Sunday, August 23, 2015

0 Hukum Suami Minum Air Susu Istrinya

Adakalanya seorang suami ingin menghisap buah dada (payudara) istrinya ketika sedang berhubungan badan. Lalu apabila air susu istrinya keluar, bolehkah suami meminumnya?

Perlu diketahui bahwa air susu seorang wanita hukumnya suci (thahir) menurut seluruh ulama ahli fikih[1]. Imam Nawawi menukil dari Imam Abu Hamid Al-Ghazali tentang adanya kesepakatan (ijma') dalam masalah ini, sebagaimana disebutkan dalam Al-Majmu’ (2/588).

Namun mengenai hukum meminum air susu istri terdapat perbedaan pendapat di kalangan ulama.

Dalam al-Fatawa al-Hindiyah (5/356) disebutkan:

ولا بأس بأن يسعط الرجل بلبن المرأة ويشربه للدواء، وفي شرب لبن المرأة للبالغ من غير ضرورة اختلاف المتأخرين، كذا في القنية

“Tidak apa-apa seseorang menghisap payudara istrinya dan meminum susunya untuk berobat. Hukum meminum air susu wanita bagi lelaki baligh tanpa ada keperluan masih diperselisihkan oleh para ulama belakangan.”

Dalam Fathul Qadiir disebutkan:

وهل يباح الإرضاع بعد المدة ؟ قيل: لا، لأنه جزء الآدمي فلا يباح الانتفاع به إلا للضرورة، وقد اندفعت

“Bolehkah menyusui setelah masa itu? Ada yang mengatakan tidak boleh karena air susu merupakan bagian dari manusia sehingga tidak boleh dimanfaatkan kecuali dalam keadaan darurat, sedangkan keadaan itu tidak ada.”

Oleh karena itu, hendaknya perbuatan ini dihindari supaya terbebas dari perbedaan pendapat. Namun, seandainya ada seorang suami yang ingin menghisap payudara istrinya untuk memenuhi kebutuhan biologisnya lalu ada air susu yang tertelan maka insyaallah tidak apa-apa[2].

Wallahu a’lam bish shawab.

Karanganyar, 23 Agustus 2015
Ditulis oleh Danang Kuncoro Wicaksono



[1] Lihat Fatwa Islamweb nomor 28645, http://fatwa.islamweb.net/fatwa/index.php?page=showfatwa&Option=FatwaId&Id=28645, diakses pada 23 Agustus 2015 pukul 17.20 WIB.
[2] Lihat Fatwa Islamweb nomor 1974, http://fatwa.islamweb.net/fatwa/index.php?page=showfatwa&lang=&Option=FatwaId&Id=1974, diakses pada 23 Agustus 2015 pukul 17.20 WIB.

Thursday, August 13, 2015

1 Hukum Mengucapkan Shadaqallahul ‘Azhim

1.       Pendapat yang melarang[1]
Syaikh Muhammad Musa Nashr
Syaikh Muhammad Musa Nashr menyatakan, “Termasuk perbuatan yang tidak ada tuntunannya yaitu mayoritas qori’ (orang yang membaca Al Qur’an) berhenti dan memutuskan bacaannya dengan mengatakan shadaqallahul ‘azhim, padahal Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam menghentikan bacaan Ibnu Mas’ud dengan mengatakan hasbuk (cukup). Inilah yg dikenal para salaf dan tidak ada keterangan bahwa mereka memberhentikan atau mereka berhenti dengan mengucapkan shadaqallahul ‘azhim sebagaimana dianggap baik oleh orang-orang sekarang”. (Al Bahtsu wa Al Istiqra’ fi Bida’ Al Qurra’, Dr Muhammad Musa Nashr, cet 2, th 1423H)
Kemudian beliau menukil pernyataaan Syaikh Mustafa bin Al ‘Adawi dalam kitabnya Shahih ‘Amal Al Yaumi Wa Al Lail hlm 64 yang berbunyi, “Keterangan tentang ucapan Shadaqallahul’azhim ketika selesai membaca Al Qur’an: memang kata shadaqallah disampaikan Allah dalam Al Qur’an dalam firman-Nya,
قُلْ صَدَقَ اللَّهُ فَاتَّبِعُوا مِلَّةَ إِبْرَاهِيمَ حَنِيفًا وَمَا كَانَ مِنَ الْمُشْرِكِينَ
“Katakanlah:’Benarlah (apa yang difirmankan) Allah.’ Maka ikutilah agama Ibrahim yang lurus dan bukanlah dia termasuk orang-orang yang musyrik.” (Qs Ali Imran:95)
Memang benar, Allah Maha Benar dalam setiap waktu. Namun masalahnya kita tidak pernah mendapatkan satu hadits pun yang menjelaskan bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam mengakhiri bacaannya dengan kata “Shadaqallahul’azhim.”
Di sana ada juga orang yang menganggap baik hal-hal yang lain namun kita memiliki Rasulullah shallallanhu’alaihi wa sallam sebagai contoh teladan yang baik. Demikian juga kita tidak menemukan satu atsar, meski dari satu orang sahabat walaupun kita mencukupkan pada hadits-hadits Nabi shallallanhu’alaihi wa sallam setelah kitab Allah dalam berdalil terhadap masalah apa pun. Kami telah merujuk kepada kitab Tafsir Ibnu Katsir, Adhwa’ Al Bayan, Mukhtashar Ibnu katsir dan Fathul Qadir, ternyata tak satu pun yang menyampaikan pada ayat ini, bahwa Rasulullah shallallanhu’alaihi wa sallam pernah mengakhiri bacaannya dengan shadaqallahul ‘azhim.(Lihat Hakikat Al Maru Bil Ma’ruf Wa Nahi ‘Anil munkar, Dr Hamd bin Nashir Al ‘Amar,cet 2)
Fatwa Lajnah Daimah Arab Saudi[2]
فتوى رقم 3303
س: ما حكم قول (صدق الله العظيم) بعد الفراغ من قراءة القرآن؟s
ج: قول (صدق الله العظيم) بعد الانتهاء من قراءة القرآندعة؛ لأنه لم يفعله النبي صلى الله عليه وسلم، ولا الخلفاء الراشدون، ولا سائر الصحابة رضي الله عنهم، ولا أئمة السلف رحمهم الله، مع كثرة قراءتهم للقرآن، وعنايتهم ومعرفتهم بشأنه، فكان قول ذلك والتزامه عقب القراءة بدعة محدثة، وقد ثبت عن النبي صلى الله عليه وسلم أنه قال: « من أحدث في أمرنا هذا ما ليس منه فهو رد » (1) رواه البخاري ومسلم وقال: « من عمل عملا ليس عليه أمرنا فهو رد » (2) رواه مسلم .
وبالله التوفيق. وصلى الله على نبينا محمد، وآله وصحبه وسلم .

