Tuesday, September 3, 2013

1 Fatwa Imam Syaukani tentang Tahlilan dan Yasinan

Syaikh Muhammad bin Ali bin Muhammad bin Abdillah Asy-Syaukani (1173-1250 H / 1760-1834 M) adalah seorang mujtahid dan termasuk ulama besar Yaman, berasal dari daerah Shan'a, pakar fikih, hadits, tafsir dan ushul. Karangan beliau mencapai 114 buah. Beliau termasuk ulama yang anti taklid dan menyeru pada ijtihad. Kendati seperti itu beliau memberi fatwa yang menjawab tradisi sosial seperti yang terjadi di Indonesia yakni Tahlilan, baik rangkaian berkumpulnya, ngaji Yasin bersama, menghadiahkan kepada orang yang wafat, dan sebagainya. Berikut kutipan lengkapnya:

 Pertanyaan Ke-5
Intinya adalah pertanyan tentang tradisi yang berlaku di sebagian negara dengan berkumpul di masjid untuk membaca al-Quran dan dihadiahkan kepada orang-orang yang telah meninggal, begitu pula perkumpulan di rumah-rumah, maupun perkumpulan lainnya yang tidak ada dalam syariah, apakah perkumpulan semacam itu boleh atau tidak?
Beliau menjawab:
“Tidak diragukan lagi apabila perkumpulan tersebut tidak mengandung maksiat dan kemungkaran, hukumnya adalah boleh. Sebab pada dasarnya perkumpulannya sendiri tidak diharamkan, apalagi dilakukan untuk ibadah seperti membaca al-Quran dan sebagainya. Dan tidaklah dilarang menjadikan bacaan al-Quran itu untuk orang yang meninggal. Sebab membaca al-Quran secara berjamaah ada dasarnya seperti dalam hadis: Bacalah Yasin pada orang-orang yang meninggal. Ini adalah hadis hasan. Dan tidak ada bedanya antara membaca Yasin berjamaah di depan mayit atau di kuburannya, membaca seluruh al-Quran atau sebagiannya, untuk mayit di masjid atau di rumahnya."
Beliau mengakhiri fatwanya dengan ucapan beliau:

"Barangsiapa menganggap bahwa perkumpulan yang terbebas dari perbuatan haram adalah bid'ah, maka sungguh ia telah keliru. Sesungguhnya bid'ah adalah sesuatu yang diada-adakan dalam masalah agama dan ini tidak termasuk di dalamnya." (Ar-Rasail al-Salafiyah, Syaikh Ali bin Muhammad Asy-Syaukani hal 83-85)

Sunday, May 19, 2013

0 Imam Asy-Syathibi Seorang Asy'ari?


Salah satu ulama yang menjadi rujukan Salafi dalam menetapkan definisi bid'ah adalah Imam Asy-Syathibi (w.790) dalam kitabnya, Al-I'tisham. Kitab ini dianggap sebagai kitab terpenting dalam rujukan definisi bid'ah beserta cara pencegahannya. Penulisnya dianggap sebagai pejuang paling gigih dalam pembelaannya terhadap sunnah dan manhaj salaf. Berbagai dalil, baik yang bersifat naqli maupun aqli, dikerahkan seluruhnya sebagai bentuk pembelaan terhadap sunnah dan manhaj salaf, sehingga orang-orang setelahnya dianggap berhutang budi padanya dalam masalah ini.

Tak heran, para pecinta sunnah pun berbondong-bondong mentahqiq kitab-kitab beliau. Salim Al-Hilali menulis dalam mukaddimah tahqiqnya terhadap kitab Al-I'tisham:

وهو بذلك أول من قعّد أصول علم معرفة البدع ؛ فإن كتاب الاعتصام لا ندّ له في بابه ، فهو واسطة عقده ونسيج وحده

"Ia merupakan orang pertama yang membangun kaidah-kaidah dasar ilmu tentang bid'ah. Kitab Al-I'tisham benar-benar kitab yang tiada tandingannya dalam masalah ini..."

فمن تتبع عقيدة المصنف رحمه الله من سياق كتابه وجد ما يثلج صدره 

"Siapa saja yang meneliti akidah penulis (Imam Asy-Syathibi, pen) melalui redaksi kitabnya, akan mendapatkan sesuatu yang menyejukkan dadanya."

DR. Sa'id Al-Ghamidi dalam risalah Magister beliau berjudul Hakikat dan Hukum Bid'ah berkomentar tentang kitab Al-I'tisham karangan Imam Syathibi,

فهو العمدة في هذا الباب ، والمورد لكل من تكلم في البدعة بعده . فقد نزع الشاطبي في هذا الكتاب بقوة ، فما رُؤي عبقري يفري فرية ، حتى ضرب الناس حول كتاب الاعتصام بعطن ، وعلوا منه ونهلوا وحوموا ليدركوا شأوه ، فما وصلوا ... إلخ

"Kitab itu adalah rujukan dalam masalah ini (bid'ah) dan muara bagi setiap orang setelahnya yang berbicara tentang bid'ah. Asy-Syathibi dalam kitab ini telah berjuang dengan gigih..."

ASY'ARI

Setelah membaca pengakuan di atas, ada satu fakta unik yang patut diketahui bahwa ternyata Imam Asy-Syathibi berakidah Asy'ari yang oleh kalangan Salafi dianggap sebagai akidah yang bid'ah lagi sesat.

Syaikh Nashir Al-Fahd menulis dalam kitabnya Al-I'lam bi Mukholafati Al-Muwafaqat wal I'tisham:

ولما كان للشاطبي رحمه الله تعالى جهود في حرب البدعة ، وحرب البدع مما اشتهر به السلفيون ، فقد انتشر بين الناس أنه سلفي الاعتقاد - حتى بين بعض طلبة العلم-، والحقيقة التي تظهر لكل من يقرأ كتابيه هذين أنه أشعري المعتقد في باب الصفات والقدر والإيمان وغيرها ، ومرجعه في أبواب الاعتقاد هي كتب الأشاعرة

"Imam Syathibi memiliki perjuangan dalam memerang bid'ah. Hal ini telah populer di kalangan Salafi, sehingga tersebar di kalangan umum -bahkan sampai di kalangan sebagian akademisi- bahwa beliau berakidah Salaf. Padahal sebenarnya, tampak bagi siapa saja yang membaca dua kitab ini bahwa beliau berakidah Asy'ari dalam masalah Shifat, Qadar, Iman dan lain-lain. Rujukan beliau dalam masalah-masalah akidah adalah kitab-kitab Asy'ariyah."

Saturday, May 11, 2013

0 Adzan di Telinga Bayi Menurut Syaikh Bin Baz


Syaikh Abdul Aziz bin Baz, mantan Mufti 'Am Kerajaan Arab Saudi, berkata mengenai adzan pada telinga bayi yang baru dilahirkan:

هذا مشروع عند جمع من أهل العلم، وقد ورد فيه بعض الأحاديث، وفي سندها مقال، فإذا فعله المؤمن حسن؛ لأنه من باب السنن ومن باب التطوعات، والحديث في سنده عاصم بن عبيد الله بن عاصم بن عمر بن الخطاب وفيه ضعف، وله شواهد

"Ini disyariatkan menurut sejumlah ahli ilmu. Telah diriwayatkan beberapa hadits tentang hal itu, dan di dalam sanadnya terdapat kritik. Maka, apabila seorang mukmin melakukannya, maka hal itu baik. Karena hal ini termasuk dalam bab sunnah dan tathawu'. Hadits tersebut di dalam sanadnya terdapat perawi bernama Ashim bin Ubaidillah bin Ashim bin Umar bin Al-Khatthab. Di dalam dirinya terdapat kelemahan (dha'f). Hadits ini memiliki syawahid (penguat)."

