalam Hadits Dhaif


1. Anjuran menutup kepala setiap memasuki WC

Hadits: "Nabi SAW apabila memasuki kamar kecil beliau memakai sepatunya dan menutup kepalanya." Diriwayatkan oleh Imam Baihaqi dengan dua sanad: salah satunya mursal dan lainnya dhoif.

Imam Nawawi berkata tentang hadits di atas, "Para ulama telah bersepakat bahwa hadits mursal, dhoif dan mauquf ditolerir dalam masalah fadhoil (keutamaan) amal dan boleh diamalkan isinya, dan (hadits) ini termasuk di antaranya." (Al-Majmu' 2/94)

2. Menjawab lafal iqomat

ويستحب لمن سمع الاقامة ان يقول مثل ما يقول الا في الحيعلة فأنه يقول لا حول ولا قوة إلا بالله وفى لفظ الاقامة يقول أقامها الله وأدامها لما روى أبو امامة رضي الله عنه أن النبي صلي الله عليه وسلم قال ذلك

"Dianjurkan bagi orang yang mendengar iqomat agar mengikuti apa yang diucapkan (oleh muadzin) kecuali pada kalimat 'hayya alas sholah' dan 'hayya alal falah' maka ia mengucapkan 'la haula wala quwwata illa billah' dan ketika sampai lafal iqomah (qod qomatis sholah 2x) maka ia mengucapkan 'aqomahallahu wa adamaha' berdasarkan riwayat dari Abu Umamah bahwa Nabi SAW mengucapkan demikian." (Al-Muhadzzab)

Imam Nawawi berkomentar:

وكيف كان فهو حديث ضعيف لكن الضعيف يعمل به في فضائل الاعمال باتفاق العلماء وهذا من ذاك

"Bagaimanapun juga ini adalah hadits dhoif, tapi hadits dhoif diamalkan dalam masalah fadhoil amal menurut kesepakatan ulama, dan ini termasuk di antaranya." (Al-Majmuu')

3. Membuat garis jika tidak ada sutrah untuk sholat

Imam Nawawi mengatakan:

وقد قدمنا اتفاق العلماء علي العمل بالحديث الضعيف في فضائل الاعمال دون الحلال والحرام وهذا من نحو فضائل الاعمال

"Telah sebutkan di muka mengenai kesepakatan para ulama tentang bolehnya beramal dengan hadits dhoif untuk fadhoil amal, bukan halal dan haram, dan ini termasuk contoh fadhoil amal." (Al-Majmuu')

4. Makan Sahur dan Tidur Siang

Imam Nawawi berkata:

عن ابن عباس عن النبي صلي الله عليه وسلم قال " استعينوا بطعام السحر على صيام النهار وبالقيلولة على قيام الليل " رواه ابن ماجه باسناد ضعيف

"Dari Ibnu Abbas dari Nabi SAW beliau bersabda: Perkuatlah diri kalian dengan makanan sahur untuk puasa siang, dan dengan tidur singkat (qoilulah) untuk bangun malam. Diriwayatkan oleh Ibnu Majah dengan sanad dhoif."

Lalu beliau mengatakan:

وقد سبق أن احاديث الفضائل يعمل فيها بالضعيف 

"Telah berlalu bahwa hadits2 fadhoil boleh diamalkan menggunakan hadits dhoif." (Al-Majmuu')

Artikel Terkait:

Perkataan Ulama Tentang Hadits Dhaif
Hukum Mengamalkan Hadits Dhaif

0 Adzan di Telinga Bayi

Di antara sunnah Nabi SAW adalah mengumandangkan adzan pada telinga kanan bayi yang baru lahir dan iqamat pada telinga kirinya. Imam At-Tirmidzi meriwayatkan dari Abu Rofi' bahwa ia pernah melihat Rasulullah SAW mengumandangkan adzan pada telinga kanan Hasan putra Ali ketika Fathimah melahirkannya. Imam At-Tirmidzi berkata, "Hadis ini hasan shohih."

Banyak sekali hikmah dari disyariatkannya adzan pada telinga bayi yang baru lahir. Di antaranya adalah supaya kalimat pertama yang mengetuk gendang telinga si bayi adalah kalimat-kalimat thoyibah yang berisi keagungan dan kebesaran Allah SWT, juga kalimat syahadat yang berisi ikrar terhadap keesaan Allah SWT. Seolah-olah kita sedang mentalqinnya dalam rangka menyambut kehadirannya di dunia ini, sebagaimana ketika kita mentalqin seseorang yang sedang sakaratul maut untuk mengantarkan kepergiannya dari dunia ini. Ibnul Qayyim berkata, "Dan bukanlah hal yang aneh jika efek adzan tersebut masuk ke dalam hati si bayi dan berpengaruh di dalamnya, meskipun ia tidak merasakan." (Tuhfatul Maulud hal. 31)

Hikmah lain di antaranya agar syaithan lari dan kabur ketika mendengar kalimat-kalimat adzan. Ibnul Qayyim berkata, "Syaithan itu selalu mengawasi si bayi sampai ia dilahirkan kemudian ia berusaha memberikan godaan terhadapnya –atas seizin Allah. Maka ketika itu, syaithan mendengar sesuatu yang melemahkan kekuatannya dan menjadikannya marah sejak pertama kali berhubungan dengan si bayi." (ibid)

Hikmah lainnya yaitu agar si bayi mendengarkan ajakan Allah SWT kepada kebenaran sebelum mendengarkan ajakan syaithan kepada kebatilan, sebagaimana fitrah yang telah dituliskan bagi setiap bayi yang lahir. Rasulullah SAW bersabda, "Setiap bayi dilahirkan dalam keadaan fitrah. Lalu kedua orangtuanya lah yang menjadikannya Yahudi, Nasrani atau Majusi." (HR. Al-Bukhari dan Muslim)


Fatwa Syaikh Bin Baz

Syaikh Abdul Aziz bin Baz, mantan Mufti 'Am Kerajaan Arab Saudi, berkata mengenai adzan pada telinga bayi yang baru dilahirkan:

هذا مشروع عند جمع من أهل العلم، وقد ورد فيه بعض الأحاديث، وفي سندها مقال، فإذا فعله المؤمن حسن؛ لأنه من باب السنن ومن باب التطوعات، والحديث في سنده عاصم بن عبيد الله بن عاصم بن عمر بن الخطاب وفيه ضعف، وله شواهد

"Ini disyariatkan menurut sejumlah ahli ilmu. Telah diriwayatkan beberapa hadits tentang hal itu, dan di dalam sanadnya terdapat kritik. Maka, apabila seorang mukmin melakukannya, maka hal itu baik. Karena hal ini termasuk dalam bab sunnah dan tathawu'. Hadits tersebut di dalam sanadnya terdapat perawi bernama Ashim bin Ubaidillah bin Ashim bin Umar bin Al-Khatthab. Di dalam dirinya terdapat kelemahan (dha'f). Hadits ini memiliki syawahid (penguat)."

Beliau juga mengatakan:

 ولكن إذا فعل ذلك المؤمن للأحاديث التي أشرنا إليها فلا باس، لأنه يشد بعضها بعضاً، فالأمر في هذا واسع، إن فعله حسن لما جاء في الأحاديث التي يشد بعضها بعضاً، وإن تركه فلا بأس

"Akan tetapi seandainya seorang mukmin melakukan hal itu berdasarkan hadits-hadits yang telah kami singgung, maka tidak apa-apa. Karena keseluruhan hadits itu saling menguatkan satu sama lain. Permasalahan ini cukup longgar. Jika dilakukan, maka baik, berdasarkan hadits-hadits yang saling menguatkan satu sama lain. Jika ditinggalkan juga tidak apa-apa."

Kenapa Imam al-Tirmizi Men'sahih'kan Hadith Azan Bayi


Penulis : Ahmad Saifuddin Yusof (kawakib_duriyah)
Penyunting: Muhammad Fathi Ali al-Sakandary[1]

Hadith yang dimaksudkan adalah seperti berikut :

قَالَ التِّرْمِذِيُّ فِيْ جَامِعِه: حَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بْنُ بَشَّارٍ حَدَّثَنَا يَحْيَى بْنُ سَعِيدٍ وَعَبْدُ الرَّحْمَنِ بْنُ مَهْدِيٍّ قَالَا أَخْبَرَنَا سُفْيَانُ عَنْ عَاصِمِ بْنِ عُبَيْدِ اللَّهِ عَنْ عُبَيْدِ اللَّهِ بْنِ أَبِي رَافِعٍ عَنْ أَبِيهِ قَالَ رَأَيْتُ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَذَّنَ فِي أُذُنِ الْحَسَنِ بْنِ عَلِيٍّ حِينَ وَلَدَتْهُ فَاطِمَةُ بِالصَّلَاةِ
هَذَا حَدِيثٌ حَسَنٌ صَحِيحٌ وَالْعَمَلُ عليه

Terjemahan : Berkata al-Tirmizi dalam kitab Jami’nya: Muhammad bin Basysyar telah menyampaikan kepada kami bahawa Yahya bin Sa’id  dan Abdul Rahman bin Mahdi telah berkata, Sufyan telah mengkhabarkan kepada kami bahawa dari 'Asim bin ‘UbaydiLlah daripada UbaydiLlah bin Abi Rafi daripada ayahnya katanya, “Saya telah melihat Rasulullah SAW memperdengarkan azan pada telinga al-Hasan bin Ali ketika Fatimah melahirkannya dengan - azan seperti azannya- solat.
(al-Tirmizi berkata) Hadith ini Hasan Sahih dan diamalkan –fiqh- padanya .
Hadith ini diriwayatkan oleh al-Tirmizi dalam Abwab al-Adhaahi ‘an Rasulillah SAW, Bab al-Azan fi Uzun al-Mawlud (Bab Azan di telinga bayi), No Hadith 1594 (Rujuk, al-Jami’ al-Kabir[2] –Sunan[3] al-Tirmizi [tahqiq Syu’ayb al-Arna’ut], j. 3, h. 339-340) Ringkasnya, al-Tirmizi telah menilai hadith ini sebagai Hasan Sahih iaitu salah satu penilaian Sahih (Tashih) hadith disisi beliau. Maka, hadith ini Sahih menurut al-Tirmizi.[4]

Apa itu Hasan Sahih?

