Monday, June 18, 2012

0 يا حي يا قيوم لا إله إلا أنت



قال ابن القيم -رحمة الله عليه- في مدارج السالكين، تحت منزلة الحياة، في المرتبة السادسة من مراتب الحياة، (4/136) من تحقيق عبد العزيز الجليل:

وسمعت شيخ الإسلام ابن تيمية -رحمه الله- يقول: من واظب على (يا حي يا قيوم، لا إله إلا أنت) كل يوم بين سنة الفجر، وصلاة الفجر، أربعين مرة، أحيا الله بها قلبه. اهـ.

مدارج السالكين ج: 3 ص: 264
سمعت شيخ الإسلام ابن تيمية رحمه الله يقول من واظب على يا حي يا قيوم لا إله إلا أنت كل يوم بين سنة الفجر وصلاة الفجر أربعين مرة أحيى الله بها قلبه. اهـ.

مدارج السالكين ج: 1 ص: 448
ومن تجريبات السالكين التي جربوها فألفوها صحيحة أن من أدمن يا حي ياقيوم لا إله إلا أنت أورثه ذلك حياة القلب والعقل وكان شيخ الإسلام ابن تيمية قدس الله روحه شديد اللهج بها جدا وقال لي يوما لهذين الاسمين وهما الحي القيوم تأثير عظيم في حياة القلب وكان يشير إلى أنهما الاسم الأعظم وسمعته يقول من واظب على أربعين مرة كل يوم بين سنة الفجر وصلاة الفجر ياحي ياقيوم لاإله إلا أنت برحمتك أستغيث حصلت له حياة القلب ولم يمت قلبه.

http://www.ahlalhdeeth.com/vb/showthread.php?t=31012

http://www.ahlalhdeeth.com/vb/showthread.php?p=58627#post58627


Sunday, June 17, 2012

0 Hadits Shahih tentang Puasa Rajab


Said bin Jubair pernah ditanya tentang puasa Rajab. Beliau menjawab, “Saya pernah mendengar Ibnu Abbas RA berkata bahwa Rasulullah SAW dahulu berpuasa sehingga kami mengira beliau tidak berbuka dan berbuka sehingga kami mengira beliau tidak berpuasa.” (Shahih Muslim)

Imam Nawawi berkata:

“Secara zhohir yang dimaksud oleh Said bin Jubair di sini adalah argumen bahwa tidak ada larangan maupun anjuran secara khusus (mengenai puasa Rajab), melainkan sama hukumnya dengan bulan-bulan lainnya. Tak satu pun kabar yang benar mengenai puasa Rajab, baik larangan maupun anjuran secara khusus. Akan tetapi secara asal, puasa itu disunnahkan. Dalam Sunan Abi Daud disebutkan bahwa Rasulullah SAW menganjurkan untuk berpuasa pada bulan-bulan Haram, dan Rajab adalah salah satunya.” (Syarah Shahih Muslim)

Adapun Ibnu Umar RA, beliau juga pernah ditanya tentang puasa Rajab kemudian menjawab, “Bagaimana hukum orang yang berpuasa selamanya (dahr)?” (Shahih Muslim)

Imam Nawawi berkata:

“Ini adalah mazhabnya (Ibnu Umar) dan mazhab ayahnya Umar bin Khattab, Aisyah, Abu Thalhah dan lain-lain dari kalangan Salaful Ummah. Adapun mazhab Imam Syafii dan ulama-ulama lain adalah tidak dimakruhkan berpuasa dahr.” (Syarah Shahih Muslim)

Maksudnya, pengingkaran Ibnu Umar terhadap puasa Rajab dikiaskan terhadap puasa dahr yang menurutnya dilarang. Itu adalah mazhabnya dan mazhab sebagian sahabat. Sementara ulama lain berpendapat tidak makruh. Wallahu a’lam.

Dalam Syu’abul Iman disebutkan dari Abu Qilabah: “Di dalam surga terdapat sebuah istana yang disediakan untuk orang-orang yang suka berpuasa di bulan Rajab.” Imam Baihaqi berkata, “Ini adalah berita yang paling sahih tentang puasa Rajab.”

Imam Suyuthi berkata: “Abu Qilabah termasuk tabiin dan orang sepertinya tidak mungkin mengucapkan perkataan itu kecuali menyampaikan dari orang sebelumnya (sahabat) dari sebelumnya lagi yang menerima wahyu (nabi).” (Ad-Dibaj ‘Ala Shahih Muslim)

Ibnu Batthal berkata, “Jika ada yang bertanya: Lalu apa alasan Ibnu Umar memakruhkan puasa Asyura? Maka jawabnya adalah: (Hal itu) sebagaimana pemakruhan puasa Rajab, mengingat bahwa ia merupakan bulan yang diagungkan oleh orang Jahiliyah, maka dimakruhkan pula mengagungkan sesuatu yang dahulu diagungkan pada masa Jahiliyah, tanpa mengharamkan puasanya bagi orang yang ingin berpuasa… jika niat berpuasanya adalah untuk mendapatkan pahala Allah SWT, bukan menghidupkan budaya Jahiliyah, begitu pula puasa Rajab’.” (Syarh Al-Bukhari karangan Ibn Batthal)

Adapun pelarangan puasa Rajab dan pengingkaran Ibnu Umar dan ayahnya, ada kemungkinan puasa itu (Rajab) dahulu memang dilarang kemudian diperbolehkan, atau sebaliknya. (Syarah Sunan Ibn Majah)

Dari semua keterangan di atas, dapat ditarik kesimpulan bahwa di antara sahabat Nabi SAW ada sebagian yang memakruhkan puasa Rajab, termasuk Ibnu Umar dan ayahnya. Alasannya, karena bulan itu dulu diagungkan pada masa Jahiliyah sehingga berpuasa di dalamnya sama saja menghidupkan budaya Jahiliyah. Oleh karena itu, Umar dahulu memukul tangan orang yang berpuasa pada bulan itu lalu memaksanya untuk memakan makanan. (Mushannaf Ibn Abi Syaibah)

Namun menurut berita yang paling benar, puasa itu tidak dimakruhkan, bahkan termasuk sunnah. Memang benar bahwa bulan itu dulu diagungkan oleh orang Jahiliyah, namun bukan berarti berpuasa pada bulan itu berarti menghidupkan budaya Jahiliyah, karena Rasulullah SAW pernah menganjurkan umatnya berpuasa pada bulan-bulan Haram dan Rajab termasuk salah satunya.

Jadi, anjuran puasa Rajab ini didukung oleh dalil-dalil umum dan dalil-dalil khusus. Dalil umumnya adalah anjuran untuk berpuasa secara bebas, terutama pada bulan-bulan Haram. Sedangkan dalil khususnya adalah anjuran untuk berpuasa pada bulan Rajab, meskipun hadits-haditsnya dhaif bahkan maudhu’. Imam Syaukani berkata, “Jika dalil-dalil khusus tidak mampu menegakkan argumen, maka dalil-dalil umum yang akan berdiri menegakkannya. Sementara tidak ada dalil yang memakruhkan sehingga bisa mengkhususkan keumuman itu.” (Nailul Authar)

Wallahu a’lam.

0 Contoh-Contoh Keutamaan Amal Dalam Hadits Dhaif


1. Anjuran menutup kepala setiap memasuki WC

Hadits: "Nabi SAW apabila memasuki kamar kecil beliau memakai sepatunya dan menutup kepalanya." Diriwayatkan oleh Imam Baihaqi dengan dua sanad: salah satunya mursal dan lainnya dhoif.

Imam Nawawi berkata tentang hadits di atas, "Para ulama telah bersepakat bahwa hadits mursal, dhoif dan mauquf ditolerir dalam masalah fadhoil (keutamaan) amal dan boleh diamalkan isinya, dan (hadits) ini termasuk di antaranya." (Al-Majmu' 2/94)

2. Menjawab lafal iqomat

ويستحب لمن سمع الاقامة ان يقول مثل ما يقول الا في الحيعلة فأنه يقول لا حول ولا قوة إلا بالله وفى لفظ الاقامة يقول أقامها الله وأدامها لما روى أبو امامة رضي الله عنه أن النبي صلي الله عليه وسلم قال ذلك

"Dianjurkan bagi orang yang mendengar iqomat agar mengikuti apa yang diucapkan (oleh muadzin) kecuali pada kalimat 'hayya alas sholah' dan 'hayya alal falah' maka ia mengucapkan 'la haula wala quwwata illa billah' dan ketika sampai lafal iqomah (qod qomatis sholah 2x) maka ia mengucapkan 'aqomahallahu wa adamaha' berdasarkan riwayat dari Abu Umamah bahwa Nabi SAW mengucapkan demikian." (Al-Muhadzzab)

Imam Nawawi berkomentar:

وكيف كان فهو حديث ضعيف لكن الضعيف يعمل به في فضائل الاعمال باتفاق العلماء وهذا من ذاك

"Bagaimanapun juga ini adalah hadits dhoif, tapi hadits dhoif diamalkan dalam masalah fadhoil amal menurut kesepakatan ulama, dan ini termasuk di antaranya." (Al-Majmuu')

3. Membuat garis jika tidak ada sutrah untuk sholat

Imam Nawawi mengatakan:

وقد قدمنا اتفاق العلماء علي العمل بالحديث الضعيف في فضائل الاعمال دون الحلال والحرام وهذا من نحو فضائل الاعمال

"Telah sebutkan di muka mengenai kesepakatan para ulama tentang bolehnya beramal dengan hadits dhoif untuk fadhoil amal, bukan halal dan haram, dan ini termasuk contoh fadhoil amal." (Al-Majmuu')

4. Makan Sahur dan Tidur Siang

Imam Nawawi berkata:

عن ابن عباس عن النبي صلي الله عليه وسلم قال " استعينوا بطعام السحر على صيام النهار وبالقيلولة على قيام الليل " رواه ابن ماجه باسناد ضعيف

"Dari Ibnu Abbas dari Nabi SAW beliau bersabda: Perkuatlah diri kalian dengan makanan sahur untuk puasa siang, dan dengan tidur singkat (qoilulah) untuk bangun malam. Diriwayatkan oleh Ibnu Majah dengan sanad dhoif."

Lalu beliau mengatakan:

وقد سبق أن احاديث الفضائل يعمل فيها بالضعيف 

"Telah berlalu bahwa hadits2 fadhoil boleh diamalkan menggunakan hadits dhoif." (Al-Majmuu')

Artikel Terkait:

Perkataan Ulama Tentang Hadits Dhaif
Hukum Mengamalkan Hadits Dhaif

0 Adzan di Telinga Bayi

Di antara sunnah Nabi SAW adalah mengumandangkan adzan pada telinga kanan bayi yang baru lahir dan iqamat pada telinga kirinya. Imam At-Tirmidzi meriwayatkan dari Abu Rofi' bahwa ia pernah melihat Rasulullah SAW mengumandangkan adzan pada telinga kanan Hasan putra Ali ketika Fathimah melahirkannya. Imam At-Tirmidzi berkata, "Hadis ini hasan shohih."

Banyak sekali hikmah dari disyariatkannya adzan pada telinga bayi yang baru lahir. Di antaranya adalah supaya kalimat pertama yang mengetuk gendang telinga si bayi adalah kalimat-kalimat thoyibah yang berisi keagungan dan kebesaran Allah SWT, juga kalimat syahadat yang berisi ikrar terhadap keesaan Allah SWT. Seolah-olah kita sedang mentalqinnya dalam rangka menyambut kehadirannya di dunia ini, sebagaimana ketika kita mentalqin seseorang yang sedang sakaratul maut untuk mengantarkan kepergiannya dari dunia ini. Ibnul Qayyim berkata, "Dan bukanlah hal yang aneh jika efek adzan tersebut masuk ke dalam hati si bayi dan berpengaruh di dalamnya, meskipun ia tidak merasakan." (Tuhfatul Maulud hal. 31)

Hikmah lain di antaranya agar syaithan lari dan kabur ketika mendengar kalimat-kalimat adzan. Ibnul Qayyim berkata, "Syaithan itu selalu mengawasi si bayi sampai ia dilahirkan kemudian ia berusaha memberikan godaan terhadapnya –atas seizin Allah. Maka ketika itu, syaithan mendengar sesuatu yang melemahkan kekuatannya dan menjadikannya marah sejak pertama kali berhubungan dengan si bayi." (ibid)

Hikmah lainnya yaitu agar si bayi mendengarkan ajakan Allah SWT kepada kebenaran sebelum mendengarkan ajakan syaithan kepada kebatilan, sebagaimana fitrah yang telah dituliskan bagi setiap bayi yang lahir. Rasulullah SAW bersabda, "Setiap bayi dilahirkan dalam keadaan fitrah. Lalu kedua orangtuanya lah yang menjadikannya Yahudi, Nasrani atau Majusi." (HR. Al-Bukhari dan Muslim)


Fatwa Syaikh Bin Baz

Syaikh Abdul Aziz bin Baz, mantan Mufti 'Am Kerajaan Arab Saudi, berkata mengenai adzan pada telinga bayi yang baru dilahirkan:

هذا مشروع عند جمع من أهل العلم، وقد ورد فيه بعض الأحاديث، وفي سندها مقال، فإذا فعله المؤمن حسن؛ لأنه من باب السنن ومن باب التطوعات، والحديث في سنده عاصم بن عبيد الله بن عاصم بن عمر بن الخطاب وفيه ضعف، وله شواهد

"Ini disyariatkan menurut sejumlah ahli ilmu. Telah diriwayatkan beberapa hadits tentang hal itu, dan di dalam sanadnya terdapat kritik. Maka, apabila seorang mukmin melakukannya, maka hal itu baik. Karena hal ini termasuk dalam bab sunnah dan tathawu'. Hadits tersebut di dalam sanadnya terdapat perawi bernama Ashim bin Ubaidillah bin Ashim bin Umar bin Al-Khatthab. Di dalam dirinya terdapat kelemahan (dha'f). Hadits ini memiliki syawahid (penguat)."