Beliau juga mengatakan:

 ولكن إذا فعل ذلك المؤمن للأحاديث التي أشرنا إليها فلا باس، لأنه يشد بعضها بعضاً، فالأمر في هذا واسع، إن فعله حسن لما جاء في الأحاديث التي يشد بعضها بعضاً، وإن تركه فلا بأس

"Akan tetapi seandainya seorang mukmin melakukan hal itu berdasarkan hadits-hadits yang telah kami singgung, maka tidak apa-apa. Karena keseluruhan hadits itu saling menguatkan satu sama lain. Permasalahan ini cukup longgar. Jika dilakukan, maka baik, berdasarkan hadits-hadits yang saling menguatkan satu sama lain. Jika ditinggalkan juga tidak apa-apa."

Tuesday, April 30, 2013

1 Ungkapan Cinta Kepada Rasulullah SAW


Banyak cara yang digunakan oleh seseorang untuk mengungkapkan rasa cintanya kepada orang yang dicintainya. Terlebih jika orang yang dicintainya itu adalah manusia paling mulia di dunia ini, yaitu Rasulullah SAW. Berikut ini beberapa kisah tentang ungkapan rasa cinta orang-orang shalih kepada Rasulullah SAW.

Ketika beliau masih hidup, banyak sahabat yang mengungkapkan rasa cinta mereka kepada beliau dengan beragam cara. Abu Bakr As-Sidik misalnya, sahabat yang paling mencintai dan dicintai oleh Nabi SAW, ketika dalam perjalanan menemani Rasulullah SAW berhijrah ke Madinah, ia sesekali berjalan di depan dan sesekali berjalan di belakang beliau. Nabi SAW lantas bertanya, "Mengapa saya melihatmu kadang-kadang berjalan di depanku, dan kadang di belakangku?" Abu Bakr menjawab, "Saya berjalan di depan Anda karena takut apabila datang musuh dari depan. Dan saya berjalan di belakang karena saya takut apabila datang musuh dari belakang." [1]

Itulah Abu Bakr As-Sidik yang hatinya dipenuhi dengan cinta Allah dan Rasul-Nya serta menjadikan hidupnya hanya untuk melayani Allah dan Rasul-Nya.

Begitu pula Nasibah, sosok wanita pejuang tangguh yang rela turut bertempur bersama suami dan dua anaknya bersama Nabi SAW. Ketika Rasulullah SAW hendak mendapatkan serangan dari musuh, Nasibah beserta suami dan dua anaknya merelakan tubuh mereka menjad tameng untuk melindungi tubuh Rasulullah SAW hingga darah mengucur deras dari tubuh mereka akibat luka-luka. [2]

Abidah bin Amr As-Salmani pernah mengatakan, "Sungguh sehelai rambut Rasulullah lebih saya cintai daripada seluruh yang kuning dan yang putih di muka bumi ini." Imam Dzahabi berkomentar, "Ucapan Abidah ini merupakan neraca kesempurnaan cinta. Ia lebih mengunggulkan rambut Rasulullah SAW daripada emas dan perak yang ada di tangan manusia." [3]

Muawiyah bin Abi Sufyan ketika mendapatkan rambut Rasulullah SAW yang terlepas, ia mencucinya lalu meminum airnya dan mengusap-usapkannya ke tubuhnya. [4]

Bahkan Abdullah bin Az-Zubair ketika diminta Nabi SAW untuk menumpahkan darah bekas bekam beliau di tempat yang tidak ketahui oleh seorang pun, ia justru meminumnya. [5]

Imam Ahmad bin Hambal pernah diberikan tiga helai rambut Rasulullah SAW. Lalu beliau berwasiat agar tiga helai rambut tersebut diletakkan pada kedua mata dan lidah beliau ketika wafat. Wasiat itu pun dilaksanakan. [6]

Masih banyak lagi kisah serupa yang menggambarkan beragam cara orang-orang shalih terdahulu dalam mengungkapkan rasa cinta mereka kepada Rasulullah SAW. Semoga catatan kecil ini dapat memberi kita inspirasi untuk menapaki jejak mereka. Karena mereka adalah orang-orang mulia. Dan karena cinta, mereka menjadi mulia. Karena cinta, mereka menjadi kuat. Karena cinta, mereka mendapatkan janji Rasulullah SAW, "Engkau akan bersama dengan orang yang kau cintai." [7]

Wallahu a'lam bish showab.
___________
[1] Mustadrak Al-Haakim kitab Al-Hjrah hadits no. 4268.
[2] Siyar A'laam Nubalaa karya Adz-Dzahabi, 3/250.
[3] Ibid 7/42.
[4] Ibid 5/143.
[5] Ibid 5/360.
[6] Ibid 21/399.
[7] Shahih Bukhari dan Shahih Muslim.

Monday, April 29, 2013

0 Salafus Sholeh Bertabarruk dengan Nabi SAW?


Dalam "Musnad Ahmad" (5/422) disebutkan dari Daud bin Abi Shalih ia berkata:

"Suatu hari Marwan mendapati seorang lelaki menempelkan wajahnya pada kuburan. Marwan bertanya pada lelaki itu, "Tahukah apa yang sedang kamu perbuat itu?" lelaki itu menoleh dan ternyata ia adalah Abu Ayyub lalu menjawab, "Ya, aku sedang mendatangi Rasulullah SAW dan bukan sedang mendatangi batu ini. Aku mendengar Rasulullah SAW pernah bersabda: Janganlah kamu tangisi agama ini selama masih ditangani oleh para ahlinya. Tapi tangisilah ia apabila ia ditangani oleh yang bukan ahlinya."

Hadits ini juga diriwayatkan oleh Al-Hakim (4/560) lalu ia berkata, "Hadits ini shahih sanadnya dan belum dimuat oleh Bukhari dan Muslim." Adz-Dzahabi menambahkan dalam Talkhishnya, "Shahih."

Fathimah Mengambil Segenggam Tanah Makam Nabi SAW

Ibnu Asakir dalam "Tuhfah" meriwayatkan bahwa Fathimah pernah mendatangi kuburan Nabi SAW lalu mengambil segenggam tanah kuburan tersebut dan meltakkannya pada kedua matanya sambil menangis.

Kisah ini disebutkan juga oleh Ibnu Qudamah dalam "Al-Mughni" (2/213), As-Samhudi dalam "Wafaul Wafa" (2/444), Al-Qasthallani dalam "Irsyadus Sari" (2/390), Ar-Rahibani dalam "Mathalib Ulin Nuha" (1/926) dan Ali Al-Qari dalam "Mirqatul Mafatih" (11/108).

Bilal Mengusapkan Wajahnya di kuburan Nabi SAW

Dalam "Tarikh Dimasyq" karangan Ibnu Asakir disebutkan bahwa Bilal pernah bermimpi bertemu Nabi SAW. Dalam mimpi tersebut Nabi SAW bersabda, "Kekeringan apa yang telah melandamu ini wahai Bilal? Bilakah datang waktumu untuk mengunjungiku?" lalu Bilal tersadar dalam keadaan sedih. Setelah itu ia menaiki kendaraannya menuju Madinah, mendatangi kuburan Nabi SAW lalu menangis di situ sambil mengusapkan wajahnya pada kuburan Nabi SAW.

Lalu datanglah Al-Hasan dan Al-Husain kemudian mereka berdua memeluknya dan menciumnya lalu berkata, "Wahai Bilal, kami rindu mendengarkan adzanmu." Bilal pun memenuhi permintaan mereka berdua, ia lalu mengumandangkan adzan dari atas atap. Ketika terdengar lantunan suaranya mengucapkan "Allahu Akbar Allahu Akbar" kota Madinah bergetar, ketika ia mengumandangan syahadat bertambah lagi goncangannya, hingga ketika ia meneriakkan "Asyhadu anna Muhammadar Rasulullah" para penduduk Madinah keluar dari rumah-rumah mereka sambil berkata, "Apakah Rasulullah hidup kembali?" Sungguh tiada hari yang paling banyak tangisan laki-laki dan perempuan di Madinah semenjak wafatnya Rasulullah SAW melebihi hari itu."