Sahabat saya yang mulia, saudara Muhammad  Fathi telah menulis satu buku yang sangat penting berkenaan Manhaj al-Tirmizi dalam Sunan nya. Beliau menukilkan kenyataan Syaikh Abdul Aziz Marzuq al-Tharifi dalam Sifat Hajj Nabi. Berikut nukilan beliau;

Tahap yang paling tinggi dalam jenis ini ialah dengan istilah “Hasan Sahih” dalam kebanyakan keadaan (majoriti kes), ini kerana kebanyakan hadith-hadith yang disebutkan Al-Tirmizi sebagai “Hasan Sahih” adalah dijumpai dalam kitab Al-Sahihayn (iaitu Sahih Al-Bukhari dan Sahih Muslim) atau salah satu daripada keduanya (iaitu sama ada dalam Sahih Bukhari atau Sahih Muslim) atau menepati syarat keduanya atau salah satu daripada duanya, atau datangnya hadith itu dengan sanad yang sahih dan kuat.
(Rujuk, Muhammad Fathi Ali (2010), Pengenalan Kepada Sunan al-Tirmizi dan Manhajnya, h. 9-10. Muat turun di sini: http://ansarul-hadis.blogspot.com/2011/01/pengenalan-kepada-sunan-al-tirmizi.html)[5]

Namun begitu hadith Abu Rafi’ di atas tidak diriwayatkan oleh al-Sahihayn tetapi ia dinilai Hasan Sahih oleh al-Tirmizi sebagai satu Tashih yang tertinggi menurut beliau. Justeru, beberapa penilaian perlu dibuat bagi mengabsahkan lagi kedudukan ini.

Perawi 'Asim bin UbaydiLlah

Nama penuh ‘Asim ialah ‘Asim bin ‘UbaydiLlah bin ‘Asim bin ‘Umar bin al-Khattab al-Qurasyi al-‘Adawi al-Madani. Kenapa Asim bin UbaydiLlah ini dinilai? Ini kerana riwayat ini jika ditelusuri akan didapati ia berlegar pada 'Asim bin UbaydiLlah walaupun daripada rekod muhaddith dalam karya masing-masing. Ulama jarh wa ta’dil memberi pelbagai penilaian terhadap 'Asim. Majoritinya memberi status bersifat da’if atau sederhana seperti mana berikut :

Daripada Ali bin Madini, beliau berkata, “Diberitahu kepada kami bahawa di sisi Yahya bin Sa’id (al-Qattan)[6] beliau menda’ifkan Asim bin UbaydiLlah.”

Dan berkata Ya’qub bin Syaybah dari Ali bin Madini (berkata), “Saya mendengar Abdul Rahman bin Mahdi mengingkari hadith 'Asim bin UbaydiLlah (dengan) pengingkaran yang amat sangat.”[7]

Daripada Yahya bin Ma’in bahawa 'Asim bin UbaydiLlah adalah Da’if. Menurut Ibrahim bin Ya’qub al-Jurjani, 'Asim adalah Da’if dan Sufyan bin Uyaynah tidak suka pada hafazannya.

Ya’qub bin Syaybah : “Terdapat kelemahan pada hadith-hadithnya dan terdapat juga padanya beberapa hadith Munkar”[8]

Al-Daraqutni berkata, “Laysa bi Qawiy (tidak kuat).”[9]

Abu Zur’ah berkata, “Muhammad bin Abdullah bin Numayr bertanya kepada saya, adakah saya lebih suka kepada 'Asim bin UbaydiLlah atau Ibn Aqil? Saya menjawab, Ibn Aqil bercanggah pada sanad-sanadnya, dan 'Asim Munkarul Hadith pada asalnya[10] (menyebabkan) Mudtarib hadith.”

Abu Hatim dan al-Bukhari berkata, “Munkarul Hadith.”[11] Abu Bakr bin Khuzaimah berkata, “Tidak menjadi hujjah baginya kerana teruk hafazannya.”[12]
Ahmad bin Abdullah al-‘Ijli, “La Ba’sa bihi (Tidak mengapa baginya).”[13]

Abu Ahmad bin ‘Adi berkata, “Sesungguhnya mengambil hadith darinya - ‘Asim-  oleh al-Thawri, Ibn Uyaynah, Syu’bah dan orang-orang lain dalam kalangan orang-oarang yang thiqah[14]. Orang ramai meriwayatkan serta menerima –hadith- nya, hadithnya ditulis sekalipun terdapat kelemahan pada-diri-nya ”
Dan berkata Abu Daud: ‘Asim, tidaklah ditulis hadith-hadihnya (iaitu hadith-hadith nya ditinggalkan)[15]

(Lebih lanjut, al-Mizzi, Tahzib al-Kamal fi Asma’ al-Rijal, j. 13, h. 502-506, No. Perawi 3014 & Ibn Hajar, Tahzib al-Tahzib, 48/5 )

Demikianlah secara ringkas apa yang dinyatakan oleh para nuqqad (pengkritik) terhadap Asim bin UbaydiLlah. Boleh disimpulkan bahawa majoriti mengkritik beliau secara umum dan berkemungkinan besar disebabkan oleh hafazannya.

Sebagai tambahan, selain al-Tirmizi, antara ahli hadith lain yang turut menerima hadith ini (samada sebagai sahih atau hasan) ialah al-Mizzi katanya Hasan Sahih dengan mengutip dan beriktimad kepada penilaian al-Tirmizi[16] (rujuk: Tuhfatul Asyraf, no. 12020), al-Nawawi katanya Sahih (rujuk: al-Majmu’, 8/434), Ibn Mulaqqin katanya Sahih (rujuk: Al-Badr Al-Munir, 9/348), Al-Hakim katanya Sahih (rujuk: al-Mustadrak, no. 4814), manakala Syaikh al-Mubarakfuri dalam Tuhfatul Ahwazi menatakan bahawa hadith ini da’if tetapi boleh dikuatkan.

Manakala Syaikh Sulayman bin Nasir al-‘Ulwan menyatakan di dalam risalah beliau bahawa riwayat Asim ini tidak diterima kerana keda’ifannya[17]. Beliau membawa pendapat dan kritikan ulama terhadap ‘Asim dan beliau menilai Da’if terhadap riwayat ini. (Rujuk, Sulayman bin Nasir al-‘Ulwan, al-I’lam bi Wujub al-Tathabbut fi Riwayah al-Hadith wa Hukm al-‘Amal bi al-Hadith al-Da’if, h. 28-30. Sila muat turun di sini www.saaid.net/Warathah/Al-Alwan/22.doc ). Begitu juga Ibn Hajar menilai da’if hadith ini kerana ‘Asim (rujuk: Talkhis Al-Habir, 4/149)

Pandangan Tersirat dan Tersorok

Setelah penulis meneliti beberapa lembaran karya ulama’, penulis mendapati bahawa ulama hadith tidak memilih bulu dalam menilai perawi tersebut. ‘Asim bin UbaydiLlah merupakan cicit kepada Umar al-Khattab r.a. Namun periwayatan beliau dikritik oleh nuqqad dan muhaddithin. Mengapa terjadi sedemikian? Ini kerana kepentingan sunnah Nabi SAW lebih utama daripada darah daging atau DNA orang tertentu walaupun daripada keturunan sahabat yang dijamin syurga. Mengapa mesti memuja dan mendewa-dewa seseorang hanya kerana keturunannya sahaja? Bukankah taqwa dan iman perlu dinilai terlebih dahulu. Mengapa mesti berkata, “Dia keturunan baik, takkanlah dia buat perkara tidak baik?” DNA dan keturunan tidak menjamin apa-apa melainkan taqwa kepada Allah SWT.

Taraju’ (Semakan Semula) al-Bukhari (m. 256H)

Penilaian al-Bukhari terhadap 'Asim adalah salah satu penanda aras dalam kes ini. Ini kerana al-Imam al-Bukhari adalah salah seorang guru utama Imam al-Tirmizi. Ketika menyusun Jami’ al-Mukhtasar, beliau telah membuat semakan bersama gurunya al-Bukhari.

Penilaian al-Bukhari terhadap 'Asim dalam kitab al-Tarikh al-Kabir adalah dalam kategori Jarh (kritikan) dan ia dilihat memberi kesan besar terhadap penilaian terhadap Asim. Berikut adalah penilaian al-Bukhari terhadap 'Asim terkandung di dalam al-Tarikh al-Kabir;

عاصم بن عبيدالله العمرى المدينى، منكر الحديث.
Terjemahan : ‘Asim bin UbaydiLlah al-Umari al-Madini adalah Munkarul Hadith
(Rujuk Tarikh al-Kabir, Maktabah Syamilah v.2, no. perawi 3088)

Penulis cuba membuat rujukan silang menggunakan teknologi di dalam Maktabah al-Syamilah bagi menyemak apakah kedudukan sebenar 'Asim bin UbaydiLlah. Penulis mendapati al-Bukhari telah membuat semakan semula penilaian terhadap 'Asim dalam ‘Ilal al-Kabir oleh al-Tirmizi.[18] Berikut petikannya;

قال محمد : عاصم بن عبيد الله صدوق روى عنه مالك بن أنس حديثين مرسلين، وروى عنه، شعبة والثوري.