Beliau juga mengatakan:

 ولكن إذا فعل ذلك المؤمن للأحاديث التي أشرنا إليها فلا باس، لأنه يشد بعضها بعضاً، فالأمر في هذا واسع، إن فعله حسن لما جاء في الأحاديث التي يشد بعضها بعضاً، وإن تركه فلا بأس

"Akan tetapi seandainya seorang mukmin melakukan hal itu berdasarkan hadits-hadits yang telah kami singgung, maka tidak apa-apa. Karena keseluruhan hadits itu saling menguatkan satu sama lain. Permasalahan ini cukup longgar. Jika dilakukan, maka baik, berdasarkan hadits-hadits yang saling menguatkan satu sama lain. Jika ditinggalkan juga tidak apa-apa."

Kenapa Imam al-Tirmizi Men'sahih'kan Hadith Azan Bayi


Penulis : Ahmad Saifuddin Yusof (kawakib_duriyah)
Penyunting: Muhammad Fathi Ali al-Sakandary[1]

Hadith yang dimaksudkan adalah seperti berikut :

قَالَ التِّرْمِذِيُّ فِيْ جَامِعِه: حَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بْنُ بَشَّارٍ حَدَّثَنَا يَحْيَى بْنُ سَعِيدٍ وَعَبْدُ الرَّحْمَنِ بْنُ مَهْدِيٍّ قَالَا أَخْبَرَنَا سُفْيَانُ عَنْ عَاصِمِ بْنِ عُبَيْدِ اللَّهِ عَنْ عُبَيْدِ اللَّهِ بْنِ أَبِي رَافِعٍ عَنْ أَبِيهِ قَالَ رَأَيْتُ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَذَّنَ فِي أُذُنِ الْحَسَنِ بْنِ عَلِيٍّ حِينَ وَلَدَتْهُ فَاطِمَةُ بِالصَّلَاةِ
هَذَا حَدِيثٌ حَسَنٌ صَحِيحٌ وَالْعَمَلُ عليه

Terjemahan : Berkata al-Tirmizi dalam kitab Jami’nya: Muhammad bin Basysyar telah menyampaikan kepada kami bahawa Yahya bin Sa’id  dan Abdul Rahman bin Mahdi telah berkata, Sufyan telah mengkhabarkan kepada kami bahawa dari 'Asim bin ‘UbaydiLlah daripada UbaydiLlah bin Abi Rafi daripada ayahnya katanya, “Saya telah melihat Rasulullah SAW memperdengarkan azan pada telinga al-Hasan bin Ali ketika Fatimah melahirkannya dengan - azan seperti azannya- solat.
(al-Tirmizi berkata) Hadith ini Hasan Sahih dan diamalkan –fiqh- padanya .
Hadith ini diriwayatkan oleh al-Tirmizi dalam Abwab al-Adhaahi ‘an Rasulillah SAW, Bab al-Azan fi Uzun al-Mawlud (Bab Azan di telinga bayi), No Hadith 1594 (Rujuk, al-Jami’ al-Kabir[2] –Sunan[3] al-Tirmizi [tahqiq Syu’ayb al-Arna’ut], j. 3, h. 339-340) Ringkasnya, al-Tirmizi telah menilai hadith ini sebagai Hasan Sahih iaitu salah satu penilaian Sahih (Tashih) hadith disisi beliau. Maka, hadith ini Sahih menurut al-Tirmizi.[4]

Apa itu Hasan Sahih?

Sahabat saya yang mulia, saudara Muhammad  Fathi telah menulis satu buku yang sangat penting berkenaan Manhaj al-Tirmizi dalam Sunan nya. Beliau menukilkan kenyataan Syaikh Abdul Aziz Marzuq al-Tharifi dalam Sifat Hajj Nabi. Berikut nukilan beliau;

Tahap yang paling tinggi dalam jenis ini ialah dengan istilah “Hasan Sahih” dalam kebanyakan keadaan (majoriti kes), ini kerana kebanyakan hadith-hadith yang disebutkan Al-Tirmizi sebagai “Hasan Sahih” adalah dijumpai dalam kitab Al-Sahihayn (iaitu Sahih Al-Bukhari dan Sahih Muslim) atau salah satu daripada keduanya (iaitu sama ada dalam Sahih Bukhari atau Sahih Muslim) atau menepati syarat keduanya atau salah satu daripada duanya, atau datangnya hadith itu dengan sanad yang sahih dan kuat.
(Rujuk, Muhammad Fathi Ali (2010), Pengenalan Kepada Sunan al-Tirmizi dan Manhajnya, h. 9-10. Muat turun di sini: http://ansarul-hadis.blogspot.com/2011/01/pengenalan-kepada-sunan-al-tirmizi.html)[5]

Namun begitu hadith Abu Rafi’ di atas tidak diriwayatkan oleh al-Sahihayn tetapi ia dinilai Hasan Sahih oleh al-Tirmizi sebagai satu Tashih yang tertinggi menurut beliau. Justeru, beberapa penilaian perlu dibuat bagi mengabsahkan lagi kedudukan ini.

Perawi 'Asim bin UbaydiLlah

Nama penuh ‘Asim ialah ‘Asim bin ‘UbaydiLlah bin ‘Asim bin ‘Umar bin al-Khattab al-Qurasyi al-‘Adawi al-Madani. Kenapa Asim bin UbaydiLlah ini dinilai? Ini kerana riwayat ini jika ditelusuri akan didapati ia berlegar pada 'Asim bin UbaydiLlah walaupun daripada rekod muhaddith dalam karya masing-masing. Ulama jarh wa ta’dil memberi pelbagai penilaian terhadap 'Asim. Majoritinya memberi status bersifat da’if atau sederhana seperti mana berikut :

Daripada Ali bin Madini, beliau berkata, “Diberitahu kepada kami bahawa di sisi Yahya bin Sa’id (al-Qattan)[6] beliau menda’ifkan Asim bin UbaydiLlah.”

Dan berkata Ya’qub bin Syaybah dari Ali bin Madini (berkata), “Saya mendengar Abdul Rahman bin Mahdi mengingkari hadith 'Asim bin UbaydiLlah (dengan) pengingkaran yang amat sangat.”[7]

Daripada Yahya bin Ma’in bahawa 'Asim bin UbaydiLlah adalah Da’if. Menurut Ibrahim bin Ya’qub al-Jurjani, 'Asim adalah Da’if dan Sufyan bin Uyaynah tidak suka pada hafazannya.

Ya’qub bin Syaybah : “Terdapat kelemahan pada hadith-hadithnya dan terdapat juga padanya beberapa hadith Munkar”[8]

Al-Daraqutni berkata, “Laysa bi Qawiy (tidak kuat).”[9]

Abu Zur’ah berkata, “Muhammad bin Abdullah bin Numayr bertanya kepada saya, adakah saya lebih suka kepada 'Asim bin UbaydiLlah atau Ibn Aqil? Saya menjawab, Ibn Aqil bercanggah pada sanad-sanadnya, dan 'Asim Munkarul Hadith pada asalnya[10] (menyebabkan) Mudtarib hadith.”

Abu Hatim dan al-Bukhari berkata, “Munkarul Hadith.”[11] Abu Bakr bin Khuzaimah berkata, “Tidak menjadi hujjah baginya kerana teruk hafazannya.”[12]
Ahmad bin Abdullah al-‘Ijli, “La Ba’sa bihi (Tidak mengapa baginya).”[13]

Abu Ahmad bin ‘Adi berkata, “Sesungguhnya mengambil hadith darinya - ‘Asim-  oleh al-Thawri, Ibn Uyaynah, Syu’bah dan orang-orang lain dalam kalangan orang-oarang yang thiqah[14]. Orang ramai meriwayatkan serta menerima –hadith- nya, hadithnya ditulis sekalipun terdapat kelemahan pada-diri-nya ”
Dan berkata Abu Daud: ‘Asim, tidaklah ditulis hadith-hadihnya (iaitu hadith-hadith nya ditinggalkan)[15]

(Lebih lanjut, al-Mizzi, Tahzib al-Kamal fi Asma’ al-Rijal, j. 13, h. 502-506, No. Perawi 3014 & Ibn Hajar, Tahzib al-Tahzib, 48/5 )

Demikianlah secara ringkas apa yang dinyatakan oleh para nuqqad (pengkritik) terhadap Asim bin UbaydiLlah. Boleh disimpulkan bahawa majoriti mengkritik beliau secara umum dan berkemungkinan besar disebabkan oleh hafazannya.

Sebagai tambahan, selain al-Tirmizi, antara ahli hadith lain yang turut menerima hadith ini (samada sebagai sahih atau hasan) ialah al-Mizzi katanya Hasan Sahih dengan mengutip dan beriktimad kepada penilaian al-Tirmizi[16] (rujuk: Tuhfatul Asyraf, no. 12020), al-Nawawi katanya Sahih (rujuk: al-Majmu’, 8/434), Ibn Mulaqqin katanya Sahih (rujuk: Al-Badr Al-Munir, 9/348), Al-Hakim katanya Sahih (rujuk: al-Mustadrak, no. 4814), manakala Syaikh al-Mubarakfuri dalam Tuhfatul Ahwazi menatakan bahawa hadith ini da’if tetapi boleh dikuatkan.

Manakala Syaikh Sulayman bin Nasir al-‘Ulwan menyatakan di dalam risalah beliau bahawa riwayat Asim ini tidak diterima kerana keda’ifannya[17]. Beliau membawa pendapat dan kritikan ulama terhadap ‘Asim dan beliau menilai Da’if terhadap riwayat ini. (Rujuk, Sulayman bin Nasir al-‘Ulwan, al-I’lam bi Wujub al-Tathabbut fi Riwayah al-Hadith wa Hukm al-‘Amal bi al-Hadith al-Da’if, h. 28-30. Sila muat turun di sini www.saaid.net/Warathah/Al-Alwan/22.doc ). Begitu juga Ibn Hajar menilai da’if hadith ini kerana ‘Asim (rujuk: Talkhis Al-Habir, 4/149)

Pandangan Tersirat dan Tersorok

Setelah penulis meneliti beberapa lembaran karya ulama’, penulis mendapati bahawa ulama hadith tidak memilih bulu dalam menilai perawi tersebut. ‘Asim bin UbaydiLlah merupakan cicit kepada Umar al-Khattab r.a. Namun periwayatan beliau dikritik oleh nuqqad dan muhaddithin. Mengapa terjadi sedemikian? Ini kerana kepentingan sunnah Nabi SAW lebih utama daripada darah daging atau DNA orang tertentu walaupun daripada keturunan sahabat yang dijamin syurga. Mengapa mesti memuja dan mendewa-dewa seseorang hanya kerana keturunannya sahaja? Bukankah taqwa dan iman perlu dinilai terlebih dahulu. Mengapa mesti berkata, “Dia keturunan baik, takkanlah dia buat perkara tidak baik?” DNA dan keturunan tidak menjamin apa-apa melainkan taqwa kepada Allah SWT.

Taraju’ (Semakan Semula) al-Bukhari (m. 256H)

Penilaian al-Bukhari terhadap 'Asim adalah salah satu penanda aras dalam kes ini. Ini kerana al-Imam al-Bukhari adalah salah seorang guru utama Imam al-Tirmizi. Ketika menyusun Jami’ al-Mukhtasar, beliau telah membuat semakan bersama gurunya al-Bukhari.

Penilaian al-Bukhari terhadap 'Asim dalam kitab al-Tarikh al-Kabir adalah dalam kategori Jarh (kritikan) dan ia dilihat memberi kesan besar terhadap penilaian terhadap Asim. Berikut adalah penilaian al-Bukhari terhadap 'Asim terkandung di dalam al-Tarikh al-Kabir;

عاصم بن عبيدالله العمرى المدينى، منكر الحديث.
Terjemahan : ‘Asim bin UbaydiLlah al-Umari al-Madini adalah Munkarul Hadith
(Rujuk Tarikh al-Kabir, Maktabah Syamilah v.2, no. perawi 3088)

Penulis cuba membuat rujukan silang menggunakan teknologi di dalam Maktabah al-Syamilah bagi menyemak apakah kedudukan sebenar 'Asim bin UbaydiLlah. Penulis mendapati al-Bukhari telah membuat semakan semula penilaian terhadap 'Asim dalam ‘Ilal al-Kabir oleh al-Tirmizi.[18] Berikut petikannya;

قال محمد : عاصم بن عبيد الله صدوق روى عنه مالك بن أنس حديثين مرسلين، وروى عنه، شعبة والثوري.