Pertanyaan: Apa hukum mengucapkan“Shadaqallahul ‘Adzim” setelah selesai membaca Al-Qur’an?
Jawaban: Ucapan “shadaqallahul ‘adzim” setelah membaca Al-Qur’an adalah bid’ah, karena Nabi shalallahu alaihi wa salam tidak pernah melakukannya, demikian juga para khulafa’ur rasyidin, seluruh sahabat dan para imam salafu shalih, padahal mereka banyak membaca Al-Qur’an, sangat memelihara dan mengetahui benar masalahnya. Jadi, mengucapkan dan mendawamkan pengucapannya setiap kali selesai membaca Al-Qur’an adalah perbuatan bid’ah yang diada-adakan. Telah diriwatkan dari Nabi shalallahu alaihi wa salam bahwa beliau bersabda,
من أحدث في أمرنا هذا ما ليس منه فهو رد (رواه البخاري ومسلم)
“Barangsiapa membuat sesuatu yang baru dalam urusan kami (dalam islam) yang tidak terdapat (tuntunan) padanya, maka ia tertolak.” (HR. Al-Bukhari dan Muslim)
Dan Nabi bersabda,
« من عمل عملا ليس عليه أمرنا فهو رد » (2) رواه مسلم .
Barangsiapa mengerjakan amalan yg tidak ada atasnya dalam urusan kami (dalam islam), maka ia tertolak.” (HR. Al-Bukhari dan Muslim)
(Fatwa Al-Lajnah Da’imah, fatwa nomor 4303. Dinukil dari Fatwa-Fatwa Terkini)
Syaikh Shalih Fauzan bin Abdullah Al-Fauzan
Syaikh Shalih Fauzan bin Abdullah Al-Fauzan ditanya :
59 ـ هل من الصواب أن يقول المسلم‏:‏ ‏”‏صدق الله العظيم‏”‏ بعد قراءة القرآن وهل هي واردة‏؟‏
59 – Apakah dibenarkan bagi seorang muslim untuk mengucapkan ‘shadaqallahul adzim’ setelah selesai membaca Al-Qur’an, apakah ada riwayat hadits yang menjelaskan perbuatan tersebut ?
Shalih Fauzan menjawab :
لم يرد أن النبي ـ صلى الله عليه وسلم ـ ولا أحدًا من صحابته أو السلف الصالح كانوا يلتزمون بهذه الكلمة بعد الانتهاء من تلاوة القرآن‏.‏ فالتزامها دائمًا واعتبارها كأنها من أحكام التلاوة ومن لوازم تلاوة القرآن يعتبر بدعة ما أنزل به من سلطان‏.‏
Tidak terdapat riwayat baik dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam , salah seorang sahabat serta salafus shalih yang terbiasa mengucapkan kalimat ini setelah selesai membaca Al qur’an. Maka terus menerus membiasakan diri membaca kalimat ‘shadaqallahul adzim’ dan menjadikannya seolah-olah termasuk salah satu hukum dan kewajiban saat membaca Al Qur’an termasuk perkara bid’ah yang tidak ada keterangannya.
Dalil
عن عبد الله بن مسعود رضي الله عنه قال: قال رسول الله صلى الله عليه وسلم (اقرأ) قال يا رسول الله كيف أقرأ عليك وعليك أنزل قال (إني أحب أن أسمعه من غيري )فقرأ حتى بلغ قوله تعالى : فَكَيْفَ إِذَا جِئْنَا مِنْ كُلِّ أُمَّةٍ بِشَهِيدٍ وَجِئْنَا بِكَ عَلَى هَؤُلاءِ شَهِيدًا قال له النبي ((حسبك)) قال ابن مسعود فالتفت إليه فإذ عيناه تذرفان
Dari Ibnu Mas’ud, ia berkata bahwa Nabi Shalallahu’alaihi wa sallam telah berkata kepadaku, “Bacakan kepadaku (Al Qur’an)!” Aku menjawab, “Aku bacakan (Al Qur’an) kepadamu? Padahal Al Qur’an sendiri diturunkan kepadamu.” Maka Beliau menjawab, “(Sesungguhnya aku lebih senang mendengarkan dari orang lain yang membacakannya)”. Lalu aku membacakan [Surat An-Nisaa’] sampai pada ayat 41 (“Maka bagaimanakah (halnya orang kafir nanti), apabila Kami mendatangkan seseorang saksi (rasul) dari tiap-tiap umat dan Kami mendatangkan kamu (Muhammad) sebagai saksi atas mereka itu (sebagai umatmu).”. Lalu beliau berkata, “Cukup, cukup.” Lalu aku melihat beliau, ternyata kedua matanya meneteskan air mata. (HR. Bukhari)
Syaikh Muhammad Nashiruddin Al-Albani[3]
Kami tidak ragu, bahwa kebiasaan ini (mengucapkan 'Shadaqallahul 'Adzim setelah membaca Al-Qur'an) adalah termasuk bid'ah yang diada-adakan, yang tidak terdapat pada masa As-Salafus Shalih.
Dan patut diperhatikan bahwa bid'ah dalam agama itu tidak boleh ada. Karena bid'ah pada asalnya tidak dikenal (diketahui). Walaupun bid'ah itu kadang-kadang diterima di masyarakat dan dianggap baik, tetapi dia tetap dinamakan bid'ah yang sesat.
Sebagaimana diisyaratkan oleh Abdullah bin Umar.
"Artinya : Setiap bid'ah adalah sesat, meski manusia memandangnya baik".
Ucapan : "Shadaqallahul 'Adzhiim (Benarlah apa yang difirmankan Allah Yang Maha Agung) adalah suatu ungkapan yang indah dan tepat, sebagaimana firman Allah Subhanahu wa Ta'ala.
"Artinya : Dan siapakah yang lebih benar perkataan-Nya daripada Allah?"
[An-Nisaa : 122]
Akan tetapi jika setiap kali kita membaca sepuluh ayat kemudian diikuti dengan membaca Shadaqallahul Adzhiim, saya khawatir suatu hari nanti bacaan Shadaqallahul Adzhiim setelah membaca ayat-ayat Al-Qur'an menjadi seperti bacaan shalawat setelah adzan.
Sebagian lain dari mereka mensyariatkan bacaan ini berdasarkan firman Allah Subahanahu wa Ta'ala.
"Artinya : Katakanlah ; Shadaqallah (Benarlah apa yang difirmankan Allah)" [Ali Imran : 95]
Mereka ini adalah seperti orang-orang yang membolehkan dzikir dengan membaca : Allah... Allah .... Allah [1], dengan (dalil) firman Allah Subhanahu wa Ta'ala.
"Artinya : Katakanlah : Allah ...." [Ar-Ra'd : 16]
Maka firman Allah Subhanahu wa Ta'ala : "Katakanlah : Benarlah (apa yang difirmankan) Allah" tidak bisa dijadikan dalil tentang bolehnya mengucapkan 'Shadaqallahul Adzhiim setelah selesai membaca Al-Qur'an.
[Dislain dari Kitab Majmu'ah Fatawa Al-Madina Al-Munawarrah edisi Indonesia Fatwa-Fatwa Albani.Fatwa-Fatwa Albani, hal 37-38, Pustaka At-Tauhid]
2.       Pendapat yang membolehkan[4]
Imam Hasan Al Bashri Radhiallahu ‘Anhu
Dia adalah tokoh tabi’in senior. Dia termasuk tujuh ahli fiqih Madinah pada zamannya. Dalam Tafsir Ibnu Katsir, ketika membahas surat Saba’ ayat 18, beliau mengutip ucapan Imam Hasan Al Bashri, sebagai berikut:
وقال الحسن البصري: صدق الله العظيم. لا يعاقب بمثل فعله إلا الكفور.
Berkata Al Hasan Al Bashri: “Shadaqallahul ‘Azhim. Tidaklah mendapatkan siksa semisal ini bagi pelakunya, melainkan orang kafir.” (Imam Ibnu Katsir, Tafsir Al Qur’an Al Azhim, Juz. 6, Hal. 508)
Imam Al Qurthubi Rahimahullah
Dalam tafsirnya dia menulis:
وفى السماء رزقكم وما توعدون ” فإنا نقول: صدق الله العظيم، وصدق رسوله الكريم، وأن الرزق هنا المطر بإجماع أهل التأويل
Dan di langit Dia memberikan rizki kepada kalian, dan apa-apa yang dijanjikan kepada kalian,” Maka, kami berkata: Shadaqallahul ‘Azhim wa shadaqa rasul al karim, sesungguhnya maksud rezeki di sini adalah hujan berdasarkan ijma’ ahli takwil ..dst.” (Imam Al Qurthubi, Al Jami’ Li Ahkam AL Qur’an, Juz. 13, Hal. 15, lihat juga Juz. 16, Hal. 222)
Imam Ibnul ‘Iraqi Rahimahullah
Beliau ditanya begini;
وَسُئِلَ ابْنُ الْعِرَاقِيِّ عَنْ مُصَلٍّ قَالَ بَعْدَ قِرَاءَةِ إمَامِهِ صَدَقَ اللَّهُ الْعَظِيمُ هَلْ يَجُوزُ لَهُ ذَلِكَ وَلَا تَبْطُلُ صَلَاتُهُ فَأَجَابَ بِأَنَّ ذَلِكَ جَائِزٌ وَلَا تَبْطُلُ بِهِ الصَّلَاةُ
Ibnul Iraqi ditanya tentang orang yang shalat, setelah imam selesai membaca, orang itu membaca ‘Shadaqallahul ‘Azhim’, apakah boleh baginya dan tidak membatalkan shalatnya? Dia menjawab: Hal itu boleh, dan tidaklah membatalkan shalat.” (Imam Zakariya al Anshari, Asna Al Mathalib, Juz. 3, Hal. 68. Mawqi’ Al Islam)
Imam Syihabuddin Ar Ramli Rahimahullah
Dalam Nihayatul Muhtaj dia mengatakan:
لَوْ قَالَ صَدَقَ اللَّهُ الْعَظِيمُ عِنْدَ قِرَاءَةِ شَيْءٍ مِنْ الْقُرْآنِ قَالَ م ر يَنْبَغِي أَنْ لَا يَضُرَّ
Seandainya dia berkata Shadaqallahul ‘Azhim saat membaca bagian dari Al Quran,(berkata Ar Rafi’i) maka itu tidak memudharatkan (tidak mengapa).” (Imam Muhammad Syihabbudin Ar Ramli, Nihayatul Muhtaj, Juz. 5, Hal. 60. Lihat juga Imam Zakariya Al Anshari, Hasyiyah Al Jumal, Juz.4, Hal. 96. Mawqi’ Al Islam)
Imam Abu Hafs Umar Al Wardi Rahimahullah
Dalam Syarhul Bahjah Al Wardiyah beliau berkata:
كُلُّ مَا لَفْظُهُ الْخَبَرُ نَحْوُ صَدَقَ اللَّهُ الْعَظِيمُ أَوْ آمَنْتُ بِاَللَّهِ عِنْدَ سَمَاعِ الْقِرَاءَةِ بَلْ قَالَ شَيْخُنَا ز ي : لَا يَضُرُّ الْإِطْلَاقُ فِي هَذَا
Semua yang dilafazhkannya, seperti Shadaqallahul ‘Azhim atau amantu billah, ketika mendengar bacaan Al Quran, bahkan syaikh kami berkata: Tidak memudharatkan secara muthlak dalam hal ini (alias boleh).” (Imam Abu Hafs Zainuddin Umar Al Wardi, Syarhul Bahjah Al Wardiyah, Juz. 3, Hal. 496. Mawqi’ Al Islam)
Imam An Nawawi Rahimahullah
Dalam Al Majmu’ beliau mengatakan:
ثم صدق الله العظيم ” يسئلونك عن الاهلة قل هي مواقيت للناس والحج
Kemudian Shadaqallahul ‘Azhim “Yas aluunaka ‘anil ahilah qul hiya mawaqitu linnas.” (Imam An Nawawi, Majmu’ Syarh Al Muhadzdzab, Juz. 17, Hal. 208. Mawqi’ Ya’sub)
Syaikh Dhiya’ Al Mishri dalam Fathul Manan mengatakan:
ويستحب للقارىء إذا انتهت قراءته أن يصدق ربه ويشهد بالبلاغ لرسوله صلى الله عليه وسلم ويشهد على ذلك أنه حق فيقول: صدق الله العظيم، وبلغ رسوله الكريم، ونحن على ذلك من الشاهدين.
Dianjurkan bagi pembaca Al Quran, jika telah selesai hendaknya dia membenarkan Tuhannya, dan bersaksi atas tabligh yang dilakukan Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam, dan bersaksi bahwa itu adalah kebenaran, maka hendaknya membaca: Shadaqallahul ‘Azhim, Wa balagha rasuluhul karim, wa nahnu ‘ala dzalika minasy syahidin.” (Syaikh Adh Dhiya al Mishri, Fathul Manan, Hal. 4)