Terjemahan : Muhammad (al-Bukhari) berkata, “Asim bin ‘UbaydiLlah adalah Soduq, Malik bin Anas meriwayatkan daripadanya dua hadith secara Mursal, Syu’bah dan al-Thawri juga meriwayatkan daripadanya.”[19]

Bagaimana boleh bertentangan dua kenyataan ini? Berdasarkan kronologi penulisan karya al-Bukhari. Kitab al-Tarikh al-Kabir ditulis lebih dahulu berbanding al-Jami’ al-Sahih iaitu ketika usia beliau 16 tahun. Maka dalam ‘Ilal al-Kabir, al-Tirmizi telah membuat semakan semula bersama gurunya al-Bukhari berkaitan kedudukan 'Asim ini. Lalu al-Bukhari meletakkan status Soduq berbanding status sebelum ini iaitu Munkarul Hadith. Dan daripada petunjuk ini, al-Tirmizi menerima riwayat daripada 'Asim bin UbaydiLlah berdasarkan penilaian semula al-Bukhari. Dalam ilmu al-Jarh wa al-Ta’dil, lafaz Soduq berada di bawah kategori Ta’dil (Iktiraf Autoriti) manakala Munkarul Hadith berada di bawah kategori Jarh (Kritikan).

Penanda Aras Daripada Ibn Khuzaimah (m. 311H)

Apabila kita membuat semakan dalam Sahih Ibn Khuzaimah melalui Maktabah Syamilah, kita akan mendapati, Ibn Khuzaimah hanya memuatkan satu sahaja hadith riwayat ‘Asim iaitu di dalam Kitab al-Siyam, No. Hadith 2007. (Lihat, Abu Bakr Muhammad bin Ishaq bin Khuzaimah, Mukhtasar al-Mukhtasar min al-Musnad al-Sahih ‘an al-Nabi [tahqiq Dr. Mahir Yasin al-Fahl], j. 3, h. 430-431.Walau bagaimanapun Dr. Mahir Yasin al-Fahl menda’ifkan hadith ini kerana keda’ifan ‘Asim bin UbaydiLlah[20])

Selepas membawa hadith ini beliau – Ibn Khuzaimah -  menghuraikan tentang perawi ‘Asim bin UbaydiLlah. Di akhir perbincangan, beliau menyatakan;

قال أبو بكر : « كنت لا أخرج حديث عاصم بن عبيد الله في هذا الكتاب، ثم نظرت، فإذا شعبة والثوري قد رويا عنه، ويحيى بن سعيد، وعبد الرحمن بن مهدي - وهما إماما أهل زمانهما - قد رويا عن الثوري عنه، وقد روى عنه مالك خبرا في غير الموطأ »
Terjemahan : Abu Bakr (Ibn Khuzaimah) berkata, “Saya – pada asalnya - tidak mengeluarkan (meriwayatkan) hadith ‘Asim bin ‘UbaydiLlah dalam kitab ini (Mukhtasar al-Mukhtasar). Kemudian saya melihat, apabila Syu’bah dan al-Thawri meriwayatkan (hadith) daripadanya (‘Asim). Yahya bin Sa’id al-Qattan dan Abdul Rahman bin Mahdi –kedua-duanya adalah imam pada zaman mereka – sesungguhnya kedua-duanya meriwayatkan daripada al-Thawri daripadanya (‘Asim). Sesungguh diriwayatkan daripadanya (‘Asim) oleh Malik satu khabar selain daripada al-Muwatta’”[21] (Lihat, ibid, (rujukan di atas), h. 431)

Maksudnya, Ibn Khuzaimah memberi petunjuk bahawa pada asalnya ‘Asim bin UbaydiLlah ini adalah Da’if tetapi apabila beliau melihat terdapat riwayat ‘Asim yang diriwayatkan oleh Syu’bah dan Sufyan al-Thawri. Kemudian Yahya bin Sa’id al-Qattan dan Abdul Rahman al-Mahdi pula meriwayatkan daripada Sufyan al-Thawri daripada ‘Asim. Maka Ibn Khuzaimah telah membuat semakan semula kedudukan jarh dan ta’dil terhadap ‘Asim, dan akhirnya menerima riwayat ‘Asim daripada rantaian trio huffaz ini iaitu;

Yahya bin Sa’id & Abdul Rahman bin Mahdi -> Sufyan al-Thawri -> ‘Asim bin UbaydiLlah.

Tambahan pula, Yahya bin Sa’id dan Syu’bah sendiri mengkritik periwayatan ‘Asim seperti mana rekod di dalam karya biografi perawi. Tetapi mereka berdua sendiri meriwayatkan hadith-hadith daripada ‘Asim melalui penilaian tertentu.[22] Ini disahkan daripada kata-kata al-Bukhari di dalam ‘Ilal al-Kabir oleh al-Tirmizi bahawa Syu’bah dan al-Thawri mengambil riwayat daripada ‘Asim;

قال محمد : عاصم بن عبيد الله صدوق روى عنه مالك بن أنس حديثين مرسلين، وروى عنه، شعبة والثوري.

Terjemahan : Muhammad (al-Bukhari) berkata, “Asim bin ‘UbaydiLlah adalah Soduq, Malik bin Anas meriwayatkan daripadanya dua hadith secara Mursal, Syu’bah dan al-Thawri juga meriwayatkan daripadanya.”

Petunjuk Dari Abu Daud (m. 275H)

Fenomena yang berlaku kepada Ibn Khuzaimah ini juga telah berlaku kepada Abu Daud. Ini kerana, sebagaimana yang telah dijelaskan sebelum ini, dalam Tahzib al-Tahzib dinukil kata-kata Abu Daud terhadap ‘Asim:
و قال أبو داود : عاصم لا يكتب حديثه
Terjemahan: Abu Dawud berkata: ‘Asim, tidaklah ditulis hadith-hadihnya (iaitu hadith-hadith nya ditinggalkan)

Kenyataan diatas adalah satu jarh yang syadid. Namun, apa yang menarik ialah apabila kita menyemak dalam kitab Sunan Abu Daud didapati Abu Daud sendiri telah menyalahi kenyataan diatas apabila beliau sendiri meriwayatkan hadith ‘Asim, bahkan ia adalah hadith azan di telinga bayi ini secara khusus, berikut adalah apa yang dikeluarkan Abu Daud:

قَالَ أبُوْ دَاودَ فِيْ سُنَنِهِ : حَدَّثَنَا مُسَدَّدٌ حَدَّثَنَا يَحْيَى عَنْ سُفْيَانَ قَالَ حَدَّثَنِى عَاصِمُ بْنُ عُبَيْدِ اللَّهِ عَنْ عُبَيْدِ اللَّهِ بْنِ أَبِى رَافِعٍ عَنْ أَبِيهِ قَالَ رَأَيْتُ رَسُولَ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- أَذَّنَ فِى أُذُنِ الْحَسَنِ بْنِ عَلِىٍّ - حِينَ وَلَدَتْهُ فَاطِمَةُ – بِالصَّلاَةِ
Terjemahan : Berkata Abu Daud dalam kitab Sunan nya: telah menceritakan kami Musaddad, menceritakan kami Yahya (bin Sa’id al-Qattan) dari Sufyan katanya, menceritakan ku Asim bin ‘UbaydiLlah daripada UbaydiLlah bin Abi Rafi daripada ayahnya katanya, “Saya telah melihat Rasulullah SAW memperdengarkan azan pada telinga al-Hasan bin Ali ketika Fatimah melahirkannya dengan - azan seperti azannya- solat.

Hadith ini diriwayatkan oleh Abu Daud di dalam Bab fi Al-Sibbiyi Yuladu Fayuzzanu fi Uzunihi (Bab padanya azan ditelinga bayi apabila dilahirkan),No Hadith 5105 (Rujuk, Sunan, Abu Daud [tahqiq Muhammad Muhyiddin Abdul Humaid], j. 2, hal. 749)

Dan Abu Daud mendiamkan hadith ini serta tidak memberi sebarang kritikan, ini menunjukkan bahawa hadith ini adalah ‘Soleh’ disisi Abu Daud sendiri dan menjadi hujah dalam fiqh.[23]

Ini sebagaimana kata Abu Daud dalam Risalah Ila Ahl Makkah[24]:

ما لم أذكر فيه شيئا فهو صالح
Terjemahan: Apa yang aku diamkan – dalam kitabku Sunan- maka ianya adalah Soleh.

Dapat kita fahami diamnya Abu Daud disini adalah satu petunjuk kuat bahawa hadith ini bukanlah hadith yang dhaif syadid, bahkan ianya adalah Soleh. Dan kemungkinan besar Abu Daud telah mempertimbangkan semula dan membuat semakan semula penilaian terhadap ‘Asim, jika dulunya adalah dhaif syadid dan tidak ditulis hadithnya, tetapi sekarang tidak lagi atau setidak-tidaknya beliau tidak da'if untuk hadith ini secara khusus apabila Yahya Al-Qattan dan Syu’bah mengambil hadith ini dari beliau. Beliau bukan lagi da'if dan hadithnya sekarang ditulis.

Riwayat ‘Asim di dalam Sunan al-Tirmizi

Kita lihat kembali riwayat kes ini dalam Sunan al-Tirmizi;

قَالَ التِّرْمِذِيُّ فِيْ جَامِعِه: حَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بْنُ بَشَّارٍ حَدَّثَنَا يَحْيَى بْنُ سَعِيدٍ وَعَبْدُ الرَّحْمَنِ بْنُ مَهْدِيٍّ قَالَا أَخْبَرَنَا سُفْيَانُ عَنْ عَاصِمِ بْنِ عُبَيْدِ اللَّهِ عَنْ عُبَيْدِ اللَّهِ بْنِ أَبِي رَافِعٍ عَنْ أَبِيهِ قَالَ رَأَيْتُ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَذَّنَ فِي أُذُنِ الْحَسَنِ بْنِ عَلِيٍّ حِينَ وَلَدَتْهُ فَاطِمَةُ بِالصَّلَاةِ
هَذَا حَدِيثٌ حَسَنٌ صَحِيحٌ وَالْعَمَلُ عليه
Terjemahan : Berkata al-Tirmizi dalam kitab Jami’nya: Muhammad bin Basysyar telah menyampaikan kepada kami bahawa Yahya bin Sa’id  dan Abdul Rahman bin Mahdi telah berkata, Sufyan telah mengkhabarkan kepada kami bahawa dari 'Asim bin ‘UbaydiLlah daripada UbaydiLlah bin Abi Rafi daripada ayahnya katanya, “Saya telah melihat Rasulullah SAW mengazankan pada telinga al-Hasan bin Ali ketika Fatimah melahirkannya dengan solat (dengan azan seperti dalam solat).

