Tuesday, July 17, 2012

1 Melihat Nabi SAW Dalam Keadaan Sadar

Mungkinkah melihat Nabi SAW dalam keadaan terjaga (sadar) setelah beliau wafat?

Al-Bukhari, Muslim dan Abu Daud meriwayatkan dari Abu Hurairah bahwa Nabi SAW bersabda: "Barangsiapa melihatku dalam tidur, maka ia akan melihatku ketika terjaga, dan setan tidak bisa menyerupaiku."

Ulama berbeda pendapat mengenai maksud sabda beliau "maka ia akan melihatku ketika terjaga". Sebagian mengatakan bahwa maksudnya adalah "ia akan melihatku pada hari kiamat nanti". Tapi pendapat ini dikritik, karena kalau demikian maka tidak ada gunanya pengkhususan bagi orang yang melihatnya di alam tidur, karena seluruh umatnya akan melihatnya pada hari kiamat kelak, baik yang pernah melihat sebelumnya ataupun yang tidak.

Ada pula yang mengatakan bahwa maksudnya adalah orang yang beriman kepadanya dan belum pernah melihatnya karena saat itu ia sedang tidak hadir bersamanya, maka hadits ini menjadi kabar gembira baginya, yakni ia akan melihatnya di alam sadar sebelum mati.

Sebagian lagi mengartikannya secara zhohir (letterlek), yakni barangsiapa melihatnya di alam tidur, maka ia pasti akan melihatnya di alam sadar dengan kedua mata kepalanya. Ada juga yang menafsirkan dengan mata hatinya seperti dikatakan Qadhi Abu Bakr bin Al-Arabi.

Sedangkan Abu Bakr bin Abi Jamrah mengatakan dalam catatannya terhadap hadits-hadits yang ia pilih dari Shahih Bukhari: "Hadits ini menunjukkan bahwa barangsiapa melihat Nabi SAW dalam mimpi, maka ia akan melihatnya di alam sadar. Apakah ini dipahami secara umum yaitu sebelum dan sesudah wafatnya, ataukah secara khusus sebelum wafatnya saja? Apakah itu juga mencakup semua orang yang melihatnya sacara mutlak ataukah khusus bagi yang memiliki ahliah (kapabilitas) dan ittiba' (pelaksanaan) terhadap sunnah-sunnahnya saja?

Teks hadits itu memberikan pengertian umum, maka barangsiapa mengklaim kekhususan tanpa adanya indikasi pengkhususan, maka ia telah melanggar. Sebagian orang ada yang tidak mempercayai keumuman teks hadits itu. Ia mengatakan - sesuai dengan kadar akalnya, "Bagaimana mungkin orang yang sudah meninggal dapat dilihat orang yang masih hidup di alam nyata?"

Sebenarnya, ucapan ini mengandung dua konsekuensi berbahaya. Pertama, tidak percaya terhadap sabda Nabi SAW sedangkan beliau tidak pernah berkata-kata dari hawa nafsunya sendiri. Kedua, tidak mengetahui kemampuan Sang Pencipta dan mukjizat-Nya, seakan-akan ia belum mendengar ayat dalam surat Al-Baqarah yang berbunyi, "Pukullah ia dengan sebagiannya. Demikianlah Allah menghidupkan yang sudah mati." Begitu juga dengan kisah Ibrahim bersama burung yang terbagi menjadi empat dan juga kisah Aziz. Allah yang telah menghidupkan semua itu mampu menjadikan mimpi melihat Nabi SAW sebagai penyebab melihatnya di alam nyata. Menurut riwayat dari sebagian sahabat -sepertinya Ibnu Abbas, bahwa ia melihat Nabi SAW dalam mimpi, lalu ia teringat hadits ini dan selalu memikirkannya lalu ia pergi menemui sebagian istri Nabi SAW -sepertinya Maimunah, lalu menceritakan mimpinya padanya. Lalu Maimunah berdiri mengambil cermin Nabi dan memberikannya kepada Ibnu Abbas. Lalu Ibnu Abbas berkata, "Aku melihat bayangan Nabi SAW dalam cermin itu, bukan bayanganku."

Menurut riwayat dari sebagian salaf dan khalaf juga demikian, mereka melihat Nabi SAW dalam mimpi seraya membenarkan hadits ini, lalu mereka pun melihatnya di alam nyata. Mereka menanyakan berbagai persoalan yang mereka bingung menyikapinya, lalu Nabi pun memberitahu solusinya.

Orang yang mengingkari semua ini ada dua kemungkinan, ia termasuk orang yang percaya terhadap karomah wali atau termasuk orang yang tidak percaya terhadapnya. Kalau ia termasuk orang yang tidak percaya terhadap karomah wali, maka selesai masalah, tidak perlu dibahas, karena ia mengingkari sesuatu yang telah ditetapkan oleh sunnah dengan bukti-bukti yang jelas. Jika ia termasuk orang yang percaya terhadap karomah wali, maka ini adalah salah satunya, karena para wali sering ditampakkan melalui kejadian luar biasa pada dua alam, atas dan bawah. Maka, tidak selayaknya mengingkari hal semacam ini selama ia percaya terhadap karomah wali. Demikian perkataan Ibnu Abi Jamrah.

Al-Qadhi Abu Bakr bin Al-Arabi, salah seorang ulama Malikiyah terkemuka, beliau mengatakan, "Melihat nabi dan malaikat serta mendengar ucapan mereka adalah mungkin bagi orang beriman sebagai bentuk karomah (kemuliaan) baginya, adapun bagi orang kafir sebagai hukuman."

Ibnul Haaj mengatakan dalam Al-Madkhal sebagaimana dinukil oleh Izzuddin bin Abdissalaam dalam Al-Qawa'id Al-Kubra bahwa melihat Nabi SAW dalam keadaan sadar (di alam nyata) adalah suatu kejadian langka yang jarang dialami oleh manusia kecuali bagi orang yang memiliki sifat-sifat yang langka dimiliki oleh orang-orang di zaman ini, bahkan mungkin telah musnah kebanyakan, meskipun kami tidak mengingkari orang yang mengalami hal tersebut dari kalangan para tokoh besar yang dijaga oleh Allah, lahir dan batin mereka.

Al-Yafi'i mengatakan, "Sesuatu yang mungkin dialami oleh para nabi sebagai bentuk mukjizat mungkin pula dialami oleh para wali sebagai bentuk karomah, selama tidak ada unsur menantang."