As-Subki berkata dalam "Syifaus Siqam" hal. 39, "Kami telah meriwayatkan kisah itu dengan sanad yang bagus dan tidak perlu lagi meneliti dua sanad yang telah disebutkan oleh Ibnu Asakir itu meskipun para perawinya sudah sangat populer dan terkenal."

Kisah ini juga disebutkan oleh Ibnul Atsir dalam "Usdul Ghabah" (1/208) As-Samhudi dalam "Wafaul Wafa" (2/408) lalu ia berkata, "Sanadnya bagus." Asy-Syaukani berkata dalam "Nailul Authar" (3/105), "Telah diriwayatkan perkara ziarah ke makam Nabi SAW ini dari sejumlah sahabat di antaranya adalah Bilal sebagaimana dalam riwayat Ibnu Asakir, dengan sanad yang bagus."

Dalam kitab "Al-'Ilal wa Ma'rifatur Rijaal" (2/492), disebutkan bahwa Abdullah pernah bertanya kepada ayahnya, yaitu Imam Ahmad bin Hanbal, tentang seseorang yang mengusap mimbar Nabi SAW dan mengalap berkah dengan usapan tersebut serta menciumnya, begitu juga dengan kuburan dengan niat bertaqarrub (mendekatkan diri) kepada Allah SWT? Imam Ahmad menjawab: "Tidak apa-apa." Dalam kitab "Wafaul Wafa" (4/1414) juga disebutkan seperti itu.

Imam Dzahabi berkata dalam "Mu'jam Syuyukh"nya halaman 55: "Diriwayatkan bahwa Ibnu Umar tidak suka mengusap kuburan Nabi SAW. Saya (Dzahabi) berkata: ia tidak suka dengan hal itu karena menganggapnya sebagai tindakan yang kurang sopan. Imam Ahmad pernah ditanya tentang mengusap dan mencium kuburan Nabi SAW dan beliau tidak mempermasalahkannya. Kabar ini diriwayatkan oleh anaknya sendiri yaitu Abdullah bin Ahmad. Kalau ada yang bertanya: mengapa hal itu tidak dilakukan oleh para sahabat? Maka jawabannya adalah: sebab mereka dahulu sudah sering bertemu langsung dengan beliau sehingga sudah cukup puas dengan hal itu, mereka mencium tangan beliau bahkan hampir saja mereka berkelahi karena berebut air bekas wudhu Nabi SAW. Mereka pun membagi-bagi rambut beliau yang suci di waktu Haji Akbar. Apabila beliau meludah, hampir saja air ludah beliau tidak sampai di tanah karena telah ditadahi oleh tangan sahabatnya lalu air ludah itu diusap-usapkan di wajahnya. Adapun kita yang tidak mendapatkan jatah yang sedemikian besar itu, kita hanya bisa berebut menggapai kuburannya dengan cara beriltizam (menempelkan), tabjil (mengagungkan), istilam (mengusap) dan taqbil (menciumnya). Tidakkah anda lihat bagaimana yang dahulu dilakukan oleh Tsabit Al-Bunani? Beliau mencium tangan Anas bin Malik dan meletakkannya di wajahnya sambil berkata: Ini adalah tangan yang pernah menyentuh tangan Rasulullah SAW."

As-Sindi dalam Syarh Sunan Nasai (1/222) berkata setelah menyebutkan hadits tentang shalat Nabi SAW di Thur Sina: "Ini merupakan dalil yang kuat dalam masalah mencari jejak orang-orang shalih, bertabarruk dengannya dan beribadah di situ."

An-Nasai meriwayatkan (5/248) dari Abdullah bin Umar bahwa Rasulullah SAW pernah menunjuk sebuah tempat yang di situ ada sebatang pohon besar lalu beliau bersabda, "Di bawah pohon besar itu telah dilahirkan 70 nabi." Hadits ini juga diriwayatkan oleh Ahmad (2/238), Malik (1/423) dan dishahihkan oleh Ibnu Hibban (14/137).

Ibnu Abdil Barr dalam kitabnya "At-Tamhid" (13/64-66) begitu juga dalam "Al-Istidzkar" (4/406) berkata: "Hadits ini menjadi dalil tentang tabarruk dengan jejak para nabi dan orang-orang shalih."

Al-Hafizh Ibnu Hajar dalam "Fathul Baari" (1/571) berkata: "Dalam riwayat Tirmidzi dari Amr bin Auf bahwa Nabi SAW pernah shalat di lembah Ar-Rauha lalu beliau bersabda: Di tempat ini dahulu shalat 70 nabi."

Ibnu Hajar kemudian berkomentar, "Dapat dipahami dari perbuatan Ibnu Umar ini (dalil) dianjurkannya mencari jejak Nabi SAW dan bertabarruk dengannya."

Dalam Shahih Muslim disebutkan bahwa Asma' mengambil jubbah yang dahulu dipakai oleh Rasulullah SAW kemudian mencucinya dan berkata, "Kami mencucinya untuk orang-orang sakit supaya diberi kesembuhan dengan jubbah itu."

http://www.facebook.com/groups/forum.diskusi.hadits/permalink/508920099126822

0 Imam Al-Qusyairi: Sosok Ulama yang Teduh


Sejak dahulu saya kagum dengan Imam Al-Qusyairi (w.465H), terutama semenjak mengkaji kitab beliau berjudul Ar-Risalah di masjid Syekh Mulla Ramadhan Al-Buthi di wilayah Ruknuddin kota Damaskus, Suriah.

Berbicara tentang beliau tentu tak lepas dari penilaian para sejarawan muslim tentangnya. Imam Adz-Dzahabi dalam kitabnya yang sangat fenomenal, Siyar A'lam An-Nubala, beliau menulis:

الإِمَامُ، الزَّاهِدُ، القُدْوَةُ، الأُسْتَاذُ، أَبُو القَاسِمِ عَبْدُ الكَرِيْمِ بنُ هَوَازِن بنِ عَبْدِ المَلِكِ بنِ طَلْحَةَ القُشَيْرِيُّ، الخُرَاسَانِيُّ، النَّيْسَابُوْرِيُّ، الشَّافِعِيُّ، الصُّوْفِيُّ، المُفَسِّرُ، صَاحِبُ الرِّسَالَة

"Seorang imam yang zahid, qudwah (panutan), ustadz Abul Qasim Abdul Karim bin Hawazin bin Abdul Malik bin Thalhah Al-Qusyairi Al-Khurasani An-Naisaburi, Asy-Syafi'i, Ash-Shufi, Al-Mufassir, penulis kitab Ar-Risalah."

Mengenai keilmuan beliau, Adz-Dzahabi menulis:

وَتَفَقَّهَ عَلَى:أَبِي بَكْرٍ مُحَمَّدِ بن أَبِي بَكْرٍ الطُّوْسِيّ، وَالأُسْتَاذِ أَبِي إِسْحَاقَ الإِسفرَايينِي، وَابْن فُورك.
وَتَقدم فِي الأُصُوْل وَالفروع

"Beliau mendalami ilmu fiqh (din) kepada Abu Bakr Muhammad bin Abu Bakr Ath-Thusi, Ustadz Abu Ishaq Al-Isfirayini dan Ibnu Furak. Beliau unggul dalam bidang ushul (ilmu-ilmu pokok) dan furu' (ilmu-ilmu cabang)."

Ibnu Khallikan juga berkata:

"Dahulu Abul Qasim adalah seorang yang sangat berilmu dalam bidang fiqih, tafsir, hadits, ushul, adab (sastra), syair dan karya tulis. Beliau menulis kitab At-Tafsir Al-Kabir, salah satu kitab tafsir terbaik. Beliau juga menulis kitab Ar-Risalah yang berisi tentang tokoh-tokoh Tarekat. Beliau pernah pergi haji bersama Imam Abu Muhammad Al-Juwaini dan Imam Abu Bakr Al-Baihaqi."