(al-Tirmizi berkata) Hadith ini Hasan Sahih dan diamalkan –fiqh- padanya.

Apabila kita telusuri beberapa riwayat daripada trio huffaz ini termasuk riwayat daripada Syu’bah daripada 'Asim juga, kebanyakannya al-Tirmizi menilai hadith berkenaan dengan status Hasan Sahih. Jadi, bagi al-Tirmizi apabila gurunya al-Bukhari menyatakan bahawa Syu’bah dan al-Thawri mengambil riwayat daripada ‘Asim maka menurut penilaian al-Tirmizi riwayat tersebut Sahih. Ini jelas dinyatakan oleh Ibn Khuzaimah dalam kitabnya al-Sahih.[25]

Justeru, jelas di sini bahawa tashih al-Tirmizi pada hadith ini adalah berdasarkan panduan daripada gurunya al-Bukhari dengan meneliti petunjuk daripada huffaz salaf seperti Sufyan al-Thawri dan Syu’bah bin Hajjaj. Maksudnya, sekiranya riwayat ‘Asim itu diriwayatkan daripada Syu’bah atau Sufyan al-Thawri maka riwayatnya boleh diterima menurut al-Tirmizi tambahan pula riwayat kedua huffaz ini diriwayatkan pula oleh Yahya bin Sa’id al-Qattan dan Abdul Rahman bin Mahdi. Ini dapat dilihat pada hadith-hadith lain daripada riwayat trio huffaz ini di dalam Sunan al-Tirmizi. Contohnya;

قَالَ التِّرْمِذِيُّ فِيْ جَامِعِه: حَدَّثَنَا سُفْيَانُ بْنُ وَكِيعٍ حَدَّثَنَا أَبِي عَنْ سُفْيَانَ عَنْ عَاصِمِ بْنِ عُبَيْدِ اللَّهِ عَنْ سَالِمٍ عَنْ ابْنِ عُمَرَ عَنْ عُمَرَ أَنَّهُ اسْتَأْذَنَ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فِي الْعُمْرَةِ فَقَالَ أَيْ أُخَيَّ أَشْرِكْنَا فِي دُعَائِكَ وَلَا تَنْسَنَا
قَالَ أَبُو عِيسَى هَذَا حَدِيثٌ حَسَنٌ صَحِيحٌ

قَالَ التِّرْمِذِيُّ فِيْ جَامِعِه: حَدَّثَنَا بُنْدَارٌ حَدَّثَنَا عَبْدُ الرَّحْمَنِ بْنُ مَهْدِيٍّ حَدَّثَنَا شُعْبَةُ عَنْ عَاصِمِ بْنِ عُبَيْدِ اللَّهِ قَال سَمِعْتُ سَالِمَ بْنَ عَبْدِ اللَّهِ يُحَدِّثُ عَنْ أَبِيهِ قَالَ قَالَ عُمَرُ يَا رَسُولَ اللَّهِ أَرَأَيْتَ مَا نَعْمَلُ فِيهِ أَمْرٌ مُبْتَدَعٌ أَوْ مُبْتَدَأٌ أَوْ فِيمَا قَدْ فُرِغَ مِنْهُ فَقَالَ فِيمَا قَدْ فُرِغَ مِنْهُ يَا ابْنَ الْخَطَّابِ وَكُلٌّ مُيَسَّرٌ أَمَّا مَنْ كَانَ مِنْ أَهْلِ السَّعَادَةِ فَإِنَّهُ يَعْمَلُ لِلسَّعَادَةِ وَأَمَّا مَنْ كَانَ مِنْ أَهْلِ الشَّقَاءِ فَإِنَّهُ يَعْمَلُ لِلشَّقَاءِ قَالَ أَبُو عِيسَى وَفِي الْبَاب عَنْ عَلِيٍّ وَحُذَيْفَةَ بْنِ أَسِيدٍ وَأَنَسٍ وَعِمْرَانَ بْنِ حُصَيْنٍ وَهَذَا حَدِيثٌ حَسَنٌ صَحِيحٌ

قَالَ التِّرْمِذِيُّ فِيْ جَامِعِه: حَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بْنُ بَشَّارٍ حَدَّثَنَا عَبْدُ الرَّحْمَنِ بْنُ مَهْدِيٍّ حَدَّثَنَا سُفْيَانُ عَنْ عَاصِمِ بْنِ عُبَيْدِ اللَّهِ عَنْ الْقَاسِمِ بْنِ مُحَمَّدٍ عَنْ عَائِشَةَ أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَبَّلَ عُثْمَانَ بْنَ مَظْعُونٍ وَهُوَ مَيِّتٌ وَهُوَ يَبْكِي أَوْ قَالَ عَيْنَاهُ تَذْرِفَانِ
وَفِي الْبَاب عَنْ ابْنِ عَبَّاسٍ وَجَابِرٍ وَعَائِشَةَ قَالُوا إِنَّ أَبَا بَكْرٍ قَبَّلَ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَهُوَ مَيِّتٌ قَالَ أَبُو عِيسَى حَدِيثُ عَائِشَةَ حَدِيثٌ حَسَنٌ صَحِيحٌ

Kesimpulan

Berdasarkan huraian di atas, penulis boleh membuat kesimpulan bahawa tashih al-Tirmizi dalam hal ini mempunyai qarinah dan petunjuk yang jelas menurut beliau. Walaupun perawi ‘Asim ditolak oleh kebanyakan muhaddithin secara umum, namun beliau meletakkan kedudukan riwayat ‘Asim ini dalam tashih yang paling tinggi. Walau bagaimanapun riwayat ini dikritik oleh ramai ulama’ terkemudian (Mutaakhkhirin) dan penulis dengan merasa rendah diri mengatakan bahawa penda’ifan ulama hadith sebelum ini adalah tersilap, mereka telah mendapat pahala atas ijtihad mereka. Dan kekuatan adalah terletak pada tashih al-Tirmizi.

Justeru, penulis boleh membuat beberapa justifikasi umum terhadap penilaian hadith ini.

1- Sahih menurut huffaz salaf berdasarkan Tashih al-Tirmizi berdasarkan kenyataan beliau tentang pengamalan fiqh ini dan pengamalannya adalah sunnah. Dan pendapat inilah yang rajih bagi kami – Allah hu’alam-[26]

2- Sahih menurut al-Tirmizi dan huffaz salaf menda’ifkan perawi ‘Asim, amalannya sunnah menurut al-Tirmizi dan tidak menurut huffaz yang lain.

3- Da’if kerana perawi ‘Asim bin ‘UbaydiLlah berdasarkan kenyataan huffaz salaf yang mengkritiknya tanpa mengabaikan tashih al-Tirmizi dan boleh diamalkan.

4- Da’if kerana penilaian ulama hadith lain dan menafikan tashih al-Tirmizi.
Berkata Syaikh ‘Abdul ‘Aziz bin Baaz – rahimahullah- :

ورد في سنن الترمذي حديث صححه بعض العلماء وعمل به البعض أنه يؤذن في أذن المولود اليمنى. وأما الإقامة فورد فيها حديث ضعيف وعمل به جمع من السلف مثل عمر بن عبدالعزيز رحمه الله
Terjemahan: telah datang riwayat dalam Sunan Al-Tirmizi hadith yang disahihkan oleh sebahagaian ulama dan mengamalkan – hadith ini-  oleh sebahagian mereka sesungguhnya azan pada telinga bayi di telinga kanan, adapun iqamah – pada telinga bayi pula- telah datang dari hadith yang dhaif dan ia diamalkan oleh sekelompok daripada Salaf misalnya ‘Umar Abdul ‘Aziz rahimahullah (rujuk: Ahkam Al-Maulud, ‘Abdul ‘Aziz bin Sa’d, Multaqa’ Ahl Hadith, 2008M)
Sekian, Allah hu’alam

Nota Penyunting:

[1] Sahabat saya yang mulia, al-fadhil ustaz Ahmad Saiffuddin Yusof telah menghasilkan satu kajian yang teperinci lagi menarik, bahkan beliau telah menemui satu penemuan baru yang sangat penting berkenaan tauthiq kepada ‘Asim. Saya amat berbesar hati menjadi penyunting dan ia adalah satu penghormatan buat diri saya. Ketika melakukan semakan, saya turut memasukkan beberapa komentar, dan tambahan hujah penting berserta rujukan dalam nota kaki.

[2] Berkata penyunting: penamaan syaikh Syu’aib al-Arnaouth – hafizahullah - atas kitab Imam al-Tirmizi sebagai “al-Jami al-Kabir” adalah tidak tepat, nama sebenar kitab ini sebagaimana yang diberi oleh Imam al-Tirmizi sendiri ialah “al-Jami’ al-Mukhtasar”, dan sangatlah jauh bezanya antara “al-Kabir” dan “al-Mukhtasar”!

[3] Berkata penyunting: penamaan kitab Imam al-Tirmizi sebagai “Sunan” adalah popular, namun ia tidak tepat kerana nama asalnya seperti yang diberi oleh Imam al-Tirmizi sendiri ialah “al-Jami’ al-Mukhtasar”, dan sesungguhnya “Sunan” dan  “ al-Jami’ ” itu sangatlah  jauh bezanya!