Syaikh Athiyah Saqr, Mufti Mesir, ketika ditanya apa hukum membaca Shadaqallahhul ‘Azhim. Dia mengkirtik dan memberi peringatan kepada orang-orang yang gampang membid’ahkan termasuk masalah ini, beliau berkata:
وقول “صدق الله العظيم ” من القارى أو من السامع بعد الانتهاء من القراءة ، أو عند سماع آية من القراَن ليس بدعة مذمومة، أولا لأنه لم يرد نهى عنها بخصوصها، وثانيا لأنها ذكر لله والذكر مأمور به كثيرا ، وثالثا أن العلماء تحدثوا عن ذلك داعين إليه كأدب من آداب قراءة القرآن ، وقرروا أن قول ذلك فى الصلاة لا يبطلها، ورابعا أن هذه الصيغة أو قريبا منها ورد الأمر بها فى القرآن ، وقرر أنها من قول المؤمنين عند القتال .
قال تعالى : {قل صدق الله فاتبعوا ملة إبراهيم حنيفا} آل عمران :95 ، وقال {ولما رأى المؤمنون الأحزاب قالوا هذا ما وعدنا الله ورسوله وصدق الله ورسوله } الأحزاب : 22 ، وذكر القرطبى في مقدمة تفسيره أن الحكيم الترمذى تحدث عن آداب تلاوة القراَن الكريم وجعل منها أن يقول عند الانتهاء من القراءة : صدق الله العظيم أو أية عبارة تؤدى هذا المعنى .
Kalimat Shadaqallahu Al ‘Azhim yang diucapkan oleh pembaca Al-Quran atau oleh pendengar setelah selesai membaca atau mendengar ayat-ayat Al-Quran, bukanlah bid’ah tercela, bahkan memiliki landasan yang cukup kuat. Yaitu:
Tidak ada satupun dalil yang melarangnya
Kalimat itu merupakan zikir.
Para ulama menjadikannya sebagai salah satu adab ketika hendak membaca Al Quran. Bahkan menurut mereka jika ia diucapkan dalam salat tidak membatalkan salat. Demikianlah pendapat kalangan Hanafi dan Syafi’i.
Lafal atau ucapan tersebut demikian dekat dengan apa yang diperintahkan dalam Al-Quran serta merupakan ucapan orang mukmin di saat akan perang.
قل صدق الله فاتبعوا ملة إبراهيم حنيفا
Katakanlah: “Benarlah (apa yang difirmankan) Allah”. Maka ikutilah agama Ibrahim yang lurus, dan bukanlah Dia Termasuk orang-orang yang musyrik (Ali Imran: 95)
ولما رأى المؤمنون الأحزاب قالوا هذا ما وعدنا الله ورسوله وصدق الله ورسوله
Dan tatkala orang-orang mukmin melihat golongan-golongan yang bersekutu itu, mereka berkata : “Inilah yang dijanjikan Allah dan Rasul-Nya kepada kita. Benarlah Allah dan Rasul-Nya.
Al-Qurthubi dalam muqaddimah tafsirnya mengatakan bahwa menurut Imam al-Hakîm dan Imam At-Tirmidzî mengucapkan kalimat shadaqallahu al-azhim setelah selesai membaca Al-Quran merupakan salah satu bentuk adab membaca Al-Quran.” (Fatawa Al Azhar, Juz. 8, Hal. 86)
Lalu Syaikh ‘Athiyah Shaqr melanjutkan:
وجاء فى فقه المذاهب الأربعة ، نشر أوقاف مصر، أن الحنفية قالوا : لو تكلَّم المصلى بتسبيح مثل . صدق اللّه العظيم عند فراغ القارئ من القراءة لا تبطل صلاته إذا قصد مجرد الثناء والذكر أو التلاوة ، وأن الشافعية قالوا : لا تبطل مطلقا بهذا القول ، فكيف يجرؤ أحد فى هذه الأيام على أن يقول : إن قول :
صدق الله العظيم ، بعد الانتهاء من قراءة القرآن بدعة؟ أكرر التحذير من التعجل فى إصدار أحكام فقهية قبل التأكد من صحتها ، والله سبحانه وتعالى يقول :{ولا تقولوا لما تصف ألسنتكم الكذب هذا حلال وهذا حرام لتفتروا على الله الكذب إن الذين يفترون على الله الكذب لا يفلحون } النخل :116
Terdapat dalam fiqih empat madzhab, yang telah tersebar di Mesir, bahwa kalangan Hanafiyah mengatakan, seandainya orang yang shalat memuji Allah Ta’ala dengan mengucapkan Shadaqallah Al ‘Azhim, setelah pembaca selesai membaca Al Quran, maka itu tidak membatalkan shalatnya, jika dia memang murni bermaksud memuji, dzikir, atau tilawah. Sedangkan Syafi’iyah mengatakan, ucapan ini secara mutlak tidak membatalkan shalat. Lalu bagaimana bisa seseorang zaman ini mengatakan: membaca Shadaqallahul ‘Azhim setelah selesai membaca Al Quran adalah bid’ah? Apakah mesti diulang-ulang peringatan tentang sikap tergesa-gesa menelurkan ketetapan hukum fiqih sebelum menguatkan kebenarannya. Terakhir Allah Ta’ala berfirman:
Dan janganlah kamu mengatakan terhadap apa yang disebut-sebut oleh lidahmu secara dusta “ini halal dan ini haram”, untuk mengada-adakan kebohongan terhadap Allah. Sesungguhnya orang-orang yang mengada-adakan kebohongan terhadap Allah tiadalah beruntung”. (QS. An Nahl: 116). (Fatawa Al Azhar, Juz. 8, Hal. 86)
Dalil pendapat yang membolehkan[5]
1.         Dalam tafsir Al-Baghowi mengenahi QS. At-Taghobun: 14 sbb:
عن عبد الله بن بريدة قال سمعت أبي بريدة يقول : كان رسول الله – صلى الله عليه وسلم – يخطبنا ، فجاء الحسن والحسين وعليهما قميصان أحمران يمشيان ويعثران ، فنزل رسول الله – صلى الله عليه وسلم – من المنبر ، فحملهما فوضعهما بين يديه ، ثم قال : ” صدق الله : إنما أموالكم وأولادكم فتنة ، نظرت إلى هذين الصبيين يمشيان ويعثران ، فلم أصبر حتى قطعت حديثي ورفعتهما ” .
Dari Abdulloh bin Boraidah berkata aku mendengar Abu Buraidah (bapaknya) ia berkata, ‘Adalah Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam berkhutbah kepada kami, maka datanglah Hasan dan Husain yang keduanya memakai baju merah dan keduanya berjalan dan terjatuh. Kemudian Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam turun dari mimbar dan mengambilnya ke pangkuannya kemudian bersabda, “Maham Benar Allah (SHADAQALLAH) “Sesungguhnya harta kekayaan dan anak-anak kamu itu merupakan fitnah.” Aku melihat dua anak-anak ini berjalan dan jatuh menyebabkan aku hilang sabar dan terus memotong ucapanku dan mengangkatkan kedua-duanya.
2.         Dalam tafsir Al-Qurthubi sbb:
روى الترمذي وغيره عن عبد الله بن بريدة عن أبيه قال : رأيت النبي صلى الله عليه وسلم يخطب ; فجاء الحسن والحسين – عليهما السلام – وعليهما قميصان أحمران ، يمشيان ويعثران ; فنزل صلى الله عليه وسلم فحملهما بين يديه ، ثم قال : ” صدق الله عز وجل ( إنما أموالكم وأولادكم فتنة ) . نظرت إلى هذين الصبيين يمشيان ويعثران فلم أصبر حتى قطعت حديثي ورفعتهما ” ثم أخذ في خطبته .
Diriwayatkan oleh Tirmidzi dan lainnya dari Abdulloh bin Buraidah berkata dari bapaknya ia berkata, ‘Aku melihat Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam sedang berkhutbah, maka datanglah Hasan dan Husain -semoga keselamatan bagi keduanya- yang keduanya memakai baju merah dan keduanya berjalan dan terjatuh. Kemudian Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam turun dari mimbar dan mengambilnya ke pangkuannya kemudian bersabda, “Maham Benar Allah yang Maha Perkasa lagi Maha Tinggi (SHADAQALLAH ‘AZZA WA JALLA) “Sesungguhnya harta kekayaan dan anak-anak kamu itu merupakan fitnah.” Aku melihat dua anak-anak ini berjalan dan jatuh menyebabkan aku hilang sabar dan terus memotong ucapanku dan mengangkatkan kedua-duanya.
3.         Dalam tafsir Ibnu Katsir sbb:
وقال الإمام أحمد : حدثنا زيد بن الحباب ، حدثني حسين بن واقد ، حدثني عبد الله بن بريدة ، سمعت أبي بريدة يقول : كان رسول الله – صلى الله عليه وسلم – يخطب ، فجاء الحسن والحسين رضي الله عنهما ، عليهما قميصان أحمران يمشيان ويعثران ، فنزل رسول الله – صلى الله عليه وسلم – من المنبر فحملهما فوضعهما بين يديه ، ثم قال : ” صدق الله ورسوله ، إنما أموالكم وأولادكم فتنة ، نظرت إلى هذين الصبيين يمشيان ويعثران فلم أصبر حتى قطعت حديثي ورفعتهما ” .
Imam Ahmad berkata, telah berkata kepada kami Zaid bi Al-Habba, telah berkata kepadaku Husain Bin Waqid, telah berkata kepadaku Abdullah bin Buraidah berkata, ‘aku mendengar dari Abu Buraidah (Bapaknya) ia berkata, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam sedang berkhutbah, tiba-tiba datang Hasan dan Husin -semoga keselamatan bagi keduanya- yang keduanya memakai baju merah dan keduanya berjalan dan terjatuh. Kemudian Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam turun dari mimbar dan mengambilnya ke pangkuannya kemudian bersabda, “Maham Benar Allah dan (Maha Benar) Rasul-Nya (SHADAQALLAH WA RASULUH) “Sesungguhnya harta kekayaan dan anak-anak kamu itu merupakan fitnah.” Aku melihat dua anak-anak ini berjalan dan jatuh menyebabkan aku hilang sabar dan terus memotong ucapanku dan mengangkatkan kedua-duanya.
ففي الجامع لأحكام القرءان، – للقرطبي ، الجزء 1 ، باب ما يلزم قارئ القرآن وحامله من تعظيم القرءان وحرمته: قال الترمذي الحكيم أبو عبد الله في نوادر الأصول: ” فمن حرمة القرءان ألا يمسه إلا طاهرا…..ومن حرمته إذا انتهت قراءته أن يصدق ربه، ويشهد بالبلاغ لرسوله صلى الله عليه وسلم، ويشهد على ذلك أنه حق، فيقول: صدقت ربنا وبلغت رسلك، ونحن على ذلك من الشاهدين اللهم اجعلنا من شهداء الحق، القائمين بالقسط ثم يدعو بدعوات.
Dan disebut al-Qurtubi didalam tafsirnya juz 1 (mukaddimahnya) bab apa yg harus dilazimkan (dibiasakan) oleh pembaca dan pembawa al-Qur’an sebagai bentuk mengagungan dan penghormatan, dan didalam kitab Al-Jami’  Li Ahkam Al-Qur’an yg termasuk dari menghormati Al-Qur’an adalah tidak memegangnya kecuali dalam keadaan suci (dari hadats besar atau hadats kecil) dan termasuk penghormatan ketika selesai membaca Al-Qur’an berkata At-Tirmizi dan Al-Hakim agar membenarkan Tuhannya, mengucapkan sadaqallahul ‘azhim’ atau ungkapan yg sama maknanya. Dan penyaksian peyampaian kepada Rasul-Nya Shallallahu ‘alaihi wa sallam. (Contoh berkata bermaksud: Benarlah Allah Yang Maha Agung dan rasul-Nya yang mulia telah menyampaikan). Dan kami menjadi saksi atas hal itu, “Ya Allah, jadikanlah kami sebagai saksi yg benar (haq), yg berpegang teguh pada keadilan, kemudian menyeru dengan do’a-do’a ini.