Utsman bin Affan ketika rumah beliau di kepung oleh para pemberontak, beliau menyendiri di dalam kamar lalu melihat Rasulullah SAW di situ bersabda, "Kalau mau, kamu bisa ditolong atas mereka, atau kalau mau, kamu bisa juga kamu berbuka bersamaku." Lalu Utsman memilih berbuka bersama Rasulullah SAW. Di hari itulah Utsman terbunuh sebagai syahid sebelum matahari terbenam.

Al-Aluusi berkata dalam tafsirnya, Ruhul Ma'ani, ketika bercerita tentang turunnya Nabi Isa AS:

"Ada pendapat yang mengatakan bahwa Isa AS mengambil hukum-hukum dari Nabi SAW secara langsung dari mulut ke mulut setelah ia turun (ke bumi) sedangkan Nabi SAW berada dalam kuburnya yang mulia. Pendapat ini dikuatkan oleh hadits Abu Ya'la berbunyi: Demi Dzat yang menggenggam jiwaku, Isa Putra Maryam akan turun kemudian berdiri pada kuburanku lalu berkata: Wahai Muhammad, sungguh aku akan menjawabnya.

Boleh jadi hal itu terjadi dengan cara berkumpulnya dua ruh. Tidak ada bid'ah sama sekali dalam masalah ini. Sungguh melihat Nabi SAW setelah wafat telah dialami oleh lebih dari satu para makhluk sempurna dari umat ini, juga mereka mengambil langsung dari Nabi SAW."

Lalu beliau menyebutkan kisah-kisah nyata para ulama dan wali yang pernah mengalami kejadian melihat Nabi SAW dalam keadaan sadar.

 Imam Al-Qurthubi berkata dalam kitabnya, At-Tadzkiroh fi Ahwalil Mauta wa Umuril Akhiroh:

"Syaikh kami, Syaikh Ahmad bin Umar telah berkata: Kematian para nabi itu berarti tertutupnya mereka dari kita sehingga kita tak dapat mengetahui mereka, meskipun mereka sendiri sebenarnya masih ada dan hidup. Kondisi itu mirip seperti malaikat, mereka ada dan hidup tapi tidak satu pun orang seperti kita ini yang melihatnya kecuali bagi orang tertentu yaitu wali-Nya yang diberi kekhususan oleh Allah berupa karomah."

Al-Hafizh Ibnu Hajar Al-Asqalani berkata dalam Fathul Baari:

"Orang yang melihat Nabi SAW setelah beliau wafat dan sebelum dikebumikan, maka yang paling benar adalah ia tidak termasuk sahabat. Jika tidak demikian, maka (niscaya akan disebut sahabat) setiap orang yang melihat jasad beliau yang mulia itu di dalam kuburannya meskipun di zaman ini, atau para wali yang dibukakan baginya tabir penutup lalu melihat Nabi SAW sebagai karomah. Hujjah yang dipakai oleh yang menetapkan status sahabat ketika Nabi SAW belum dikebumikan adalah karena beliau masih tetap hidup, padahal kehidupan ini bukan kehidupan duniawi melainkan kehidupan ukhrowi, tidak terkait dengan hukum-hukum dunia."

Penegasan Ibnu Hajar di atas sekaligus menjawab pertanyaan, "Apakah orang yang pernah melihat Nabi SAW setelah beliau wafat disebut sahabat?"

Imam Ibnu Hajar Al-Haitami ketika ditanya, "Mungkinkah berkumpul dan bertemu dengan Nabi SAW dalam keadaan terjaga?" beliau menjawab: "Ya, mungkin itu. Sejumlah ulama telah menegaskan bahwa hal itu termasuk karomah para wali." (Al-Fatawa Al-Haditsiyah halaman 297)

Imamul Qurro' wal Muhadditsin Imam Ibnul Jazari mengatakan dalam mukaddimah kitabnya, Al-Hishnul Hashin, bahwa beliau pernah melihat dan berdialog dengan Rasulullah dalam keadaan terjaga.

Referensi:

Tanwirul Halak karangan Imam Suyuthi
- Ru'yatun Nabiyyi Yaqazhah

Saturday, July 7, 2012

0 Hadits tentang Zuhud


Teks Hadis

Sahal bin Sa'ad radhiyallahu ‘anhu berkata: Ada seorang laki-laki datang menghadap Nabi SAW lalu berkata: ‘Tunjukkan kepadaku suatu perbuatan yang bila aku melakukannya, aku disukai Allah dan manusia.’ Nabi SAW lalu bersabda:

"Zuhudlah dari dunia, Allah akan mencintaimu dan zuhudlah dari apa yang dimiliki orang, mereka akan mencintaimu." Riwayat Ibnu Majah dengan sanad hasan.[1]

Kajian Sanad
Hadis di atas dihasankan oleh Ibn Hajar dalam Bulughul Maram-nya. An-Nawawi juga menghasankannya dalam Arbain-nya. Sedangkan Al-Hakim berkata, “Sanadnya shahih.”

Namun semua pendapat mereka mendapatkan kritikan. Adz-Dzahabi berkata dalam Talkhish-nya, “Khalid adalah seorang pemalsu (hadis).” Maksudnya yaitu Khalid bin ‘Amr Al-Qurasyi. Ibn Rajab ketika mengomentari pendapat An-Nawawi berkata, “Pendapat itu masih perlu dikoreksi lagi.” Lalu beliau memaparkan keterangan dari para ahli hadis mengenai status perawi bernama Khalid.[2]

Pendapat Imam Ahmad dan Yahya bin Ma’in mengenai Khalid sama, “Hadi-hadisnya mungkar.” Abu Daud dan An-Nasai juga menilai Khalid sebagai al-Wadhaa’ (pemalsu hadis). Sedangkan komentar Ibn ‘Adi, “Sebagian besar atau seluruh hadisnya palsu.” Abu Hatim lebih tegas lagi, beliau mengatakan, “Ini adalah hadis batil (palsu).”[3]

Memang terdapat hadis-hadis lain yang senada dengan hadis di atas dari jalur yang berbeda-beda. Namun semuanya tak ada yang luput dari kritikan.[4] Kendatipun demikian, Al-Mundziri cenderung menilai baik hadis itu sebagaimana disebutkan oleh Syaikh Nuruddin ‘Itr dalam I’lamul Anam-nya. Terlebih, hadis tersebut berkenaan tentang keutamaan (fadhail) amal.

