Monday, April 29, 2013

0 Salafus Sholeh Bertabarruk dengan Nabi SAW?


Dalam "Musnad Ahmad" (5/422) disebutkan dari Daud bin Abi Shalih ia berkata:

"Suatu hari Marwan mendapati seorang lelaki menempelkan wajahnya pada kuburan. Marwan bertanya pada lelaki itu, "Tahukah apa yang sedang kamu perbuat itu?" lelaki itu menoleh dan ternyata ia adalah Abu Ayyub lalu menjawab, "Ya, aku sedang mendatangi Rasulullah SAW dan bukan sedang mendatangi batu ini. Aku mendengar Rasulullah SAW pernah bersabda: Janganlah kamu tangisi agama ini selama masih ditangani oleh para ahlinya. Tapi tangisilah ia apabila ia ditangani oleh yang bukan ahlinya."

Hadits ini juga diriwayatkan oleh Al-Hakim (4/560) lalu ia berkata, "Hadits ini shahih sanadnya dan belum dimuat oleh Bukhari dan Muslim." Adz-Dzahabi menambahkan dalam Talkhishnya, "Shahih."

Fathimah Mengambil Segenggam Tanah Makam Nabi SAW

Ibnu Asakir dalam "Tuhfah" meriwayatkan bahwa Fathimah pernah mendatangi kuburan Nabi SAW lalu mengambil segenggam tanah kuburan tersebut dan meltakkannya pada kedua matanya sambil menangis.

Kisah ini disebutkan juga oleh Ibnu Qudamah dalam "Al-Mughni" (2/213), As-Samhudi dalam "Wafaul Wafa" (2/444), Al-Qasthallani dalam "Irsyadus Sari" (2/390), Ar-Rahibani dalam "Mathalib Ulin Nuha" (1/926) dan Ali Al-Qari dalam "Mirqatul Mafatih" (11/108).

Bilal Mengusapkan Wajahnya di kuburan Nabi SAW

Dalam "Tarikh Dimasyq" karangan Ibnu Asakir disebutkan bahwa Bilal pernah bermimpi bertemu Nabi SAW. Dalam mimpi tersebut Nabi SAW bersabda, "Kekeringan apa yang telah melandamu ini wahai Bilal? Bilakah datang waktumu untuk mengunjungiku?" lalu Bilal tersadar dalam keadaan sedih. Setelah itu ia menaiki kendaraannya menuju Madinah, mendatangi kuburan Nabi SAW lalu menangis di situ sambil mengusapkan wajahnya pada kuburan Nabi SAW.

Lalu datanglah Al-Hasan dan Al-Husain kemudian mereka berdua memeluknya dan menciumnya lalu berkata, "Wahai Bilal, kami rindu mendengarkan adzanmu." Bilal pun memenuhi permintaan mereka berdua, ia lalu mengumandangkan adzan dari atas atap. Ketika terdengar lantunan suaranya mengucapkan "Allahu Akbar Allahu Akbar" kota Madinah bergetar, ketika ia mengumandangan syahadat bertambah lagi goncangannya, hingga ketika ia meneriakkan "Asyhadu anna Muhammadar Rasulullah" para penduduk Madinah keluar dari rumah-rumah mereka sambil berkata, "Apakah Rasulullah hidup kembali?" Sungguh tiada hari yang paling banyak tangisan laki-laki dan perempuan di Madinah semenjak wafatnya Rasulullah SAW melebihi hari itu."

As-Subki berkata dalam "Syifaus Siqam" hal. 39, "Kami telah meriwayatkan kisah itu dengan sanad yang bagus dan tidak perlu lagi meneliti dua sanad yang telah disebutkan oleh Ibnu Asakir itu meskipun para perawinya sudah sangat populer dan terkenal."

Kisah ini juga disebutkan oleh Ibnul Atsir dalam "Usdul Ghabah" (1/208) As-Samhudi dalam "Wafaul Wafa" (2/408) lalu ia berkata, "Sanadnya bagus." Asy-Syaukani berkata dalam "Nailul Authar" (3/105), "Telah diriwayatkan perkara ziarah ke makam Nabi SAW ini dari sejumlah sahabat di antaranya adalah Bilal sebagaimana dalam riwayat Ibnu Asakir, dengan sanad yang bagus."