Terjemahan : Muhammad (al-Bukhari) berkata, “Asim bin ‘UbaydiLlah adalah Soduq, Malik bin Anas meriwayatkan daripadanya dua hadith secara Mursal, Syu’bah dan al-Thawri juga meriwayatkan daripadanya.”[19]

Bagaimana boleh bertentangan dua kenyataan ini? Berdasarkan kronologi penulisan karya al-Bukhari. Kitab al-Tarikh al-Kabir ditulis lebih dahulu berbanding al-Jami’ al-Sahih iaitu ketika usia beliau 16 tahun. Maka dalam ‘Ilal al-Kabir, al-Tirmizi telah membuat semakan semula bersama gurunya al-Bukhari berkaitan kedudukan 'Asim ini. Lalu al-Bukhari meletakkan status Soduq berbanding status sebelum ini iaitu Munkarul Hadith. Dan daripada petunjuk ini, al-Tirmizi menerima riwayat daripada 'Asim bin UbaydiLlah berdasarkan penilaian semula al-Bukhari. Dalam ilmu al-Jarh wa al-Ta’dil, lafaz Soduq berada di bawah kategori Ta’dil (Iktiraf Autoriti) manakala Munkarul Hadith berada di bawah kategori Jarh (Kritikan).

Penanda Aras Daripada Ibn Khuzaimah (m. 311H)

Apabila kita membuat semakan dalam Sahih Ibn Khuzaimah melalui Maktabah Syamilah, kita akan mendapati, Ibn Khuzaimah hanya memuatkan satu sahaja hadith riwayat ‘Asim iaitu di dalam Kitab al-Siyam, No. Hadith 2007. (Lihat, Abu Bakr Muhammad bin Ishaq bin Khuzaimah, Mukhtasar al-Mukhtasar min al-Musnad al-Sahih ‘an al-Nabi [tahqiq Dr. Mahir Yasin al-Fahl], j. 3, h. 430-431.Walau bagaimanapun Dr. Mahir Yasin al-Fahl menda’ifkan hadith ini kerana keda’ifan ‘Asim bin UbaydiLlah[20])

Selepas membawa hadith ini beliau – Ibn Khuzaimah -  menghuraikan tentang perawi ‘Asim bin UbaydiLlah. Di akhir perbincangan, beliau menyatakan;

قال أبو بكر : « كنت لا أخرج حديث عاصم بن عبيد الله في هذا الكتاب، ثم نظرت، فإذا شعبة والثوري قد رويا عنه، ويحيى بن سعيد، وعبد الرحمن بن مهدي - وهما إماما أهل زمانهما - قد رويا عن الثوري عنه، وقد روى عنه مالك خبرا في غير الموطأ »
Terjemahan : Abu Bakr (Ibn Khuzaimah) berkata, “Saya – pada asalnya - tidak mengeluarkan (meriwayatkan) hadith ‘Asim bin ‘UbaydiLlah dalam kitab ini (Mukhtasar al-Mukhtasar). Kemudian saya melihat, apabila Syu’bah dan al-Thawri meriwayatkan (hadith) daripadanya (‘Asim). Yahya bin Sa’id al-Qattan dan Abdul Rahman bin Mahdi –kedua-duanya adalah imam pada zaman mereka – sesungguhnya kedua-duanya meriwayatkan daripada al-Thawri daripadanya (‘Asim). Sesungguh diriwayatkan daripadanya (‘Asim) oleh Malik satu khabar selain daripada al-Muwatta’”[21] (Lihat, ibid, (rujukan di atas), h. 431)

Maksudnya, Ibn Khuzaimah memberi petunjuk bahawa pada asalnya ‘Asim bin UbaydiLlah ini adalah Da’if tetapi apabila beliau melihat terdapat riwayat ‘Asim yang diriwayatkan oleh Syu’bah dan Sufyan al-Thawri. Kemudian Yahya bin Sa’id al-Qattan dan Abdul Rahman al-Mahdi pula meriwayatkan daripada Sufyan al-Thawri daripada ‘Asim. Maka Ibn Khuzaimah telah membuat semakan semula kedudukan jarh dan ta’dil terhadap ‘Asim, dan akhirnya menerima riwayat ‘Asim daripada rantaian trio huffaz ini iaitu;

Yahya bin Sa’id & Abdul Rahman bin Mahdi -> Sufyan al-Thawri -> ‘Asim bin UbaydiLlah.

Tambahan pula, Yahya bin Sa’id dan Syu’bah sendiri mengkritik periwayatan ‘Asim seperti mana rekod di dalam karya biografi perawi. Tetapi mereka berdua sendiri meriwayatkan hadith-hadith daripada ‘Asim melalui penilaian tertentu.[22] Ini disahkan daripada kata-kata al-Bukhari di dalam ‘Ilal al-Kabir oleh al-Tirmizi bahawa Syu’bah dan al-Thawri mengambil riwayat daripada ‘Asim;

قال محمد : عاصم بن عبيد الله صدوق روى عنه مالك بن أنس حديثين مرسلين، وروى عنه، شعبة والثوري.

Terjemahan : Muhammad (al-Bukhari) berkata, “Asim bin ‘UbaydiLlah adalah Soduq, Malik bin Anas meriwayatkan daripadanya dua hadith secara Mursal, Syu’bah dan al-Thawri juga meriwayatkan daripadanya.”

Petunjuk Dari Abu Daud (m. 275H)

Fenomena yang berlaku kepada Ibn Khuzaimah ini juga telah berlaku kepada Abu Daud. Ini kerana, sebagaimana yang telah dijelaskan sebelum ini, dalam Tahzib al-Tahzib dinukil kata-kata Abu Daud terhadap ‘Asim:
و قال أبو داود : عاصم لا يكتب حديثه
Terjemahan: Abu Dawud berkata: ‘Asim, tidaklah ditulis hadith-hadihnya (iaitu hadith-hadith nya ditinggalkan)

Kenyataan diatas adalah satu jarh yang syadid. Namun, apa yang menarik ialah apabila kita menyemak dalam kitab Sunan Abu Daud didapati Abu Daud sendiri telah menyalahi kenyataan diatas apabila beliau sendiri meriwayatkan hadith ‘Asim, bahkan ia adalah hadith azan di telinga bayi ini secara khusus, berikut adalah apa yang dikeluarkan Abu Daud:

قَالَ أبُوْ دَاودَ فِيْ سُنَنِهِ : حَدَّثَنَا مُسَدَّدٌ حَدَّثَنَا يَحْيَى عَنْ سُفْيَانَ قَالَ حَدَّثَنِى عَاصِمُ بْنُ عُبَيْدِ اللَّهِ عَنْ عُبَيْدِ اللَّهِ بْنِ أَبِى رَافِعٍ عَنْ أَبِيهِ قَالَ رَأَيْتُ رَسُولَ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- أَذَّنَ فِى أُذُنِ الْحَسَنِ بْنِ عَلِىٍّ - حِينَ وَلَدَتْهُ فَاطِمَةُ – بِالصَّلاَةِ
Terjemahan : Berkata Abu Daud dalam kitab Sunan nya: telah menceritakan kami Musaddad, menceritakan kami Yahya (bin Sa’id al-Qattan) dari Sufyan katanya, menceritakan ku Asim bin ‘UbaydiLlah daripada UbaydiLlah bin Abi Rafi daripada ayahnya katanya, “Saya telah melihat Rasulullah SAW memperdengarkan azan pada telinga al-Hasan bin Ali ketika Fatimah melahirkannya dengan - azan seperti azannya- solat.

Hadith ini diriwayatkan oleh Abu Daud di dalam Bab fi Al-Sibbiyi Yuladu Fayuzzanu fi Uzunihi (Bab padanya azan ditelinga bayi apabila dilahirkan),No Hadith 5105 (Rujuk, Sunan, Abu Daud [tahqiq Muhammad Muhyiddin Abdul Humaid], j. 2, hal. 749)

Dan Abu Daud mendiamkan hadith ini serta tidak memberi sebarang kritikan, ini menunjukkan bahawa hadith ini adalah ‘Soleh’ disisi Abu Daud sendiri dan menjadi hujah dalam fiqh.[23]

Ini sebagaimana kata Abu Daud dalam Risalah Ila Ahl Makkah[24]:

ما لم أذكر فيه شيئا فهو صالح
Terjemahan: Apa yang aku diamkan – dalam kitabku Sunan- maka ianya adalah Soleh.

Dapat kita fahami diamnya Abu Daud disini adalah satu petunjuk kuat bahawa hadith ini bukanlah hadith yang dhaif syadid, bahkan ianya adalah Soleh. Dan kemungkinan besar Abu Daud telah mempertimbangkan semula dan membuat semakan semula penilaian terhadap ‘Asim, jika dulunya adalah dhaif syadid dan tidak ditulis hadithnya, tetapi sekarang tidak lagi atau setidak-tidaknya beliau tidak da'if untuk hadith ini secara khusus apabila Yahya Al-Qattan dan Syu’bah mengambil hadith ini dari beliau. Beliau bukan lagi da'if dan hadithnya sekarang ditulis.

Riwayat ‘Asim di dalam Sunan al-Tirmizi

Kita lihat kembali riwayat kes ini dalam Sunan al-Tirmizi;

قَالَ التِّرْمِذِيُّ فِيْ جَامِعِه: حَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بْنُ بَشَّارٍ حَدَّثَنَا يَحْيَى بْنُ سَعِيدٍ وَعَبْدُ الرَّحْمَنِ بْنُ مَهْدِيٍّ قَالَا أَخْبَرَنَا سُفْيَانُ عَنْ عَاصِمِ بْنِ عُبَيْدِ اللَّهِ عَنْ عُبَيْدِ اللَّهِ بْنِ أَبِي رَافِعٍ عَنْ أَبِيهِ قَالَ رَأَيْتُ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَذَّنَ فِي أُذُنِ الْحَسَنِ بْنِ عَلِيٍّ حِينَ وَلَدَتْهُ فَاطِمَةُ بِالصَّلَاةِ
هَذَا حَدِيثٌ حَسَنٌ صَحِيحٌ وَالْعَمَلُ عليه
Terjemahan : Berkata al-Tirmizi dalam kitab Jami’nya: Muhammad bin Basysyar telah menyampaikan kepada kami bahawa Yahya bin Sa’id  dan Abdul Rahman bin Mahdi telah berkata, Sufyan telah mengkhabarkan kepada kami bahawa dari 'Asim bin ‘UbaydiLlah daripada UbaydiLlah bin Abi Rafi daripada ayahnya katanya, “Saya telah melihat Rasulullah SAW mengazankan pada telinga al-Hasan bin Ali ketika Fatimah melahirkannya dengan solat (dengan azan seperti dalam solat).

(al-Tirmizi berkata) Hadith ini Hasan Sahih dan diamalkan –fiqh- padanya.

Apabila kita telusuri beberapa riwayat daripada trio huffaz ini termasuk riwayat daripada Syu’bah daripada 'Asim juga, kebanyakannya al-Tirmizi menilai hadith berkenaan dengan status Hasan Sahih. Jadi, bagi al-Tirmizi apabila gurunya al-Bukhari menyatakan bahawa Syu’bah dan al-Thawri mengambil riwayat daripada ‘Asim maka menurut penilaian al-Tirmizi riwayat tersebut Sahih. Ini jelas dinyatakan oleh Ibn Khuzaimah dalam kitabnya al-Sahih.[25]

Justeru, jelas di sini bahawa tashih al-Tirmizi pada hadith ini adalah berdasarkan panduan daripada gurunya al-Bukhari dengan meneliti petunjuk daripada huffaz salaf seperti Sufyan al-Thawri dan Syu’bah bin Hajjaj. Maksudnya, sekiranya riwayat ‘Asim itu diriwayatkan daripada Syu’bah atau Sufyan al-Thawri maka riwayatnya boleh diterima menurut al-Tirmizi tambahan pula riwayat kedua huffaz ini diriwayatkan pula oleh Yahya bin Sa’id al-Qattan dan Abdul Rahman bin Mahdi. Ini dapat dilihat pada hadith-hadith lain daripada riwayat trio huffaz ini di dalam Sunan al-Tirmizi. Contohnya;

قَالَ التِّرْمِذِيُّ فِيْ جَامِعِه: حَدَّثَنَا سُفْيَانُ بْنُ وَكِيعٍ حَدَّثَنَا أَبِي عَنْ سُفْيَانَ عَنْ عَاصِمِ بْنِ عُبَيْدِ اللَّهِ عَنْ سَالِمٍ عَنْ ابْنِ عُمَرَ عَنْ عُمَرَ أَنَّهُ اسْتَأْذَنَ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فِي الْعُمْرَةِ فَقَالَ أَيْ أُخَيَّ أَشْرِكْنَا فِي دُعَائِكَ وَلَا تَنْسَنَا
قَالَ أَبُو عِيسَى هَذَا حَدِيثٌ حَسَنٌ صَحِيحٌ