Kandungan Hadis
Hadis tersebut berisi pesan yang sangat berharga berkenaan dengan konsep kebahagiaan hidup di dunia dan akhirat. Rasulullah SAW memberikan kunci kebahagiaan itu berupa zuhud terhadap dunia. Zuhud berarti menghindar atau tidak memperbanyak. Orang yang zuhud terhadap dunia berarti menghindar darinya. Seseorang yang zuhud tampak dari sikapnya yang tidak ambisius terhadap dunia, karena baginya dunia adalah hina. Zuhud bukan berarti membenci dan meninggalkan dunia sama sekali, tapi zuhud adalah menjadikan dunia sebagai jalan pintas menuju kebahagiaan akhirat, karena zuhud adalah amalan hati, bisa jadi orang yang zuhud kaya raya, namun hatinya tidak terpengaruh sedikit pun dengan kekayaan materi tersebut. Hatinya jauh lebih kaya dengan nur ilahi. Hatinya hanya untuk Allah SWT saja.

Mengenai zuhud terhadap dunia, Al-Quran telah menyinggungnya dalam banyak ayat, di antaranya:

“Tetapi kamu (orang-orang kafir) memilih kehidupan duniawi. Sedang kehidupan akhirat adalah lebih baik dan lebih kekal.” (QS. Al-A'la: 16-17)

"Kesenangan di dunia ini hanya sebentar dan akhirat itu lebih baik untuk orang-orang yang bertakwa dan kamu tidak akan dianiaya sedikit pun.” (QS. An-Nisaa: 77)

Masih banyak lagi ayat atau hadis yang menerangkan betapa hinanya dunia dan betapa mulianya akhirat.

Sedangkan zuhud terhadap apa yang dimiliki manusia, Al-Quran juga telah menyinggungnya dalam beberapa ayat di antaranya:

“Dan janganlah kamu tujukan pandanganmu kepada apa yang telah Kami berikan kepada golongan-golongan dari mereka, sebagai bunga kehidupan dunia untuk Kami uji mereka dengannya. Dan karunia Tuhan kamu adalah lebih baik dan lebih kekal.” (QS. Thaahaa: 131)

Wallahu a’lam bish showab.

Rujukan: Kitab I’lamul Anam Syarah Bulughul Maram karya Syaikh Dr. Nuruddin ‘Itr.

[1] Ibn Majah dalam bab Az-Zuhd (Zuhud di Dunia): 2/1373-1374, Al-Hakim: 4/313, dalam cetakan tertulis, “Ibn Majah dan lainnya”.
[2] Jami’ Al-‘Ulum Wa Al-Hikam: 2/174-176, Mishbah Az-Zujajah: 2/319.
[3] Ilal Al-Hadits: 2/107.
[4] Jami’ Al-‘Ulum karya Ibn Rajab: 2/176-177, At-Targhib karya Al-Mundziri: 4/56-57.

4 Hadits tentang Bid'ah


Rasulullah SAW bersabda, “Hendaklah kalian menjauhi perkara-perkara baru, karena setiap bid’ah itu sesat.”

Hadis ini menjadi peringatan bagi manusia agar tidak mengikuti perkara-perkara baru yang tidak dikenal dalam Islam. Hal itu dipertegas dengan sabda beliau bahwa “setiap bid’ah itu sesat”. Yang dimaksud bid’ah adalah setiap perkara baru yang tidak memiliki sumber dari ajaran Islam. Adapun perkara baru yang memiliki sumber dari Islam maka tidak disebut bid’ah secara istilah, meskipun disebut bid’ah secara bahasa. Oleh karena itu, barangsiapa yang membuat-buat perkara baru yang tidak ada asalnya dari Islam lalu melekatkannya pada ajaran Islam maka itulah yang disebut kesesatan yang nyata, baik berkaitan dengan masalah keyakinan (akidah), perbuatan maupun ucapan, yang nyata maupun tersembunyi.

Adapun riwayat yang menyebutkan bahwa sebagian salaf menganggap baik perbuatan bid’ah, maka yang dimaksud bid’ah di sini adalah bid’ah dari segi bahasa, bukan secara istilah. Misalnya Umar bin Khattab yang menganggap bahwa shalat tarawih berjamaah di masjid dengan satu imam itu bid’ah terbaik, maka yang dimaksud adalah bid’ah secara bahasa, yaitu perkara baru saja, bukan secara istilah yaitu perkara baru yang dibuat-buat dan tidak memiliki asal dari ajaran Islam, karena shalat tarawih memiliki asal dari ajaran Islam. Rasulullah SAW pernah melakukan shalat tarawih beberapa malam di bulan Ramadan kemudian menghentikannya karena khawatir akan diwajibkan atas umatnya. Adapun yang dilakukan oleh Umar hanyalah mengumpulkan para jamaah di masjid dalam satu imam agar lebih teratur. Ketika Ubay bin Kaab menegur Umar sambil mengatakan, “Ini belum pernah ada.” Umar menjawab, “Ya, aku tahu itu, tapi ini baik.” Makudnya adalah perbuatan semacam itu belum pernah dilakukan di zaman Nabi SAW dengan bentuk seperti yang diusulkan Umar. Namun demikian, perbuatan itu memiliki asal atau sumber dari Rasulullah SAW yaitu perbuatan beliau sendiri bersama sebagian sahabat yang sempat berjamaah di belakang beliau. Kemudian beliau menghentikan shalat itu karena khawatir akan diwajibkan sehingga umatnya tidak mampu melaksanakannya. Adapun setelah beliau wafat, kekhawatiran itu sudah tidak terjadi lagi. Di samping itu, beliau juga memerintahkan umat Islam agar mengikuti apa yang disunnahkan oleh Khulafa Rasyidin sehingga perbuatan ini tidak lagi disebut bid’ah secara istilah.

Contoh kedua adalah dua azan sebelum shalat Jumat yang dipelopori oleh Utsman bin Affan di masa kepemimpinannya, kemudian berlanjut setelah itu dan menjadi sunnah yang diamalkan oleh umat Islam hingga saat ini. Ada riwayat dari Ibnu Umar bahwa ia pernah mengatakan, “Itu bid’ah.” Mungkin yang dimaksud adalah sebagaimana yang dikatakan oleh ayahnya sebelumnya tentang shalat tarawih.

Contoh lain adalah pengumpulan mushaf dalam satu buku. Semula Abu Bakar ragu menerima usulan Umar untuk mengumpulkan mushaf dalam satu buku. Namun melihat maslahat besar di balik usulan itu, terutama setelah terjadi perang Yamamah yang menelan banyak korban dari para penghafal Quran (huffazh), akhirnya Abu Bakar menerimanya. Begitu pun Zaid bin Tsabit, semula ia ragu menerima usulan Abu Bakar dan Umar sambil mengatakan kepada mereka berdua, “Bagaimana kalian akan melakukan sesuatu yang belum pernah dilakukan oleh Nabi SAW? Demi Allah, seandainya kalian menyuruhku memindahkan sebuah gunung, itu lebih aku sukai daripada melakukan apa yang tidak dilakukan oleh Rasulullah SAW.” Kemudian ia menyadari bahwa rencana itu mengandung maslahat besar bagi umat Islam, lalu ia pun menyetujui usulan itu, karena dahulu Rasulullah SAW telah memerintahkan para juru tulis wahyu untuk menulis Al Quran. Maka, apa bedanya menulis dalam lembaran yang terpisah-pisah dengan menulisnya dalam satu buku? Bahkan mengumpulkannya dalam satu buku lebih bermanfaat dan mempermudah penggunanya.