Pertanyaan.
Lajnah Da’imah Lil Buhuts Al-Ilmiah Wal Ifta ditanya : Apa hukum mengucapkan “shadaqallahul azhim” setelah selesai membaca Al-Qur’an?
Jawaban
Alhamdulillah, segala puji bagi Allah semata. Shalawat dan salam semoga dilimpahkan kepada Rasulullah, keluarga dan para sahabatnya. Amma ba’du.
Ucapan, “Shadaqallahul ‘azhim” setelah membaca Al Qur’an adalah bid’ah, karena Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam tidak pernah melakukannya, demikian juga para khulafa’ur rasyidin, seluruh sahabat radhiyallaHu ‘anHum dan imam para salafus shalih, padahal mereka banyak membaca Al Qur’an, sangat memelihara dan mengetahui benar masalahnya. Jadi, mengucapkannya dan mendawamkan pengucapannya setiap kali selesai membaca Al Qur’an adalah perbuatan bid’ah yang diada – adakan.
Telah diriwayatkan dari Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bahwa beliau bersabda,
مَنْ أَحْدَثَ فِي أَمْرِنَا هَذَا مَا لَيْسَ فِيْهِ فَهُوَ رَدٌ
Barangsiapa membuat suatu yang baru dalam urusan kami (dalam Islam) yang tidak terdapat (tuntunan) padanya, maka ia tertolak” [Hadits Riwayat Bukhari dalam Ash Shulh (2697) dan Muslim dalam Al Aqdhiyah(1718)
Hanya Allah-lah yang mampu memberi petunjuk. Shalawat dan salam semoga dilimpahkan kepada Nabi kita Muhammad ShallallaHu ‘alaiHi wa sallam, keluarga dan para sahabatnya.
[Fatawa Al Lajnah Ad Da’imah, fatwa no. 3303]
HUKUM MENGUCAPKAN SHADAQALLAHUL AZHIM KETIKA SESELSAI MEMBACA AL-QUR’AN
Oleh
Syaikh Abdul Aziz bin Abdullah bin Baz
Pertanyaan
Syaikh Abdul Aziz bin Abdullah bin Baz ditanya : Saya sering mendengar bahwa mengucapkan “shadaqallahul azhim ketika selesai membaca Al-Qur’an adalah perbuatan bid’ah. Namun sebagian orang yang mengatakan bahwa itu boleh, mereka berdalih dengan firman Allah Subhanahu wa Ta’ala.
قُلْ صَدَقَ اللَّهُ
Katakanlah : ‘Benarlah (apa yang difirmankan) Allah” [Ali-Imran/3: 95]
Kemudian dari itu, sebagian orang terpelajar mengatakan kepada saya, bahwa apabila Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam hendak menghentikan bacaan Al-Qur’an seseorang, beliau mengatakan, “cukup” dan beliau tidak mengatakan, ‘shadaqallahul azhim”. Pertanyaan saya : Apakah ucapan “shadaqallahul azhim” dibolehkan setelah selesai membaca Al-Qur’an Kairm. Sya mohon perkenan Syaikh menjelaskannya.
Jawaban.
Mayoritas orang terbiasa mengucapkan, “Shadaqallahul ‘azhim” ketika selesai membaca al Qur’an, padahal ini tidak ada asalnya, maka tidak boleh dibiasakan, bahkan menurut kaidah syar’iyah hal ini termasuk bid’ah bila yang mengucapkan berkeyakinan bahwa hal ini sunnah. Maka hendaknya ditinggalkan dan tidak membiasakannya karena tidak adanya dalil yang menunjukkannya.
Adapun firman Allah Ta’ala.
قُلْ صَدَقَ اللَّهُ
Katakanlah, ‘Benarlah (apa yang difirmankan) Allah” [Ali Imran : 95].
Bukan mengenai masalah ini, tapi merupakan perintah Allah Ta’ala untuk menjelaskan kepada manusia bahwa apa yang difirmankan Allah Subhanahu wa Ta’ala itu benar yaitu yang disebutkan di dalam kitab – kitab-Nya yang agung yakni Taurat dan lainnya, dan bahwa Allah Ta’ala itu Maha Benar dalam ucapan-Nya terhadap para hamba-Nya di dalam kitab-Nya yang agung, al Qur’an.
Tetapi ayat ini bukan dalil yang menunjukkan sunnahnya mengucapkan, “ShadaqallaH” setelah selesai membaca al Qur’an atau membaca beberapa ayatnya atau membaca salah satu suratnya, karena hal ini tidak pernah ditetapkan dan tidak pernah dikenal dari Nabi ShallallHu ‘alaiHi wa sallam dan tidak pula dari para sahabat beliau Radhiyallahu ‘anhum.
Ketika Ibnu Mas’ud Radhiyallahu ‘anhu membaca awal Surat An-Nisa di hadapan Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam hingga sampai pada ayat,
فَكَيْفَ إِذَا جِئْنَا مِنْ كُلِّ أُمَّةٍ بِشَهِيدٍ وَجِئْنَا بِكَ عَلَىٰ هَٰؤُلَاءِ شَهِيدًا
Maka bagaimanakah (halnya orang – orang kafir nanti), apabila Kami mendatangkan seorang saksi dari tiap – tiap umat dan Kami mendatangkan kamu” (Hai Muhammad) sebagai saksi atas mereka itu” [An Nisaa’ : 41]
Beliau berkata pada Ibnu Mas’ud, “cukup”, Ibnu Mas’ud menceritakan, “Lalu aku menoleh kepada beliau, ternyata matanya meneteskan air mata” [Hadits Riwayat Al-Bukhari no. 5050)]
Maksudnya, bahwa beliau menangis saat disebutkannya kedudukan yang agung itu pada hari Kiamat kelak, yaitu sebagaimana yang disebutkan dalam ayat tadi.
Artinya : Maka bagaimanakah (halnya orang – orang kafir nanti), apabila Kami mendatangkan seorang saksi dari tiap – tiap umat dan Kami mendatangkan kamu” (Hai Muhammad) sebagai saksi atas mereka itu” [An Nisaa’ : 41]
Yaitu terhadap umat beliau. Dan sejauh yang kami ketahui, tidak ada seorang ahlul ilmi pun yang menukil dari Ibnu Mas’ud Radhiyallahu’anhu bahwa ia mengucapkan “shadaqallahul azhim” ketika Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam mengatakan, “cukup”. Maksudnya, bahwa, mengakhiri bacaan Al-Qur’an dengan ucapan “shadaqallahu azhim” tidak ada asalnya dalam syari’at yang suci. Tapi jika seorang melakukannya sekali-kali karena kebutuhan, maka tidak apa-apa.
[Majmu’ Fatawa wa Maqalat Mutanawwi’ah, Syaikh Ibnu Baz (7/329-331]
[Disalin dari kitab Al-Fatawa Asy-Syar’iyyah Fi Al-Masa’il Al-Ashriyyah Min Fatawa Ulama Al-Balad Al-Haram, Edisi Indonesia Fatwa – Fatwa Terkini Jilid 2, Penyusun : Syaikh Khalid al Juraisiy, Penerbit Darul Haq, Jakarta, Cetakan Pertama, Dzulhijjah 1424 H/Februari 2004 M]