Imam Adz-Dzahabi menceritakan bahwa dahulu Imam Al-Qusyairi bergabung dengan halaqoh Ath-Thusi lalu berpindah ke majelis Ibnu Furak sehingga dari situ beliau mahir dalam ilmu kalam. Beliau juga mulazamah dengan Ustadz Abu Ishaq mengkaji kitab-kitab karangan Ibnul Baqillani sehingga akhirnya beliau menjadi Syaikh rujukan di Khurasan dalam masalah Tasawuf dan melahirkan banyak murid.

Imam Al-Qusyairi dikenal sebagai sosok murabbi dan pembimbing tarekat yang luar biasa. Imam Adz-Dzahabi memuji kehebatan beliau dalam masalah nasehat:

وَكَانَ عَديم النّظير فِي السّلوك وَالتَّذكير، لطيفَ العبَارَة، طَيِّبَ الأَخلاَقِ، غوَّاصاً عَلَى المَعَانِي

"Beliau tiada tandingannya dalam masalah suluk (akhlak) dan tadzkir (nasehat). Beliau adalah sosok yang lembut kata-katanya, luhur budi pekertinya, serta pakar dalam menyelami makna-makna."

Abu Sa'd As-Sam'ani juga memuji Imam Al-Qusyairi, beliau mengatakan:

"Ustadz Abul Qasim belum pernah tertandingi dalam hal kesempurnaan dan kehebatannya. Beliau mampu menggabungkan antara Syariat dan Hakikat."

Syariat adalah ilmu zhohir (tampak) sedangkan Hakikat adalah ilmu bathin (tak tampak).

Imam Abu Bakr Al-Khathib berkata:

"Kami dahulu menulis dari beliau. Beliau adalah seorang yang tsiqoh (terpercaya), indah nasehatnya, manis isyaratnya. Beliau dalam masalah ushul (akidah) mengikuti madzhab Al-Asy'ari, sedangkan dalam masalah furu' (fiqih) mengikuti madzhab Asy-Syafi'i."

Bahkan Abu Bakr Al-Bakharzi mengatakan, "Beliau (Imam Al-Qusyairi) mahir dalam ilmu kalam sesuai madzhab Abul Hasan Al-Asy'ari. Dalam masalah wawasan keilmuan, beliau keluar dari batasan manusia. Kalimat-kalimatnya bari para penuntut ilmu merupakan faedah. Mimbar beliau bagi para peniti jalan akhirat ibarat bantal."

Kesholehan Imam Al-Qusyairi bukan hanya dirasakan oleh manusia saja. Bahkan hewan pun merasakan efek kesholehan tersebut. Al-Muayyad dalam kitab Tarikhnya menulis:

"Syaikh Abul Qasim pernah diberi hadiah seekor kuda. Beliau mengendarai kuda tersebut sekitar dua puluh tahun lamanya. Ketika beliau wafat, kuda itu tidak mau makan. Seminggu berikutnya kuda itu pun mati."

Subhanallah. Hewan pun merasa sedih dengan kepergian orang sholeh seperti beliau.

Demikian sekelumit yang dapat saya bagikan untuk seluruh member forum ini. Semoga kita dapat mengambil manfaat darinya. Amin.

Sumber: Siyar A'lam An-Nubala karya Imam Adz-Dzahabi 35/206-211

0 Membaca Al-Quran di Kuburan


Suatu hari, Imam Ahmad bin Hambal bersama Muhammad Ibnu Qudamah al-Jauhari menghadiri pemakaman janazah. Setelah mayit dimakamkan, ada seorang laki-laki buta membaca al-Quran di dekat kubur tersebut. Imam Ahmad lalu berkata kepadanya: "Wahai saudara! Membaca di dekat kubur adalah bid'ah."

Setelah keluar dari kuburan, Muhammad Ibnu Qudamah bertanya kepada Imam Ahmad bin Hambal: "Wahai Abu Abdillah. Apa penilaianmu terhadap Mubasysyir al-Halabi?" Imam Ahmad menjawab: "Ia orang terpercaya." Ibnu Qudamah bertanya lagi: "Apakah engkau pernah menulis (meriwayatkan hadis) darinya?" Imam Ahmad menjawab: "Ya."

Muhammad Ibnu Qudamah berkata, "Saya telah mendapatkan riwayat dari Mubasysyir bin Abdirrahman bin Alaa Al-Lajjaaj bahwa ayahnya berpesan agar setelah dimakamkan dibacakan di dekat kepalanya dengan pembukaan surat al-Baqarah dan penutupannya. Ayahnya berkata bahwa ia mendengar Ibnu Umar berwasiat seperti itu juga."

Kemudian Imam Ahmad berkata kepada Ibnu Qudamah: "Kembalilah, dan katakan pada lelaki tadi agar ia membacanya!"

Kisah di atas disebutkan oleh Ibnu Qoyyim Al-Jauziyah dalam kitabnya berjudul "Ar-Ruh" (I/10). Beliau menukil kisah tersebut dari Al-Khallal dari Al-Hasan bin Ahmad Al-Warraq dari Ali bin Musa Al-Haddad.

Alauddin Ad-Dimasyqi dalam kitabnya berjudul "Al-Inshaaf" berkata:

قوله: "ولا تكره القراءة على القبر في أصح الروايتين". وهذا المذهب قاله في الفروع وغيره ونص عليه. قال الشارح هذا المشهور عن أحمد. قال الخلال وصاحب المذهب رواية واحدة لا تكره وعليه أكثر الأصحاب منهم القاضي وجزم به في الوجيز وغيره وقدمه في الفروع والمغني والشرح وبن تميم والفائق وغيرهم. والرواية الثانية: تكره اختارها عبد الوهاب الوراق والشيخ تقي الدين قاله في الفروع واختارها أيضا أبو حفص. قال الشيخ تقي الدين نقلها جماعة وهي قول جمهور السلف وعليها قدماء أصحابه وسمى المروذي انتهى. قلت قال كثير من الأصحاب رجع الإمام أحمد عن هذه الرواية فقد روى جماعة عن الإمام أحمد أنه مر بضرير يقرأ عند قبر فنهاه وقال القراءة عند القبر بدعة فقال محمد ابن قدامة الجوهري يا أبا عبد الله ما تقول في حبش الحلبي فقال ثقة فقال حدثني مبشر عن أبيه أنه أوصى إذا دفن أن يقرأ عنده بفاتحة البقرة وخاتمتها وقال سمعت ابن عمر يوصي بذلك فقال الإمام أحمد ارجع فقل للرجل يقرأ فهذا يدل على رجوعه.

"Tidak makruh membaca Al-Quran di atas kuburan menurut riwayat yang paling shahih. Ini adalah ketetapan madzhab (hambali)... Pensyarah menyatakan bahwa inilah yang masyhur dari Imam Ahmad..."