[4] Berkata penyunting: suka saya berkongsi satu faedah penting yang dikutip dari kuliah Syaikh ‘Abdullah al-Sa’d:
تصحيح الترمذي مقدم على تصحيح الدارقطني ، و هو - الدارقطني - مقدم على ابن خزيمة ، و هو - ابن خزيمة - مقدم على الحاكم ، و إن كان - الترمذي - قد يصحح لبعض من فيهم ضعف و لكن هذا قليل ، مثل :قابوس بن أبي ظبيان، عاصم بن عبيد الله ، و غيرهم ، فتمسَّك بتصحيح الترمذي
Terjemahan: tashih al-Tirmizi didahulukan dari tashih ad-Daraquthni, dan tashih ad-Daraquthni didahulukan dari tashih Ibn Khuzaimah, dan tashih Ibn Khuzaimah didahulukan dari tashih al-Hakim, dan sesungguhnya al-Tirmizi ada mensahihkan (hadith yang rawi itu padanya terdapat) dhaif , akan tetapi ia adalah sedikit, seperti rawi: Qabus bin Abi Zabyan, ‘Asim bin Ubaidillah, dan lain-lain , maka berpeganglah dengan tashih al-Tirmizi (rujuk: Rakaman Audio kuliah Syarah Al-Mugizoh oleh syaikh ‘Abdullah al-Sa’d, siri  ke-9, pada minit 18.25)

[5] Berkata penyunting: sesetengah berpendapat bahawa istilah ‘Hasan Sahih’ ini adalah bermaksud Sahih matannya tetapi Hasan isnadnya, atau Sahih isnadnya tetapi Hasan matannya. Namun pendapat ini tidak tepat , yang tepat lafaz Hasan Sahih adalah salah satu lafaz tashih oleh al-Tirmizi untuk hadith tersebut, bahkan ia adalah tahap tashih yang tertinggi dalam kitab al-Jami’. Lanjut rujuk kajian terperinci oleh Dr. Hatim Al-Syarif bertajuk: ‘Masodir al-Sunnah wa Manahij Musonnafiha’

[6] Berkata penyunting: ya, disini dinaqalkan bahawa Yahya al-Qattan mendhaifkan ‘Asim, namun perlu difahami bahawa ini adalah secara umumnya bukan secara khusus. Ini kerana, terdapat hadith-hadith yang Yahya al-Qattan sendiri meriwayatkan dari ‘Asim dan beliau mengambilnya dari ‘Asim, semuanya ini adalah berdasarkan beberapa qarain-qarain dan murajjihat-murajjihat tertentu yang menunjukkan bahawa hadith ‘Asim yang tersebut secara khusus adalah diterima. Dan Yahya al-Qattan dikenali sebagai seorang yang hanya mengambil dari mereka yang thiqah sahaja, atau dari mereka yang dhaif tetapi hadithnya yang tersebut secara khusus adalah maqbul (diterima iaitu samada sahih atau hasan). Sehingga jika seorang rawi yang majhul sekalipun, apabila hadithnya diriwayatkan oleh mereka ini maka hadith itu diterima dan dibuat hujah dalam fiqh! Ini sebagaimana yang dinukilkan oleh Abu Daud, beliau bertanya kepada gurunya Ahmad bin Hanbal: “apabila Yahya al-Qattan, Abdulrahman ibn Mahdi meriwayatkan dari seorang rawi yang majhul, adakah hadith itu dibuat hujah? maka jawab Ahmad: “ya, berhujah dengannya”.  Lebih lanjut untuk perkara ini digalakkan untuk merujuk penjelasan teperinci oleh Syaikh Abdul Fattah Abu Ghuddah dalam ta’liqnya atas kitab Qawaid Ulum al-Hadith karya Tahanawi (hal. 216), dan ta’liq beliau atas kitab al-Raf’ Wa al-Takmil, begitu juga rujuk kajian mendalam Dr. Yahya Al-Syahri dalam mukaddimah tesis PhD beliau berjudul “Zawaid Rijal Ibn Hibban”.

[7] Berkata penyunting: ya, disini dinaqalkan bahawa Ibn Mahdi mengingkari hadith ‘Asim, namun perlu difahami bahawa ini adalah secara umumnya bukan secara khusus. Ini kerana, terdapat hadith-hadith yang Ibn Mahdi sendiri meriwayatkan dari ‘Asim dan beliau mengambilnya dari ‘Asim, semuanya ini adalah berdasarkan beberapa qarain-qarain dan murajjihat-murajjihat tertentu yang menunjukkan bahawa hadith ‘Asim yang tersebut secara khusus adalah diterima. Dan Ibn Mahdi sebagaimana Yahya al-Qattan dikenali sebagai seorang yang hanya mengambil dari mereka yang thiqah sahaja, atau dari mereka yang dhaif tetapi hadithnya yang tersebut secara khusus adalah maqbul (diterima iaitu samada sahih atau hasan). Sehingga jika seorang rawi yang majhul sekalipun, apabila hadithnya diriwayatkan oleh mereka ini maka hadith itu diterima dan dibuat hujah dalam fiqh! Ini sebagaimana yang dinukilkan oleh Abu Daud, beliau bertanya kepada gurunya Ahmad bin Hanbal: “apabila Yahya al-Qattan, Abdulrahman ibn Mahdi meriwayatkan dari seorang rawi yang majhul, adakah hadith itu dibuat hujah? maka jawab Ahmad: “ya, berhujah dengannya”. Lebih lanjut untuk perkara ini digalakkan untuk merujuk penjelasan teperinci oleh Syaikh Abdul Fattah Abu Ghuddah dalam ta’liqnya atas kitab Qawaid Ulum al-Hadith karya Tahanawi (hal. 216), dan ta’liq beliau atas kitab al-Raf’ Wa al-Takmil, begitu juga rujuk kajian mendalam Dr. Yahya Al-Syahri dalam mukaddimah tesis PhD beliau berjudul “Zawaid Rijal Ibn Hibban”.

[8] Berkata penyunting: ibarat yang digunakan oleh Ya’qub bin Syaybah ialah:
و له أحاديث مناكير - (Walahu Ahadith Manakir), dan perlu diketahui bahwa ibarat ‘Walahu Ahadith Manakir’ adalah berbeza dengan ‘Munkarul Hadith’. Ibarat ‘Munkarul Hadith’ dinisbahkan kepada perawi yang sangat banyak melakukan silap dalam periwayatannya. Manakala ‘Walahu Ahadith Manakir’ (padanya terdapat hadith-hadith munkar) memberi erti si fulan ada meriwayatkan beberapa hadith-hadith yang silap, dan bukannya semua haditnya silap, bahkan terdapat hadith-hadithnya yang betul dan diterima, silapnya tidaklah sebanyak mereka yang ‘Munkarul Hadith’. Lanjut rujuk penjelasan teperinci oleh Dr. Mustafa al-Muhammadi dan Dr. Basyar ‘Awwad Ma’ruf dalam kitab al-Syadz wa al-Munkar wa Ziyadah al-Thiqah: Muwazanah Baina al-Mutaqaddimin wa al-Mutaakhkhirin.

[9] Berkata penyunting: ibarat ‘Lisa Bil Qawiy’, perlu difahami bahawa ibarat ini bukanlah satu jarh yang syadid dan bukanlah bermakna mereka yang dinilai sebagai ‘Laisa Bil Qawiy’ ini hadith-hadith tertolak secara mutlak, bahkan  ibarat ini digunakan oleh sebahagian ulama jarh wa ta’dil dan tidaklah mereka maksudkan penolakan mereka terhadap rawi itu, bahkan mereka-mereka yang dinilai sebegini terdapat hadith-hadith mereka yang dijadikan hujah! Berkata Dr. Hatim Al-Syarif: “..ibarat – Laisa Bil Qawiy- ini bukanlah daripada jenis ibarah jarh yang syadid, bahkan menggunakan sebahagian ulama’ dan tidaklah mereka maksudkan penolakan mereka terhadap rawi itu, bahkan yang mereka maksudkan ialah: sesungguhnya rawi itu tidak mencapai tahap kekuatan yang matang dan hafazannya tidak sempurna sepenuhnya”. Rujuk: Syarah al-Mugizoh li-Zahabi, Dr. Hatim Al-Syarif.

[10] Berkata penyunting: Munkarul Hadith pada asalnya, memberi erti seseorang itu pada asalnya banyak melakukan kesilapan dalam periwayatan, banyak hadith-hadith beliau yang silap, dan sangat sedikit hadith nya yang betul.

[11] Berkata penyunting: namun penilaian Munkarul Hadith ini telah ditarik semula (taraju') oleh al-Bukhari, kita akan jelaskan nanti.

[12] Berkata penyunting: perhatikan disini bahawa Ibn Khuzaimah menyatakan bahawa ‘Asim tidak menjadi hujah, namun kita akan lihat nanti bahawa Ibn Khuzaimah sendiri telah menyalahi kenyataan beliau ini, apabila beliau terpaksa akhirnya berhujah dan menerima hadith ‘Asim atas qarain-qarain tertentu yang menunjukkan bahawa hadith ‘Asim yang tersebut adalah diterima dan tidak silap. Kita akan jelaskan nanti.

[13] Berkata penyunting: ini adalah ibarat ta’dil dan bukannya jarh.