Friday, January 23, 2015

0 Benarkah Maulid Diharamkan?

Setiap datang bulan Rabi'ul Awwal, di sebagian negara muslim selalu diadakan perayaan Maulid Nabi. Lalu apa itu Maulid Nabi? Bagaimana sejarahnya? Dan apa hukum merayakannya?
Maulid Nabi Muhammad SAW atau kadang-kadang disebut Maulid Nabi atau Maulid saja (bahasa Arab: maulid an-nabiy, al-maulid an-nabawi) adalah peringatan hari lahir Nabi Muhammad SAW, yang pada umumnya dirayakan pada setiap tanggal 12 Rabiul Awal dalam penanggalan Hijriyah. Kata “maulid” atau “milad” dalam bahasa Arab berarti hari lahir. Perayaan Maulid Nabi merupakan tradisi yang berkembang di masyarakat Islam jauh setelah Nabi Muhammad SAW wafat. Secara subtansi, peringatan ini adalah ekspresi kegembiraan dan penghormatan kepada Nabi Muhammad SAW.

SEJARAH MAULID

Peringatan Maulid Nabi pertama kali dilakukan oleh Raja Erbil (wilayah Irak sekarang), bernama Muzhaffaruddin Al-Kukburi, pada awal abad ke 7 Hijriyah. Ibn Katsir dalam kitabnya, Al-Bidayah wan Nihayah, berkata:

“Beliau –maksudnya Sultan Muzhaffar, mengadakan peringatan Maulid Nabi pada bulan Rabi'ul Awal. Beliau merayakannya secara besar-besaran. Beliau adalah seorang yang pemberani, suka membebaskan budak,  pahlawan, alim dan seorang yang adil – semoga Allah merahmatinya.”