Penulis kitab Kasyaaful Qinna' berkata:

( وَلا تُكْرَهُ الْقِرَاءَةُ عَلَى الْقَبْرِ وَ ) لا ( فِي الْمَقْبَرَةِ بَلْ تُسْتَحَبُّ ) لِمَا رَوَى أَنَسٌ مَرْفُوعًا قَالَ { : مَنْ دَخَلَ الْمَقَابِرَ فَقَرَأَ فِيهَا يس خُفِّفَ عَنْهُمْ يَوْمَئِذٍ وَكَانَ لَهُ بِعَدَدِهِمْ حَسَنَاتٌ } وَصَحَّ عَنْ ابْنِ عَمْرٍو أَنَّهُ أَوْصَى إذَا دُفِنَ أَنْ يُقْرَأَ عِنْدَهُ بِفَاتِحَةِ الْبَقَرَةِ وَخَاتِمَتِهَا وَلِهَذَا رَجَعَ أَحْمَدُ عَنْ الْكَرَاهَةِ قَالَهُ أَبُو بَكْر لَكِنْ قَالَ السَّامِرِيُّ : يُسْتَحَبُّ أَنْ يَقْرَأَ عِنْدَ رَأْسِ الْقَبْرِ بِفَاتِحَةُ الْبَقَرَةِ وَعِنْدَ رِجْلَيْهِ بِخَاتِمَتِهَا . ( وَكُلُّ قُرْبَةٍ فَعَلَهَا الْمُسْلِمُ وَجُعِلَ ثَوَابُهَا أَوْ بَعْضُهَا كَالنِّصْفِ وَنَحْوِهِ ) كَالثُّلُثِ أَوْ الرُّبُعِ ( لِمُسْلِمٍ حَيٍّ أَوْ مَيِّتٍ جَازَ ) ذَلِكَ ( وَنَفْعُهُ , ذَلِكَ لِحُصُولِ الثَّوَابِ لَهُ , حَتَّى لِرَسُولِ اللَّهِ صلى الله عليه وسلم ) ذَكَرَهُ الْمَجْدُ ( مِنْ ) بَيَانٌ لِكُلِّ قُرْبَةٍ ( تَطَوَّعْ وَوَاجِبٌ تَدْخُلُهُ النِّيَابَةُ كَحَجٍّ وَنَحْوِهِ ) كَصَوْمِ نَذْرٍ ( أَوْ لا ) تَدْخُلُهُ النِّيَابَةُ ( كَصَلاةٍ وَكَدُعَاءٍ وَاسْتِغْفَارٍ , وَصَدَقَةٍ ) وَعِتْقٍ ( وَأُضْحِيَّةٍ وَأَدَاءِ دَيْنٍ وَصَوْمٍ وَكَذَا قِرَاءَةٌ وَغَيْرُهَا ) . قَالَ أَحْمَدُ : الْمَيِّتُ يَصِلُ إلَيْهِ كُلُّ شَيْءٍ مِنْ الْخَيْرِ , لِلنُّصُوصِ الْوَارِدَةِ فِيهِ وَلأَنَّ الْمُسْلِمِينَ يَجْتَمِعُونَ فِي كُلِّ مِصْرٍ وَيَقْرَءُونَ وَيَهْدُونَ لِمَوْتَاهُمْ مِنْ غَيْرِ نَكِيرٍ فَكَانَ إجْمَاعًا وَقَالَ الأَكْثَرُ : لا يَصِلُ إلَى الْمَيِّتِ ثَوَابُ الْقِرَاءَةِ وَأَنَّ ذَلِكَ لِفَاعِلِهِ 

"Tidak makruh membaca Al-Quran di atas kuburan atau di dalam kompleks pemakaman, bahkan dianjurkan..."

Imam Dzahabi bercerita tentang Imam Abu Ja’far al-Hasyimi, guru besar madzhab Hanbali:

فَلَمَّا ثَقُلَ وَضَجَّ النَّاسُ مِنْ حَبْسِهِ، أُخرج إِلَى الحرِيْم، فَمَاتَ هُنَاكَ، وَكَانَتْ جِنَازَتُهُ مَشْهُوْدَةً، وَدُفِنَ إِلَى جَانب قَبْر الإِمَام أَحْمَد، وَلَزِمَ النَّاسُ قَبْره مُدَّةً حَتَّى قِيْلَ:خُتِمَ عَلَى قَبْرِهِ عَشْرَة آلاَفِ خَتمَة.

"Beliau dimakamkan di dekat kuburan Imam Ahmad. Orang-orang banyak mengunjungi kuburannya beberapa waktu lamanya, sampai-sampai ada yang mengatakan: telah dikhatamkan al-Qur’an di makamnya sampai 10.000 kali.” (Siyar A'laam An-Nublaa 36/26)

Imam Qurthubi berkata:

قال محمد بن أحمد المروروذي سمعت أحمد بن حنبل رضي الله عنه يقول : إذا دخلتم المقابر فاقرؤوا بفاتحة الكتاب و المعوذتين و قل هو الله أحد و اجعلوا ذلك لأهل المقابر فإنه يصل إليهم

Imam Ahmad berkata: "Apabila kalian memasuki pemakaman, bacalah Fatihah Al-Kitab dan Mu'awwidzatain serta Qul Huwallahu Ahad. Hadiahkanlah semua itu untuk penghuni kuburan, karena akan sampai kepada mereka." (At-Tadzkiroh karangan Imam Qurthubi 1/84)


 Imam Nawawi berkata dalam Al-Majmuu' Syarh Al-Muhadzab:

ويستحب للزائر أن يسلم على المقابر ، ويدعو لمن يزوره ، ولجميع أهل المقبرة ، والأفضل أن يكون السلام والدعاء بما ثبت في الحديث ، ويستحب أن يقرأ من القرآن ما تيسر ، ويدعو لهم عقبها ، نص عليه الشافعي ، واتفق عليه الأصحاب

"Dianjurkan bagi peziarah (kubur) untuk mengucapkan salam pada kuburan, mendoakan mayit yang dikunjunginya dan seluruh penghuni kuburan. Yang paling baik adalah mengucapkan salam dan doa yang ada dalam hadits. Dianjurkan pula membaca ayat-ayat Al-Quran yang mudah dibaca dan mendoakan mereka setelahnya. Hal ini sebagaimana ditulis oleh Imam Syafi'i dan disepakati oleh para sahabat beliau."

http://www.facebook.com/groups/forum.diskusi.hadits/permalink/564185606933604

0 Pelajaran dari Imam Bukhari


Ketika Imam Bukhari datang ke Naisabur, salah seorang tokoh Naisabur bernama Muhammad bin Yahya berkata, "Pergilah menuju lelaki sholeh ini (maksudnya adalah Imam Bukhari, pen.) dan dengarkanlah darinya."

Lalu orang-orang berbondong-bondong mendatangi Imam Bukhari dan mendengarkan pengajian beliau. Hingga akhirnya terjadilah penurunan jumlah jamaah pengajian Muhammad bin Yahya karena banyak yang berpindah ke pengajian Imam Bukhari. Muhammad bin Yahya mulai merasa hasad (dengki) terhadap Imam Bukhari dan mulai menggunjingnya.

Setelah itu tersebarlah isu bahwa Imam Bukhari telah mengatakan bahwa melafalkan Al-Quran itu adalah makhluk. Sebuah isu besar bagi penduduk kota itu.

Orang-orang mulai merasa resah dengan adanya isu itu. Hingga akhirnya ada salah sorang jamaah pengajian Imam Bukhari yang memberanikan diri menguji beliau, "Wahai Imam, bagaimana pendapat anda tentang melafalkan Al-Quran, apakah ia termasuk makhluk atau tidak?"

Imam Bukhari berpaling dari penanya itu dan tidak menjawabnya. Namun orang itu terus mendesak, beliau pun berpaling dan tidak menjawab. Sampai tiga kali, akhirnya beliau menghadap orang itu lalu berkata, "Al-Quran adalah kalam (firman) Allah bukan makhluk. Sedangkan perbuatan kita adalah makhluk. Dan menguji semacam ini adalah bid'ah."

Si penanya itu mulai berbuat gaduh dan diikuti oleh jamaah lain hingga akhirnya mereka membubarkan diri dari pengajian sedangkan Imam Bukhari masih duduk.

***

Kisah di atas memberikan kita banyak pelajaran, di antaranya:

- Jika suatu saat anda menjadi orang besar, maka ketahuilah bahwa akan selalu ada orang yang dengki kepada anda. Biasanya mereka adalah orang yang merasa tersaingi dengan adanya anda di komunitas itu. Apalagi jika anda adalah pendatang baru. Orang yang lebih lama tinggal di komunitas itu akan rentan terkena hasad, apalagi jika anda lebih muda dan lebih pandai dari mereka. Maka, hendaknya anda selalu memohon perlindungan kepada Allah dari kedengkian orang-orang yang dengki. (QS. Al-Falaq: 5)

- Jika anda dipancing untuk berbicara tentang suatu masalah yang sudah menjadi polemik di suatu komunitas tertentu, jangan langsung berbicara. Namun pertimbangkanlah, mana yang lebih baik, berbicara atau diam. Sekiranya diam lebih baik maka jangan berbicara. Namun jika mereka memaksa anda untuk berbicara, maka sampaikanlah kebenaran apa adanya dengan bahasa yang paling baik.