[14] Berkata penyunting: Suatu perkara yang sangat penting untuk diketahui, perawi-perawi yang diriwayatkan (diambil hadithnya) oleh mereka - Al-Thauri, Ibn Uyaynah dan  Syu’bah , termasuk juga Yahya Al-Qattan, Ibn Mahdi, Malik – ini diberi perhatian khusus dan istimewa walaupun pada umumnya perawi itu dijarh sebagai dhaif. Bahkan ibarat seperti “si fulan telah meriwayatkan darinya Syu’bah, atau Malik, atau Yahya al-Qattan, atau Syu’bah. atau Ibn Mahdi, atau al-Thawri, atau Ibn Uyaynah” adalah dikira sebagai satu ibarat ta’dil kepada perawi itu dan dia dikira sebagai thiqah secara umumnya, atau setidak-tidaknya dia adalah thiqah untuk hadith yang khusus tersebut. Ini kerana mereka - al-Thwuri, Ibn Uyaynah dan  Syu’bah , termasuk juga Yahya al-Qattan, Ibn Mahdi, Malik –  adalah dikenali sebagai mereka yang hanya mengambil dari mereka yang thiqah sahaja, atau dari mereka yang dhaif tetapi hadithnya yang tersebut secara khusus adalah maqbul (diterima iaitu samada sahih atau hasan). Sehingga jika seorang rawi yang majhul sekalipun, apabila hadithnya diriwayatkan oleh mereka ini maka hadith itu diterima dan dibuat hujah dalam fiqh! Ini sebagaimana yang dinukilkan oleh Abu Daud, beliau bertanya kepada gurunya Ahmad bin Hanbal: “apabila Yahya al-Qattan, Abdulrahman ibn Mahdi meriwayatkan dari seorang rawi yang majhul, adakah hadith itu dibuat hujah? maka jawab Ahmad: “ya, berhujah dengannya”.  Lebih lanjut untuk perkara ini digalakkan untuk merujuk penjelasan teperinci oleh Syaikh Abdul Fattah Abu Ghuddah dalam ta’liqnya atas kitab Qawaid Ulum al-Hadith karya Tahanawi (hal. 216), dan ta’liq beliau atas kitab al-Raf’ Wa al-Takmil, begitu juga rujuk kajian mendalam Dr. Yahya al-Syahri dalam mukaddimah tesis PhD beliau berjudul “Zawaid Rijal Ibn Hibban”.

[15] Berkata penyunting: disini kita lihat Abu Daud menyatakan bahawa hadith-hadith 'Asim tidak ditulis, namun Abu Daud sendiri telah menyalahi kenyataan ini apabila beliau sendiri meriwayatkan hadith ‘Asim ini dalam kitab Sunannya!. Kita akan jelaskan nanti

[16] Berkata penyunting: suka saya  berkongsi satu faedah penting yang dikutip dari kuliah Syaikh ‘Abdullah al-Sa’d:
تصحيح الترمذي مقدم على تصحيح الدارقطني ، و هو - الدارقطني - مقدم على ابن خزيمة ، و هو - ابن خزيمة - مقدم على الحاكم ، و إن كان - الترمذي - قد يصحح لبعض من فيهم ضعف و لكن هذا قليل ، مثل :قابوس بن أبي ظبيان، عاصم بن عبيد الله ، و غيرهم ، فتمسَّك بتصحيح الترمذي
Terjemahan: tashih al-Tirmizi didahulukan dari tashih ad-Daraquthni, dan tashih ad-Daraquthni didahulukan dari tashih Ibn Khuzaimah, dan tashih Ibn Khuzaimah didahulukan dari tashih al-Hakim, dan sesungguhnya al-Tirmizi ada mensahihkan (hadith yang rawi itu padanya terdapat) dhaif , akan tetapi ia adalah sedikit, seperti rawi: Qabus bin Abi Zabyan, ‘Asim bin Ubaidillah, dan lain-lain , maka berpeganglah dengan tashih al-Tirmizi (rujuk: Rakaman Audio kuliah Syarah Al-Mugizoh oleh syaikh ‘Abdullah al-Sa’d, siri ke-9, pada minit 18.25)

[17] Berkata penyunting: Syaikh Sulayman bin Nasir al-Ulwan – hafizahullah- adalah antara ahli hadith dan fudhala’ zaman ini, dan antara ulama’ yang berjalan atas manhaj mutaqaddimin dalam kajian hadith, namun bagi saya penilaian beliau untuk hadith ini adalah hanya berdasarkan zahir sanad dan zahir keadaan ‘Asim yang lemah secara umumnya, dan bagi saya ia kurang tepat dan beliau tersilap, dan saya dengan rendah diri tidak bersetuju dengan tad’if beliau.

[18] Berkata penyunting: dan ini adalah satu penemuan yang besar! Dan ia adalah satu qarain dan murajjihat yang amat kuat untuk hadith ini.

[19] Berkata penyunting: jika kita lihat sebelum ini al-Bukhari menilai ‘Asim sebagai Munkarul Hadith, ini kerana dilihat pada ‘Asim banyak melakukan kesilapan dalam meriwayatkan hadith. Namun, disini kita dapati al-Bukhari telah menukar pandangan dan menilai ‘Asim sebagai Soduq apabila melihat bahawa Malik, Syu’bah dan al-Thauri ada meriwayatkan dari ‘Asim, dan ini adalah satu qarain dan murajjihat yang kuat untuk menerima ‘Asim maka al-Bukhari telah menukar pandangan dan akhirnya menilai 'Asim sebagai Soduq, kerana Malik, Syu’bah dan al-Thawri dikenali sebagai mereka yang hanya meriwayatkan dari mereka yang thiqah sahaja atau dari mereka yang dhaif tetapi hadithnya yang tersebut secara khusus adalah maqbul (diterima iaitu samada sahih atau hasan). Sehingga jika seorang rawi yang majhul sekalipun, apabila hadithnya diriwayatkan oleh mereka ini maka hadith itu diterima dan dibuat hujah dalam fiqh! Ini sebagaimana yang dinukilkan oleh Abu Daud, beliau bertanya kepada gurunya Ahmad bin Hanbal: “apabila Yahya al-Qattan, Abdulrahman ibn Mahdi meriwayatkan dari seorang rawi yang majhul, adakah hadith itu dibuat hujah? maka jawab Ahmad: “ya, berhujah dengannya”.  Hal yang berlaku kepada al-Bukhari ini turut sama berlaku kepada Ibn Khuzaimah dan Abu Daud! Kita akan lihat nanti.

[20] Berkata penyunting: Syaikh Mahir Yasin al-Fahl –hafizahullah- adalah antara ahli hadith dan fudhala’ zaman ini, dan antara ulama’ yang berjalan atas manhaj mutaqaddimin dalam kajian hadith, namun bagi saya penilaian beliau untuk hadith ini adalah hanya berdasarkan zahir sanad dan zahir keadaan ‘Asim yang lemah secara umumnya, dan bagi saya ia kurang tepat dan beliau tersilap, dan saya dengan rendah diri tidak bersetuju dengan tad’if beliau. Bagi saya hadith ini sahih, dan tashih Ibn Khuzaimah lebih utama dan padanya kekuatan.

[21] Berkata penyunting:  seperti yang telah disebut sebelum ini, dalam kitab Tahzib al-Kamal dinaqal Ibn Khuzaimah menyatakan bahawa ‘Asim tidak menjadi hujah. Namun, penilain ini telah ditarik semula oleh Ibn Khuzaimah apabila beliau melihat hadith-hadith ‘Asim ada diriwayatkan oleh Malik, Syu’bah, Al-Thauri, Yahya al-Qattan dan Ibn Mahdi, dan ini adalah satu qarain dan murajjihat yang kuat untuk menerima ‘Asim dan berhujah dengannya, kerana Malik, Syu’bah dan al-Thawri dikenali sebagai mereka yang hanya meriwayatkan dari mereka yang thiqah sahaja atau dari mereka yang dhaif tetapi hadithnya yang tersebut secara khusus adalah maqbul (diterima iaitu samada sahih atau hasan). Sehingga jika seorang rawi yang majhul sekalipun, apabila hadithnya diriwayatkan oleh mereka ini maka hadith itu diterima dan dibuat hujah dalam fiqh! Ini sebagaimana yang dinukilkan oleh Abu Daud, beliau bertanya kepada gurunya Ahmad bin Hanbal: “apabila Yahya al-Qattan, Abdulrahman ibn Mahdi meriwayatkan dari seorang rawi yang majhul, adakah hadith itu dibuat hujah? maka jawab Ahmad: “ya, berhujah dengannya”. 

[22] Berkata penyunting: disini jelas menunjukkan bahawa walupun mereka mendhaifkan ‘Asim secara umum kerana beliau banyak melakukan kesilapan, namun terdapat hadith-hadith beliau yang masih diambil kerana telah terbukti disisi Syu’bah, Ibn Mahdi, Yahya al-Qattan bahawa beliau tidak tersilap untuk hadith itu secara khusus, semunya ini hanya diketahui dengan qarain-qarain tersembunyi yang amat kuat.

Satu perkara yang sangat penting yang perlu diketahui, tidak semua hadith periwayat yang dijarh sebagai dhaif itu ditolak, begitu juga tidak semua hadith periwayat yang dinilai thiqah itu diterima hadithnya. Penilaian hadith ni bukan seperti sifir matematik yang hanya bergantung pada zahir sanad hadith, asal sahaja perawi itu thiqah maka sahih lah hadithnya, asal sahaja perawi itu  soduq maka hasan lah hadithnya, asal sahaja perawi itu dhaif maka dhaif lah haditnya, asal sahaja perawi itu kazzab maka palsu lah hadithnya.

Sungguh tashih dan tad'if hadith disisi para huffaz hadith Salaf (Al-Mutaqaddimin) bukanlah begitu caranya!  Sebaliknya ia bergantung kepada qarain-qarain (petunjuk-petunjuk dan bukti yang kuat).

Para nuqqad huffaz Salaf (al-Muatqaddimin) dalam tashih dan tahsin hadith ni, ianya bukan bermakna rawi tu mesti thiqah atau soduq semata-semata disisi mereka, tetapi ia juga dilihat kepada qarain-qarain tertentu untuk hadith itu secara khusus, perawi yang dhaif boleh membawa hadith sahih atau hasan kerana qarain-qarain untuk hadith itu secara khusus / specifik menunjukkan bahawa hadith itu sahih atau hasan. Jarh pada rawi tu adalah umum, adapun penilaian hadith ia adalah specifk pada hadith, setiap hadith adalah unik dan khusus.