Keputusan Utsman bin Affan untuk menyatukan mushaf dan membakar lembaran-lembaran yang tidak sesuai dengan mushaf itu demi menjaga persatuan umat Islam juga menjadi contoh bahwa tidak semua perkara baru itu tercela dan bid’ah. Hal itu disetujui oleh Ali bin Abi Thalib dan mayoritas sahabat pada masa itu.

Begitu juga peperangan yang dipelopori oleh Abu Bakar dalam rangka memberantas para penolak zakat di zamannya. Semula Umar dan beberapa sahabat lainnya menolak usulan itu, sampai akhirnya Abu Bakar menjelaskan alasannya mengapa ingin melakukan hal itu, bahkan berjanji akan melakukannya seorang diri seandainya tak satu pun yang mendukungnya, akhirnya para sahabat pun menyetujuinya.

Begitu juga majelis kisah yang dahulu dianggap bid’ah oleh Ghadid bin Al Harits, oleh Al Hasan Al Bashri justru dianggap sebagai ni’mat al bid’ah (bid’ah paling baik), karena yang dianggap bid’ah oleh mereka sesungguhnya adalah acara perkumpulan di suatu tempat tertentu dalam waktu tertentu yang belum pernah dilakukan oleh Rasulullah SAW. Adapun menyampaikan kisah dalam majelis, hal itu sering dilakukan oleh Rasulullah SAW dalam khutbah-khutbah beliau, baik khutbah Jumat maupun hari raya. Hanya saja beliau tidak menjadikan waktu khusus untuk mengadakan majelis kisah. Beliau menceritakan kisah tertentu hanya kadang-kadang saja atau ketika terjadi peristiwa tertentu yang mengharuskan beliau mengingatkan umatnya tentang kisah itu. Kemudian para sahabat menjadikan waktu tertentu untuk mengadakan majelis kisah sebagaimana yang dilakukan oleh Ibnu Mas’ud setiap hari Kamis.

Dalam Shahih Bukhari, Ibnu Abbas pernah berkata, “Berceritalah setiap pekan satu kali, dua kali atau paling banyak tiga kali. Jangan sampai membuat mereka bosan.” Dalam Musnad Ahmad disebutkan bahwa Aisyah pernah berpesan kepada para penyampai kisah untuk melakukan hal serupa. Dalam sebuah riwayat, Aisyah berpesan kepada Said bin Umair, “Ceritakanlah manusia sehari dan tinggalkan mereka sehari.” Dalam riwayat lain, Umar bin Abdul Aziz berpesan kepada para penyampai kisah agar menyampaikan kisah setiap tiga hari sekali.

Jadi, tidak semua perbuatan baru bisa dikatakan bid’ah secara istilah menurut hadis di atas. Yang dinamakan bid’ah dalam hadis di atas adalah setiap perkara baru yang tidak memiliki asal dari ajaran Islam serta menyelisihi sunnah. Hadis tersebut termasuk dalam kategori nash umum yang dikhususkan (‘am mukhoshosh).

Imam Syafii pernah berkata, “Bid’ah itu ada dua macam: bid’ah terpuji dan bid’ah tercela. Yang sesuai sunnah adalah terpuji dan yang menyelisihi sunnah adalah tercela.” Lalu ia berhujjah dengan perkataan Umar, “Sebaik-baik bid’ah adalah ini.” Terdapat beberapa riwayat dari Imam Syafii yang serupa dengan riwayat di atas. Intinya, beliau membedakan antara perkara baru yang memiliki asal (sumber) dari ajaran Islam dengan perkara baru yang tidak memiliki asal sama sekali.

Ada beberapa perkara baru yang belum pernah terjadi sebelumnya sehingga membuat para ulama berselisih apakah ia termasuk kategori bid’ah hasanah sehingga bisa digolongkan sunnah atau tidak. Di antaranya adalah sebagai berikut:

Penulisan sunnah, dahulu dilarang keras oleh Umar dan beberapa sahabat, namun mayoritas sahabat lainnya memperbolehkannya dan berhujjah dengan hadis-hadis dari sunnah.

Begitu juga penulisan tafsir hadits dan tafsir Quran, sebagian ulama memakruhkannya, namun mayoritas ulama memperbolehkannya.

Begitu juga penulisan fikih beserta khilafnya.

Begitu juga pembicaraan mengenai hubungan antar manusia dan amalan-amalan hati yang belum pernah diriwayatkan dari para sahabat atau tabiin. Imam Ahmad tidak menyukai pembahasan mengenai hal itu terlalu banyak.

Namun di zaman ini, di mana semakin jauh jarak antara zaman kenabian dan keemasan, maka menjadi kewajiban menulis setiap apa yang datang dari para ulama Islam, agar dapat dibedakan mana yang memiliki asal dan mana yang tidak, sehingga dapat diketahui mana yang sunnah dan mana yang bid’ah.

Ibnu Mas’ud pernah berkata, “Pada hari ini kalian hidup di atas fitrah. Kelak akan terjadi perkara baru di hadapan kalian. Jika kalian melihat perkara-perkara baru itu, maka kembalilah kepada posisi awal ini.” Beliau mengatakan itu pada zaman Khulafa Rasyidin.

Imam Malik juga pernah berkata, “Hawa ini belum pernah terjadi di zaman Nabi SAW, Abu Bakar, Umar dan Utsman.” Hawa yang dimaksud adalah perpecahan dalam masalah agama seperti Khawarij, Rawafidh, Murji’ah dan perkara-perkara semisal terkait masalah takfir kaum muslimin, penghalalan darah dan harta mereka, pengekalan mereka di neraka, tuduhan fasik terhadap orang-orang shalih dari umat ini, atau sebaliknya menganggap bahwa kemaksiatan tidak membahayakan pelakunya dan sebagainya.