قَالَ التِّرْمِذِيُّ فِيْ جَامِعِه: حَدَّثَنَا بُنْدَارٌ حَدَّثَنَا عَبْدُ الرَّحْمَنِ بْنُ مَهْدِيٍّ حَدَّثَنَا شُعْبَةُ عَنْ عَاصِمِ بْنِ عُبَيْدِ اللَّهِ قَال سَمِعْتُ سَالِمَ بْنَ عَبْدِ اللَّهِ يُحَدِّثُ عَنْ أَبِيهِ قَالَ قَالَ عُمَرُ يَا رَسُولَ اللَّهِ أَرَأَيْتَ مَا نَعْمَلُ فِيهِ أَمْرٌ مُبْتَدَعٌ أَوْ مُبْتَدَأٌ أَوْ فِيمَا قَدْ فُرِغَ مِنْهُ فَقَالَ فِيمَا قَدْ فُرِغَ مِنْهُ يَا ابْنَ الْخَطَّابِ وَكُلٌّ مُيَسَّرٌ أَمَّا مَنْ كَانَ مِنْ أَهْلِ السَّعَادَةِ فَإِنَّهُ يَعْمَلُ لِلسَّعَادَةِ وَأَمَّا مَنْ كَانَ مِنْ أَهْلِ الشَّقَاءِ فَإِنَّهُ يَعْمَلُ لِلشَّقَاءِ قَالَ أَبُو عِيسَى وَفِي الْبَاب عَنْ عَلِيٍّ وَحُذَيْفَةَ بْنِ أَسِيدٍ وَأَنَسٍ وَعِمْرَانَ بْنِ حُصَيْنٍ وَهَذَا حَدِيثٌ حَسَنٌ صَحِيحٌ

قَالَ التِّرْمِذِيُّ فِيْ جَامِعِه: حَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بْنُ بَشَّارٍ حَدَّثَنَا عَبْدُ الرَّحْمَنِ بْنُ مَهْدِيٍّ حَدَّثَنَا سُفْيَانُ عَنْ عَاصِمِ بْنِ عُبَيْدِ اللَّهِ عَنْ الْقَاسِمِ بْنِ مُحَمَّدٍ عَنْ عَائِشَةَ أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَبَّلَ عُثْمَانَ بْنَ مَظْعُونٍ وَهُوَ مَيِّتٌ وَهُوَ يَبْكِي أَوْ قَالَ عَيْنَاهُ تَذْرِفَانِ
وَفِي الْبَاب عَنْ ابْنِ عَبَّاسٍ وَجَابِرٍ وَعَائِشَةَ قَالُوا إِنَّ أَبَا بَكْرٍ قَبَّلَ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَهُوَ مَيِّتٌ قَالَ أَبُو عِيسَى حَدِيثُ عَائِشَةَ حَدِيثٌ حَسَنٌ صَحِيحٌ

Kesimpulan

Berdasarkan huraian di atas, penulis boleh membuat kesimpulan bahawa tashih al-Tirmizi dalam hal ini mempunyai qarinah dan petunjuk yang jelas menurut beliau. Walaupun perawi ‘Asim ditolak oleh kebanyakan muhaddithin secara umum, namun beliau meletakkan kedudukan riwayat ‘Asim ini dalam tashih yang paling tinggi. Walau bagaimanapun riwayat ini dikritik oleh ramai ulama’ terkemudian (Mutaakhkhirin) dan penulis dengan merasa rendah diri mengatakan bahawa penda’ifan ulama hadith sebelum ini adalah tersilap, mereka telah mendapat pahala atas ijtihad mereka. Dan kekuatan adalah terletak pada tashih al-Tirmizi.

Justeru, penulis boleh membuat beberapa justifikasi umum terhadap penilaian hadith ini.

1- Sahih menurut huffaz salaf berdasarkan Tashih al-Tirmizi berdasarkan kenyataan beliau tentang pengamalan fiqh ini dan pengamalannya adalah sunnah. Dan pendapat inilah yang rajih bagi kami – Allah hu’alam-[26]

2- Sahih menurut al-Tirmizi dan huffaz salaf menda’ifkan perawi ‘Asim, amalannya sunnah menurut al-Tirmizi dan tidak menurut huffaz yang lain.

3- Da’if kerana perawi ‘Asim bin ‘UbaydiLlah berdasarkan kenyataan huffaz salaf yang mengkritiknya tanpa mengabaikan tashih al-Tirmizi dan boleh diamalkan.

4- Da’if kerana penilaian ulama hadith lain dan menafikan tashih al-Tirmizi.
Berkata Syaikh ‘Abdul ‘Aziz bin Baaz – rahimahullah- :

ورد في سنن الترمذي حديث صححه بعض العلماء وعمل به البعض أنه يؤذن في أذن المولود اليمنى. وأما الإقامة فورد فيها حديث ضعيف وعمل به جمع من السلف مثل عمر بن عبدالعزيز رحمه الله
Terjemahan: telah datang riwayat dalam Sunan Al-Tirmizi hadith yang disahihkan oleh sebahagaian ulama dan mengamalkan – hadith ini-  oleh sebahagian mereka sesungguhnya azan pada telinga bayi di telinga kanan, adapun iqamah – pada telinga bayi pula- telah datang dari hadith yang dhaif dan ia diamalkan oleh sekelompok daripada Salaf misalnya ‘Umar Abdul ‘Aziz rahimahullah (rujuk: Ahkam Al-Maulud, ‘Abdul ‘Aziz bin Sa’d, Multaqa’ Ahl Hadith, 2008M)
Sekian, Allah hu’alam

Nota Penyunting:

[1] Sahabat saya yang mulia, al-fadhil ustaz Ahmad Saiffuddin Yusof telah menghasilkan satu kajian yang teperinci lagi menarik, bahkan beliau telah menemui satu penemuan baru yang sangat penting berkenaan tauthiq kepada ‘Asim. Saya amat berbesar hati menjadi penyunting dan ia adalah satu penghormatan buat diri saya. Ketika melakukan semakan, saya turut memasukkan beberapa komentar, dan tambahan hujah penting berserta rujukan dalam nota kaki.

[2] Berkata penyunting: penamaan syaikh Syu’aib al-Arnaouth – hafizahullah - atas kitab Imam al-Tirmizi sebagai “al-Jami al-Kabir” adalah tidak tepat, nama sebenar kitab ini sebagaimana yang diberi oleh Imam al-Tirmizi sendiri ialah “al-Jami’ al-Mukhtasar”, dan sangatlah jauh bezanya antara “al-Kabir” dan “al-Mukhtasar”!

[3] Berkata penyunting: penamaan kitab Imam al-Tirmizi sebagai “Sunan” adalah popular, namun ia tidak tepat kerana nama asalnya seperti yang diberi oleh Imam al-Tirmizi sendiri ialah “al-Jami’ al-Mukhtasar”, dan sesungguhnya “Sunan” dan  “ al-Jami’ ” itu sangatlah  jauh bezanya!

[4] Berkata penyunting: suka saya berkongsi satu faedah penting yang dikutip dari kuliah Syaikh ‘Abdullah al-Sa’d:
تصحيح الترمذي مقدم على تصحيح الدارقطني ، و هو - الدارقطني - مقدم على ابن خزيمة ، و هو - ابن خزيمة - مقدم على الحاكم ، و إن كان - الترمذي - قد يصحح لبعض من فيهم ضعف و لكن هذا قليل ، مثل :قابوس بن أبي ظبيان، عاصم بن عبيد الله ، و غيرهم ، فتمسَّك بتصحيح الترمذي
Terjemahan: tashih al-Tirmizi didahulukan dari tashih ad-Daraquthni, dan tashih ad-Daraquthni didahulukan dari tashih Ibn Khuzaimah, dan tashih Ibn Khuzaimah didahulukan dari tashih al-Hakim, dan sesungguhnya al-Tirmizi ada mensahihkan (hadith yang rawi itu padanya terdapat) dhaif , akan tetapi ia adalah sedikit, seperti rawi: Qabus bin Abi Zabyan, ‘Asim bin Ubaidillah, dan lain-lain , maka berpeganglah dengan tashih al-Tirmizi (rujuk: Rakaman Audio kuliah Syarah Al-Mugizoh oleh syaikh ‘Abdullah al-Sa’d, siri  ke-9, pada minit 18.25)

[5] Berkata penyunting: sesetengah berpendapat bahawa istilah ‘Hasan Sahih’ ini adalah bermaksud Sahih matannya tetapi Hasan isnadnya, atau Sahih isnadnya tetapi Hasan matannya. Namun pendapat ini tidak tepat , yang tepat lafaz Hasan Sahih adalah salah satu lafaz tashih oleh al-Tirmizi untuk hadith tersebut, bahkan ia adalah tahap tashih yang tertinggi dalam kitab al-Jami’. Lanjut rujuk kajian terperinci oleh Dr. Hatim Al-Syarif bertajuk: ‘Masodir al-Sunnah wa Manahij Musonnafiha’

[6] Berkata penyunting: ya, disini dinaqalkan bahawa Yahya al-Qattan mendhaifkan ‘Asim, namun perlu difahami bahawa ini adalah secara umumnya bukan secara khusus. Ini kerana, terdapat hadith-hadith yang Yahya al-Qattan sendiri meriwayatkan dari ‘Asim dan beliau mengambilnya dari ‘Asim, semuanya ini adalah berdasarkan beberapa qarain-qarain dan murajjihat-murajjihat tertentu yang menunjukkan bahawa hadith ‘Asim yang tersebut secara khusus adalah diterima. Dan Yahya al-Qattan dikenali sebagai seorang yang hanya mengambil dari mereka yang thiqah sahaja, atau dari mereka yang dhaif tetapi hadithnya yang tersebut secara khusus adalah maqbul (diterima iaitu samada sahih atau hasan). Sehingga jika seorang rawi yang majhul sekalipun, apabila hadithnya diriwayatkan oleh mereka ini maka hadith itu diterima dan dibuat hujah dalam fiqh! Ini sebagaimana yang dinukilkan oleh Abu Daud, beliau bertanya kepada gurunya Ahmad bin Hanbal: “apabila Yahya al-Qattan, Abdulrahman ibn Mahdi meriwayatkan dari seorang rawi yang majhul, adakah hadith itu dibuat hujah? maka jawab Ahmad: “ya, berhujah dengannya”.  Lebih lanjut untuk perkara ini digalakkan untuk merujuk penjelasan teperinci oleh Syaikh Abdul Fattah Abu Ghuddah dalam ta’liqnya atas kitab Qawaid Ulum al-Hadith karya Tahanawi (hal. 216), dan ta’liq beliau atas kitab al-Raf’ Wa al-Takmil, begitu juga rujuk kajian mendalam Dr. Yahya Al-Syahri dalam mukaddimah tesis PhD beliau berjudul “Zawaid Rijal Ibn Hibban”.

[7] Berkata penyunting: ya, disini dinaqalkan bahawa Ibn Mahdi mengingkari hadith ‘Asim, namun perlu difahami bahawa ini adalah secara umumnya bukan secara khusus. Ini kerana, terdapat hadith-hadith yang Ibn Mahdi sendiri meriwayatkan dari ‘Asim dan beliau mengambilnya dari ‘Asim, semuanya ini adalah berdasarkan beberapa qarain-qarain dan murajjihat-murajjihat tertentu yang menunjukkan bahawa hadith ‘Asim yang tersebut secara khusus adalah diterima. Dan Ibn Mahdi sebagaimana Yahya al-Qattan dikenali sebagai seorang yang hanya mengambil dari mereka yang thiqah sahaja, atau dari mereka yang dhaif tetapi hadithnya yang tersebut secara khusus adalah maqbul (diterima iaitu samada sahih atau hasan). Sehingga jika seorang rawi yang majhul sekalipun, apabila hadithnya diriwayatkan oleh mereka ini maka hadith itu diterima dan dibuat hujah dalam fiqh! Ini sebagaimana yang dinukilkan oleh Abu Daud, beliau bertanya kepada gurunya Ahmad bin Hanbal: “apabila Yahya al-Qattan, Abdulrahman ibn Mahdi meriwayatkan dari seorang rawi yang majhul, adakah hadith itu dibuat hujah? maka jawab Ahmad: “ya, berhujah dengannya”. Lebih lanjut untuk perkara ini digalakkan untuk merujuk penjelasan teperinci oleh Syaikh Abdul Fattah Abu Ghuddah dalam ta’liqnya atas kitab Qawaid Ulum al-Hadith karya Tahanawi (hal. 216), dan ta’liq beliau atas kitab al-Raf’ Wa al-Takmil, begitu juga rujuk kajian mendalam Dr. Yahya Al-Syahri dalam mukaddimah tesis PhD beliau berjudul “Zawaid Rijal Ibn Hibban”.

[8] Berkata penyunting: ibarat yang digunakan oleh Ya’qub bin Syaybah ialah:
و له أحاديث مناكير - (Walahu Ahadith Manakir), dan perlu diketahui bahwa ibarat ‘Walahu Ahadith Manakir’ adalah berbeza dengan ‘Munkarul Hadith’. Ibarat ‘Munkarul Hadith’ dinisbahkan kepada perawi yang sangat banyak melakukan silap dalam periwayatannya. Manakala ‘Walahu Ahadith Manakir’ (padanya terdapat hadith-hadith munkar) memberi erti si fulan ada meriwayatkan beberapa hadith-hadith yang silap, dan bukannya semua haditnya silap, bahkan terdapat hadith-hadithnya yang betul dan diterima, silapnya tidaklah sebanyak mereka yang ‘Munkarul Hadith’. Lanjut rujuk penjelasan teperinci oleh Dr. Mustafa al-Muhammadi dan Dr. Basyar ‘Awwad Ma’ruf dalam kitab al-Syadz wa al-Munkar wa Ziyadah al-Thiqah: Muwazanah Baina al-Mutaqaddimin wa al-Mutaakhkhirin.