Begitu juga untuk rawi yang dhaif boleh membawa hadith yang sahih juga, dilihat pada qarain-qarain yang specifik untuk hadith itu juga. Ini adalah manhaj para huffaz Salaf (al-Mutaqaddimin) dalam tashih dan tad'if, ia bukan sifir yang mudah, ia bukan hanya semata melihat kepada zahir sanad. Tetapi juga melihat kepada qarain-qarain tertentu.

Berkata Syaikhana Dr. Abulharith Mahir Yasin al-Fahl: 

 "Dan daripada sesuatu yang telah sedia diketahui dalam ilmu hadith itu adalah: hadith (yang diriwayatkan oleh rawi yang) thiqah bukanlah semuanya sahih, sebagaimana hadith (yang diriwayatkan oleh rawi yang) dha`if bukanlah semuanya dha`if.Dan mengetahui kedua-dua jenis daripada hadith kedua-dua pihak (iaitu hadith thiqah yang sahih, hadith thiqah yang dha`if, hadis dhu`afa' yang sahih, hadith dhu`afa' yang dha`if) itu bukanlah perkara yang mudah. Sesungguhnya para Imam nuqqad telah mencapai hal itu, yang telah menyelam di dalam kedalaman apa yang tersembunyi daripada riwayat-riwayat daripada yang sahih atau yang silap" (Rujuk: al-Jami' fil 'Ilal wal Fawaid, Dr. Mahir Yasin al-Fahl, jilid 1, hal. 288, Dar Ibn al-Jauzi, Dammam, Arab Saudi, 2010M)

Juga kata syaikh Abu Muadz Thariq 'Iwadullah Muhammad:

"pen-sahih-an dan pen-tahsin-an sesuatu hadith itu tidaklah bermakna perawi bagi hadith itu mesti seorang yang thiqah disisi mereka yang mensahihkan dan meng-hasan-kannya" (Rujuk: al-Naqdul Bannaa' li Hadith al-Asmaa', Thariq 'Iwadullah, hal. 282, Maktabah Ibn Taimiah, Giza, Mesir, 2009M)

Bahkan kata syaikh Abu Muadz Thariq 'Iwadullah lagi ketika menjelaskan sebuah hadith yg padanya terdapat rawi yang dhaif pada huffaz itu, tetapi huffaz itu sendiri mensahihkannya atau menghasankannya: 

"...Sesungguhnya peng-hasan-an seseorang Nuqqad (iaitu para huffaz al-Mutaqaddiminun) untuk sesuatu hadith atau pen-sahihan-nya terhadap hadith itu, tidak hanya dengan semata-mata bergantung kepada bukti-bukti yang menunjukkan bahawa rawi yang bersendirian yang membawa hadith itu adalah seorang yang soduq dalam hafazan, atau seorang yang thiqah di sisi nuqqad itu.


Maka sesungguhnya untuk setiap hadith daripada hadith yang dibawa oleh seseorang rawi - yang tidak thiqah dan dhaif- itu mempunyai hukum secara khusus dan specifik, maka Nuqqad (iaitu para huffaz al-Mutaqaddimin) ini mendapati pada hadir itu – terhadap apa yang dia fahami daripadanya – yang rawi itu mengingatinya, dan zann yang tertentu turut memberi kesan - yang kuat - pada peng-hasan-an hadith itu atau pen-sahihan -hadith itu secara khusus dan specifik. 


Maka hukuman samada hasan atau sahih untuk sesuatu hadith itu oleh Nuqqad (iaitu para huffaz al-Mutaqaddimin) itu bergantung pada qarinah-qarinah (iaitu bukti dan petunjuk kuat) yang tersirat/tersembunyi, bukan semata-semata kerana perawi itu adalah seorang yang soduq atau kerana perawi itu seorang yang thiqah. 


Dan seperti itu (juga sebaliknya dalam mendhaifkan hadith untuk perawi yang thiqah), seseorang Nuqqad (itu para huffaz al-Mutaqaddimin) mendha`ifkan sesuatu hadith yang bersendirian yang diriwayatkan oleh beberapa orang yang thiqah, pendha`ifan nuqqad ini terhadap hadith ini, bukan hanya – dengan semata-mata – terhadap bukti bahawa rawi itu adalah seorang yang dha'if yang bersendirian dengan hadith itu di sisi nuqqad itu. Bahkan dia adalah thiqah di sisi Nuqqad (iaitu para huffaz al-Mutaqaddimin) itu, bahkan dia sendiri telah menunjukkan ke atas hal itu (iaitu nuqqad itu sendiri telah menilainya sebagai thiqah) , tetapi Nuqqad (iaitu para huffaz al-Mutaqaddimin) itu tetap melihat - secara keseluruhannya - bahawasanya ia adalah hadith yang dha`if, yang telah tersilap padanya rawi yang thiqah itu tadi" (Rujuk: al-Naqdul Bannaa' li Hadith al-Asmaa', Thariq 'Iwadullah, hal. 208-209, Maktabah Ibn Taimiah, Giza, Mesir, 2009M)

[23] Berkata penyunting: para ulama telah berbeza pendapat berkenaan maksud ‘Soleh’ disisi Abu Daud. Ada yang berpendapat ia bermaksud Sahih atau Hasan, ada yang berpendapat ia adalah Dhaif yang ringan, ada yang berpendapat ia adalah bermaksud Soleh Lil-‘Itibar dan ada yang berpendapat ia adalah Soleh Lil-Ihtijaj.
Misalnya, al-Khattabi menyatakan bahawa hadith itu terbahagi kepada 3 jenis – Sahih, Hasan , dan Saqim (iaitu Dhaif) – dan sesungguhnya kitab Abu Daud adalah yang bercampur antara hadith yang Sahih dan Hasan, serta tidak wujud dalamnya hadith yang Saqim kecuali apabila dijelaskan kelemahannya oleh Abu Daud (rujuk: al-Hadith al-Hasan Li Zhatih wa Li Ghairih, Dr. Khalid al-Durayyis, 4/1758). Disini menunjukkan al-Khattabi berpegang ‘Soleh’ itu adalah termasuk Sahih dan Hasan.
Bahkan kata Ibn Kathir: “apa yang didiamkan Abu Daud maka ianya adalah – hadith – Hasan” (rujuk: Bahithuth Hasisth, hal. 34, dinukil dari al-Hadith al-Hasan Li Zhatih wa Li Ghairih, Dr. Khalid al-Durayyis, 4/1754)
Manakala kata al-Hafiz al-‘Ala’ie: “…apa yang didiamkan nya maka ia adalah Soleh Lil-Ihtijaj” (rujuk: al-Naqd al-Sahih, hal. 23, dinukil dari al-Hadith al-Hasan Li Zhatih wa Li Ghairih, Dr. Khalid al-Durayyis, 4/1759). Disini al-Hafiz al-‘Ala’ie berpegang bahawa ia adalah Soleh Lil-Ihtijaj iaitu ia adalah hadith yang boleh digunakan sebagai hujah dalam fiqh dengan sendirinya tanpa memerlukan sebarang riwayat lain sebagai sokongan.
Dan al-Iraqi, al-Syaukani juga berpendapat Soleh disisi Abu Daud adalah bermaksud Soleh Lil-Ihtijaj (rujuk: al-Hadith al-Hasan Li Zhatih wa Li Ghairih, Dr. Khalid al-Durayyis, 4/1761)
Berkata al-Hafiz Ibn Hajar: “lafaz Soleh pada kata-kata kenyataan Abu Daud adalah umum, sesungguhnya boleh ia Soleh Lil-Ihtijaj atau Lil-‘Itibar, apa yang mencapai tahap Sahih kemudian Hasan maka ia adalah bermaksud Lil-Ihtijaj, dan apa yang dibawahnya maka ia bermaksud Lil-‘Itibar…” (rujuk: Al-Ghayah Syarah al-Hidayah lil-Sakhawi, 1/252, dinukil dari al-Hadith al-Hasan Li Zhatih wa Li Ghairih, Dr. Khalid Al-Durayyis, 4/1759)
Berkata Ibn Hajar pada tempat yang lain secara zahirnya daripada perkataan Abu Daud (ianya adalah Soleh) itu adalah bermaksud Soleh Lil-Hujjah - soleh untuk dibuat hujah dalam fiqh-  (rujuk: al-Nukat li-Ibn Hajar, 1/444, dinukil dari al-Hadith al-Hasan Li Zhatih wa Li Ghairih, Dr. Khalid al-Durayyis, 4/1759)
Dr. Khalid al-Durayyis pula berpendapat bahawa yang rajih ialah Soleh disisi Abu Daud adalah satu lafaz yang umum yang memberi erti ia adalah hadith yang bukan Dhaif Syadid (kelemahan teruk), setiap hadith yang didiamkan kecacatannya oleh Abu Daud maka ia adalah Soleh disisinya, dan ia boleh jadi Sahih, Hasan, atau Dhaif yang boleh dikuatkan dengan riwayat-riwayat lain yang semakna, dan ia adalah hadith-hadith yang diambil dalam fiqh dan bukannya Dhaif Syadid (rujuk: al-Hadith al-Hasan Li Zhatih wa Li Ghairih, Dr. Khalid al-Durayyis, 4/1761)
Saya – penyunting sendiri-  telah bertanya kepada Dr. Hatim Al-Syarif pada tahun lepas selepas selesai kuliah Syarah Nukhbatul Fikar (karya Ibn Hajar) berkenaan maksud Soleh disisi Abu Daud, dan Dr. Hatim Al-Syarif menjawab: 
في ذلك خلاف كبير , والراجح عندي أنه صالح للاعتبار , ولكن لأن أبا داواد قد اشترط أن يخرج أصح ما في الباب , فإن غالب ما سكت عنه صالح للاحتجاج
Terjemahan: padanya terdapat perselisihan pendapat yang besar, dan yang rajih disisi ku ialah ia adalah Soleh Lil-‘Itibar, akan tetapi kerana Abu Daud telah mensyaratkan sesungguhnya beliau mengeluarkan apa yang paling sahih (paling kuat) dalam sesuatu bab, maka kebanyakan apa yang didiamkan Abu Daud adalah Soleh Lil-Ihtijaj”
Saya bertanya lagi kepada beliau apakah itu Soleh Lil-‘Itibar? Maka jawab Dr. Hatim Al-Syarif:
الحديث الشديد الضعف غير صالح للاعتبار ، وأما الحديث الخفيف الضعف وما فوقه فهو صالح للاعتبار ، أي صالح للتقوي وأن يقوي غيره من الأحاديث
Terjemahan: hadith yang syadid dhaif adalah bukan Soleh Lil-‘Itibar, adapun hadith yang Khafif Dhaif (dhaif yang ringan) dan yang diatas tahap Dhaif Khafif maka ia adalah Soleh Lil-‘Itibar, iaitu Soleh untuk dikuatkan dan ianya juga menguatkan hadith yang lain –yang semakna – dari kalangan hadith-hadith”
Bahkan saya – penyunting – juga turut bertanya berkenaan maksud Soleh ini kepada Syaikhana Abu Muhammad Ahmad Shihatah al-Alfy al-Sakandary pada tahun lepas selepas selesai kelas Syarah Jami' Al-Tirmizi di Iskandariah, maka jawab syaikhna al-Alfy beliau cenderung bahawa Soleh disisi Abu Daud adalah bermaksud Soleh Lil-Ihtijaj (soleh untuk dijadikan hujah dengan sendirinya) sebagaimana pegangan Syaikh Ahmad Syakir dalam hal ini.
Dan saya juga turut bertanya hal yang sama pada Syaikh Dr. Hamzah al-Malibari, maka jawab al-Malibari:

 صالح للاحتجاج عموما قد يكون صحيحا وقد يكون دونه وقد يكون ضعيفا لكن تقوى وأصبح صالحا للاحتجاج بمجموع الشواهد أو المتابعات

Terjemahan: Soleh Lil-Ihtijaj secara umumnya, dan boleh ia Sahih dan boleh ia dibawah tahap Sahih – iaitu Hasan-  dan boleh ia Dhaif akan tetapi dari jenis Dhaif yang boleh dikuatkan dan menjadilah ia Soleh Lil-Ihtijaj dengan banyaknya jalan Shawahid dan Mutaba’at
Dan bagi saya – penyunting – saya lebih cenderung kepada pendapat Syaikh Shihatah al-Alfy, Syaikh Hamzah al-Malibari diatas,  Allah hu’alam.
Apapun secara keseluruhannya – ‘ala kulli hal - , dapat kita fahami diamnya Abu Daud disini adalah satu petunjuk kuat bahawa hadith ini bukanlah hadith yang dhaif syadid, bahkan ianya adalah Soleh. Dan kemungkinan besar Abu Daud telah mempertimbangkan semula dan membuat semakan semula penilaian terhadap ‘Asim, jika dulunya adalah dhaif syadid serta tidak ditulis hadithnya, tetapi sekarang tidak lagi atau setidak-tidaknya beliau tidak dhaif untuk hadith ini secara khusus apabila Yahya al-Qattan dan Syu’bah mengambil hadith ini dari beliau.

[24] Berkata penyunting: Risalah Ila Ahl Makkah adalah surat Abu Daud kepada penduduk Makkah yang menjelaskan secara teperinci akan metod serta manhaj Abu Daud berkenaan kitab Sunan beliau.

[25] Berkata penyunting: ‘al-Sahih’ adalah gelaran untuk kitab-kitab hadith yang menghimpunkan hadith-hadith sahih , adapun nama asal bagi kitab al-Sahih karya Ibn Khuzaimah ialah : Mukhtasarul Mukhtasar. Perlu diketahui manhaj para huffaz yang menyusun kitab-kitab ‘al-Sahih’ mereka mensyaratkan secara umum hadith-hadith sahih dalam kitab mereka, namun mereka juga tetap memasukkan beberapa hadith-hadith dhaif atas sebab-sebab tertentu, antaranya sebagai syahid dan mutabaat saja, atau membawa hadith yang dha’if itu bagi menunjukkan bahawa hadith sebelumnya adalah sahih, atau hendak menyatakan kelemahan hadith yang dha’if itu dengan cara menyusun ia selepas hadith-hadith sahih, atau bagi menunjukkan kesilapan rawi pada hadith yang dha'if itu, bagi menyatakan putusnya sanad, bagi menunjukkan antara yang terpelihara dan yang tidak terpelihara dan lain-lain sebab. Maka sebab itu kita akan dapati dalam kitab-kitab al-Sahih – baik kitab al-Bukhari, Muslim, Malik, Ibn Hibban, Ibn Khuzaimah, al-Nasaie (al-Sughra) – sememangnya terdapat beberapa hadith yang dhaif dengan bilangan yang amat kecil dan para penyusun kitab sendiri telah menyatakan kelemahan hadith itu samada secara tersurat atau tersirat.

[26] Berkata penyunting: pendapat yang rajih bagi kami ialah pendapat yang pertama, dan kami katakan sedemikian adalah kerana beberapa qarain-qarain dan murajjihat-murajjihat seperti dibawah:
1- Tashih Al-Tirmizi, dengan tashih yang paling tinggi: Hasan Sahih
2- Para huffaz seperti Syu’bah, Yahya al-Qattan, Sufyan Al-Thawri, Abdulrahman bin Mahdi, Malik meriwayatkan dari ‘Asim
3- Periwayatan Yahya al-Qattan, Abdulrahman bin Mahdi, dan Syu’bah yang meriwayatkan hadith azan bayi ini secara khusus dari ‘Asim
4- Penilaian terkini al-Bukhari kepada ‘Asim: Soduq
5- Hadith ini diamalkan oleh salaf  sebagaimana yang dinyatakan oleh Al-Tirmizi secara khusus pada hadith ini, dan juga kaedah serta syarat umum Jami’ Al-Mukhtasar semua hadith-hadithnya diamalkan Salaf (kecuali dua). Lanjut rujuk buku saya bertajuk: Pengenalan Kepada Sunan al-Tirmizi dan Manhajnya
6- Abu Daud pada asalnya menyatakan tidak menulis hadith-hadith  ‘Asim, tetapi akhirnya meriwayatkan juga hadith dari ‘Asim yang melalui Yahya al-Qattan dan Sufyan berkenaan azan bayi secara khusus, bahkan beliau tidak memberi apa-apa komentar, menunjukkan hadith azan bayi ini adalah ‘Soleh’ disisi Abu Daud dan diamalkan serta dibuat hujah.
7- Wujudnya hadith-hadith dhaif  ringan dan teruk yang semakna memperkuatkan lagi hadith ‘Asim yang melalui trio huffaz – Syu’bah, Ibn Mahdi, Yahya al-Qattan-
8- Ibn Khuzaimah pada asalnya menyatakan tidak menulis dan tidak berhujah hadith-hadith  ‘Asim, tetapi akhirnya meriwayatkan dan berhujah juga dengan hadith ‘Asim yang melalui Yahya al-Qattan, Sufyan, Syu’bah, Ibn Mahdi, Malik.
9- Kaedah: apabila seseorang rawi itu diriwayatkan oleh para nuqqad yang dikenali sebagai mereka yang hanya meriwayatkan dari mereka yang thiqah sahaja atau dari mereka yang dhaif tetapi hadithnya yang tersebut secara khusus adalah maqbul (diterima iaitu samada sahih atau hasan). Sehingga jika seorang rawi yang majhul sekalipun, apabila hadithnya diriwayatkan oleh mereka ini maka hadith itu diterima dan dibuat hujah dalam fiqh! Ini sebagaimana yang dinukilkan oleh Abu Daud, beliau bertanya kepada gurunya Ahmad bin Hanbal: “apabila Yahya al-Qattan, Abdulrahman ibn Mahdi meriwayatkan dari seorang rawi yang majhul, adakah hadith itu dibuat hujah? maka jawab Ahmad: “ya, berhujah dengannya”. 

10- Kaedah: sesuatu yang telah sedia diketahui dalam ilmu hadith itu adalah: hadith (yang diriwayatkan oleh rawi yang) thiqah bukanlah semuanya sahih, sebagaimana hadith (yang diriwayatkan oleh rawi yang) dha`if bukanlah semuanya dha`if. Semuanya adalah berdasarkan qarain-qarain dan murajjihat-murajjihat untuk hadith itu secara khusus.

11- Ibn Mahdi dan Yahya al-Qattan hanya mendhaifkan ‘Asim secara umum, namun hadith-hadith khusus beliau yang tertentu diterima dan ianya sahih. Mereka menerimanya berdasarkan qarain-qarain yang sangat kuat menunjukkan bahawa hadith ‘Asim yang tersebut secara khusus adalah sahih dan dterima, dan salah satunya adalah hadith azan bayi
12- Tiada seorangpun dari nuqqad salaf yang mendhaifkan hadith ini secara khusus dan specifik, mereka hanya menolak ‘Asim secara umum namun terdapat hadith-hadith ‘Asim yang diterima sebagai sahih terutamanya apabila melalui jalan - Syu’bah, Ibn Mahdi, Yahya Al-Qattan- , dan hadith azan bayi ini adalah salah satu daripadanya.


Wallahu a'lamu bish showab.

Rerefensi:

1. Ensiklopedi Fiqh Kuwait (Al-Mausu'ah Al-Fiqhiyah Al-Kuwaitiyah).
2. Tuhfatul Maulud bi Ahkamil Maulud, Ibnu Qayyim Al-Jauziyah.
 

Forum Diskusi Hadits Copyright © 2011 - |- Template created by O Pregador - |- Powered by Blogger Templates