Dari semua keterangan di atas, dapat diambil kesimpulan bahwa sesungguhnya bid’ah yang dimaksud oleh Rasulullah SAW dalam hadis di atas adalah setiap perkara baru yang tidak memiliki asal dari ajaran Islam dan diklaim termasuk ajaran Islam. Bid’ah semacam inilah yang sesat. Adapun perkara-perkara baru yang ada asalnya dari Islam meskipun dalam bentuk yang tidak sama persis, maka tidak dapat dikatakan sebagai bid’ah secara syar’i, meskipun secara bahasa disebut bid’ah. Wallahu a’lam.

0 Penshahihan dan Pendhaifan Muta'akhirin


Sejak dahulu, para ulama ahli hadis telah melakukan kajian kritis terhadap hadis dalam rangka menyeleksi hadis-hadis yang dapat diterima (maqbul) dan yang ditolak (mardud). Mereka juga telah mengupas permaslahan ‘illah dalam setiap hadis sehingga setiap hadis dapat diketahui statusnya. Mereka menyuguhkan sebuah studi kritis dan ilmiah sehingga mampu menyingkap hakikat yang tersembunyi dalam sanad maupun matan hadis. Mereka seolah-olah hidup dan bergaul dengan perawi-perawi itu serta mentransfer matan-matan hadis di sela-sela majelis riwayat. Sejak dahulu pula pembahasan dan kesimpulan mereka selalu menjadi rujukan bagi para ulama setelahnya.

Namun ketika zaman telah berlalu sekian lama dan jarak antara perawi dengan peneliti hadis semakin jauh, sebagian ulama merasa khawatir terhadap nasib hadis-hadis beserta sanadnya itu dari penyelewengan orang-orang yang datang belakangan (mutaakhirin) yang menyimpang dari haluan para ahli hadis klasik (mutaqaddimin). Di antara ulama yang khawatir itu adalah Ibn Al-Shalah, ahli hadis yang hingga kini kitabnya menjadi rujukan utama dalam kajian Ilmu Hadis. Beliau menutup celah bagi mutaakhirin untuk menghukumi suatu hadis. Beliau berkata, “Jika kita mendapatkan dalam riwayat-riwayat hadis, sebuah hadis yang sanadnya shahih tapi tidak ditemukan dalam salah satu Kitab Shahihain, dan tidak pula dinilai shahih oleh para imam ahli hadis dalam karangan-karangan mereka yang mu’tamad dan populer, maka kami tidak berani berbuat sembrono (gegabah/ceroboh) memastikan hukum hadis itu. Di zaman ini, telah tertutup peluang untuk mengetahui hadis shahih hanya berdasarkan sanadnya saja, karena tak satu sanad pun di antara hadis-hadis itu kecuali anda akan menemukan di dalamnya seorang (perawi) yang hanya mengandalkan kitabnya saja, sangat berbeda dengan syarat perawi shahih yang diharuskan memiliki hifzh (hafalan kuat), dhabth (sistem dokumentasi akurat) dan itqon (ketelitian). Maka, penilaian shahih atau hasannya suatu hadis harus dikembalikan kepada penilaian para imam ahli hadis dalam karangan-karangan mereka yang mu’tamad dan populer yang sudah aman –karena popularitasnya- dari perubahan (taghyir) dan penyimpangan (tahrif).” (Mukaddimah Ulumul Hadis, Ibn Al-Shalah, Dar Al-Fikr, hal. 17)

Akan tetapi, tidak semua ulama menyetujui pendapat Ibn Al-Shalah ini. Di antara mereka ada yang tetap membolehkan setiap orang meneliti dan memutuskan status hadis selama memiliki kapabilitas dalam bidang itu. Di antara ulama yang berpendapat ini adalah An-Nawawi, Ibn Katsir, Al-Iraqi, Ibn Hajar dan lain-lain. Di antara mereka yang paling populer menentang pendapat Ibn Al-Shalah adalah Al-Iraqi dan muridnya, Ibn Hajar.

Perdebatan panjang antara dua kubu ini telah menarik perhatian Imam As-Suyuthi sehingga beliau menulis sebuah tesis berjudul, At-Tanqih li Masalat Al-Tashih (Penjelasan Mengenai Masalah Pen-shahih-an). Beliau mendamaikan kedua kubu tersebut dengan sebuah metode yang sangat jitu. Beliau mengatakan bahwa yang dimaksud Ibn Al-Shalah adalah hadis shahih lidzatihi sedangkan yang dimaksud oleh para penentangnya adalah hadis shahih lighairihi. Jadi, tidak ada kontradiksi antara pendapat-pendapat mereka.

Namun demikian, seseorang tetap harus berhati-hati dalam menilai suatu hadis, apalagi jika belum memiliki kapabilitas di bidang itu. Menilai suatu hadis tidaklah semudah menghitung angka dalam matematika dan tidak bisa dilakukan hanya dengan membolak-balik buku di perpustakaan saja, sebagaimana dipahami sebagian orang. Oleh karena itu, Imam As-Suyuthi mengatakan, “Langkah yang paling hati-hati dalam masalah seperti ini adalah melabeli hadis semacam itu dengan label shahih al-isnad (sanadnya shahih) tanpa memastikan pen-shahih-an secara mutlak karena masih adanya kemungkinan ‘illah yang tersembunyi di dalam hadis itu.” Beliau melanjutkan, “Dan berapa banyak hadis dha’if atau wahi (lemah) yang sanadnya shahih.” (Tadrib Al-Rawi 1/159)

Demikian pula sebaliknya, jika dalam pen-shahih-an seseorang mesti berhati-hati, dalam pen-dhaif-an suatu hadis pun tidak boleh dilakukan hanya karena sanadnya dhaif. Adakalanya sebuah hadis yang sanadnya dhaif memiliki sanad lain yang shahih atau memiliki penguat-penguat lainnya yang mengangkat derajatnya menjadi hasan atau maqbul (dapat diterima). (Tadrib Al-Rawi 1/160)

Sumber:
1. Manhaj Al-Naqd fi ‘Ulum Al-Hadits karya Syaikh Dr. Nuruddin Eter.
2. Tadrib Al-Rawi karya Imam Jalaluddin Al-Suyuthi.
3. Ulum Al-Hadits karya Imam Abu ‘Amr Ibn Al-Shalah.