Dalam kitab "Al-'Ilal wa Ma'rifatur Rijaal" (2/492), disebutkan bahwa Abdullah pernah bertanya kepada ayahnya, yaitu Imam Ahmad bin Hanbal, tentang seseorang yang mengusap mimbar Nabi SAW dan mengalap berkah dengan usapan tersebut serta menciumnya, begitu juga dengan kuburan dengan niat bertaqarrub (mendekatkan diri) kepada Allah SWT? Imam Ahmad menjawab: "Tidak apa-apa." Dalam kitab "Wafaul Wafa" (4/1414) juga disebutkan seperti itu.

Imam Dzahabi berkata dalam "Mu'jam Syuyukh"nya halaman 55: "Diriwayatkan bahwa Ibnu Umar tidak suka mengusap kuburan Nabi SAW. Saya (Dzahabi) berkata: ia tidak suka dengan hal itu karena menganggapnya sebagai tindakan yang kurang sopan. Imam Ahmad pernah ditanya tentang mengusap dan mencium kuburan Nabi SAW dan beliau tidak mempermasalahkannya. Kabar ini diriwayatkan oleh anaknya sendiri yaitu Abdullah bin Ahmad. Kalau ada yang bertanya: mengapa hal itu tidak dilakukan oleh para sahabat? Maka jawabannya adalah: sebab mereka dahulu sudah sering bertemu langsung dengan beliau sehingga sudah cukup puas dengan hal itu, mereka mencium tangan beliau bahkan hampir saja mereka berkelahi karena berebut air bekas wudhu Nabi SAW. Mereka pun membagi-bagi rambut beliau yang suci di waktu Haji Akbar. Apabila beliau meludah, hampir saja air ludah beliau tidak sampai di tanah karena telah ditadahi oleh tangan sahabatnya lalu air ludah itu diusap-usapkan di wajahnya. Adapun kita yang tidak mendapatkan jatah yang sedemikian besar itu, kita hanya bisa berebut menggapai kuburannya dengan cara beriltizam (menempelkan), tabjil (mengagungkan), istilam (mengusap) dan taqbil (menciumnya). Tidakkah anda lihat bagaimana yang dahulu dilakukan oleh Tsabit Al-Bunani? Beliau mencium tangan Anas bin Malik dan meletakkannya di wajahnya sambil berkata: Ini adalah tangan yang pernah menyentuh tangan Rasulullah SAW."

As-Sindi dalam Syarh Sunan Nasai (1/222) berkata setelah menyebutkan hadits tentang shalat Nabi SAW di Thur Sina: "Ini merupakan dalil yang kuat dalam masalah mencari jejak orang-orang shalih, bertabarruk dengannya dan beribadah di situ."

An-Nasai meriwayatkan (5/248) dari Abdullah bin Umar bahwa Rasulullah SAW pernah menunjuk sebuah tempat yang di situ ada sebatang pohon besar lalu beliau bersabda, "Di bawah pohon besar itu telah dilahirkan 70 nabi." Hadits ini juga diriwayatkan oleh Ahmad (2/238), Malik (1/423) dan dishahihkan oleh Ibnu Hibban (14/137).

Ibnu Abdil Barr dalam kitabnya "At-Tamhid" (13/64-66) begitu juga dalam "Al-Istidzkar" (4/406) berkata: "Hadits ini menjadi dalil tentang tabarruk dengan jejak para nabi dan orang-orang shalih."

Al-Hafizh Ibnu Hajar dalam "Fathul Baari" (1/571) berkata: "Dalam riwayat Tirmidzi dari Amr bin Auf bahwa Nabi SAW pernah shalat di lembah Ar-Rauha lalu beliau bersabda: Di tempat ini dahulu shalat 70 nabi."

Ibnu Hajar kemudian berkomentar, "Dapat dipahami dari perbuatan Ibnu Umar ini (dalil) dianjurkannya mencari jejak Nabi SAW dan bertabarruk dengannya."

Dalam Shahih Muslim disebutkan bahwa Asma' mengambil jubbah yang dahulu dipakai oleh Rasulullah SAW kemudian mencucinya dan berkata, "Kami mencucinya untuk orang-orang sakit supaya diberi kesembuhan dengan jubbah itu."

http://www.facebook.com/groups/forum.diskusi.hadits/permalink/508920099126822

0 comments:

Post a Comment

 

Forum Diskusi Hadits Copyright © 2011 - |- Template created by O Pregador - |- Powered by Blogger Templates