Sunday, October 5, 2014

0 Berbohong Supaya Ditertawai

Kadang kita jumpai berita-berita bohong di internet yang bertujuan untuk membuat orang tertawa. Misalnya berita tentang rencana pemerintah menaikkan gaji guru, berita tentang trik menarik uang jutaan rupiah di ATM tanpa mengurangi saldo dan lain sebagainya.

Tampaknya hal ini remeh dan tidak beresiko karena hanya sebagai hiburan saja. Namun sayangnya, Nabi kita pernah melarang hal tersebut. Mari kita perhatikan hadits berikut:

وَيْلٌ لِلَّذِي يُحَدِّثُ فَيَكْذِبُ لِيُضْحِكَ بِهِ الْقَوْمَ ، وَيْلٌ لَهُ ، ثُمَّ وَيْلٌ لَهُ

"Kecelakaan bagi orang yang menyampaikan berita lalu berbohong supaya ditertawai orang. Kecelakaan baginya, lalu kecelakaan baginya."

SANAD

Hadits di atas diriwayatkan oleh Imam Abu Daud, Tirmidzi, Nasai dan Baihaqi. Imam Tirmidzi menilai hasan, sedangkan Ibnu Hajar menyatakan bahwa sanadnya kuat.

MATAN

Kata "wail" artinya adalah kecelakaan atau kebinasaan. Hadits di atas menunjukkan larangan berdusta dengan tujuan supaya ditertawai orang. Di samping hadits di atas, masih banya hadits lain yang berisi larangan berdusta, salah satunya, "Jauhilah oleh kalian dusta, karena dusta membawa dosa, dan dosa membawa ke neraka."

Berdasarkan hadits di atas, maka dusta diharamkan, bagi pelaku dan pendengarnya sekaligus jika ia tahu bahwa berita itu dusta. Karena sengaja mendengarkan berita dusta berarti mengakui kemungkaran. Bahkan wajib bagi yang mampu menegur untuk menegurnya. Kalau tidak mampu, hendaknya ia meninggalkan majelis dusta tersebut.

Dusta termasuk dosa besar. Bahkan Imam Ruyani Asy-Syafi'i menegaskan bahwa siapa saja yang berdusta maka kesaksiannya tertolak, meskipun tidak membahayakan orang lain.

Pengecualian

Dusta diperbolehkan dalam tiga kondisi:

1. Peperangan
2. Mendamaikan dua orang yang sedang bertikai
3. Mencandai dan menyenangkan istri/suami

Al-Qadhi Iyadh menegaskan bahwa tidak ada perbedaan pendapat tentang bolehnya ketiga bentuk dusta di atas. Imam Shan'ani berkomentar, "Lihatlah hikmah dan cinta Allah dalam menyatukan hati hamba-Nya. Bagaimana Dia mengharamkan namimah (mengadu domba) padahal ia berupa kejujuran, karena di dalamnya terdapat bahaya yang dapat merusak hati dan melahirkan permusuhan serta kebencian. Lalu Allah memperbolehkan dusta meskipun diharamkan apabila mampu menyatukan hati manusia dan mendatangkan rasa cinta serta menghilangkan permusuhan.

Sumber: Kitab "Subulus Salam Syarh Bulughul Maram" karangan Imam Shan'ani, Bab: At-Tarhib Min Masawiil Akhlaq.

0 comments:

Post a Comment

 

Forum Diskusi Hadits Copyright © 2011 - |- Template created by O Pregador - |- Powered by Blogger Templates