Dijelaskan oleh Sibth (cucu) Ibn Al-Jauzi bahwa dalam peringatan tersebut, Sultan Al-Muzhaffar mengundang seluruh rakyatnya dan seluruh ulama dari berbagai disiplin ilmu, baik ulama dalam bidang ilmu Fiqh, ulama Hadits, ulama dalam bidang ilmu kalam, ulama usul, para ahli tasawuf, dan lainnya. Sejak tiga hari, sebelum hari pelaksanaan Maulid Nabi, beliau telah melakukan berbagai persiapan. Ribuan kambing  dan ayam disembelih dan ribuan piring berisi makanan lezat dihidangkan untuk para hadirin yang akan hadir dalam perayaan Maulid Nabi tersebut. Segenap para ulama saat itu membenarkan dan menyetujui apa yang dilakukan oleh Sultan Al-Muzhaffar tersebut. Mereka semua berpandangan dan menganggap baik perayaan Maulid Nabi yang digelar untuk pertama kalinya itu.

Ibn Khallikan dalam kitab Wafayat Al-A`yan menceritakan bahwa Al-Imam Al-Hafizh Ibn Dihyah datang dari Maroko menuju Syam dan seterusnya ke Irak. Ketika melintasi daerah Irbil pada tahun 604 Hijriah, beliau mendapati Sultan Al-Muzhaffar, raja Irbil tersebut sangat besar perhatiannya terhadap perayaan Maulid Nabi. Oleh karena itu, Al-Hafzih Ibn Dihyah kemudian menulis sebuah buku tentang Maulid Nabi yang diberi judul “Al-Tanwir Fi Maulid Al-Basyir An-Nadzir”. Karya ini kemudian beliau hadiahkan kepada Sultan Al-Muzhaffar dan Sultan pun memberinya hadiah seribu Dinar.

Banyak ulama, semenjak zaman Sultan Al-Muzhaffar dan zaman selepasnya hingga sampai sekarang ini yang menganggap bahwa perayaan Maulid Nabi adalah sesuatu yang baik. Para ulama terkemuka dan Huffazh Al-Hadits telah menyatakan demikian. Di antara mereka seperti Al-Hafizh Ibn Dihyah (w. 633 H), Al-Hafizh Al-Iraqi (w. 806 H), Al-Hafizh As-Suyuthi (w. 911 H), Al-Hafizh Al-Sakhawi (w. 902 H), Al-Hafizh Ibn Hajar Al-Asqalani (w. 852 H), Al-Hafizh Ibn Hajar Al-Haitami (w. 974 H), Al-Imam Al-Izz ibn Abd Al-Salam (w. 660 H), Ibn Al-Haaj Al-Maliki (w. 737 H), Al-Qasthallani (w. 923 H), Muhammad Thahir Ibn ‘Asyur (w. 1393H), Husnain Muhammad Makhluf Syaikhul Azhar (w. 1410 H), Muhammad Mutawalli Asy-Sya’rowi (w. 1419 H), Muhammad Alwi Al-Maliki(w. 1425 H), Muhammad Said Ramadhan Al-Buthi (w. 1434 H), mantan mufti Mesir yaitu Syeikh Muhammad Bakhit Al-Muthi’i (w. 1354 H), mantan Mufti Beirut Libanon yaitu Syeikh Mushthafa Naja (w. 1351 H), dan terdapat banyak lagi para ulama besar yang lainnya. Bahkan Al-Imam Al-Suyuthi menulis karya khusus tentang Maulid yang berjudul “Husn Al-Maqsid Fi Amal Al-Maulid”. Karena itu perayaan Maulid Nabi, yang biasa dirayakan pada bulan Rabiul Awal menjadi tradisi umat Islam di seluruh dunia, dari masa ke masa dan dalam setiap generasi ke generasi.

Para ahli sejarah, seperti Ibn Khallikan, Sibth Ibn Al-Jauzi, Ibn Kathir, Al-Hafizh Al-Sakhawi, Al-Hafizh Al-Suyuthi dan lainnya telah sepakat menyatakan bahwa orang yang pertama kali mengadakan peringatan maulid adalah Sultan Al-Muzhaffar. Namun juga terdapat pihak lain yang mengatakan bahwa Sultan Salahuddin Al-Ayyubi adalah orang yang pertama kali mengadakan Maulid Nabi. Sultan Salahuddin pada kala itu membuat perayaan Maulid dengan tujuan membangkitkan semangat umat Islam yang telah padam untuk kembali berjihad dalam membela islam pada masa Perang Salib.

PESONA MAULID DI NEGERI SYAM

Alhamdulillah, dengan izin Allah, penulis bisa ikut menyaksikan dan menghadiri perayaan Maulid di kota Damaskus, Suriah, selama menuntut ilmu di sana. Sebagaimana telah berlangsung selama ratusan tahun, di negeri Syam ini setiap tahun selalu diadakan perayaan Maulid Nabi SAW yang dihadiri oleh para ulama, umara beserta rakyatnya.

Perayaan ini dijadikan momentum oleh para ulama untuk menyampaikan nasehat-nasehat dan mengingatkan kembali kaum muslimin tentang perjuangan Rasulullah SAW beserta para sahabatnya dalam menegakkan Islam.

Perayaan ini biasanya diadakan pada malam hari setelah shalat Isya. Kaum muslimin berkumpul di sebuah masjid jami lalu satu persatu para ulama maju ke depan untuk menyampaikan ceramah. Di antara satu ceramah ke ceramah berikutnya, diselingi dengan pembagian makanan secara gratis. Tak jarang Qasidah Burdah dialunkan oleh grup nasyid untuk menambah suasana semakin sejuk.

MAULID BID'AH?

Sebagian ulama menganggap bahwa perayaan Maulid Nabi adalah bid'ah (sesuatu yang baru), namun bukan bid'ah yang buruk (sayyiah) melainkan bid'ah yang baik (hasanah).

Imam Suyuthi mengatakan:

أصل عمل المولد الذي هو اجتماع الناس، وقراءة ما تيسر من القرءان، ورواية الأخبار الواردة في مبدإ أمر النبي صلى الله عليه وسلم وما وقع في مولده من الآيات ثم يمد لهم سماط يأكلونه وينصرفون من غير زيادة على ذلك هو من البدع الحسنة التي يثاب عليها صاحبها لما فيه من تعظيم قدر النبي صلى الله عليه وسلم وإظهار الفرح والاستبشار بمولده الشريف. 

"Asal perayaan Maulid yang berupa berkumpulnya orang-orang, membaca ayat-ayat Al-Quran, menyampaikan Siroh Nabawiyah dan mukjizat-mukjizat Nabi SAW, kemudian dilanjutkan dengan pembagian makanan dan pulang, tanpa ada tambahan apapun, semua itu adalah termasuk perkara baru (bid'ah) yang baik, pelakunya diberi pahala oleh Allah karena mengagungkan Nabi SAW dan menampakkan perasaan gembira dengan lahirnya Rasul yang mulia ini." (Husnul Maqshid fi Amalil Maulid)

Imam Sakhowi mengatakan:

أصل عمل المولد الشريف لم ينقل عن أحد من السلف الصالح في القرون الثلاثة الفاضلة، وإنما حدث بعدها بالمقاصد الحسنة

"Asal perayaan Maulid tidak pernah diriwayatkan dari seorang pun dari kalangan salafus shalih pada tiga generasi utama. Perayaan itu muncul setelahnya dengan tujuan yang baik." (Al-Mauridur Rawi fil Maulidin Nabawi karangan Mulla Ali Al-Qari hal. 12)

Imam Abu Syamah mengatakan:

ومن أحسن ما ابتدع في زماننا من هذا القبيل: ما كان بمدينة إربل جبرها الله تعالى كل عام في اليوم الموافق ليوم مولد النبي صلى الله عليه وسلم من الصدقات والمعروف، وإظهار الزينة والسرور

"Di antara perkara baru yang paling baik di zaman kita adalah perayaan yang diadakan di kota Irbil, semoga Allah menjaganya, setiap tahun pada hari yang bertepatan denfan hari kelahiran (maulid) Nabi SAW, berupa sedekah, berbuat baik, menampakkan pakaian bagus dan perasaan gembira." (Al-Ba'its ala Inkaril Bida'i wal Hawadits)

Al-Allamah Asy-Syaikh Muhammad Alwi Al-Maliki mengatakan:

فالاحتفال بالمولد وإن لم يكن في عهده صلى الله عليه وسلم، فهو بدعة ولكنه حسنة

"Merayakan Maulid meskipun tidak pernah diadakan di zaman Nabi SAW, ia adalah perkara baru (bid'ah) yang baik." (Haula al-Ihtifal bil Maulid hal. 19)

SYUBHAT DAN JAWABANNYA

Syubhat pertama:

Sebagian orang masih ada yang beranggapan bahwa mengadakan maulid tidak diperbolehkan karena tidak pernah dilakukan oleh Nabi SAW dan tiga generasi utama.