0 Tahnik Bayi


Di antara sunnah Nabi SAW adalah mentahnik bayi yang baru dilahirkan. Tahnik adalah mengusap mulut bayi bagian atas dengan kurma yang telah dilembutkan. Tahnik dianjurkan berdasarkan hadits shahih yang diriwayatkan oleh Abu Burdah dari Abu Musa Al-Asy’ari bahwa beliau berkata: “Ketika putraku dilahirkan, aku membawanya kepada Rasulullah SAW, beliau memberinya nama Ibrahim, mentahniknya dengan kurma, mendoakan keberkahan baginya lalu mengembalikannya kepadaku.” (HR. Bukhari-Muslim)

Siapapun diperbolehkan mentahnik bayi, baik laki-laki maupun perempuan, berdasarkan hadits shahih yang diriwayatkan dari Nabi SAW bahwa beliau dahulu biasa disodori bayi-bayi yang baru dilahirkan lalu beliau mendoakan keberkahan untuk mereka dan mentahnik mereka. (HR. Muslim)

Imam Ahmad bin Hambal juga pernah disodori seorang bayi lalu beliau memerintahkan seorang wanita untuk mentahniknya. (lihat: Tuhfatul Maulud karangan Ibnul Qoyyim hal. 9)

Disunnahkan mentahnik dengan kurma yang telah dilembutkan berdasarkan hadits-hadits shahih. Namun jika tidak ada kurma, tidak apa-apa mentahnik dengan makanan-makanan yang manis seperti madu. Sebaiknya dihindari makanan yang pernah tersentuh api seperti dibakar, digoreng, dsb. (lihat: al-Mausu’ah al-Fiqhiyyah: 10/227)

Tahnik sebaiknya dilakukan pada hari ketika bayi dilahirkan berdasarkan bunyi hadits yang ada. Namun tidak apa-apa mentahnik setelah hari kelahirannya. (lihat: Fathul Bari: 9/588, 7/249)

Wallahu a’lamu bish showab.

0 Hadits-Hadits Ramadhan


Hadits-Hadits Ramadhan

Berikut ini hadits-hadits pilihan tentang Ramadhan semoga bermanfaat untuk menemani Anda mengarungi bulan yang penuh rahmat ini.

Keutamaan Bulan Ramadhan

Allah SWT berfirman: “Bulan Ramadhan yang di dalamnya diturunkan Al-Quran sebagai petunjuk bagi manusia.” (QS. Al Baqarah: 185)
Rasulullah SAW bersabda: “Apabila bulan Ramadhah telah datang, maka pintu-pintu langit (surga) dibuka, pintu-pintu (neraka) Jahannam ditutup dan setan-setan dibelenggu.”[1]


Memanfaatkan Bulan Ramadhan

Suatu hari, Nabi SAW menaiki mimbar lalu mengucapkan “amin” sebanyak tiga kali. Para sahabat bertanya tentang hal itu. Kemudian beliau menjawab, “Tadi Jibril Alaihissalam mendatangiku lalu memberitahuku bahwa barangsiapa mendapati bulan Ramadhan, akan tetapi dosa-dosanya tidak diampuni maka ia akan masuk neraka. Jibril berkata: Ucapkanlah amin. Lalu aku pun mengucapkan amin.”[2]


Keutamaan Puasa

“Puasa adalah tameng, maka hendaklah (orang yang berpuasa) tidak berbuat kotor dan tidak pula berbuat bodoh. Apabila ada orang yang mengajaknya berkelahi atau menghinanya, hendaklah ia mengatakan, ‘Aku sedang berpuasa. Aku sedang berpuasa.’ Demi (Allah) yang jiwaku berada di tanganNya, sungguh bau mulut orang yang sedang berpuasa lebih harum di sisi Allah Ta'ala daripada aroma minyak misik, karena dia meninggalkan makanan, minuman dan nafsu syahwatnya karena Aku. Puasa itu untuk Aku dan Aku sendiri yang akan membalasnya dan setiap satu kebaikan akan dibalas dengan sepuluh kali kebaikan yang serupa.”[3]


Puasa Ramadhan Menghapus Dosa

“Barangsiapa berpuasa dengan penuh keimanan dan rasa pengharapan, maka dosa-dosanya yang telah lampau akan diampuni.”[4]
“Shalat lima waktu, Jumat ke Jumat berikutnya dan Ramadhan ke Ramadhan berikutnya adalah penghapus dosa-dosa di antara keduanya.” [5]


Pahala Berjihad di Bulan Ramadhan

“Jika seorang hamba berpuasa satu hari sewaktu berperang di jalan Allah, niscaya Allah akan menjauhkannya –dengan puasa itu- dari api neraka sejauh 70 tahun perjalanan.”[6]

Surga Ar Rayyan bagi Orang yang Berpuasa

“Dalam surga ada satu pintu yang disebut dengan Ar Rayyan, yang pada hari kiamat tidak akan ada orang yang masuk ke surga melewati pintu itu kecuali orang-orang yang berpuasa. Tidak akan ada seorang pun yang masuk melewati pintu tersebut selain mereka. Lalu dikatakan, “Mana orang-orang yang berpuasa itu?” lalu mereka pun berdiri menghadap. Tidak akan ada seorang pun yang masuk melewati pintu tersebut selain mereka. Apabila mereka telah masuk semuanya, maka pintu itu ditutup dan tidak akan ada seorang pun yang masuk melewati pintu tersebut."[7]


Puasa dari Dusta dan Perbuatan Buruk

“Barangsiapa yang tidak meninggalkan kata-kata dusta dan perbuatan buruk, Allah tidak butuh ia meninggalkan makan dan minumnya.”[8]


Kegembiraan Orang yang Berpuasa

“Orang yang berpuasa akan merasakan dua kegembiraan yang ia dapatkan, yaitu pada saat berbuka puasa dan pada saat berjumpa dengan Rabbnya dia bergembira karena puasanya itu."[9]


Larangan Mendahului Puasa Ramadhan

“Janganlah seseorang di antara kalian mendahului bulan Ramadhan dengan berpuasa satu atau dua hari (sebelumnya) kecuali apabila seseorang sudah biasa melaksanakan puasa (sunnat) maka pada hari itu dia dipersilahkan untuk melakukannya.”[10]


Bersedekah di Bulan Ramadhan
Ibnu Abbas RA berkata: “Rasulullah SAW adalah orang yang paling dermawan, terutama pada bulan Ramadhan ketika malaikat Jibril AS menemuinya, dahulu Jibril AS selalu mendatanginya setiap malam di bulan Ramadhan mengajarkan Al Qur'an. Sungguh Rasulullah SAW lebih dermawan daripada angin yang berhembus.” [11]


Keutamaan Umroh di Bulan Ramadhan

“Apabila datang bulan Ramadhan berumrohlah, karena umroh di bulan Ramadhan itu setara dengan haji bersamaku.” [12]


Shalat Tarawih Menghapus Dosa

“Barangsiapa berdiri (shalat) di bulan Ramadhan dengan penuh keimanan dan pengharapan, dosa-dosanya yang telah lalu akan diampuni.” [13]


Niat Sejak Malam Hari

“Barangsiapa tidak berniat puasa sebelum fajar, maka tidak ada puasa baginya." [14]