- Jika anda diancam oleh seseorang, maka tenanglah dan jangan langsung bereaksi. Ketika Imam Bukhari diintimidasi oleh sebagian orang agar meralat ucapannya, dengan tegas beliau mengatakan, "Saya tidak akan melakukannya kecuali jika kalian mampu mendatangkan hujjah yang lebih kuat dari hujjah saya tentang apa yang kalian ucapkan itu."

- Sadarlah bahwa tidak semua yang hadir dalam majelis anda menginginkan kebaikan. Adakalanya sebagian di antara mereka mengawasi anda untuk mencari-cari kesalahan anda. Biasanya mereka adalah orang-orang yang terpengaruh dengan para pendengki. Maka hendaknya anda bersikap bijak. Biarkan saja mereka hadir sambil berdoa semoga mereka mendapatkan petunjuk dengan hadir di majelis anda. Jadikan kehadiran mereka sebagai pengawas pribadi anda. Semestinya anda sadar bahwa ada pengawas yang lebih besar dari mereka yaitu para malaikat utusan Allah yang selalu mencatat seluruh ucapan dan tindak-tanduk anda sehingga anda dapat lebih berhati-hati dalam berbicara.

- Jika para jamaah mulai terbawa arus yang menentang anda, maka jelaskanlah bahwa anda semata-mata hanya ingin menyampaikan kebenaran. Ketika Imam Bukhari mulai diboikot oleh para pendengki, sebagian pengikut setia beliau mengatakan, "Wahai Imam, sebenarnya kami tidak menyelisihi anda. Namun orang-orang awam itu tidak mampu mencerna semua ini dari anda." Imam Bukhari menjawab, "Sungguh saya takut api neraka apabila saya ditanya tentang suatu masalah yang saya yakini lalu saya menjawab dengan selain yang saya yakini."

Semoga Allah merahmati Imam Bukhari. Sungguh cobaan yang menimpa beliau sangat berat. Sehingga Abu Zur'ah dan Abu Hatim, dua imam ahli hadis terkemuka saat itu ikut memboikot beliau. Imam Dzahabi berkomentar, "Baik mereka berdua memboikot atau tidak memboikot, Imam Bukhari tetaplah orang terpercaya yang amanah serta menjadi hujjah bagi alam ini."

Sedangkan Imam Muslim dan Ahmad bin Salamah, keduanya termasuk pembela setia Imam Bukhari.

Wallahu a'lam bish showab.

Sumber: Siyar A'laam An-Nubalaa karangan Imam Dzahabi 23/447 dst.

0 Mengenal Takdir dan Kasb


Kitab wajib beriman kepada takdir. Dalilnya adalah hadits shahih yang diriwayatkan oleh Imam Muslim, "Iman itu engkau percaya kepada Allah, malaikat-Nya, kitab-kitab-Nya, rasul-rasul-Nya, hari akhir serta qadar baik dan buruk."

Beriman kepada takdir (qadar) maksudnya adalah kita harus percaya bahwa Allah SWT sejak awal telah mengetahui seluruh perbuatan hamba-Nya dan setiap apapun yang berkaitan dengan makhluk-Nya yang akan terjadi di masa mendatang dan Allah akan menciptakan semua itu dengan ukuran yang telah Dia ketahui sejak awal.

Keyakinan bahwa Allah adalah satu-satunya Yang Maha Hebat mengharuskan keimanan bahwa Allah pasti tahu segala hal yang berkaitan dengan perbuatan seluruh hamba-Nya di masa mendatang serta apa saja yang akan terjadi di Kerajaan-Nya. Sebab jika tidak demikian, maka kehebatan Allah tidaklah dikatakan sempurna.

PERBUATAN MANUSIA DICIPTAKAN ALLAH

Berikutnya kita wajib yakin bahwa perbuatan seluruh makhluk merupakan ciptaan Allah. Dalilnya adalah firman Allah SWT:

وَاللَّهُ خَلَقَكُمْ وَمَا تَعْمَلُونَ

"Dan Allah telah menciptakan kalian dan apa yang kalian perbuat." (QS. Ash-Shaaffaat: 96)

Namun demikian, di antara perbuatan tersebut ada yang bisa diusahakan (kasb) dan ada pula yang tidak bisa diusahakan (jabr). Contoh yang bisa diusahakan adalah makan, minum, belajar dan lain sebagainya. Sedangkan yang tidak bisa diusahakan misalnya gerakan planet, pergantian musim, pertumbuhan tanaman dan lain sebagainya.

Dari sini, tampak bahwa keimanan terhadap takdir tidak selalu identik dengan pemahaman Jabr seperti dikira sebagian orang. Sebab tidak semua perbuatan itu berupa paksaan melainkan ada pula yang diusahakan.

Namun perbuatan yang anda usahakan tidak akan terwujud tanpa dua hal: pertama keinginan atau usaha (kasb) anda untuk melakukannya, kedua terciptanya perbuatan itu sendiri di alam nyata. Jadi, perbuatan anda itu sifatnya hanyalah sebuah usaha. Adapun yang menciptakan perbuatan itu adalah Allah.

Contoh: anda memiliki tangan normal yang bisa menulis, di hadapan anda ada sebatang pulpen dan secarik kertas. Anda tidak dapat melakukan perbuatan menulis jika tidak ada usaha anda untuk melakukannya. Ada usaha saja juga belum cukup tanpa penciptaan dari Allah SWT. Seandainya Allah berkehendak untuk tidak menciptakan perbuatan menulis, niscaya mustahil anda bisa menulis. Jadi, usaha saja tidak cukup melainkan harus ada penciptaan.

Inilah sekilas ilmu tentang takdir dan kasb. Semoga bermanfaat.

http://www.facebook.com/groups/forum.diskusi.hadits/permalink/566416043377227

0 Shahih Bukhari dan Shahih Muslim Jadi Dhaif?


Saling kritik dan koreksi merupakan dua hal yang wajar dalam dunia keilmuan. Kita sebagai muslim pun diperintahkan untuk senantiasa kritis dalam menyikapi sesuatu, tidak langsung menelan mentah-mentah berita yang sampai kepada kita, melainkan mengecek terlebih dahulu kebenaran berita itu. Hal itu bermula ketika Al-Quran memerintahkan kita untuk mengklarifikasi (tabayyun) setiap berita yang disampaikan oleh seorang fasik (QS.49:6). Dari situlah akhirnya muncul ilmu jarh wa ta’dil yang merupakan pondasi utama syariat Islam sekaligus benteng penjaga orisinilitas ajaran ini dari tangan-tangan yang tidak bertanggung jawab.

Namun sayangnya, kadang-kadang budaya saling mengkritik itu kerap kelewatan dan melampaui batas. Bukan semata-mata kritikannya yang dipermasalahkan, melainkan konsep dan metode dalam mengkritik itu yang seringkali sangat dangkal dan tidak objektif sehingga alih-alih memberikan hasil positif yang menggembirakan, justru melahirkan keganjilan-keganjilan yang belum pernah ditemui dalam sejarah, terutama dalam masalah hadis.