Jawabannya:

Sebagaimana disampaikan oleh para ulama di atas, bahwa meskipun tidak pernah dilajukan tapi tidak bertentangan dengan syariat Islam, bahkan sesuai. Dan tidak semua yang tidak dilakukan oleh Nabi SAW dan tiga generasi utama lantas tidak diperbolehkan. Seandainya demikian, tentu banyak hal yang menjadi tidak diperbolehkan seperti mengadakan seminar, muktamar, simposium, konferensi, tabligh akbar, dsb. Sebab, substansi acara maulid tidak jauh berbeda dengan kegiatan-kegiatan tersebut. Hanya isinya saja yang bisa saja berbeda.

Syubhat kedua:

Mengapa tidak dinamakan dengan nama yang lain saja?

Jawabnya:

Perkara nama itu boleh-boleh saja selama baik. Kalau mau, kita bisa menamakan kegiatan itu dengan nama "Dauroh Siroh Nabawiyah" atau semisalnya.

Syubhat ketiga:

Mengapa di dalam acara maulid ada kemungkaran seperti joget-joget, ikhtilath dan sebagainya?

Jawabnya:

Apabila di dalam acara maulid terdapat kemungkaran maka wajib bagi kita untuk menghilangkan kemungkaran tersebut. Oleh karena itu, Imam Suyuthi mensyaratkan agar maulid diperbolehkan harus bebas dari tambahan-tambahan kemungkaran.

Pendapat Ulama Kontemporer

Syaikh Wahbah Az Zuhaili

Dalam kitab yang berjudul Al Bida’ Al Munkarah, beliau menjelaskan mengenai kedudukan memperingati Maulid Nabi:

“Jika Maulid Nabi Shalallahu ‘Alaihi Wa Sallam terbatas hanya sekedar tilawatul Quran, mengingatkan Sunnah Nabi Shalallahu ‘Alaihi Wa Sallam, sejarah Islam dan pengorbanan para Salaf Shalih, maka hal itu tak mengapa, karena di dalamnya terhadap kebaikan dan motivasi untuk mengikuti jalan kebaikan dan akhlak mulia Rasulullah Shalallahu ‘Alaihi Wa Sallam dan para sahabatnya.

Hal itu tidak dianggap sebagai sunnah yang mendatangkan pahala, melainkan seperti halnya pengajian atau ceramah ilmiah."

Beliau juga pernah mengatakan:

ﺇِﺫَﺍ ﻛَﺎﻥَ ﺍﻟْﻤَﻮْﻟِﺪُ ﺍﻟﻨَﺒَﻮِﻱ ﻣُﻘْﺘَﺼِﺮًﺍ ﻋَﻠَﻰ ﻗِﺮَﺍﺀَﺓِ ﺍﻟْﻘُﺮْﺁﻥِ ﺍﻟْﻜَﺮِﻳْﻢِ ، ﻭَﺍﻟﺘّﺬْﻛِﻴْﺮِ ﺑِﺄَﺧْﻼَﻕِ ﺍﻟﻨّﺒِﻲّﻋَﻠَﻴْﻪِ ﺍﻟﺼّﻼَﺓُ ﻭَﺍﻟﺴّﻼَﻡُ، ﻭَﺗَﺮْﻏِﻴْﺐُ ﺍﻟﻨَﺎﺱِ ﻓِﻲ ﺍْﻻِﻟْﺘِﺰَﺍﻡِ ﺑِﺘَﻌَﺎﻟِﻴْﻢِ ﺍﻹِﺳْﻼَﻡِ ﻭَﺣَﻀِﻬِﻢْ ﻋَﻠَﻰ ﺍﻟْﻔَﺮَﺍﺋِﺾِ ﻭَﻋَﻠَﻰ ﺍْﻵﺩَﺍﺏِ ﺍﻟﺸّﺮْﻋِﻴَﺔِ … ﻻَ ﻳُﻌَﺪّ ﻣِﻦَ ﺍﻟْﺒِﺪَﻉِ” (ﺍﻟﺠﺰﻳﺮﺓ ﻧﺖ: ﺣﻠﻘﺔ ﺍﻟﺒﺪﻋﺔ ﻭﻣﺠﺎﻻﺗﻬﺎ ﺍﻟﻤﻌﺎﺻﺮﺓ ﻣﻊ ﺍﻟﺪﻛﺘﻮﺭ ﻭﻫﺒﺔ ﺍﻟﺰﺣﻴﻠﻲ)

“Jika Maulid hanya sekedar membaca al-Quran, mengingatkan akhlak Nabi, mendorong umat agar mengamalkan ajaran Islam dan mendorong melakukan ibadah wajib dan akhlak agama, maka bukan sebagai bid’ah”.

Syaikh Said Ramadhan al-Buthi

ﺍْﻻِﺣْﺘِﻔَﺎﻝُ ﺑِﺬِﻛْﺮَﻯ ﻣَﻮْﻟِﺪِ ﺭَﺳُﻮْﻝِ ﺍﻟﻠﻪِ ﻧﺸَﺎﻁٌ ﺍِﺟْﺘِﻤَﺎﻋِﻲٌ ﻳُﺒْﺘَﻐَﻲ ﻣِﻨْﻪُ ﺧَﻴْﺮٌ ﺩِﻳْﻨِﻲّ، ﻓَﻬُﻮَ ﻛَﺎﻟْﻤُﺆْﺗَﻤَﺮَﺍﺕِ ﻭَﺍﻟﻨّﺪَﻭَﺍﺕِ ﺍﻟﺪِﻳْﻨِﻴّﺔِ ﺍﻟَﺘِﻲ ﺗُﻌْﻘَﺪُ ﻓِﻲ ﻫَﺬَﺍ ﺍﻟْﻌَﺼْﺮِ، ﻭَﻟَﻢْ ﺗَﻜُﻦْ ﻣَﻌْﺮُﻭْﻓَﺔً ﻣِﻦْ ﻗَﺒْﻞُ. ﻭَﻣِﻦْ ﺛَﻢّ ﻻَ ﻳَﻨْﻄَﺒِﻖُ ﺗَﻌْﺮِﻳْﻒُ ﺍْﻟﺒِﺪْﻋَﺔِ ﻋَﻠَﻰ ﺍْﻻِﺣْﺘِﻔَﺎﻝِ ﺑِﺎﻟْﻤَﻮْﻟِﺪِ، ﻛَﻤَﺎ ﻻَﻳَﻨْﻄَﺒِﻖُ ﻋَﻠَﻰﺍﻟﻨّﺪَﻭَﺍﺕِ ﻭَﺍﻟْﻤُﺆْﺗَﻤَﺮَﺍﺕِ ﺍﻟﺪِﻳْﻨِﻴَﺔِ. ﻭَﻟَﻜِﻦْ ﻳَﻨْﺒَﻐِﻲ ﺃَﻥْ ﺗَﻜُﻮْﻥَ ﻫَﺬِﻩِ ﺍﻻِﺣْﺘِﻔَﺎﻻَﺕُ ﺧَﺎﻟِﻴَﺔً ﻣِﻦَ ﺍﻟْﻤُﻨْﻜَﺮَﺍﺕِ ” (ﻓﺘﺎﻭﻯ ﻋﻦ ﺍﻟﻤﻮﻟﺪ ﺍﻟﻨﺒﻮﻱ) 

“Perayaan Maulid Nabi adalah semangat sosial yang bernilai agamis, seperti muktamar dan seminar agama yang dilakukan di masa sekarang, dahulu tidak ada. Oleh karenanya tidak tepat jika disebut bid’ah sebagaimana seminar dan muktamar Islam tidak disebut bid’ah. Tapi harus dihindari dari kemungkaran”.