Berkah dalam Sahur

“Bersahurlah, karena sesungguhnya di dalam sahur itu ada berkah.”[15]


Keutamaan Sahur dengan Tujuh Kurma Madinah

“Barangsiapa sarapan setiap hari dengan tujuh kurma Ajwah, ia tak akan dicelakai oleh racun ataupun sihir pada hari itu.”[16]


Keutamaan Mengakhirkan Sahur

“Senantiasa umatku berada dalam kebaikan selama mereka menyegerakan berbuka dan mengakhirkan sahur.”[17]

Zaid bin Tsabit RA berkata: “Kami pernah makan sahur bersama Nabi SAW kemudian beliau pergi untuk melakanakan shalat.” Anas bin Malik bertanya: “Berapa jarak antara adzan (Shubuh) dan sahur?” Zaid menjawab: “Sepanjang bacaan lima puluh ayat.”[18]


Keutamaan Menyegerakan Berbuka

“Senantiasa manusia berada dalam kebaikan selama mereka menyegerakan berbuka."[19]

Allah SWT berfirman (dalam hadits Qudsi): “Hamba-hamba-Ku yang paling Aku cintai adalah mereka yang paling menyegerakan berbuka."[20]


Keutamaan Berbuka Dengan Kurma atau Air

“Apabila seseorang di antara kamu berbuka, hendaknya ia berbuka dengan kurma. Jika tidak mendapatkannya, hendaknya ia berbuka dengan air, karena air itu menyucikan.”[21]


Bolehkah Istri Berpuasa Sewaktu Suaminya di Rumah?

“Tidak diperbolehkan bagi seorang perempuan berpuasa di saat suaminya di rumah, kecuali dengan seizinnya, kecuali pada bulan Ramadhan.”[22]


Bolehkah Mencium dan Memeluk Istri Ketika Sedang Berpuasa?

Aisyah RA berkata: "Nabi SAW pernah mencium dan memeluk (isteri-isteri beliau) ketika beliau sedang berpuasa. Beliau adalah orang yang paling mampu mengendalikan nafsunya dibandingkan kalian.”[23]

“Rasulullah SAW pernah mencium salah satu isteri beliau ketika beliau sedang berpuasa.” Katanya sambil tersenyum.[24]

Ummu Salamah RA bercerita: “Ketika aku bersama Rasulullah SAW dalam satu selimut tiba-tiba aku mengalami haid (menstruasi), lalu aku pergi secara diam-diam dan mengambil pakaian khusus haidku. Beliau bertanya: ‘Ada apa denganmu, apakah kamu mengalami haid?’ Aku jawab: ‘Ya.’ Lalu aku kembali masuk kedalam selimut bersama beliau.”

Zainab, putri Ummu Salamah, bercerita: “Ummu Salamah dan Rasulullah SAW juga pernah mandi bersama dari satu wadah air. Dan beliau juga menciumnya padahal beliau sedang berpuasa.”[25]


Belum Mandi Junub Hingga Waktu Subuh

Aisyah RA berkata: “Aku bersaksi tentang Rasulullah SAW bahwa beliau dahulu pernah junub di pagi hari setelah berhubungan, bukan karena mimpi, kemudian beliau meneruskan puasanya.” Ummu Salamah juga pernah berkata seperti itu.[26]


Hukum Makan atau Minum karena Lupa

“Jika seseorang lupa lalu dia makan dan minum (ketika sedang berpuasa) maka hendaklah dia meneruskan puasanya karena sesungguhnya Allah telah memberinya makan dan minum.”[27]

Menurut riwayat lain: “Barangsiapa yang berbuka pada saat puasa Ramadhan karena lupa, maka tak ada qadha (tidak wajib mengganti) dan tak ada kafarat (hukuman) baginya.”[28]


Hukum Muntah Ketika Sedang Berpuasa

“Barangsiapa yang terpaksa muntah (tidak sengaja) maka ia tak wajib mengqadha (mengganti puasanya), akan tetapi barangsiapa sengaja muntah maka ia wajib mengqadha.”[29]


Hukum Puasa Ketika Bepergia (Safar)

Hamzah bin 'Amru Al Aslamiy berkata kepada Nabi SAW: “Apakah saya boleh berpuasa saat bepergian?” Dia adalah orang yang banyak berpuasa. Lalu Beliau menjawab: “Jika kamu mau berpuasalah dan jika kamu mau berbukalah.”[30]

Dalam riwayat lain, “(Berbuka), itu hanyalah keringanan dari Allah, barangsiapa mengambilnya maka itu baik, tapi orang yang lebih suka berpuasa, maka itu tidak mengapa.”


Keutamaan Sepuluh Hari Terakhir Ramadhan

Nabi SAW apabila memasuki sepuluh hari terakhir (dari bulan Ramadhan), beliau mengencangkan sarungnya, menghidupkan malamnya dengan beribadah dan membangunkan keluarganya.”[31]

Abdullah bin Umar RA berkata: “Rasulullah SAW beriktikaf pada sepuluh hari yang akhir dari Ramadhan.”
Aisyah RA, isteri Nabi SAW, berkata bahwa Nabi SAW beriktikaf pada sepuluh hari terakhir dari Ramadhan hingga beliau wafat, kemudian isteri-isteri beliau beriktikaf setelah kepergian beliau.[32]


Kapan Lailatul Qadar?

Allah SWT berfirman: “Sesungguhnya Kami telah menurunkannya (Al Qur'an) pada malam kemuliaan (lailatul qadar). Dan tahukah kamu apakah malam kemuliaan itu? Malam kemuliaan itu lebih baik dari seribu bulan. Pada malam itu turun malaikat-malaikat dan malaikat Jibril dengan izin Tuhannya untuk mengatur segala urusan. Malam itu (penuh) kesejahteraan sampai terbit fajar.” (QS. Al-Qadr)


Tujuh Malam Terakhir

Ibnu Umar RA berkata bahwa ada salah seorang sahabat Nabi SAW yang menyaksilan Lailatul Qadar dalam mimpi terjadi pada tujuh malam terakhir. Lalu Rasulullah SAW bersabda: “Aku juga bermimpi seperti yang kalian mimpikan tentang Lailatul Qadar tepat terjadi pada tujuh malam terakhir, maka siapa yang mau mendekatkan diri kepada Allah dengan mencarinya, lakukanlah pada tujuh malam terakhir.”[33]


Malam-Malam Ganjil

Rasulullah SAW bersabda: “Carilah Lailatul Qadar pada malam yang ganjil dalam sepuluh malam yang akhir dari Ramadhan.”[34]

Abu Sa'id Al Khudriy RA berkata: “Kami pernah beriktikaf bersama Nabi SAW pada sepuluh malam pertengahan dari bulan Ramadhan. Kemudian beliau keluar pada sepuluh malam terakhir lalu memberikan khutbah kepada kami dan berkata: "Sungguh aku diperlihatkan (dalam mimpi) tentang Lailatul Qadar namun aku lupa atau dilupakan waktunya yang pasti. Namun carilah pada sepuluh malam-malam akhir dan pada malam yang ganjil. Sungguh aku melihat dalam mimpi, bahwa aku sujud di atas tanah dan air (yang becek). Oleh karena itu, barangsiapa yang sudah beriktikaf bersama Rasulullah SAW maka pulanglah."