[9] Berkata penyunting: ibarat ‘Lisa Bil Qawiy’, perlu difahami bahawa ibarat ini bukanlah satu jarh yang syadid dan bukanlah bermakna mereka yang dinilai sebagai ‘Laisa Bil Qawiy’ ini hadith-hadith tertolak secara mutlak, bahkan  ibarat ini digunakan oleh sebahagian ulama jarh wa ta’dil dan tidaklah mereka maksudkan penolakan mereka terhadap rawi itu, bahkan mereka-mereka yang dinilai sebegini terdapat hadith-hadith mereka yang dijadikan hujah! Berkata Dr. Hatim Al-Syarif: “..ibarat – Laisa Bil Qawiy- ini bukanlah daripada jenis ibarah jarh yang syadid, bahkan menggunakan sebahagian ulama’ dan tidaklah mereka maksudkan penolakan mereka terhadap rawi itu, bahkan yang mereka maksudkan ialah: sesungguhnya rawi itu tidak mencapai tahap kekuatan yang matang dan hafazannya tidak sempurna sepenuhnya”. Rujuk: Syarah al-Mugizoh li-Zahabi, Dr. Hatim Al-Syarif.

[10] Berkata penyunting: Munkarul Hadith pada asalnya, memberi erti seseorang itu pada asalnya banyak melakukan kesilapan dalam periwayatan, banyak hadith-hadith beliau yang silap, dan sangat sedikit hadith nya yang betul.

[11] Berkata penyunting: namun penilaian Munkarul Hadith ini telah ditarik semula (taraju') oleh al-Bukhari, kita akan jelaskan nanti.

[12] Berkata penyunting: perhatikan disini bahawa Ibn Khuzaimah menyatakan bahawa ‘Asim tidak menjadi hujah, namun kita akan lihat nanti bahawa Ibn Khuzaimah sendiri telah menyalahi kenyataan beliau ini, apabila beliau terpaksa akhirnya berhujah dan menerima hadith ‘Asim atas qarain-qarain tertentu yang menunjukkan bahawa hadith ‘Asim yang tersebut adalah diterima dan tidak silap. Kita akan jelaskan nanti.

[13] Berkata penyunting: ini adalah ibarat ta’dil dan bukannya jarh.

[14] Berkata penyunting: Suatu perkara yang sangat penting untuk diketahui, perawi-perawi yang diriwayatkan (diambil hadithnya) oleh mereka - Al-Thauri, Ibn Uyaynah dan  Syu’bah , termasuk juga Yahya Al-Qattan, Ibn Mahdi, Malik – ini diberi perhatian khusus dan istimewa walaupun pada umumnya perawi itu dijarh sebagai dhaif. Bahkan ibarat seperti “si fulan telah meriwayatkan darinya Syu’bah, atau Malik, atau Yahya al-Qattan, atau Syu’bah. atau Ibn Mahdi, atau al-Thawri, atau Ibn Uyaynah” adalah dikira sebagai satu ibarat ta’dil kepada perawi itu dan dia dikira sebagai thiqah secara umumnya, atau setidak-tidaknya dia adalah thiqah untuk hadith yang khusus tersebut. Ini kerana mereka - al-Thwuri, Ibn Uyaynah dan  Syu’bah , termasuk juga Yahya al-Qattan, Ibn Mahdi, Malik –  adalah dikenali sebagai mereka yang hanya mengambil dari mereka yang thiqah sahaja, atau dari mereka yang dhaif tetapi hadithnya yang tersebut secara khusus adalah maqbul (diterima iaitu samada sahih atau hasan). Sehingga jika seorang rawi yang majhul sekalipun, apabila hadithnya diriwayatkan oleh mereka ini maka hadith itu diterima dan dibuat hujah dalam fiqh! Ini sebagaimana yang dinukilkan oleh Abu Daud, beliau bertanya kepada gurunya Ahmad bin Hanbal: “apabila Yahya al-Qattan, Abdulrahman ibn Mahdi meriwayatkan dari seorang rawi yang majhul, adakah hadith itu dibuat hujah? maka jawab Ahmad: “ya, berhujah dengannya”.  Lebih lanjut untuk perkara ini digalakkan untuk merujuk penjelasan teperinci oleh Syaikh Abdul Fattah Abu Ghuddah dalam ta’liqnya atas kitab Qawaid Ulum al-Hadith karya Tahanawi (hal. 216), dan ta’liq beliau atas kitab al-Raf’ Wa al-Takmil, begitu juga rujuk kajian mendalam Dr. Yahya al-Syahri dalam mukaddimah tesis PhD beliau berjudul “Zawaid Rijal Ibn Hibban”.

[15] Berkata penyunting: disini kita lihat Abu Daud menyatakan bahawa hadith-hadith 'Asim tidak ditulis, namun Abu Daud sendiri telah menyalahi kenyataan ini apabila beliau sendiri meriwayatkan hadith ‘Asim ini dalam kitab Sunannya!. Kita akan jelaskan nanti

[16] Berkata penyunting: suka saya  berkongsi satu faedah penting yang dikutip dari kuliah Syaikh ‘Abdullah al-Sa’d:
تصحيح الترمذي مقدم على تصحيح الدارقطني ، و هو - الدارقطني - مقدم على ابن خزيمة ، و هو - ابن خزيمة - مقدم على الحاكم ، و إن كان - الترمذي - قد يصحح لبعض من فيهم ضعف و لكن هذا قليل ، مثل :قابوس بن أبي ظبيان، عاصم بن عبيد الله ، و غيرهم ، فتمسَّك بتصحيح الترمذي
Terjemahan: tashih al-Tirmizi didahulukan dari tashih ad-Daraquthni, dan tashih ad-Daraquthni didahulukan dari tashih Ibn Khuzaimah, dan tashih Ibn Khuzaimah didahulukan dari tashih al-Hakim, dan sesungguhnya al-Tirmizi ada mensahihkan (hadith yang rawi itu padanya terdapat) dhaif , akan tetapi ia adalah sedikit, seperti rawi: Qabus bin Abi Zabyan, ‘Asim bin Ubaidillah, dan lain-lain , maka berpeganglah dengan tashih al-Tirmizi (rujuk: Rakaman Audio kuliah Syarah Al-Mugizoh oleh syaikh ‘Abdullah al-Sa’d, siri ke-9, pada minit 18.25)

[17] Berkata penyunting: Syaikh Sulayman bin Nasir al-Ulwan – hafizahullah- adalah antara ahli hadith dan fudhala’ zaman ini, dan antara ulama’ yang berjalan atas manhaj mutaqaddimin dalam kajian hadith, namun bagi saya penilaian beliau untuk hadith ini adalah hanya berdasarkan zahir sanad dan zahir keadaan ‘Asim yang lemah secara umumnya, dan bagi saya ia kurang tepat dan beliau tersilap, dan saya dengan rendah diri tidak bersetuju dengan tad’if beliau.

[18] Berkata penyunting: dan ini adalah satu penemuan yang besar! Dan ia adalah satu qarain dan murajjihat yang amat kuat untuk hadith ini.

[19] Berkata penyunting: jika kita lihat sebelum ini al-Bukhari menilai ‘Asim sebagai Munkarul Hadith, ini kerana dilihat pada ‘Asim banyak melakukan kesilapan dalam meriwayatkan hadith. Namun, disini kita dapati al-Bukhari telah menukar pandangan dan menilai ‘Asim sebagai Soduq apabila melihat bahawa Malik, Syu’bah dan al-Thauri ada meriwayatkan dari ‘Asim, dan ini adalah satu qarain dan murajjihat yang kuat untuk menerima ‘Asim maka al-Bukhari telah menukar pandangan dan akhirnya menilai 'Asim sebagai Soduq, kerana Malik, Syu’bah dan al-Thawri dikenali sebagai mereka yang hanya meriwayatkan dari mereka yang thiqah sahaja atau dari mereka yang dhaif tetapi hadithnya yang tersebut secara khusus adalah maqbul (diterima iaitu samada sahih atau hasan). Sehingga jika seorang rawi yang majhul sekalipun, apabila hadithnya diriwayatkan oleh mereka ini maka hadith itu diterima dan dibuat hujah dalam fiqh! Ini sebagaimana yang dinukilkan oleh Abu Daud, beliau bertanya kepada gurunya Ahmad bin Hanbal: “apabila Yahya al-Qattan, Abdulrahman ibn Mahdi meriwayatkan dari seorang rawi yang majhul, adakah hadith itu dibuat hujah? maka jawab Ahmad: “ya, berhujah dengannya”.  Hal yang berlaku kepada al-Bukhari ini turut sama berlaku kepada Ibn Khuzaimah dan Abu Daud! Kita akan lihat nanti.

[20] Berkata penyunting: Syaikh Mahir Yasin al-Fahl –hafizahullah- adalah antara ahli hadith dan fudhala’ zaman ini, dan antara ulama’ yang berjalan atas manhaj mutaqaddimin dalam kajian hadith, namun bagi saya penilaian beliau untuk hadith ini adalah hanya berdasarkan zahir sanad dan zahir keadaan ‘Asim yang lemah secara umumnya, dan bagi saya ia kurang tepat dan beliau tersilap, dan saya dengan rendah diri tidak bersetuju dengan tad’if beliau. Bagi saya hadith ini sahih, dan tashih Ibn Khuzaimah lebih utama dan padanya kekuatan.

[21] Berkata penyunting:  seperti yang telah disebut sebelum ini, dalam kitab Tahzib al-Kamal dinaqal Ibn Khuzaimah menyatakan bahawa ‘Asim tidak menjadi hujah. Namun, penilain ini telah ditarik semula oleh Ibn Khuzaimah apabila beliau melihat hadith-hadith ‘Asim ada diriwayatkan oleh Malik, Syu’bah, Al-Thauri, Yahya al-Qattan dan Ibn Mahdi, dan ini adalah satu qarain dan murajjihat yang kuat untuk menerima ‘Asim dan berhujah dengannya, kerana Malik, Syu’bah dan al-Thawri dikenali sebagai mereka yang hanya meriwayatkan dari mereka yang thiqah sahaja atau dari mereka yang dhaif tetapi hadithnya yang tersebut secara khusus adalah maqbul (diterima iaitu samada sahih atau hasan). Sehingga jika seorang rawi yang majhul sekalipun, apabila hadithnya diriwayatkan oleh mereka ini maka hadith itu diterima dan dibuat hujah dalam fiqh! Ini sebagaimana yang dinukilkan oleh Abu Daud, beliau bertanya kepada gurunya Ahmad bin Hanbal: “apabila Yahya al-Qattan, Abdulrahman ibn Mahdi meriwayatkan dari seorang rawi yang majhul, adakah hadith itu dibuat hujah? maka jawab Ahmad: “ya, berhujah dengannya”. 

[22] Berkata penyunting: disini jelas menunjukkan bahawa walupun mereka mendhaifkan ‘Asim secara umum kerana beliau banyak melakukan kesilapan, namun terdapat hadith-hadith beliau yang masih diambil kerana telah terbukti disisi Syu’bah, Ibn Mahdi, Yahya al-Qattan bahawa beliau tidak tersilap untuk hadith itu secara khusus, semunya ini hanya diketahui dengan qarain-qarain tersembunyi yang amat kuat.

Satu perkara yang sangat penting yang perlu diketahui, tidak semua hadith periwayat yang dijarh sebagai dhaif itu ditolak, begitu juga tidak semua hadith periwayat yang dinilai thiqah itu diterima hadithnya. Penilaian hadith ni bukan seperti sifir matematik yang hanya bergantung pada zahir sanad hadith, asal sahaja perawi itu thiqah maka sahih lah hadithnya, asal sahaja perawi itu  soduq maka hasan lah hadithnya, asal sahaja perawi itu dhaif maka dhaif lah haditnya, asal sahaja perawi itu kazzab maka palsu lah hadithnya.

Sungguh tashih dan tad'if hadith disisi para huffaz hadith Salaf (Al-Mutaqaddimin) bukanlah begitu caranya!  Sebaliknya ia bergantung kepada qarain-qarain (petunjuk-petunjuk dan bukti yang kuat).

Para nuqqad huffaz Salaf (al-Muatqaddimin) dalam tashih dan tahsin hadith ni, ianya bukan bermakna rawi tu mesti thiqah atau soduq semata-semata disisi mereka, tetapi ia juga dilihat kepada qarain-qarain tertentu untuk hadith itu secara khusus, perawi yang dhaif boleh membawa hadith sahih atau hasan kerana qarain-qarain untuk hadith itu secara khusus / specifik menunjukkan bahawa hadith itu sahih atau hasan. Jarh pada rawi tu adalah umum, adapun penilaian hadith ia adalah specifk pada hadith, setiap hadith adalah unik dan khusus.


Begitu juga untuk rawi yang dhaif boleh membawa hadith yang sahih juga, dilihat pada qarain-qarain yang specifik untuk hadith itu juga. Ini adalah manhaj para huffaz Salaf (al-Mutaqaddimin) dalam tashih dan tad'if, ia bukan sifir yang mudah, ia bukan hanya semata melihat kepada zahir sanad. Tetapi juga melihat kepada qarain-qarain tertentu.