Dr. Ali Jumah, Mufti Mesir:

” ﺍْﻻِﺣْﺘِﻔَﺎﻝُ ﺑِﺬِﻛْﺮَﻯ ﻣَﻮْﻟِﺪِﻩِ ﻣِﻦْ ﺃَﻓْﻀَﻞِ ﺍْﻷﻋْﻤَﺎﻝِ ﻭَﺃَﻋْﻈَﻢِ ﺍﻟْﻘُﺮُﺑَﺎﺕِ؛ ﻷﻧّﻪُ ﺗَﻌْﺒِﻴْﺮٌ ﻋَﻦِ ﺍﻟْﻔَﺮَﺡِ ﻭَﺍﻟْﺤُﺐّ ﻟَﻪُ، ﻭَﻣَﺤَﺒّﺔُ ﺍﻟﻨّﺒِﻲ ﺃَﺻْﻞٌ ﻣِﻦْ ﺃُﺻُﻮْﻝِ ﺍﻹِﻳْﻤَﺎﻥِ ” (ﺍﻟﺒﻴﺎﻥ ﻟﻤﺎ ﻳﺸﻐﻞ ﺍﻷﺫﻫﺎﻥ) 

“Perayaan Maulid Nabi adalah amal yang paling utama dan ibadah yang agung. Sebab Maulid ibaratnya adalah rasa senang dan cinta pada Nabi. Sedangkan mencintai Nabi adalah dasar keimanan”.

Dr. Yusuf Qardhawi:

ﻳُﻮْﺳُﻒْ ﺍﻟْﻘَﺮْﺿَﺎﻭِﻱ ، ﺭَﺋِﻴْﺲُ ﺍْﻻِتِّحَاﺩِ ﺍﻟْﻌَﺎﻟَﻤِﻲ ﻟِﻌُﻠَﻤَﺎﺀِ ﺍﻟْﻤُﺴْﻠِﻤِﻴْﻦَ ﻗَﺎﻝَ ﻋَﻦْ ﺫِﻛْﺮَﻯ ﺍﻟْﻤَﻮْﻟِﺪِ : ” ﺇِﺫَﺍ ﺍﻧْﺘَﻬَﺰْﻧَﺎ ﻫَﺬِﻩِ ﺍﻟْﻔُﺮْﺻَﺔَ ﻟِﻠﺘّﺬْﻛِﻴْﺮِ ﺑِﺴِﻴْﺮَﺓِ ﺭَﺳُﻮْﻝِ اللهِ، ﻭَﺑِﺸَﺨْﺼِﻴّﺔِ ﻫَﺬَﺍ ﺍﻟﻨّﺒِﻲّ ﺍﻟْﻌَﻈِﻴْﻢِ، ﻭَﺑِﺮِﺳَﺎﻟَﺘِﻪِ ﺍﻟْﻌَﺎﻣّﺔِ ﺍْﻟﺨَﺎﻟِﺪَﺓِ ﺍﻟّﺘِﻲ ﺟَﻌَﻠَﻬَﺎ ﺍﻟﻠﻪُ ﺭَﺣْﻤَﺔً ﻟِﻠْﻌَﺎﻟَﻤِﻴْﻦَ، ﻓَﺄَﻱّ ﺑِﺪْﻋَﺔٍ ﻓِﻲ ﻫَﺬَﺍ ﻭَﺃَﻳّﺔُ ﺿَﻼَﻟَﺔٍ؟ “)ﻣﻮﻗﻊ ﺍﻟﻘﺮﺿﺎﻭﻱ: ﺍﻻﺣﺘﻔﺎﻝ ﺑﻤﻮﻟﺪ ﺍﻟﻨﺒﻲﻭﺍﻟﻤﻨﺎﺳﺒﺎﺕ ﺍﻹﺳﻼﻣﻴﺔ( 

“Jika kita menjadikan kesempatan ini untuk mengingat sejarah Rasulullah, kepribadian Nabi yang agung dan ajaran kerasulannya yang abadi yang diutus untuk seluruh alam, maka apanya yang bid’ah dan apa sesatnya?"

ANTARA TEORI DAN PRAKTEK

Sekalipun para ulama telah memberikan pedoman dan panduan dalam melaksanakan kegiatan Maulid, namun fakta yang terjadi di masyarakat tidak selalu sama dengan apa yang telah disampaikan oleh para ulama tersebut. Adakalanya penyimpangan dan kemungkaran terjadi di sebagian kegiatan Maulid.

Oleh karena itu, yang patut menjadi perhatian adalah bukan sekedar istilah Maulid melainkan substansi kegiatan itu sendiri. Meskipun dinamakan Maulid tapi kalau isinya berupa kemungkaran dan kemaksiatan maka harus dihentikan. Sebaliknya, meskipun tidak dinamakan Maulid tapi kalau isinya adalah hal-hal mubah dan bermanfaat, maka diperbolehkan.

Salah satu contoh terbaik dari kegiatan Maulid adalah apa yang pernah diceritakan oleh salah seorang kawan saya di Damaskus. Berikut kutipannya:

Di saat orang memperdebatkan halal haram memperingati Maulid Nabawi tanggal 12 Rabiul Awal, kami memperingatinya di Jami Abu Nour dengan membaca “Syamail Rasulullah” yang dikumpulkan dari Sahih Muslim oleh ustazuna sheikh Bassam Hamzawy hafizahullah, dihadiri oleh “Atsar Rasulillah” yaitu berupa rambut beliau, dan puluhan Ulama-ulama besar negeri Syam, seperti sheikhna Prof. Nuruddin Itr, ustazuna Prof. Tawfik Ramdhan Al Buty, sheikhul qurra syam sheikh Syukry Luhafy, ustazuna Dr. Sharief Shawwaf, ustazuna mufti Damascus sheikh Adnan Afyouny, ustazuna alfaraidhy sheikh Bashir Mufassy, ustazuna Prof. Khaer Fatma, ustazuna Prof. Wahby Seleyman, ustazuna Dr. Abdussalam Rajeh dan lainnya hafizahumullah.

Seorang “muhsinin” membiayai percetakan kitab syamail tersebut untuk dibagikan kepada para hadirin, majlis tersebut “diserang” oleh ribuan pecinta Rasulullah seperti orang-orang kehausan melihat air dingin, semuanya berharap bisa menjadi kekasih Rasulullah, semuanya berharap doa dan harapan mereka bisa dikabulkan Allah pada majlis ini.

Kalau ada riwayat mengatakan “zikrus shalihin tunazzilur arahmah”, menyebut nama orang-orang shaleh akan menurunkan rahmat Allah, maka Nabi Muhammad adalah pemuka dan penghulu orang-orang shaleh, maka Insyallah sepanjang majlis itu kami menyebut ratusan kali nama Rasulullah diiringi shalawat dan ratusan kali nama Sahabat serta perawi hadis lainnya rahimahumullah, semoga itu menjadi “penjemput” berkah bagi negeri Syam yang sedang bersimbah darah.

Majlis pembacaan syamail muhammaddiyah dimulai selepas ashar dan berakhir sampai azan isya berkumandang, masjid yang sesak dipenuhi hamba-hamba Allah terasa begitu tenang, semua berharap setelah pembacaan itu berakhir bisa segera antri untuk mencium rambut Rasulullah. 

Alhamdulillahillazi bini’matihi tatimmus shalihat…majlis diakhiri dengan “ijazah” hadis syamail muhammaddiyah oleh ustazuna Sheikh Bassam Hamzawy.

Kami memperingati Maulid Nabawy hanya untuk mengingat kembali bagaimana beliau hidup dan dengan itu kami berusaha memperbaharui cinta kami kepada beliau, yang sering kali ternodai oleh kemunafikan kehidupan dunia, bukankah beliau yang bilang bahwa cinta Rasul adalah jalan pintas menuju Surga…yang kami inginkan bukan sekedar Surga, tapi juga kenikmatan berjumpa dengannya kelak. 

Allahumma shalli ala sayyidina Muhammad wa ala alihi wa sahbihi wa sallim taslima…shalatan taftahu lana abwabar ridho wal taisir, wa tughliq biha abwabas syarri wat ta’sir…anta maulana fani’mal maula wa ni’man nashir…

Ditulis oleh Saifannur (Saief Alemdar) pada 6 Januari pukul 15:39 di halaman Facebooknya.

Demikian tulisan singkat tentang maulid. Semoga bermanfaat dan semoga Allah senantiasa menambah kita ilmu yang bermanfaat dan amal shalih yang memberi syafaat. Amiin.

 

Forum Diskusi Hadits Copyright © 2011 - |- Template created by O Pregador - |- Powered by Blogger Templates