Di antara fenomena menyedihkan itu adalah banyaknya peneliti hadis kontemporer yang hanya mengandalkan buku-buku Mustholah Hadis yang baru muncul di zaman belakangan dalam menilai hadis-hadis Nabi SAW tanpa memperhatikan aspek-aspek lain yang jauh lebih penting, yaitu meneliti kembali konsep dan metode yang digunakan oleh para ahli hadis mutaqaddimin yang kadangkala –atau bahkan sering- tidak sejalan dengan konsep mutaakhirin. Fenomena ini telah mendorong beberapa peneliti hadis lain untuk mengusulkan perumusan ulang metode ulama ahli hadis klasik dalam kritik hadis yang saat ini mulai terdistorsi akibat dominasi buku-buku Mustholah Hadis yang merujuk kepada ulama-ulama mutaakhirin dan kontemporer. 

Salah buku yang mengupas masalah ini adalah buku karangan Dr. Hamzah Al Malyabari berjudul “Nazhorotun Jadidatun fi Ulumil Hadits” (Perspektif Baru Tentang Ilmu Hadis), “Al Muwazanah Bainal Mutaqaddimin wal Mutaakhirin fi Tashihil Ahadits wa Ta’liliha” (Membandingkan Metode Mutaqaddimin dan Mutaakhirin Dalam Pengesahan dan Pelemahan Hadis), “Al Hadits Al Ma’lul Qawa’id wa Dhawabithuha” (Hadis Cacat: Konsep dan Pengertiannya), dan lain-lain. 

Dalam salah satu tulisannya, Dr. Hamzah berkata, "Tidak diragukan lagi bahwa ilmu hadis akan menjadi bertambah rumit ketika istilah-istilah dan definisi-definisi di dalamnya dijadikan fokus pembahasan dan perhatian dalam pemaparan dan analisa oleh kebanyakan penulis, tanpa menyentuh persoalan-persoalan substansial di dalamnya serta makna-maknanya yang saling berhubungan dan terkait satu sama lain sehingga membuat sesuatu yang bersatu menjadi terpisah, yang terpisah menjadi bersatu, yang mutlak dibatasi dan yang terbatas dimutlakkan." (Al Hadits Al Ma’lul hal. 2) 

Shahih Bukhari dan Shahih Muslim 

Kita tentu mengenal dua kitab ini. Para ulama mengatakan bahwa keduanya adalah kitab paling shahih setelah Al Quran[1]. Hal itu disebabkan kedua penulis kitab itu hanya memasukkan di dalamnya hadis-hadis shahih saja, setidaknya menurut penilaian mereka berdua. Di samping itu, mereka berdualah orang pertama yang berhasil melakukan tugas mulia itu sehingga keutamaan itu patut mereka peroleh. Imam Bukhari berkata, “Aku tidak memasukkan dalam kitabku Ash Shahih ini kecuali yang shahih dan aku meninggalkan hadis-hadis shahih lainnya karena khawatir kepanjangan.”[2] Imam Muslim juga mengatakan, “Tidak semua hadis yang shahih –menurutku- aku masukkan di sini (yaitu kitabnya Ash Shahih). Aku hanya memasukkan di sini hadis-hadis yang disepakati keshahihannya saja.”[3] 

Namun pengakuan kedua maestro di bidang hadis itu tidak lantas membuat para ahli hadis, baik yang sezaman maupun setelahnya, berhenti memeriksa keshahihan setiap hadis yang ada di dalamnya. Hal itu terbukti dengan munculnya beberapa kritikan yang dilontarkan oleh beberapa pakar hadis yang juga tidak diragukan keilmuannya, yaitu Imam Ad Daraquthni dalam kitabnya Al Ilzamat wat Tatabbu’ dan lain-lain. Hal itu berlanjut dengan munculnya kitab-kitab lain yang berisi jawaban terhadap kritikan-kritikan itu. Begitulah seterusnya, budaya mengkritik dan dikritik menjadi ciri khas dunia keilmuan.

Namun yang patut menjadi catatan adalah metode yang digunakan dalam mengkritik. Siapapun diperbolehkan mengkritisi pendapat orang lain selama menguasai bidang keilmuan terkait dan menggunakan metode yang benar sehingga tidak melahirkan kekeliruan baru.

Di antara bentuk kekeliruan itu adalah melemahkan suatu hadis hanya karena melihat adanya cacat pada sanadnya, ditambah lagi kurangnya penelitian yang menyeluruh terhadap kitab-kitab hadis yang ada, sehingga yang lahir kemudian adalah kesimpulan tergesa-gesa dan prematur.

Misalnya, ada hadis yang berbunyi, “Jika salah seorang di antara kalian mengantuk di masjid pada hari Jumat, maka hendaklah ia berpindah ke tempat lain.”

Para ulama terdahulu telah menshahihkan hadis itu. Imam Tirmidzi berkata: "Hadis hasan shahih." Hakim berkata: "Shahih sesuai standar Imam Muslim." Disepakati oleh Dzahabi. Namun sebagian peneliti hadis kontemporer yang kurang cermat dalam penelitian justru melemahkannya. Ia mengatakan, “Ibnu Ishaq adalah seorang mudallis dan telah meriwayatkan dengan lafal 'an (dari) di semua jalur darinya.”

Secara sepintas memang tampak ada cacat dalam sanad hadis itu, yaitu an-anah Ibnu Ishaq. Dalam ilmu Mustholah Hadis, jika seorang mudallis meriwayatkan dengan lafal ‘an (dari) maka ketersambungan sanadnya diragukan. Menurut sang peneliti tersebut, hadis di atas diriwayatkan oleh Ibnu Ishaq, seorang mudallis, dengan lafal ‘an di semua jalurnya sehingga diduga ada kemungkinan terputus (inqitha’) sebagaimana dikaidahkan dalam ilmu Mustholah Hadits.

Padahal, jika ia mau meneliti lebih jauh lagi, ia akan menemukan pernyataan Ibnu Ishaq tentang “tahdits” itu secara terus terang di Musnad Imam Ahmad no. 6187. Inilah alasan para imam besar itu menshahihkan hadis tersebut, dan ini pulalah salah satu contoh kecerobohan peneliti kontemporer dalam menilai hadis. Bayangkan jika hal semacam ini terjadi secara berulang-ulang. Anda dapat membayangkan dampaknya terhadap syariat Islam. 

Ada lagi hadis lain yang dikritik karena perawinya lemah, yaitu hadis yang berbunyi, “Sesungguhnya termasuk di antara manusia paling buruk derajatnya di sisi Allah pada hari kiamat yaitu seseorang yang mendatangi istrinya dan istrinya mendatanginya, kemudian ia menyebarkan rahasia istrinya.” (HR. Muslim) 

Kendati hadis tersebut diriwayatkan oleh Imam Muslim, tapi salah seorang peneliti kontemporer berani menyalahkannya hanya karena dalam sanadnya terdapat perawi bernama Umar bin Hamzah Al Umari yang dinilai lemah oleh para ulama jarh wa ta’dil.

Lalu yang menjadi pertanyaan adalah benarkah jika perawi dinilai lemah lantas menjadikan hadis yang dibawanya dilemahkan semuanya tanpa diteliti terlebih dahulu mana yang terbukti benar dan mana yang terbukti salah? Seolah-olah kita dipahamkan bahwa perawi lemah selalu salah dan tidak pernah benar sama sekali. Itu jika kita berasumsi bahwa perawi tersebut benar-benar dhaif. Padahal, dalam kenyataannya tidak semua ulama pakar jarh wa ta’dil menganggapnya dhaif. Ibnu Hibban misalnya, memasukkan Umar bin Hamzah ke dalam jajaran perawi terpercaya (tsiqot) dalam kitabnya Ats Tsiqot. Al Hakim juga meriwayatkan hadis-hadis dari Umar bin Hamzah dalam Mustadraknya lalu berkata, “Hadis-hadisnya lurus.” Ibnu ‘Adi berkata, “Dia (Umar bin Hamzah) termasuk orang yang hadisnya layak ditulis.” Imam Bukhari menjadikan Umar bin Hamzah sebagai rijalnya dalam Mu’allaqat Shahihnya. Imam Muslim bahkan menjadikannya sebagai rijal hadis utama (sebagaimana hadis yang sedang kita bahas). 