Berkata Syaikhana Dr. Abulharith Mahir Yasin al-Fahl: 

 "Dan daripada sesuatu yang telah sedia diketahui dalam ilmu hadith itu adalah: hadith (yang diriwayatkan oleh rawi yang) thiqah bukanlah semuanya sahih, sebagaimana hadith (yang diriwayatkan oleh rawi yang) dha`if bukanlah semuanya dha`if.Dan mengetahui kedua-dua jenis daripada hadith kedua-dua pihak (iaitu hadith thiqah yang sahih, hadith thiqah yang dha`if, hadis dhu`afa' yang sahih, hadith dhu`afa' yang dha`if) itu bukanlah perkara yang mudah. Sesungguhnya para Imam nuqqad telah mencapai hal itu, yang telah menyelam di dalam kedalaman apa yang tersembunyi daripada riwayat-riwayat daripada yang sahih atau yang silap" (Rujuk: al-Jami' fil 'Ilal wal Fawaid, Dr. Mahir Yasin al-Fahl, jilid 1, hal. 288, Dar Ibn al-Jauzi, Dammam, Arab Saudi, 2010M)

Juga kata syaikh Abu Muadz Thariq 'Iwadullah Muhammad:

"pen-sahih-an dan pen-tahsin-an sesuatu hadith itu tidaklah bermakna perawi bagi hadith itu mesti seorang yang thiqah disisi mereka yang mensahihkan dan meng-hasan-kannya" (Rujuk: al-Naqdul Bannaa' li Hadith al-Asmaa', Thariq 'Iwadullah, hal. 282, Maktabah Ibn Taimiah, Giza, Mesir, 2009M)

Bahkan kata syaikh Abu Muadz Thariq 'Iwadullah lagi ketika menjelaskan sebuah hadith yg padanya terdapat rawi yang dhaif pada huffaz itu, tetapi huffaz itu sendiri mensahihkannya atau menghasankannya: 

"...Sesungguhnya peng-hasan-an seseorang Nuqqad (iaitu para huffaz al-Mutaqaddiminun) untuk sesuatu hadith atau pen-sahihan-nya terhadap hadith itu, tidak hanya dengan semata-mata bergantung kepada bukti-bukti yang menunjukkan bahawa rawi yang bersendirian yang membawa hadith itu adalah seorang yang soduq dalam hafazan, atau seorang yang thiqah di sisi nuqqad itu.


Maka sesungguhnya untuk setiap hadith daripada hadith yang dibawa oleh seseorang rawi - yang tidak thiqah dan dhaif- itu mempunyai hukum secara khusus dan specifik, maka Nuqqad (iaitu para huffaz al-Mutaqaddimin) ini mendapati pada hadir itu – terhadap apa yang dia fahami daripadanya – yang rawi itu mengingatinya, dan zann yang tertentu turut memberi kesan - yang kuat - pada peng-hasan-an hadith itu atau pen-sahihan -hadith itu secara khusus dan specifik. 


Maka hukuman samada hasan atau sahih untuk sesuatu hadith itu oleh Nuqqad (iaitu para huffaz al-Mutaqaddimin) itu bergantung pada qarinah-qarinah (iaitu bukti dan petunjuk kuat) yang tersirat/tersembunyi, bukan semata-semata kerana perawi itu adalah seorang yang soduq atau kerana perawi itu seorang yang thiqah. 


Dan seperti itu (juga sebaliknya dalam mendhaifkan hadith untuk perawi yang thiqah), seseorang Nuqqad (itu para huffaz al-Mutaqaddimin) mendha`ifkan sesuatu hadith yang bersendirian yang diriwayatkan oleh beberapa orang yang thiqah, pendha`ifan nuqqad ini terhadap hadith ini, bukan hanya – dengan semata-mata – terhadap bukti bahawa rawi itu adalah seorang yang dha'if yang bersendirian dengan hadith itu di sisi nuqqad itu. Bahkan dia adalah thiqah di sisi Nuqqad (iaitu para huffaz al-Mutaqaddimin) itu, bahkan dia sendiri telah menunjukkan ke atas hal itu (iaitu nuqqad itu sendiri telah menilainya sebagai thiqah) , tetapi Nuqqad (iaitu para huffaz al-Mutaqaddimin) itu tetap melihat - secara keseluruhannya - bahawasanya ia adalah hadith yang dha`if, yang telah tersilap padanya rawi yang thiqah itu tadi" (Rujuk: al-Naqdul Bannaa' li Hadith al-Asmaa', Thariq 'Iwadullah, hal. 208-209, Maktabah Ibn Taimiah, Giza, Mesir, 2009M)

[23] Berkata penyunting: para ulama telah berbeza pendapat berkenaan maksud ‘Soleh’ disisi Abu Daud. Ada yang berpendapat ia bermaksud Sahih atau Hasan, ada yang berpendapat ia adalah Dhaif yang ringan, ada yang berpendapat ia adalah bermaksud Soleh Lil-‘Itibar dan ada yang berpendapat ia adalah Soleh Lil-Ihtijaj.
Misalnya, al-Khattabi menyatakan bahawa hadith itu terbahagi kepada 3 jenis – Sahih, Hasan , dan Saqim (iaitu Dhaif) – dan sesungguhnya kitab Abu Daud adalah yang bercampur antara hadith yang Sahih dan Hasan, serta tidak wujud dalamnya hadith yang Saqim kecuali apabila dijelaskan kelemahannya oleh Abu Daud (rujuk: al-Hadith al-Hasan Li Zhatih wa Li Ghairih, Dr. Khalid al-Durayyis, 4/1758). Disini menunjukkan al-Khattabi berpegang ‘Soleh’ itu adalah termasuk Sahih dan Hasan.
Bahkan kata Ibn Kathir: “apa yang didiamkan Abu Daud maka ianya adalah – hadith – Hasan” (rujuk: Bahithuth Hasisth, hal. 34, dinukil dari al-Hadith al-Hasan Li Zhatih wa Li Ghairih, Dr. Khalid al-Durayyis, 4/1754)
Manakala kata al-Hafiz al-‘Ala’ie: “…apa yang didiamkan nya maka ia adalah Soleh Lil-Ihtijaj” (rujuk: al-Naqd al-Sahih, hal. 23, dinukil dari al-Hadith al-Hasan Li Zhatih wa Li Ghairih, Dr. Khalid al-Durayyis, 4/1759). Disini al-Hafiz al-‘Ala’ie berpegang bahawa ia adalah Soleh Lil-Ihtijaj iaitu ia adalah hadith yang boleh digunakan sebagai hujah dalam fiqh dengan sendirinya tanpa memerlukan sebarang riwayat lain sebagai sokongan.
Dan al-Iraqi, al-Syaukani juga berpendapat Soleh disisi Abu Daud adalah bermaksud Soleh Lil-Ihtijaj (rujuk: al-Hadith al-Hasan Li Zhatih wa Li Ghairih, Dr. Khalid al-Durayyis, 4/1761)
Berkata al-Hafiz Ibn Hajar: “lafaz Soleh pada kata-kata kenyataan Abu Daud adalah umum, sesungguhnya boleh ia Soleh Lil-Ihtijaj atau Lil-‘Itibar, apa yang mencapai tahap Sahih kemudian Hasan maka ia adalah bermaksud Lil-Ihtijaj, dan apa yang dibawahnya maka ia bermaksud Lil-‘Itibar…” (rujuk: Al-Ghayah Syarah al-Hidayah lil-Sakhawi, 1/252, dinukil dari al-Hadith al-Hasan Li Zhatih wa Li Ghairih, Dr. Khalid Al-Durayyis, 4/1759)
Berkata Ibn Hajar pada tempat yang lain secara zahirnya daripada perkataan Abu Daud (ianya adalah Soleh) itu adalah bermaksud Soleh Lil-Hujjah - soleh untuk dibuat hujah dalam fiqh-  (rujuk: al-Nukat li-Ibn Hajar, 1/444, dinukil dari al-Hadith al-Hasan Li Zhatih wa Li Ghairih, Dr. Khalid al-Durayyis, 4/1759)
Dr. Khalid al-Durayyis pula berpendapat bahawa yang rajih ialah Soleh disisi Abu Daud adalah satu lafaz yang umum yang memberi erti ia adalah hadith yang bukan Dhaif Syadid (kelemahan teruk), setiap hadith yang didiamkan kecacatannya oleh Abu Daud maka ia adalah Soleh disisinya, dan ia boleh jadi Sahih, Hasan, atau Dhaif yang boleh dikuatkan dengan riwayat-riwayat lain yang semakna, dan ia adalah hadith-hadith yang diambil dalam fiqh dan bukannya Dhaif Syadid (rujuk: al-Hadith al-Hasan Li Zhatih wa Li Ghairih, Dr. Khalid al-Durayyis, 4/1761)
Saya – penyunting sendiri-  telah bertanya kepada Dr. Hatim Al-Syarif pada tahun lepas selepas selesai kuliah Syarah Nukhbatul Fikar (karya Ibn Hajar) berkenaan maksud Soleh disisi Abu Daud, dan Dr. Hatim Al-Syarif menjawab: 
في ذلك خلاف كبير , والراجح عندي أنه صالح للاعتبار , ولكن لأن أبا داواد قد اشترط أن يخرج أصح ما في الباب , فإن غالب ما سكت عنه صالح للاحتجاج
Terjemahan: padanya terdapat perselisihan pendapat yang besar, dan yang rajih disisi ku ialah ia adalah Soleh Lil-‘Itibar, akan tetapi kerana Abu Daud telah mensyaratkan sesungguhnya beliau mengeluarkan apa yang paling sahih (paling kuat) dalam sesuatu bab, maka kebanyakan apa yang didiamkan Abu Daud adalah Soleh Lil-Ihtijaj”
Saya bertanya lagi kepada beliau apakah itu Soleh Lil-‘Itibar? Maka jawab Dr. Hatim Al-Syarif:
الحديث الشديد الضعف غير صالح للاعتبار ، وأما الحديث الخفيف الضعف وما فوقه فهو صالح للاعتبار ، أي صالح للتقوي وأن يقوي غيره من الأحاديث
Terjemahan: hadith yang syadid dhaif adalah bukan Soleh Lil-‘Itibar, adapun hadith yang Khafif Dhaif (dhaif yang ringan) dan yang diatas tahap Dhaif Khafif maka ia adalah Soleh Lil-‘Itibar, iaitu Soleh untuk dikuatkan dan ianya juga menguatkan hadith yang lain –yang semakna – dari kalangan hadith-hadith”
Bahkan saya – penyunting – juga turut bertanya berkenaan maksud Soleh ini kepada Syaikhana Abu Muhammad Ahmad Shihatah al-Alfy al-Sakandary pada tahun lepas selepas selesai kelas Syarah Jami' Al-Tirmizi di Iskandariah, maka jawab syaikhna al-Alfy beliau cenderung bahawa Soleh disisi Abu Daud adalah bermaksud Soleh Lil-Ihtijaj (soleh untuk dijadikan hujah dengan sendirinya) sebagaimana pegangan Syaikh Ahmad Syakir dalam hal ini.
Dan saya juga turut bertanya hal yang sama pada Syaikh Dr. Hamzah al-Malibari, maka jawab al-Malibari:

 صالح للاحتجاج عموما قد يكون صحيحا وقد يكون دونه وقد يكون ضعيفا لكن تقوى وأصبح صالحا للاحتجاج بمجموع الشواهد أو المتابعات

Terjemahan: Soleh Lil-Ihtijaj secara umumnya, dan boleh ia Sahih dan boleh ia dibawah tahap Sahih – iaitu Hasan-  dan boleh ia Dhaif akan tetapi dari jenis Dhaif yang boleh dikuatkan dan menjadilah ia Soleh Lil-Ihtijaj dengan banyaknya jalan Shawahid dan Mutaba’at
Dan bagi saya – penyunting – saya lebih cenderung kepada pendapat Syaikh Shihatah al-Alfy, Syaikh Hamzah al-Malibari diatas,  Allah hu’alam.
Apapun secara keseluruhannya – ‘ala kulli hal - , dapat kita fahami diamnya Abu Daud disini adalah satu petunjuk kuat bahawa hadith ini bukanlah hadith yang dhaif syadid, bahkan ianya adalah Soleh. Dan kemungkinan besar Abu Daud telah mempertimbangkan semula dan membuat semakan semula penilaian terhadap ‘Asim, jika dulunya adalah dhaif syadid serta tidak ditulis hadithnya, tetapi sekarang tidak lagi atau setidak-tidaknya beliau tidak dhaif untuk hadith ini secara khusus apabila Yahya al-Qattan dan Syu’bah mengambil hadith ini dari beliau.

[24] Berkata penyunting: Risalah Ila Ahl Makkah adalah surat Abu Daud kepada penduduk Makkah yang menjelaskan secara teperinci akan metod serta manhaj Abu Daud berkenaan kitab Sunan beliau.

[25] Berkata penyunting: ‘al-Sahih’ adalah gelaran untuk kitab-kitab hadith yang menghimpunkan hadith-hadith sahih , adapun nama asal bagi kitab al-Sahih karya Ibn Khuzaimah ialah : Mukhtasarul Mukhtasar. Perlu diketahui manhaj para huffaz yang menyusun kitab-kitab ‘al-Sahih’ mereka mensyaratkan secara umum hadith-hadith sahih dalam kitab mereka, namun mereka juga tetap memasukkan beberapa hadith-hadith dhaif atas sebab-sebab tertentu, antaranya sebagai syahid dan mutabaat saja, atau membawa hadith yang dha’if itu bagi menunjukkan bahawa hadith sebelumnya adalah sahih, atau hendak menyatakan kelemahan hadith yang dha’if itu dengan cara menyusun ia selepas hadith-hadith sahih, atau bagi menunjukkan kesilapan rawi pada hadith yang dha'if itu, bagi menyatakan putusnya sanad, bagi menunjukkan antara yang terpelihara dan yang tidak terpelihara dan lain-lain sebab. Maka sebab itu kita akan dapati dalam kitab-kitab al-Sahih – baik kitab al-Bukhari, Muslim, Malik, Ibn Hibban, Ibn Khuzaimah, al-Nasaie (al-Sughra) – sememangnya terdapat beberapa hadith yang dhaif dengan bilangan yang amat kecil dan para penyusun kitab sendiri telah menyatakan kelemahan hadith itu samada secara tersurat atau tersirat.