Maka kami pun pulang. Dan tidaklah kami melihat awan yang tipis sekalipun di langit hingga kemudian tiba-tiba datang awan yang banyak, lalu hujan turun hingga air menetes (karena bocor) lewat atap masjid yang terbuat dari dedaunan kurma. Kemudian setelah shalat (Shubuh) aku melihat Rasulullah SAW sujud di atas air dan tanah yang becek hingga aku melihat sisa-sisanya pada dahi beliau.” [35]


Malam ke-25, 27 dan 29

Nabi SAW keluar untuk memberitahukan kami tentang Lailatul Qadar. Tiba-tiba ada dua orang dari kaum muslimin yang saling bertengkar. Akhirnya beliau berkata: "Aku datang untuk memberitahukan kalian tentang waktu terjadinya Lailatul Qadar namun fulan dan fulan bertengkar sehingga kepastian waktunya diangkat (menjadi tidak diketahui). Namun semoga kejadian ini menjadi kebaikan buat kalian, maka carilah pada malam yang kesembilan, ketujuh dan kelima (pada sepuluh malam akhir dari Ramadhan)."[36]


Malam ke-27

Muawiyah bin Abu Sufyan RA berkata bahwa Nabi SAW bersabda tentang Lailatul Qadar: "Malam dua puluh tujuh." [37]


Keutamaan Shalat di Malam Lailatul Qadar

“Barangsiapa berdiri (shalat) pada malam Lailatul Qadar, dosa-dosanya yang telah lampau akan diampuni.”[38]


Doa Malam Lailatul Qadar

Aisyah RA bertanya: “Wahai Rasulullah, seandainya aku tahu bahwa suatu malam adalah Lailatul Qadr, apa yang harus aku baca pada malam tersebut?” Beliau menjawab: "Bacalah: Allahumma innaka ‘afuwwun tuhibbul ‘afwa fa’fu ‘anni (artinya: Ya Allah, sesungguhnya Engkau Maha Pengampun, Engkau menyukai ampunan, maka ampunilah aku)."[39]


Larangan Puasa di Hari Raya

Umar bin Al Khaththab RA dia berkata: "Inilah dua hari yang Rasulullah SAW melarang puasa padanya, yaitu pada hari saat kalian berbuka dari puasa kalian (Iedul Fithri) dan hari lainnya adalah hari ketika kalian memakan hewan qurban kalian (Iedul Adha)."[40]

Abu Sa'id RA berkata: “Nabi SAW melarang berpuasa pada hari Raya Idul Fitri dan Idul Adha.”[41]
Abu Hurairah RA berkata: "Telah dilarang berpuasa pada hari Raya Idul Fitri dan Idul Adha.”[42]


Keutamaan Berpuasa Enam Hari di Bulan Syawal

“Barangsiapa berpuasa Ramadhan kemudian menyambungnya dengan puasa enam hari di bulan Syawal, maka ia seperti orang yang berpuasa selamanya.” [43]

Demikianlah hadits-hadits pilihan tentang bulan suci Ramadhan. Semoga Ramadhan kita kali ini semakin bermakna dengan tuntunan dari Rasulullah SAW.[44]
___
[1] HR. Bukhari dan Muslim.
[2] HR. Ibnu Hibban, Al Hakim, Thabrani, Al Baihaqi dalam “Syuabul Iman”, Ibnu Syahin dalam “Fadhail Syahr Ramadhan”.
[3] HR. Bukhari. Kalimat pertama “Puasa adalah tameng” juga diriwayatkan oleh Imam Muslim.
[4] HR. Bukhari dan Muslim.
[5] HR. Muslim.
[6] HR. Bukhari dan Muslim.
[7] HR. Bukhari dan Muslim.
[8] HR. Bukhari.
[9] HR. Bukhari dan Muslim.
[10] HR. Bukhari dan Muslim.
[11] HR. Bukhari dan Muslim.
[12] HR. Bukhari dan Muslim.
[13] HR. Bukhari dan Muslim.
[14] HR. Imam Lima. Tirmidzi dan Nasa'i lebih cenderung menilainya hadits mauquf. Ibnu Khuzaimah dan Ibnu Hibban menilainya shahih secara marfu'.
[15] HR. Bukhari dan Muslim.
[16] HR. Bukhari dan Muslim.
[17] HR. Ahmad.
[18] HR. Bukhari.
[19] HR. Bukhari dan Muslim.
[20] HR. Tirmidzi.
[21] HR. Imam Lima. Hadits shahih menurut Ibnu Khuzaimah, Ibnu Hibban dan Hakim.
[22] HR. Bukhari dan Muslim, kecuali lafal “kecuali pada bulan Ramadhan” disebutkan dalam riwayat Abu Daud.
[23] HR. Bukhari dan Muslim.
[24] HR. Bukhari dan Muslim.
[25] HR. Bukhari.
[26] HR. Bukhari dan Muslim.
[27] HR. Bukhari dan Muslim.
[28] HR. Hakim.
[29] HR. Imam Lima. Dinilai cacat oleh Ahmad dan dinilai kuat oleh Daraquthni.
[30] HR. Bukhari dan Muslim.
[31] HR. Bukhari.
[32] HR. Bukhari.
[33] HR. Bukhari.
[34] HR. Bukhari.
[35] HR. Bukhari.
[36] HR. Bukhari.
[37] HR. Abu Daud. Menurut pendapat yang kuat ia adalah mauquf.
[38] HR. Bukhari dan Muslim.
[39] HR. Imam Lima selain Abu Dawud. Hadits shahih menurut Tirmidzi dan Hakim.
[40] HR. Bukhari.
[41] HR. Bukhari.
[42] HR. Muslim.
[43] HR. Muslim.
[44] Dikumpulkan oleh Danang KW, website: www.danangkw.co.nr
 

Forum Diskusi Hadits Copyright © 2011 - |- Template created by O Pregador - |- Powered by Blogger Templates