Jika para ulama mutaqaddimin yang menjadi panutan ummat telah mengambil sikap seperti itu, maka mengapa orang-orang di zaman ini yang tidak mengerti ilmu hadis ikut-ikutan mendhaifkan hadis Umar bin Hamzah hanya karena ia didhaifkan oleh sebagian ulama? Padahal dalam kajian Mustholah Hadis sendiri disebutkan bahwa jika berkumpul antara jarh dan ta’dil pada diri seorang perawi maka ta’dil lebih didahulukan kecuali jika jarh itu terperinci (disebutkan sebab-sebabnya) maka ia lebih didahulukan, bukan jarh global tanpa sebab. Karena pada asalnya seorang muslim itu ‘adil (jujur), tidak boleh menuduhnya dengan selain itu kecuali disertai bukti-bukti. 

Adakalanya seorang ulama menganggap perawi lemah karena penyebab yang sebenarnya tidak menjadikanya lemah. Misalnya, Syu’bah (ulama yang terkenal keras dalam men-jarh) meninggalkan hadis Minhal bin Amr hanya karena beliau mendengar suara alat musik keluar dari dalam rumahnya. Padahal, belum tentu Minhal mengetahuinya, dan Syu’bah pun belum bertanya terlebih dahulu dari mana asal suara itu.

Hakam bin Utbah juga pernah ditanya mengapa ia tidak meriwayatkan dari Zadzan, beliau menjawab, “Karena dia banyak bicara.” Muslim bin Ibrahim meninggalkan hadis Shalih Al Murri hanya karena Hammad bin Salamah pernah meludah ketika disebutkan nama Shalih. Muslim berkata, “Apa yang hendak kalian perbuat dari Shalih? Orang-orang pernah menyebut namanya di depan Hammad bin Salamah lalu beliau meludah.”

Nah, dari beberapa contoh tadi terdapat kesan bahwa tidak semua jarh diterima begitu saja melainkan jika diterangkan penyebabnya. Adakalanya jarh itu tidak bertumpu pada sesuatu yang bersifat objektif. Memang kehatian-hatian sangat diperlukan, namun sikap berlebihan dan over-protektif juga tidak dibenarkan. Yang benar adalah sikap tengah-tengah. Imam Nasai bahkan meriwayatkan hadis-hadis dari perawi yang tidak disepakati kelemahannya. Artinya, jika ada perawi yang masih dipersilihkan antara diterima atau ditolak, maka Imam Nasai tetap meriwayatkannya. Jika disepakati kelemahannya oleh seluruh ulama, maka beliau meniggalkannya. 

Dalam hal ini, metode mutaqaddimin objektif serta tidak hanya bertumpu pada penilaian terhadap personal secara global semata. Tidak semua perawi lemah lantas hadisnya ditolak. Hal itu disebabkan kelemahan yang terdapat pada perawi bermacam-macam, diantaranya disebabkan oleh kelemahan hafalan atau kurangnya akurasi dalam dokumentasi tanpa menyangkut masalah kejujuran dan kesalehannya, ini adalah kebanyakan yang terjadi pada perawi lemah. Namun ada pula yang disebabkan oleh faktor-faktor agamis, misalnya karena perawi diduga seorang pembohong karena adanya indikasi-indikasi yang menunjukkan arah sana, inilah perawi yang hadisnya harus ditinggalkan. Tentu saja kedua kriteria tersebut tidak dapat disamakan begitu saja.[4] 

Imam Bukhari misalnya, sengaja meriwayatkan dari beberapa gurunya yang dinilai lemah oleh ulama lain. Namun hal itu tidak lantas mencederai hadis-hadis yang diriwayatkannya. Beliau telah menyeleksi riwayat-riwayat yang terbukti shahih di antara riwayat-riwayat yang ternyata diduga keliru. Di samping itu, murid adalah orang yang paling tahu tentang gurunya. Kritikan ulama lain terhadap personal perawi tertentu tidak lantas menjadikan apa yang diriwayatkannya ditolak. Semuanya harus ditimbang secara adil. 

Begitu juga Imam Muslim, meskipun standar beliau lebih rendah dibandingkan standar Imam Bukhari dalam menilai hadis, namun beliau termasuk salah seorang pakar hadis yang paling ketat dalam menyeleksi hadis. Namun demikian kita tetap menjumpai beberapa perawi lemah yang masih disebutkan dalam kitabnya. Sulit diterima jika dikatakan bahwa Imam Muslim teledor dalam meriwayatkan hadis itu. Ketelitian dan kekuatan hafalan beliau telah diakui dan dibuktikan oleh para pakar hadis baik yang sezaman maupun setelahnya. Memang manusia tidak ada yang ma’shum kecuali para nabi, namun sifat tidak ma’shum tidak bertentangan dengan sifat ketelitian yang dimiliki oleh para ahli hadis terdahulu dan jarang dimiliki oleh orang di zaman sekarang.

Demikianlah, dalam setiap perbedaan dalam penilaian hadis kita selalu mendapati pihak mutaqaddimin selalu unggul dalam masalah ketelitian. Salah seorang pakar hadits dari Indonesia, Ustadz Umar M. Noor, MA dalam salah satu artikelnya menulis, “Ilmu mushthalah hadits idealnya adalah sebuah ilmu yang menjelaskan metode ahli hadits sebagaimana yang ditampilkan oleh ulama mutaqaddimin dalam praktek ilmiah mereka mengkaji dan menilai riwayat. Oleh karena itu, sikap yang harus ditampilkan oleh generasi pasca riwayah adalah belajar dari ahli hadits masa riwayah dengan memahami dengan benar dan mendalam setiap perkataan dan metode mereka, bukan menghakimi dan menentang, apalagi menyalahkan. Anehnya, sebagian besar tokoh-tokoh kontemporer yang sering kita jumpai menentang ulama-ulama hadits mutaqaddimin itu adalah para aktivis yang sangat giat mengajak kembali ke mazhab salaf. Siapakah salaf yang dimaksud jika bukan ulama-ulama mutaqaddimin itu? Sebesar apapun upaya yang dikerahkan ulama mutaakhirin, apalagi kontemporer, untuk menilai sebuah riwayat tidak akan menyamai ketelitian metode yang diterapkan oleh ahli hadits mutaqaddimin.” [5]

Semoga tulisan ini tidak dinilai bermaksud memojokkan individu atau kelompok tertentu, melainkan sebagai bentuk saling menasehati dalam kebenaran dan kebaikan. Semua kesalahan berasal dari penulis pribadi dan kebenaran hanyalah dari Allah SWT. Wallahu a’lamu bish showab.

___________
[1] Ulumul Hadits (Mukaddimah) karangan Abu ‘Amr Ibnu Al Sholah hal. 18, tahqiq Syaikh Nuruddin Itr, terbitan Darul Fikr, Damaskus.

[2] Ibid hal. 19.

[3] Ibid hal. 20. Sebagian orang menafsirkan perkataan Imam Muslim tersebut dengan disepakati oleh empat imam, yaitu Ahmad bin Hambal, Yahya bin Ma’in, Utsman bin Abi Syaibah dan Sa’id bin Mashur Al Khurasani (Lihat: Tadrib Al Rawi karangan Imam As Suyuthi juz 1 hal 97, tahqiq Dr. Badi’ Sayyid Lahham, terbitan Dar Al Kalim Ath Thayyib, Damaskus, cetakan pertama, 2005 M.).

[4] Jika anda ingin menelaah lebih jauh tentang kriteria hadis cacat serta bentuk-bentuknya, anda dapat membacanya dalam kitab Al Hadits Al Ma’lul karangan Dr. Hamzah yang telah saya sebutkan di atas.

 

Forum Diskusi Hadits Copyright © 2011 - |- Template created by O Pregador - |- Powered by Blogger Templates