[26] Berkata penyunting: pendapat yang rajih bagi kami ialah pendapat yang pertama, dan kami katakan sedemikian adalah kerana beberapa qarain-qarain dan murajjihat-murajjihat seperti dibawah:
1- Tashih Al-Tirmizi, dengan tashih yang paling tinggi: Hasan Sahih
2- Para huffaz seperti Syu’bah, Yahya al-Qattan, Sufyan Al-Thawri, Abdulrahman bin Mahdi, Malik meriwayatkan dari ‘Asim
3- Periwayatan Yahya al-Qattan, Abdulrahman bin Mahdi, dan Syu’bah yang meriwayatkan hadith azan bayi ini secara khusus dari ‘Asim
4- Penilaian terkini al-Bukhari kepada ‘Asim: Soduq
5- Hadith ini diamalkan oleh salaf  sebagaimana yang dinyatakan oleh Al-Tirmizi secara khusus pada hadith ini, dan juga kaedah serta syarat umum Jami’ Al-Mukhtasar semua hadith-hadithnya diamalkan Salaf (kecuali dua). Lanjut rujuk buku saya bertajuk: Pengenalan Kepada Sunan al-Tirmizi dan Manhajnya
6- Abu Daud pada asalnya menyatakan tidak menulis hadith-hadith  ‘Asim, tetapi akhirnya meriwayatkan juga hadith dari ‘Asim yang melalui Yahya al-Qattan dan Sufyan berkenaan azan bayi secara khusus, bahkan beliau tidak memberi apa-apa komentar, menunjukkan hadith azan bayi ini adalah ‘Soleh’ disisi Abu Daud dan diamalkan serta dibuat hujah.
7- Wujudnya hadith-hadith dhaif  ringan dan teruk yang semakna memperkuatkan lagi hadith ‘Asim yang melalui trio huffaz – Syu’bah, Ibn Mahdi, Yahya al-Qattan-
8- Ibn Khuzaimah pada asalnya menyatakan tidak menulis dan tidak berhujah hadith-hadith  ‘Asim, tetapi akhirnya meriwayatkan dan berhujah juga dengan hadith ‘Asim yang melalui Yahya al-Qattan, Sufyan, Syu’bah, Ibn Mahdi, Malik.
9- Kaedah: apabila seseorang rawi itu diriwayatkan oleh para nuqqad yang dikenali sebagai mereka yang hanya meriwayatkan dari mereka yang thiqah sahaja atau dari mereka yang dhaif tetapi hadithnya yang tersebut secara khusus adalah maqbul (diterima iaitu samada sahih atau hasan). Sehingga jika seorang rawi yang majhul sekalipun, apabila hadithnya diriwayatkan oleh mereka ini maka hadith itu diterima dan dibuat hujah dalam fiqh! Ini sebagaimana yang dinukilkan oleh Abu Daud, beliau bertanya kepada gurunya Ahmad bin Hanbal: “apabila Yahya al-Qattan, Abdulrahman ibn Mahdi meriwayatkan dari seorang rawi yang majhul, adakah hadith itu dibuat hujah? maka jawab Ahmad: “ya, berhujah dengannya”. 

10- Kaedah: sesuatu yang telah sedia diketahui dalam ilmu hadith itu adalah: hadith (yang diriwayatkan oleh rawi yang) thiqah bukanlah semuanya sahih, sebagaimana hadith (yang diriwayatkan oleh rawi yang) dha`if bukanlah semuanya dha`if. Semuanya adalah berdasarkan qarain-qarain dan murajjihat-murajjihat untuk hadith itu secara khusus.

11- Ibn Mahdi dan Yahya al-Qattan hanya mendhaifkan ‘Asim secara umum, namun hadith-hadith khusus beliau yang tertentu diterima dan ianya sahih. Mereka menerimanya berdasarkan qarain-qarain yang sangat kuat menunjukkan bahawa hadith ‘Asim yang tersebut secara khusus adalah sahih dan dterima, dan salah satunya adalah hadith azan bayi
12- Tiada seorangpun dari nuqqad salaf yang mendhaifkan hadith ini secara khusus dan specifik, mereka hanya menolak ‘Asim secara umum namun terdapat hadith-hadith ‘Asim yang diterima sebagai sahih terutamanya apabila melalui jalan - Syu’bah, Ibn Mahdi, Yahya Al-Qattan- , dan hadith azan bayi ini adalah salah satu daripadanya.


Wallahu a'lamu bish showab.

Rerefensi:

1. Ensiklopedi Fiqh Kuwait (Al-Mausu'ah Al-Fiqhiyah Al-Kuwaitiyah).
2. Tuhfatul Maulud bi Ahkamil Maulud, Ibnu Qayyim Al-Jauziyah.

0 Hadits Shahih tentang Keutamaan Surat Yasin


Pertanyaan:

Benarkah ada hadis sohih tentang keutamaan surat yasin?

Jawaban:

Pertama: "Barangsiapa membaca (surat) Yasin pada malam hari dengan mengharap keridoan Allah, ia akan diampuni (dosanya)."

Diriwayatkan oleh Ibnu Hibban dalam "Shahih"nya, Ibnus Sunni dalam "Amalul Yaumi wal Lailah", Al Baihaqi dalam "Syuabul Iman" dan lain-lain.

Imam Ibnu Katsir berkata dalam tafsirnya tentang hadits ini, "Sanadnya bagus."

Al-Hafizh Ibnu Hajar Al-Asqalani dalam kitabnya "Nataijul Afkar fi Takhriji Ahaditsil Adzkar" berkata tentang hadits tersebut:

هذا حديث حسن

"Ini adalah hadits hasan."

Imam Suyuthi mengatakan tentang hadits ini:

هذا إسناد على شرط الصحيح

"Ini adalah sanad yang sesuai standar shahih." (Sumber: Kitab "Al-La'ali Al-Mashnu'ah" karya Imam Suyuthi)

Imam Syaukani berkata:

حديث من قرأ يس ابتغاء وجه الله غفر له رواه البيهقي عن أبي هريرة مرفوعا وإسناده على شرط الصحيح وأخرجه أبو نعيم وأخرجه الخطيب فلا وجه لذكره في كتب الموضوعات

"Hadits: Barangsiapa membaca Yasin dengan mengharap ridho Allah, ia akan diampuni. Diriwayatkan oleh Al-Baihaqi dari Abu Hurairah secara marfu' dan sanadnya sesuai standar Shahih. Diriwayatkan juga oleh Abu Nu'aim dan Al-Khathib. Maka, tidak ada alasan memasukkan hadits tersebut ke dalam kitab hadits-hadits maudhu' (palsu)."

(Sumber: Al-Fawaid Al-Majmu'ah karya Imam Syaukani 1/303 Bab Fadhlul Qur'an, Maktabah Syamilah)


Kedua: "Bacakanlah surat Yasin atas orang yang hampir mati di antara kamu." Riwayat Abu Dawud dan Nasa'i. Hadits shahih menurut Ibnu Hibban. (Bulughul Maram karya Al-Hafizh Ibnu Hajar Al-Asqalani)

Imam Syaukani berkata dalam "Al-Fathur Rabbani" tentang hadits tersebut:

والتنصيص على هذه السورة إنما هو لمزيد فضلها وشرفها

"Disebutkannya nama surat tersebut hanya dikarenakan oleh adanya keutamaan dan kemuliaan yang lebih padanya."

Apakah itu mencakup orang yg hampir mati saja ato termasuk yg sudah mati?

Dalam At-Taysiir, Al-Munawi berkata:

وفي رواية ذكرها ابن القيم عند ( موتاكم ) أي من حضره الموت من المسلمين لأنّ الميت لا يقرأ عليه

"..dalam riwayat yang disebutkan Ibnul Qayyim: yang dimaksud "mautakum" adalah muslim yang akan meninggal dunia, karena mayyit tidak perlu lagi dibacakan."

Kemudian beliau mengatakan:

أو المراد اقرؤها عليه بعد موته والأولى الجمع 

"Atau bisa juga maksudnya adalah bacakanlah setelah kematiannya. Yang paling utama adalah digabungkan."

Berarti dibaca sebelum dan setelah meninggal. Wallahu a'lam.

قال ابن القيم وخص يس لما فيها من التوحيد والمعاد والبشرى بالجنة لأهل التوحيد وغبطة من مات عليه لقوله يا ليت قومي يعلمون

Ibnul Qayyim mengatakan, "Dikhususkannya Yasin karena di dalamnya terkandung ajaran tauhid, tempat kembali, berita gembira tentang surga untuk ahli tauhid dan kegembiraan orang yang meninggal di atas tauhid karena firman-Nya, "Seandainya kaumku mengetahui..." (At-Taysiir 1/390)

0 Perkataan Ulama tentang Hadits Dhaif


Al-Hafizh Ibnu Hajar Al-Asqalani berkata:

قد ثبت عن الإمام أحمد وغيره من الأئمة أنهم قالوا إذا روينا في الحلال والحرام شددنا وإذا روينا في الفضائل ونحوها تساهلنا 

"Telah tsabit dari Imam Ahmad bin Hanbal dan juga dari selain beliau, bahwa mereka berkata: Apabila kami meriwayatkan tentang masalah Halal dan Haram kami memperketat, dan apabila kami meriwayatkan tentang masalah fadhoil (keutamaan) dan sejenisnya kami mempermudah." (Al-Qaulul Musaddad halaman 11)

Ibnu Muflih Al-Hanbaliy berkata dalam "Al-Adab Asy-Syar'iyyah":

والذي قطع به غير واحد ممن صنف في علوم الحديث حكاية عن العلماء أنه يعمل بالحديث الضعيف في ما ليس فيه تحليل ولا تحريم كالفضائل، وعن الإمام أحمد ما يوافق هذا. ا.هـ

"Sesuatu yang telah dipastikan oleh lebih dari satu orang yang pernah menulis dalam Ilmu Hadits adalah hikayat dari para ulama mengenai bolehnya beramal dengan hadits dha'if dalam masalah yang bukan penghalalan atau pengharaman, misalnya fadhoil (keutamaan). Riwayat dari Imam Ahmad juga sesuai dengan itu."

Syihabuddin Ar-Ramli berkata dalam Fatawinya:

قال الحاكم: سمعت أبا زكريا العنبري يقول الخبر إذا ورد لم يحرم حلالاً ولم يحلل حراماً ولم يوجب حكماً، وكان فيه ترغيب أو ترهيب، أغمض عنه وتسهل في روايته ...إلخ اهـ

"Al-Hakim berkata: Saya mendengar Abu Zakaria Al-Anbari berkata: sebuah kabar apabila telah datang tanpa mengharamkan yang halal atau menghalalkan yang haram dan tidak mewajibkan suatu hukum, sedangkan di dalamnya terdapat anjuran dan ancaman, maka dibiarkan dan dimudahkan saja periwayatannya...dst."

Ibnu Taimiyah berkata:

مَا عَلَيْهِ الْعُلَمَاءُ مِنْ الْعَمَلِ بِالْحَدِيثِ الضَّعِيفِ فِي فَضَائِلِ الْأَعْمَالِ : لَيْسَ مَعْنَاهُ إثْبَاتُ الِاسْتِحْبَابِ بِالْحَدِيثِ الَّذِي لَا يُحْتَجُّ بِهِ ؛ فَإِنَّ الِاسْتِحْبَابَ حُكْمٌ شَرْعِيٌّ فَلَا يَثْبُتُ إلَّا بِدَلِيلِ شَرْعِيٍّ وَمَنْ أَخْبَرَ عَنْ اللَّهِ أَنَّهُ يُحِبُّ عَمَلًا مِنْ الْأَعْمَالِ مِنْ غَيْرِ دَلِيلٍ شَرْعِيٍّ فَقَدْ شَرَعَ مِنْ الدِّينِ مَا لَمْ يَأْذَنْ بِهِ اللَّهُ كَمَا لَوْ أَثْبَتَ الْإِيجَابَ أَوْ التَّحْرِيمَ ؛ وَلِهَذَا يَخْتَلِفُ الْعُلَمَاءُ فِي الِاسْتِحْبَابِ كَمَا يَخْتَلِفُونَ فِي غَيْرِهِ بَلْ هُوَ أَصْلُ الدِّينِ الْمَشْرُوعِ . وَإِنَّمَا مُرَادُهُمْ بِذَلِكَ : أَنْ يَكُونَ الْعَمَلُ مِمَّا قَدْ ثَبَتَ أَنَّهُ مِمَّا يُحِبُّهُ اللَّهُ أَوْ مِمَّا يَكْرَهُهُ اللَّهُ بِنَصِّ أَوْ إجْمَاعٍ كَتِلَاوَةِ الْقُرْآنِ ؛ وَالتَّسْبِيحِ وَالدُّعَاءِ ؛ وَالصَّدَقَةِ وَالْعِتْقِ ؛ وَالْإِحْسَانِ إلَى النَّاسِ ؛ وَكَرَاهَةِ الْكَذِبِ وَالْخِيَانَةِ ؛ وَنَحْوِ ذَلِكَ

فَإِذَا رُوِيَ حَدِيثٌ فِي فَضْلِ بَعْضِ الْأَعْمَالِ الْمُسْتَحَبَّةِ وَثَوَابِهَا وَكَرَاهَةِ بَعْضِ الْأَعْمَالِ وَعِقَابِهَا : فَمَقَادِيرُ الثَّوَابِ وَالْعِقَابِ وَأَنْوَاعُهُ إذَا رُوِيَ فِيهَا حَدِيثٌ لَا نَعْلَمُ أَنَّهُ مَوْضُوعٌ جَازَتْ رِوَايَتُهُ وَالْعَمَلُ بِهِ بِمَعْنَى : أَنَّ النَّفْسَ تَرْجُو ذَلِكَ الثَّوَابَ أَوْ تَخَافُ ذَلِكَ الْعِقَابَ

"Apa yang telah menjadi kesepakatan para ulama mengenai bolehnya beramal dengan hadits dhoif maksudnya bukan penetapan anjuran dengan hadits yang tidak dapat dijadikan hujjah, karena anjuran juga termasuk hukum syar'i maka tidak boleh ditetapkan kecuali dengan dalil syar'i. Maka barangsiapa mengabarkan dari Allah bahwa Dia menyukai amalan tertentu tanpa dalil syar'i maka ia telah membuat syariat dalam agama yang tidak pernah diizinkan oleh Allah sebagaimana seandainya ia menetapkan kewajiban atau keharaman.

Maksud mereka sebenarnya adalah: beramal dengan apa-apa yang telah tetap bahwa amalan itu disukai atau dibenci oleh Allah, baik melalui nash maupun ijma' seperti tilawatul Quran, Tasbih, Doa, sedekah, membebaskan budak, berbuat baik kepada orang, tercelanya berdusta, khianat dan sebagainya.

Maka apabila diriwayatkan tentang keutamaan sebagian amalan yang disunnahkan beserta pahalanya atau tercelanya sebagian amalan beserta hukumannya, maka ukuran pahala dan hukuman beserta macamnya itu apabila diriwayatkan melalui hadits yang tidak maudhu', maka BOLEH meriwayatkannya dan mengamalkannya. Dengan artian, bahwa hati ini berharap pahala tersebut atau takut dari hukuman tersebut." (Majmu' Fatawa 4/50 Maktabah Syamilah)

Al-Khallal berkata:

مَذْهَبُهُ - يَعْنِي: الإِمَامَ أَحْمَدَ - أَنَّ الْحَدِيثَ الضَّعِيفَ إذَا لَمْ يَكُنْ لَهُ مُعَارِضٌ قَالَ بِهِ

"Mazhab beliau (yaitu Imam Ahmad) adalah bahwa hadits dhaif apabila tidak ditemukan penentangnya, maka beliau akan mengambilnya." (Al-Madkhal Ila Madzhabi Ahmad 97)

 Al-Hafizh Ibnu Hajar Al-Asqalani juga berkata:

اشتهر أن أهل العلم يتسامحون في إيراد الأحاديث في الفضائل وإن كان فيها ضعف، ما لم تكن موضوعة

"Telah populer bahwa Ahli Ilmu (ulama) saling mentolerir penyebutan hadits-hadits tentang fadhoil meskipun di dalamnya ada kelemahan selama tidak sampai maudhu'." (Tabyiinul 'Ajab bima Warada fi Fadhli Rajab)


0 Istilah "Maqbul" Menurut Ibnu Hajar

Dalam kajian hadits kontemporer, beredar opini bahwa perawi yang dicap "maqbul" oleh Al-Hafizh Ibnu Hajar berarti haditsnya dha'if kalau tidak memiliki penguat (mutabi'). Anggapan itu didasarkan pada perkataan Ibnu Hajar sendiri dalam mukaddimah Taqribnya. Namun, benarkah anggapan semacam ini? Benarkah istilah "maqbul" menurut Ibnu Hajar adalah demikian? Adakah perawi maqbul yang haditsnya shahih secara tafarrud tanpa adanya mutabi'? Syaikh Ahmad Syahhatah As-Sakandari mengupas masalah ini dalam kitabnya berjudul "Al-Manhajul Maamuul fi Bayani Ma'naa Qauli Ibni Hajar Maqbuul."


Syekh pernah ditanya oleh salah seorang member yang mengaku dosen hadits di Pakistan tentang derajat hadits perawi yang dicap "layyinul hadits" oleh Ibnu Hajar. Lalu beliau memberikan contoh hadits dalam Sunan Abi Daud kitab "al-jihaad" no. 2603 yang diriwayatkan melalui Az-Zubair bin Al-Walid dari Abdullah bin Umar bahwa Rasulullah SAW apabila sedang bepergian dan tiba waktu malam, beliau bersabda, "Wahai bumi, tuhanku dan tuhanmu adalah Allah...dst."

Setelah itu, beliau mengkritisi sebagian orang yang mendhaifkan hadits tersebut hanya karena di dalamnya terdapat Az-Zubair bin Al-Walid yang dinilai "maqbul" oleh Ibnu Hajar dan tidak memiliki penguat sehingga haditsnya didhaifkan.

 Beliau membantah pendhaifan hadits tersebut dengan tiga alasan:

Pertama, Al-Hafizh Ibnu Hajar sendiri menghasankan hadits tersebut dalam Nataijul Afkar.

Kedua, Ibnu Hajar menilainya "maqbul" bukan "layyinul hadiits". Padahal keduanya berbeda. Jumlah perawi yang dinilai maqbul dalam Taqrib mencapai 1535 orang sedangkan layyinul hadits mencapai 118 orang. Maka tidak boleh memperlakukan perawi maqbul seperti layyinul hadits karena keduanya berbeda.

Ketiga, tidak semua perawi yang dinilai "layyinul hadiits" berarti dhaif. Contohnya Al-Walid bin Abil Walid Abu Utsman Al-Madani yang di"layyin"kan oleh Ibnu Hajar ternyata ditsiqohkan oleh para ulama Jarh wa Ta'dil seperti Yahya bin Ma'in, Abu Zur'ah, Al-Ijliy, Ya'qub bin Sufyan Al-Fasawi, Abu Daud, Ibnu Hibban, Adz-Dzahabi dan lain-lain. Bahkan Imam Muslim memasukkannya dalam Ushul Shahihnya. Ibnu Hajar sendiri pernah menshahihkan hadits yang diriwayatkan melalui perawi tersebut sebagaimana dalam Fathul Bari.

Demikian ringkasan jawaban beliau. Wallahu a'lam.

http://www.ahlalhdeeth.com/vb/showthread.php?t=133185

0 Perawi Majhul dari Tabi'in Kibar dan Awsath


Tidak semua perawi majhul haditsnya tertolak, terutama jika dari kalangan tabiin senior dan pertengahan.

Imam Dzahabi pernah menjelaskan tentang masalah ini dalam kitabnya Diiwaanudh Dhu'afaa sebagaimana dinukil dalam kitab At-Ta'aqqubul Mutawaanii, berikut petikannya:

وأما المجهولون من الرواة فإن كان الرجل من كبار التابعين أو أوساطهم احتمل حديثه و تلقى بحسن الظن إذا سلم من مخالفة الأصول وركاكة الألفاظ

"Adapun para perawi majhul, jika berasal dari kalangan kibar tabiin atau awsath tabiin maka haditsnya diterima dan diperlakukan secara husnuzhon (baik sangka) selama tidak menyelisihi prinsip-prinsip agama dan terhindar dari lafal-lafal yang buruk."

Dari sini, tampaklah kekeliruan sebagian orang yang menyamaratakan para perawi majhul dalam hal penolakan.

Ada satu contoh yang semoga bisa memperjelas masalah ini.

Hadits tentang berbakti kepada kedua orangtua setelah mereka meninggal dunia:

Suatu hari, datanglah seorang laki-laki dari keturunan Salamah menghadap Nabi SAW lalu berkata, "Wahai Rasulullah, apakah masih tersisa bakti kepada orangtua setelah mereka berdua meninggal?" Nabi SAW menjawab, "Ya, kau mendoakan mereka berdua, memohon ampuan bagi mereka, memenuhi janji-janji mereka setelah meninggal, memuliakan sahabat mereka dan menyambung tali persaudaraan yang tidak tersambung kecuali melalui mereka."

Hadits ini diriwayatkan oleh Ibnu Abi Syaibah, Ahmad, Al-Bukhari dalam Al-Adabul Mufrad, Abu Daud, Ibnu Majah, Ibnu Hibban, Ath-Thabarani dalam Kabir dan Awsath, Al-Hakim, Al-Baihaqi dan lain-lain melalui jalur Usaid bin Ali bin Ubaid dari ayahnya Maula Abi Usaid dari Abu Usaid As-Sa'idi.

Semua perawinya tsiqot kecuali Ali bin Ubaid Maula Abi Usaid As-Sa'idi. Ibnu Hibban mentsiqohkannya dan menshahihkan haditsnya. Ibnu Hajar menilainya maqbul (diterima). Sedangkan Adz-Dzahabi dalam Al-Mizan menyatakan, "Tidak diketahui."

Ali bin Ubaid termasuk tabiin pertengahan atau senior. Ketika Al-Hakim menshahihkan sanadnya, Adz-Dzahabi menyetujuinya sengan ucapan "Shahih."

Ini sekali lagi menegaskan bahwa kata "Laa yu'raf" (tidak diketahui atau tidak dikenal) yang berarti perawi tersebut majhul bukan berarti pendhaifan terhadapnya sehingga haditsnya tertolak sebagaimana anggapan sebagian orang. Wallahu a'lam.

0 Bahasa Penghuni Surga



Pertanyaan:

Assalamualaikum, ingin ikut bertanya di forum ini. Ketika kita mati dan berkumpul semua di hari kiamat, bahasa apa yg kita gunakan? i mean, saat Allah mengadili seluruh umat manusia? Adakah informasi wahyu yg memberitahu perihal ini? Kemudian, benarkah di surga itu berbahasa arab? kalo iya, bagaimana dengan di neraka? apakah para manusia ketika menjerit2 kesakitan menggunakan bahasa arab juga? Mohon maaf, kebetulan pertanyaan ini muncul begitu saja dalam benak saya belakangan ini. Syukron untuk jawabannya :)

Jawaban:

Secara ringkas:

أحبوا العرب لثلاث : لأني عربي ، والقرآن عربي ، وكلام أهل الجنة عربي

"Cintailah orang Arab karena tiga hal: karena aku adalah orang Arab, Al-Quran (berbahasa) Arab dan perkataan penduduk surga adalah (dengan bahasa) Arab."

Para ulama sepakat menyatakan bahwa hadits itu tidak shahih. Tapi apakah sampai taraf maudhu' (palsu)?

Imam Dzahabi berkata dalam Talkhisnya, "Saya kira hadits ini palsu (maudhu')."

Al-Uqaili berkata dalam Adh-Dhuafa Al-Kabir, "Mungkar, tidak ada asalnya."

Ibnul Jauzi memasukkan hadits itu ke dalam Al-Maudhu'atnya.

Imam Suyuthi mengoreksinya, "(Hadits ini) dhaif, tidak shahih dan tidak pula maudhu' (palsu)."

Al-Munawi menjelaskan maksud hadits itu dalam Faidhul Qadir:

"Dan perkataan penduduk surga dengan bahasa Arab. Maksudnya adalah mereka berdialog sesama mereka di surga dengan bahasa Arab… Ungkapan ini merupakan bentuk anjuran agar kita mencintai Arab. Jadi ia diturunkan sebagai bentuk anjuran, yaitu karena keberadaan mereka adalah orang Arab… Ketahuilah bahwa 6 di antara para nabi adalah orang Arab, yaitu Nuh, Hud, Ismail, Shalih, Syuaib dan Muhammad. Selebihnya bukan Arab.”

Terlepas dari semua itu, memang masalah ini menjadi tidak penting jika tidak ada tindak lanjutnya secara nyata. Namun apabila hal ini dapat membangkitkan semangat kita untuk belajar bahasa Arab, maka tentu ini sangat baik. Apalagi kita semua tahu bahwa Al-Quran, hadits, fikih dan segudang ilmu keislaman lainnya masih didominasi bahasa Arab. Yang sudah diterjemahkan masih sedikit. Dan komunikasi dunia Islam dewasa ini sudah lumrah menggunakan bahasa Arab.

Mungkin juga maksud hadits itu (seandainya shahih) adalah bahwa Rasulullah beserta para sahabat, tabiin dan tabiut tabiin serta ulama sepanjang masa yang mengikuti mereka, semuanya berbahasa Arab, atau setidaknya mengerti bahasa Arab. Bukankah mereka adalah calon penghuni surga kelak? Sehingga wajar jika disebutkan bahwa bahasa penduduk surga adalah bahasa Arab.

Wallahu a'lam.

 

Forum Diskusi Hadits Copyright © 2011 - |- Template created by O Pregador - |- Powered by Blogger Templates